Selama 12 hari tersebut, tim ini mengusung tema besar “Diversity of Indonesian Ethnobotany : Journey of Herbal Medicine in Modern Lifestyle”, yang dipresentasikan di Georg-August-Universität Göttingen, Dahlem Center of Plant Sciences (DCPS) Freie University of Berlin, Humboldt Universitat Zu-Berlin, Ludwig-Maximillian University Münich, dan National Park Hainich. Selain mempresentasikan riset, tim study visit mengenalkan jamu yang merupakan herbal medicine dan kearifan lokal masyarakat Indonesia ke beberapa mahasiswa dan Profesor di institusi tersebut. Beberapa Profesor dan mahasiswa dari beberapa institusi tersebut juga mempresentasikan hasil penelitian- mereka di berbagai bidang disiplin ilmu Biologi dan saling diskusi tentang penelitian, sistem perkuliahan di Jerman, dan peluang beasiswa terutama di tingkat Master dan Ph.D. Mereka juga memperkenalkan beberapa fasilitas laboratorium dan Botanical Garden yang ada di Universitas tersebut melalui campus tour.
Tim study visit memperoleh kesempatan berharga untuk lebih mengenal budaya, keanekaragaman hayati, teknologi, dan sejarah Jerman. Di National Park Hainich, tim study visit diperkenalkan tentang konservasi keanekaragaman hayati di salah satu taman nasional di Jerman tersebut. Di kota Berlin dan Munich, tim study visit diajak untuk lebih mengenal sejarah Jerman terutama ketika Perang Dunia dan Perang Dingin melalui kunjungan ke beberapa museum, yaitu Jüdische Museum, Gedenkstätte Deutscher Widerstand, Gedenkstätte Berliner Mauer (tembok Berlin), Brandenburger Tor, Bundeskanzleramt (tempat dinas Kanselir), dan tentang perkembangan teknologi di Jerman, yaitu Deutsches Museum (Munich).
Salah satu anggota tim, Imam Fathoni mempresentasikan hasil penelitiannya di Institute of Pharmacy Freie Universitat Berlin, yang berjudul Bioactivity studies of ethanolic extract Marchantia sp. as an alternative chemical plant insecticide Aedes aegypti L. Mosquito, yang merupakan penelitian mengenai potensi lumut hati yang diperoleh dari Grojogan Sewu, Tawangmangu untuk mengendalikan vektor demam berdarah, yaitu nyamuk Aedes aegypti. “Selama ini pengendalian vektor di Indonesia masih menggunakan bahan kimia sintetik yang berbahaya untuk organisme lain, sehingga diperlukan metode lain yang lebih efisien” cetusnya. Penelitian ini juga telah dipresentasikan di Burapha University International Conference di Thailand pada bulan Juli lalu. Penelitian ini merupakan hasil hibah grand project TP3-F Fakultas Biologi UGM dengan bimbingan Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si, M.Kes. dan Dra. Rr. Upiek Ngesti W. Astuti, DAP&E., M.Biomed.
Selama 12 hari tersebut tentu saja merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi semua anggota tim study visit ini. Dengan esensi acara seperti yang disebut di atas, mahasiswa diharapkan benar-benar menjadi intelektual Gadjah Mada yang kritis, senantiasa aktif berkontribusi dan mampu membawa karakter luhur Gadjah Mada yang identik dengan lokalitas, namun senantiasa mampu bersaing dalam percaturan global.

