Minggu (29/04/18), Lab. Bioteknologi Fakultas Biologi UGM, atau yang sebelumnya bernama Lab. Kultur Jaringan Tumbuhan (KJT), mengadakan temu alumni dan reuni laboratorium bagi semua angkatan. Bertempat di Auditorium Fakultas Biologi UGM, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 20 alumni Lab. Bioteknologi dari berbagai angkatan. Selain sebagai bentuk temu kangen alumni, kegiatan tersebut juga dilakukan untuk mensosialisasikan rencana pemugaran Ex Lab Kultur Jaringan tersebut untuk dibangun menjadi Moeso Suryowinoto Orchid Research Center (MSORC).
Kegiatan reuni Lab. Bioteknologi dibuka dengan sambutan dari Kepala Laboratorium Bioteknologi, Dr.rer.nat. Ari Indrianto, M.S. Sebagai salah satu murid dari Alm. Prof. Moeso Suryowinoto, Dr. Ari menyambut baik para alumni yang hadir serta mengajak para peserta bernostalgia kembali ke jaman mereka kuliah dulu, terutama pada saat melaksanakan penelitian skripsi di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan di bawah bimbingan Alm. Prof. Moeso.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dan nostalgia dari para alumni. Beberapa alumni yang sangat bersemangat menceritakan pengalamannya yaitu Drs. Krishna Soejitno Seoprapto, M.M dan Prof. Dr. Erny Poedjirahajoe MP. Krishna saat ini bekerja sebagai CEO di Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School dan Prof. Dr. Erny saat ini menjadi guru besar di Fakultas Kehutanan UGM. Keduanya pernah menjadi asisten Kultur Jaringan Tumbuhan yang saat itu bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Bawah di depan Gedung A. Di bawah bimbingan Alm. Prof. Moeso, banyak kisah-kisah nostalgik yang dapat menginspirasi alumni-alumni lain yang juga hadir.
Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Lab. Bioteknologi di Lantai 3 Gedung A Fakultas Biologi UGM, dan napak tilas Lab. KJT Bawah dan greenhouse yang saat ini digunakan untuk pemeliharan koleksi anggrek Fakultas Biologi UGM. Saat ini kondisi Lab. KJT Bawah sudah tidak fungsional karena infrastruktur dan kondisi gedung yang sudah sangat tua dan rapuh. Oleh karena itu, untuk menghormati Alm. Prof. Ir. Moeso Suryowinoto dan untuk tetap menjaga fungsinya sebagai laboratorium penelitian kultur jaringan anggrek, Fakultas Biologi UGM berencana mendirikan pusat penelitian anggrek yang diberi nama Moeso Suryowinoto Orchid Research Center (MSORC).
Rencana pembangunan gedung MSORC dipaparkan oleh Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. Gedung tersebut akan dijadikan sebagai pusat penelitian Anggrek di Indonesia. Arsitektur gedung MSORC dibuat oleh Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D. putra bungsu dari Alm. Prof. Moeso Suryowinoto. Rancang bangun gedung MSORC terinspirasi dari struktur biji anggrek yang unik. Selain sebagai center of excellence, gedung MSORC juga diharapkan akan menjadi landmark dari UGM, sejalan dengan visi misi Fakultas Biologi UGM yang akan senantiasa melestarikan biodiversitas tropika, termasuk diantaranya anggrek Indonesia. (Matin Nuhamunada)


Acara diakhiri dengan pesan beliau kepada mahasiswa untuk tidak menjadi malas dan berfokus terhadap apa yang dicita-citakan. Beliau menyampaikan ada dua hal yang harus dimiliki oleh seseorang yaitu tekun dan jujur. Dimanapun kita berada, selagi kita menjadi sosok yang tekun dan jujur, akan membawa kita menjadi orang yang dapat dipercaya, ungkapnya.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gama Band mengadakan kegiatan “MM GM: Musik Musikan Gadjah Mada” yang bertempat di gedung Pusat Kebudaayan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), pada Rabu lalu (9/5). Tidak hanya menyajikan penampilan musik dari Gama Band sendiri, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari berbagai band, antara lain adalah The Dean 1621, yakni band yang beranggotakan para Dekan dan Rektor UGM, salah satunya adalah Dekan dari Fakultas Biologi UGM, yaitu Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Agr. Sc.
Setelah ditempa pengalaman selama 15 tahun bekerja menjadi seorang pustakawan di Fakultas Biologi UGM, akhirnya pada hari Jumat, 11 Mei 2018 dalam acara “Beyond the bubbles: pustakawan dan perpustakaan yang lebih” dan pengumuman pustakawan berprestasi UGM tahun 2018. Rusna Nur Aini terpilih menjadi salah satu peserta pemilihan pustakawan berprestasi Universitas Gadjah Mada yang masuk sebagai finalis dari sekian peserta yang mengikuti ajang pemilihan tersebut. Rusna berhasil menyabet juara terbaik ke 1 dari 13 finalis yang mengikutinya.




