Yogyakarta (UGM) – Di tengah meningkatnya ancaman antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi salah satu tantangan besar dunia kesehatan, tim mahasiswa Biologi Universitas Gadjah Mada berhasil menorehkan prestasi dengan meraih Juara 3 dalam ajang National Biotechnology Essay Competition (NBEC) 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, dengan mengusung tema “Empowering Sustainable Development through Biotechnology Innovation.”
Tim yang terdiri atas Anggistina Wulansari sebagai ketua, serta Putri Amalia Sholehah dan Sabrina Labista Wibowo sebagai anggota, mengangkat gagasan inovasi berjudul “One-Tube MRSA Kit: Solusi Diagnostik Cepat Berbasis Multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b untuk Deteksi Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) secara Berkelanjutan.” Gagasan ini masuk dalam subtema Biofarmasi dan Teknologi Kesehatan.
Inovasi One-Tube MRSA Kit hadir sebagai gagasan diagnostik molekuler cepat untuk mendeteksi MRSA, yaitu bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotik metichillin. MRSA menjadi perhatian serius karena dapat menyebabkan infeksi yang sulit ditangani, terutama di fasilitas kesehatan. Keterlambatan deteksi dapat berdampak pada pemilihan terapi yang kurang tepat dan memperbesar risiko penyebaran resistensi antimikroba.
Melalui konsep multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b, kit ini dirancang untuk mendeteksi keberadaan Staphylococcus aureus sekaligus gen resistensi MRSA, seperti mecA/mecC, dalam satu sistem tabung tertutup. Teknologi multiplex LAMP berperan sebagai metode amplifikasi DNA yang cepat pada suhu konstan, sedangkan CRISPR-Cas12b berfungsi sebagai sistem deteksi spesifik berbasis pengenalan target gen. Pendekatan one-tube diharapkan dapat membuat proses deteksi menjadi lebih cepat, praktis, efisien, dan minim risiko kontaminasi.
Lebih dari sekadar gagasan alat diagnostik, One-Tube MRSA Kit dirancang sebagai kontribusi bioteknologi dalam mendukung layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap ancaman infeksi resisten antibiotik. Inovasi ini sejalan dengan SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam mendukung deteksi dini penyakit infeksi dan pengendalian resistensi antimikroba. Selain itu, gagasan ini juga berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure melalui pengembangan teknologi diagnostik berbasis bioteknologi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui konsep kit yang lebih efisien dan berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.
“MRSA bukan hanya persoalan bakteri resisten, tetapi juga tentang waktu. Semakin cepat infeksi terdeteksi, semakin besar peluang tenaga kesehatan mengambil keputusan terapi yang tepat. Melalui One-Tube MRSA Kit, kami ingin menawarkan gagasan diagnostik yang cepat, spesifik, dan lebih sederhana untuk mendukung pengendalian AMR,” ujar Anggistina Wulansari, ketua tim.
Putri Amalia Sholehah menambahkan bahwa inovasi ini lahir dari keresahan terhadap metode deteksi yang masih membutuhkan waktu dan fasilitas tertentu. “Kami melihat bahwa tantangan deteksi MRSA tidak hanya terletak pada akurasi, tetapi juga pada kecepatan dan kemudahan penggunaannya. Oleh karena itu, pendekatan multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b dalam sistem one-tube menjadi gagasan yang potensial untuk menjawab kebutuhan diagnostik yang lebih praktis,” tuturnya.
Sementara itu, Sabrina Labista Wibowo menyampaikan bahwa gagasan ini juga menekankan pentingnya inovasi bioteknologi yang tidak berhenti di laboratorium. “Bagi kami, bioteknologi harus mampu hadir sebagai solusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. One-Tube MRSA Kit menjadi bentuk upaya kami untuk menghubungkan ilmu molekuler dengan permasalahan nyata di bidang kesehatan, khususnya dalam menghadapi ancaman resistensi antibiotik,” ungkapnya.
Ajang National Biotechnology Essay Competition (NBEC) 2026 menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan kreatif dan solutif berbasis bioteknologi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Capaian Juara 3 ini menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan ide inovatif untuk menjawab tantangan kesehatan global.
Ke depan, tim berharap gagasan One-Tube MRSA Kit dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penyempurnaan desain, validasi laboratorium, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan demikian, inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan platform diagnostik MRSA yang cepat, akurat, praktis, dan berkelanjutan. [Penulis: Anggistina Wulansari]



