Bantul, 13 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan lingkungan berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos dan Pemanfaatan Maggot Black Soldier Fly (BSF)” yang diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan PkM ini ditujukan bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Lestari’ yang berlokasi di Pedukuhan Mertosanan Kulon, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada berbagai teknologi sederhana dan aplikatif untuk mengelola sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim PkM Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dalam sambutannya, Prof. Diah menekankan bahwa sampah organik merupakan komponen terbesar penyusun sampah rumah tangga yang, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti bau tidak sedap, meningkatnya risiko penyebaran penyakit, serta bertambahnya volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Setelah sambutan dari Ketua Tim PkM, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua KWT Lestari, yang menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan motivasi anggota kelompok dalam mengelola sampah organik rumah tangga secara berkelanjutan sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan budi daya tanaman yang telah dijalankan oleh KWT.
Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai pembuatan pupuk kompos yang disampaikan oleh Dr. Siti Nurbaiti, S.Si. Materi diawali dengan pengenalan berbagai jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, seperti sisa buah dan sayuran, daun-daunan, ampas kopi dan teh, serta sisa makanan nabati. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa kompos merupakan hasil dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang kaya unsur hara dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk meningkatkan kesuburan tanah. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip keseimbangan antara bahan hijau dan bahan cokelat yang berperan penting dalam menghasilkan kompos berkualitas.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si., yang menyampaikan materi mengenai pengolahan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens). Dalam paparannya dijelaskan bahwa maggot BSF merupakan larva lalat tentara hitam yang mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa kaya protein dalam waktu relatif singkat. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan. Menurut Dr. Wiko, pemanfaatan maggot BSF dapat mengurangi massa sampah organik hingga sekitar 35–45% serta menghasilkan berbagai produk bernilai guna, yaitu maggot atau prepupa sebagai sumber protein pakan ikan dan unggas, kasgot sebagai pupuk organik padat, serta pupuk organik cair (POC) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selama sesi pemaparan materi, para peserta dari KWT ‘Lestari; juga turut aktif dalam bertanya dan menceritakan pengalaman yang pernah dilakukan dalam pengelolaan sampah organiknya, sehingga memperkaya diskusi terkait tantangan konsistensi dalam pelaksanaan pengelolaan sampah organik. Setelah sesi penyampaian materi, Dr. Nurbaiti dan Dr. Wiko secara langsung dan bergantian memandu praktik pembuatan pupuk kompos menggunakan compost bag serta maggot BSF melalui dua metode budidaya, yaitu metode ember tumpuk dan metode kotak maggot (Si Komat). Kepada peserta ditunjukkan praktik mulai dari persiapan alat dan bahan, penyusunan lapisan bahan organik, pemberian aktivator, hingga teknik perawatan selama proses pengomposan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai bahan-bahan yang tidak dianjurkan untuk dikomposkan, seperti plastik, logam, kaca, popok/pampers, minyak goreng, tulang, puntung rokok, dan bahan kimia rumah tangga yang dapat menghambat proses penguraian.
Dalam pemanfaatan maggot menggunakan metode ember tumpuk, peserta diperkenalkan pada sistem pengolahan sampah organik yang memungkinkan pemanenan tiga produk sekaligus, yaitu maggot, kasgot, dan pupuk organik cair hasil fermentasi air lindi. Sementara itu, metode kotak maggot difokuskan pada produksi maggot dan kasgot dengan pengelolaan kelembapan media yang optimal. Peserta juga memperoleh berbagai tips teknis terkait pemilihan bahan baku, pengaturan kelembapan dan suhu media, serta penanganan bahan yang perlu dihindari agar proses penguraian berlangsung efektif dan tidak menimbulkan bau.
Kegiatan ini turut menghadirkan perspektif akademik mengenai pengelolaan sampah dan penerapan prinsip ekonomi sirkular yang disampaikan oleh Prof. Dr. rer. nat. Andhika Puspito Nugroho. Pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat merupakan langkah strategis untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang selama ini sering dianggap sebagai limbah. Melalui pendekatan ini, sampah organik dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat sehingga mendukung terwujudnya sistem pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan didukung oleh tim PkM Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas Winda Fionita Nur Safitri, Layly Salsabila, Alfonsus Fidel Pandu Ekanto, Miftahurrozi (mahasiswa Program Sarjana), Noor Laila Safitri (mahasiswa Program Magister), dan Fatimatuzzahra (mahasiswa Program Doktor). Tim berperan aktif dalam membantu pelaksanaan kegiatan, mendampingi peserta selama praktik, serta memfasilitasi diskusi dan tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berharap anggota KWT Lestari dapat mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah organik yang telah diperkenalkan sehingga mampu mengurangi timbunan sampah rumah tangga, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian dan perekonomian masyarakat. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai permasalahan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan (SDG 12 – konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab).
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan prestasi di ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei 2026. Tim yang terdiri atas Ikhlasul Amal (Fakultas Biologi), Qorina Nisrina Hafshah (Fakultas Teknologi Pertanian), Zikra Fataha Al Mutansir (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan), Diva Nadiartalika, serta Athar Rosyad Partadireja (Fakultas Psikologi) berhasil meraih Silver Medal Theme Health, Silver Medal Sub Theme Food, dan Favorite Poster Theme Food melalui inovasi yang berfokus pada upaya preventif dalam menghadapi krisis kesehatan mental generasi muda.

Mengangkat isu meningkatnya gangguan kecemasan (anxiety) pada remaja dan dewasa muda, tim UGM menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mengintegrasikan aspek biologis, psikologis, dan teknologi dalam satu kerangka solusi yang saling melengkapi. Berangkat dari fakta bahwa kesehatan mental remaja menjadi tantangan global yang semakin mendesak, tim melihat bahwa berbagai upaya penanganan selama ini cenderung berfokus pada satu aspek tertentu. Padahal, kecemasan merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi fisiologis, pola pikir, hingga lingkungan sosial dan digital yang dihadapi individu setiap hari. Oleh karena itu, tim mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah CalmBar, sebuah snack bar fungsional yang mengkombinasikan konsep nutritional neuroscience dengan sensory grounding. Produk ini diformulasikan menggunakan bahan-bahan alami seperti kacang hijau, biji labu (pumpkin seed), duckweed (Lemna minor), kacang tanah, peppermint, madu, kismis, dan Virgin Coconut Oil (VCO). Berbagai bahan tersebut dipilih karena mengandung protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan, serta senyawa bioaktif seperti GABA, triptofan, dan mentol yang berpotensi mendukung fungsi sistem saraf, menjaga stabilitas suasana hati, serta membantu regulasi emosi.
Tim menyadari bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Di era digital, banyak remaja mengalami tekanan psikologis akibat paparan media sosial, perbandingan sosial, serta kecenderungan merasa dirinya selalu diperhatikan dan dinilai oleh orang lain. Fenomena yang dikenal sebagai spotlight effect ini sering kali menjadi pemicu munculnya kecemasan sosial yang berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan SELF-SCAN (Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era), sebuah sistem berbasis aplikasi yang dirancang untuk membantu individu memahami pola pikir, emosi, serta pemicu kecemasan yang mereka alami secara real-time. Melalui pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA), sistem ini mampu memantau dinamika psikologis pengguna dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.
Menurut Ikhlasul Amal selaku ketua tim, kedua inovasi tersebut sebenarnya dirancang sebagai satu kesatuan pendekatan yang saling melengkapi. CalmBar berperan dalam mendukung regulasi emosi melalui nutrisi dan pengalaman sensoris yang menenangkan, sementara SELF-SCAN membantu pengguna membangun kesadaran metakognitif agar mampu mengenali, mengevaluasi, dan mengelola pola pikir yang memicu kecemasan.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri,” ungkapnya. Integrasi kedua inovasi tersebut terlihat dari pendekatan yang digunakan. Pada CalmBar, pengguna tidak hanya mengonsumsi makanan fungsional, tetapi juga mendapatkan panduan breathing exercise dan teknik grounding 5-4-3-2-1 yang tercantum pada kemasan produk. Di sisi lain, SELF-SCAN memperkuat proses tersebut melalui fitur-fitur seperti Algorithmic Trigger Radar, The Auditor, dan Pattern Intelligence yang membantu pengguna mengidentifikasi pemicu kecemasan, melakukan refleksi diri, serta membangun ketahanan mental jangka panjang.
Tim menjelaskan bahwa tujuan utama dari pengembangan inovasi ini adalah mengubah paradigma penanganan kesehatan mental dari yang bersifat reaktif menjadi preventif. Dengan memanfaatkan aktivitas sehari-hari seperti mengonsumsi makanan dan penggunaan perangkat digital, mereka berharap dukungan kesehatan mental dapat diakses secara lebih mudah, praktis, dan berkelanjutan oleh generasi muda.
Keberhasilan meraih penghargaan pada ajang internasional tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan multidisiplin yang menggabungkan ilmu multidisipliner mampu menghasilkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Selain menjadi ajang pembuktian kemampuan akademik, kompetisi ini juga memberikan kesempatan bagi tim untuk berdiskusi dan bertukar gagasan dengan peserta dari berbagai negara mengenai tantangan kesehatan mental yang dihadapi generasi muda di seluruh dunia.
Ke depan, tim berharap inovasi yang mereka kembangkan tidak berhenti pada tahap kompetisi, tetapi dapat dilanjutkan melalui penelitian, pengembangan prototipe, hingga implementasi nyata di masyarakat. Dengan mengintegrasikan pendekatan biologis dan psikologis dalam satu ekosistem inovasi, mereka optimistis bahwa CalmBar dan SELF-SCAN dapat menjadi bagian dari solusi masa depan dalam mendukung kesehatan mental generasi muda yang lebih sehat, resilien, dan berdaya menghadapi tantangan era digital. [Penulis: Ikhlasul Amal]
Mendukung Pengembangan Pendidikan, Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum
Yogyakarta, 11 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum dan Pengembangan Tenaga Pendidik pada 9-10 Juni 2026 di Grand Rohan Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, pengelola program studi serta seluruh dosen sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dalam merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan terkini.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., dalam sambutannya menegaskan pentingnya pemahaman dosen terhadap proses penyusunan kurikulum sebagai fondasi penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, fakultas juga perlu memfasilitasi pengembangan kompetensi dosen agar mampu menyusun kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan zaman.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai kebijakan kurikulum pendidikan tinggi yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc. Dalam paparannya, Prof. Bambang menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya status akreditasi prodi, regulasi yang berlaku, rekomendasi lembaga akreditasi, hasil benchmarking, sistem penjaminan mutu serta transformasi ilmu biologi yang semakin berkembang secara multidisiplin dan transdisiplin. Prof. Bambang juga menekankan bahwa kurikulum pendidikan tinggi saat ini sangat diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih fleksible dan mampu menjawab tantangan global melalui pendekatan transdisiplin yang mengintegrasikan berbagai ilmu.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister Biologi, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang memaparkan implementasi kurikulum yang sedang berjalan sekaligus memperkenalkan rumusan awal Kurikulum 2026 untuk Program Studi Magister Biologi. Sesi selanjutnya diisi oleh Ketua Program Studi Doktor Biologi, Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D., yang juga menyampaikan implementasi kurikulum yang berjalan saat ini dan rumusan kurikulum 2026 untuk Program Studi Doktor Biologi.
Berbagai masukan dan saran konstruktif dari para dosen dalam sesi diskusi berlangsung secara aktif. Masukan tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyempurnaan rancangan kurikulum 2026 di Fakultas Biologi UGM.
Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan pemaparan kembali oleh Prof. Dr. Bambang Retnoaji, M.Sc. terkait berbagai regulasi dan kebijakan akademik yang berkaitan denagn publikasi. Selanjutnya, Ketua Program Studi Sarjana Biologi, Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., mempresentasikan rancangan Kurikulum 2026 untuk Program Studi Sarjana Biologi yang telah disusun berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang saat ini sedang berjalan.
Diskusi yang melibatkan dosen kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan hari kedua. Melalui forum tersebut, para dosen memberikan berbagai pandangan terkait struktur kurikulum, peta kurikulum, mata kuliah baru, serta penguatan kompetensi yang diperlukan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berupaya memastikan bahwa Kurikulum 2026 disusun secara partisipatif, komprehensif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan mahasiswa. Penguatan kualitas kurikulum diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas, relevan, dan kolaboratif.
Karanganyar, 8 Juni 2026 – Tim Anggrek Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tim pelaksana Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 3 PTNBH yang berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan pelatihan budidaya anggrek sebagai bagian dari program pengembangan potensi kawasan Ngargoyoso–Tawangmangu berbasis ekoeduwisata untuk meningkatkan perekonomian berkelanjutan. Kegiatan berlangsung di UMKM Mitra Pabongan Orchid, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Senin (8/6), mulai pukul 09.30 hingga 13.30 WIB.
Program ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas universitas PTNBH yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal berbasis keanekaragaman hayati. Kawasan Ngargoyoso dan Tawangmangu yang berada di lereng Gunung Lawu dikenal memiliki kekayaan biodiversitas, kondisi agroklimat yang mendukung budidaya tanaman hias, serta daya tarik wisata alam yang tinggi. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekoeduwisata yang mengintegrasikan aspek pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., selaku Ketua PMKI UNS–UNNES–UGM. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dalam membangun model pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Menurutnya, ekoeduwisata tidak hanya menjadi sarana wisata, tetapi juga merupakan wadah edukasi dan konservasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelatihan mengangkat tema “Budidaya Anggrek Vanda, Cattleya, dan Phalaenopsis” dengan melibatkan akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang perbungaan dan konservasi anggrek. Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti anggrek yang telah lama mengembangkan riset bioteknologi dan konservasi anggrek Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof. Endang menjelaskan teknik budidaya anggrek Vanda, mulai dari karakteristik tanaman, kebutuhan lingkungan tumbuh, teknik pemeliharaan, hingga peluang pengembangannya sebagai komoditas unggulan kawasan.
Prof. Endang menekankan bahwa budidaya anggrek tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan anggrek melalui budidaya yang berkelanjutan dapat mengurangi tekanan pengambilan tanaman dari habitat alaminya sekaligus mendukung pelestarian plasma nutfah anggrek Indonesia.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ixora Sartika Mercuriani, M.Si., Ketua DPD Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) DIY. Pada kesempatan tersebut, Dr. Ixora memaparkan teknik budidaya anggrek Cattleya, meliputi pemilihan media tanam, pengaturan intensitas cahaya, pemupukan, hingga strategi menghasilkan tanaman berbunga dengan kualitas optimal dan nilai jual yang tinggi.
Evaluasi Tengah Tahun (ETT) merupakan kegiatan setiap tahun yang dilaksanakan oleh pengurus harian Kelompok Studi Biology Orchid Study Club (BiOSC). Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja yang telah berjalan selama setengah periode kepengurusan Kabinet Corybas pictus dan menjadi wadah aspirasi anggota baik dalam bentuk saran maupun masukan. Pada tahun ini, ETT BiOSC dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2026 pukul 08.30 – 13.00 WIB secara daring melalui Google Meet. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota aktif BiOSC dari Angkatan Diksar 18, Angkatan Diksar 19, dan Angkatan Diksar 20.
Pelaksanaan kegiatan ETT BiOSC dibagi menjadi dua tahapan. Pada tahap pertama dilakukan secara asinkron yaitu pengisian penilaian melalui Google Form yang disebarkan oleh pengurus harian. Hasil dari formulir tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk Rapor Evaluasi Tengah Tahun (ETT). Tahap kedua dilakukan pemaparan matriks kerja pengurus harian beserta evaluasinya yang dilaksanakan secara sinkronus melalui Google Meet yang dipandu oleh Safira Zahra Raihanika dari Divisi Budidaya sebagai Master of Ceremony (MC). Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Nazwa Nur Sahara selaku Ketua BiOSC 2026 dan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. selaku Pembina BiOSC. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh pengurus harian. Pemaparan dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Nazwa Nur Sahara sebagai Ketua BiOSC 2026, Satria Muqid Nurhidayat sebagai Sekretaris Umum, Daariin Farah Tsabita sebagai Bendahara Umum, Dary Saka Fitrady sebagai Koordinator Keilmuan, Stanisius Ken Sidharta sebagai Koordinator Divisi Penelitian, Alfonsus Fidel Pandu Ekanto sebagai Koordinator Divisi Budidaya, Golda Theresia Simarmata sebagai Koordinator Divisi Konservasi, Muhammad Rafi Al Farid sebagai Koordinator Kewirausahaan, Hira Nitya Subekti sebagai Koordinator Keorganisasian, Lailatul Lidya Dwi Cahyani sebagai Kepala Bidang PSDM, Muhammad Haykal Nur Arifin sebagai Kepala Bidang Humjar, Gita Novi Fitriani sebagai Kepala Bidang Kerumahtanggaan, dan Felicia Nagata Christina sebagai Kepala Bidang Media dan Publikasi.
Pemaparan presentasi yang telah selesai kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab oleh peserta dan peninjauan oleh Dewan Pendamping Organisasi (DPO) BiOSC serta pemaparan Rapor Evaluasi Tengah Tahun pengurus harian. Rapor ini berisi penilaian kinerja pengurus harian, matriks kerja yang telah terlaksana, evaluasi terhadap pengurus harian, dan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan oleh anggota. Hasil dari rapor ini menilai bahwa masing-masing pengurus harian BiOSC Kabinet Corybas pictus mengerjakan program kerja dengan baik. Kegiatan Evaluasi Tengah Tahun BiOSC 2026 ditutup dengan games dan penyampaian kesan pesan harapan oleh para peserta serta dokumentasi bersama. [Penulis: BiOSC]
#SDG 4: Pendidikan Berkualitas
#SDG 14: Ekosistem Lautan
#SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Yogyakarta – Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di planet ini. Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, kekayaan biodiversitas laut Indonesia harus dipandang bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi biru (blue economy) berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
Fakultas Biologi UGM memiliki pandangan bahwa masa depan ekonomi maritim Indonesia dan dunia sangat bergantung pada kemampuan mengelola kekayaan hayati laut secara berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi. Hal ini disampaikan oleh Budi Setiadi Daryono selaku Dekan Fakultas Biologi dan Narasumber dalam National acara Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Balai Senat UGM.
Indonesia menempati posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), wilayah yang dikenal sebagai pusat biodiversitas laut dunia. Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 76% spesies karang perairan dangkal dunia dan sekitar 37% spesies ikan karang dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki sekitar 21% spesies lamun dunia dan 21% tutupan mangrove global, menjadikannya salah satu paru-paru ekosistem laut terbesar di dunia. Kekayaan ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pengembangan ekonomi biru global yang berkelanjutan.
Kontribusi Indonesia terhadap ekonomi biru tidak hanya berasal dari sumber daya perikanan. Ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang berperan sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon sink yang sangat efektif.
Keberadaan ekosistem tersebut membantu mengurangi emisi karbon, menjaga stabilitas iklim global, serta memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem pesisir Indonesia sesungguhnya merupakan investasi strategis bagi keberlanjutan ekonomi dunia.
Fakultas Biologi UGM menegaskan bahwa laut bukan hanya tempat menangkap ikan. Laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, dan bioteknologi modern.
Salah satu bidang yang menjanjikan adalah penelitian mikrobioma laut, yaitu eksplorasi mikroba dan virus laut yang berpotensi menghasilkan enzim industri, senyawa antimikroba, hingga biokatalis untuk berbagai kebutuhan teknologi masa depan.
Selain itu, percepatan hilirisasi rumput laut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan Indonesia. Rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi nutraseutikal, bahan baku industri kesehatan, serta produk berbasis bioekonomi lainnya.
Prof. Budi Setiadi Daryono menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya laut. Jika selama ini laut lebih banyak dipandang sebagai ruang eksploitasi sumber daya alam, maka ke depan laut harus ditempatkan sebagai “Living Laboratory” (Laboratorium Hidup) yang menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Paradigma baru ini menjadi bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai Maritime Innovation Powerhouse atau pusat inovasi maritim dunia. Dalam konsep ini, nilai ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan, tetapi oleh kemampuan menghasilkan data, riset, teknologi, dan produk inovatif berbasis biodiversitas laut.
Meskipun memiliki potensi luar biasa, Fakultas Biologi UGM melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, antara lain lemahnya hilirisasi produk kelautan dan belum sinkronnya tata kelola ruang laut antar sektor.
Untuk mempercepat pengembangan ekonomi biru, Fakultas Biologi UGM mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat segera diwujudkan, antara lain:
- Mengintegrasikan produk kelautan ke dalam program ketahanan pangan nasional dan percepatan penurunan stunting.
- Memperkuat rantai pasok pangan laut serta sistem jaminan mutu produk kelautan.
- Memfokuskan program bioprospeksi laut pada komoditas prioritas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang komersialisasi yang jelas.
- Mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam pengembangan inovasi maritim berbasis sains.
Dengan kekayaan biodiversitas laut yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi biru dunia. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai apabila pengelolaan sumber daya laut dilakukan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan. Bagi Fakultas Biologi UGM, masa depan laut Indonesia bukan sekadar tentang sumber daya alam, melainkan tentang bagaimana biodiversitas dapat diubah menjadi kekuatan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang.
**Yogyakarta** – Di tengah meningkatnya tantangan geopolitik global, perubahan iklim, serta eksploitasi sumber daya laut yang semakin masif, peran perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan biodiversitas maritim menjadi semakin penting. Sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu hayati terkemuka di Indonesia, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat kontribusinya dalam mengawal, melindungi, dan mengembangkan kekayaan hayati laut Indonesia melalui riset, inovasi, serta penguatan kebijakan berbasis sains.
Komitmen tersebut sejalan dengan berbagai agenda strategis nasional yang menempatkan sektor maritim sebagai pilar utama pembangunan Indonesia di masa depan. Dalam National Policy Dialogue bertajuk ”Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia”, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa kekuatan maritim Indonesia tidak lagi cukup hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya, tetapi harus didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Sebagai negara yang berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), Indonesia memiliki salah satu tingkat biodiversitas laut tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya menjadi aset ekologis, tetapi juga modal strategis dalam pengembangan ekonomi biru, ketahanan pangan, kesehatan, energi, hingga diplomasi global. Oleh karena itu, perlindungan biodiversitas maritim harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menegaskan bahwa laut Indonesia perlu dipandang sebagai laboratorium hidup yang menyimpan sumber daya genetik, pengetahuan biologis, dan peluang inovasi masa depan. Dalam perspektif Fakultas Biologi UGM, biodiversitas maritim bukan sekadar objek konservasi, tetapi fondasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Budi secara langsung di hadapan Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. (HC). Megawati Soekarnoputri, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dan para tamu di Balai Senat UGM pada Jumat, 22 Mei 2026
Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas penelitian yang tidak hanya berfokus pada inventarisasi spesies laut, tetapi telah berkembang ke pendekatan yang lebih maju seperti genomik, bioinformatika, environmental DNA (eDNA), hingga bioprospeksi sumber daya hayati laut. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti memahami kondisi ekosistem secara lebih akurat sekaligus mengidentifikasi potensi pemanfaatan berkelanjutan bagi sektor kesehatan, pangan, energi, dan industri berbasis hayati.
Selain itu, Fakultas Biologi UGM juga aktif mendorong pengembangan riset senyawa bioaktif laut, mikroalga, serta mikroorganisme laut yang berpotensi dimanfaatkan untuk biofuel, bioremediasi lingkungan, kosmetik, hingga farmasi. Berbagai penelitian tersebut diarahkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi biru yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kedaulatan maritim Indonesia melalui inovasi berbasis biodiversitas.
Tidak hanya pada aspek penelitian, Fakultas Biologi UGM turut berperan dalam mengawal tata kelola biodiversitas melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga nasional, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sinergi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem riset nasional, pengelolaan biodiversitas yang berkelanjutan, serta hilirisasi hasil penelitian agar dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan industri nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, Fakultas Biologi UGM memandang perlindungan biodiversitas maritim sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan bangsa. Laut tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya, identitas, dan keberlanjutan peradaban Indonesia. Oleh karena itu, penguatan riset biodiversitas laut harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pengetahuan lokal masyarakat pesisir, perlindungan hak kekayaan intelektual sumber daya genetik Indonesia, serta konservasi ekosistem laut dan pesisir.
Dalam National Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan tersebut, bertindak sebagai salah satu narasumber adalah Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., selaku Dekan dan Tim Perumus dari Fakultas Biologi yang terdiri dari Prof. Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc., dan Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D.
Melalui penguatan riset, pendidikan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, Fakultas Biologi UGM terus mengambil peran sebagai garda depan akademik dalam menjaga kekayaan hayati laut Indonesia. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk melindungi biodiversitas maritim bagi generasi saat ini, tetapi juga untuk memastikan bahwa kekayaan laut Indonesia tetap menjadi sumber pengetahuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa di masa depan.






































































