• UGM
  • Portal Simaster
  • IT Center
  • Webmail
  • KOBI
  • Bahasa Indonesia
    • English
  • Informasi Publik
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Biologi
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi, Misi & Tujuan
    • Organisasi
    • Staff
      • Tenaga Pendidik
      • Adjunt Professor
      • Tenaga Kependidikan
      • Kepakaran dan Topik Riset Dosen
    • Fasilitas
      • Animal House
      • Kebun Biologi
      • Konsultasi Kesehatan Mental
      • Laboratorium
      • Museum Biologi
      • Perpustakaan
    • Galeri
      • Gedung Fakultas
      • Museum Biologi
      • Penelitian
      • Gama Melon
  • Akademik
    • Program Sarjana
      • Visi, Misi, dan Tujuan
      • Matakuliah S1
      • Pendaftaran Skripsi
      • Pendaftaran Ujian Skripsi
      • Pendaftaran Yudisium
      • Pendaftaran Wisuda
      • Klaim MK Ekstrakurikuler
    • IUP
    • Program Profesi
      • Apa itu PKKH ?
      • Sejarah Pendirian Program Studi PKKH
      • Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Program Studi PKKH
      • Kompetensi Lulusan Program Studi PKKH
      • Bahan Kajian dan Profil Lulusan Program Studi PKKH
      • Kurikulum Program Studi PKKH
      • Pendaftaran Mahasiswa Baru PKKH
      • Informasi dan FAQ Program Studi PKKH
    • Program Magister
      • Deskripsi Program Magister Biologi
      • Mata Kuliah S2
      • Struktur Kurikulum Program Magister
      • Info Pendaftaran
      • PENDAFTARAN UJIAN KOMPREHENSIF
      • Pendaftaran Ujian Tesis
      • pendaftaran yudisium
      • Pendaftaran Wisuda
      • Tracer Study
    • Program Doktor
      • Visi, Misi, Tujuan, & Sasaran Program Doktor Biologi
      • Kurikulum Program Doktor
      • Info Pendaftaran
      • Pendaftaran Ujian Komprehensif
    • Akreditasi dan Jaminan Mutu
  • PENELITIAN & PENGGABDIAN
    • Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology
    • Berkala Ilmiah Biology
    • Pengelolaan Sampah
  • Kerja Sama
  • Alumni
    • Berita Alumni
    • BCADC (Web Alumni)
    • Data Kabiogama Pascasarjana
    • Data Kabiogama Sarjana
  • Beranda
  • Rilis Berita
  • hal. 209
Arsip:

Rilis Berita

Music Corner: Friendzone

Rilis Berita Jumat, 12 Mei 2017

(Yogyakarta, 17 Februari 2017) Setiap tahun, BEM Biologi UGM menggelar kegiatan Music Corner yang diinisiasi oleh Departemen Minat dan Bakat. Kegiatan yang diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam satu tahun tersebut diadakan demi memberi hiburan di tengah padatnya aktivitas akademik di Fakultas Biologi yang pada umumnya berupa praktikum. Setiap Music Corner mengangkat tema yang berbeda-beda.

Music Corner pertama di tahun 2017 ini mengusung tema Friendzone. Hal ini salah satunya terinspirasi oleh waktu penyelenggaraan music corner yang berdekatan dengan hari Valentine – 14 Februari 2017. Harapan dengan diangkatnya tema Friendzone tersebut dapat meningkatkan antusiasme civitas academica untuk mengikuti music corner ini, mengingat ada banyak lagu yang familiar di telinga berkaitan dengan tema tersebut. Tempat pelaksanaan music corner sendiri yakni tetap di dalam area Fakultas Biologi, tepatnya di Lapangan Voli.

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua BEM Biologi, Wildan Gayuh Z, dan juga ketua pelaksana music corner pertama, Ahmad Mustofa Huda. Dari tiga belas Kelompok Studi/Lembaga dan empat angkatan yang diharapkan dapat tampil pada music corner, hanya ada sepuluh perwakilan yang bersedia tampil. Penampil tersebut yakni dari perwakilan angkatan 2016, 2015, 2014, KMK/PMK, KSK, BiOSC, Senat Mahasiswa, KSH, KSAT, dan KSE. Setiap perwakilan membawakan dua buah lagu, dimana salah satu lagu mengikuti tema yang diangkat, dan lagu lainnya bebas. Meski pada Minggu tersebut beberapa agenda praktikum telah dimulai, namun tetap banyak mahasiswa yang bersedia meluangkan waktunya untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam music corner. Dari seluruh penampilan, pada akhir acara diambil salah satu penampil yang terbaik. Untuk music corner kali ini penampil terbaik jatuh kepada angkatan 2015. Penampil terbaik mendapatkan penghargaan berupa piala bergilir beserta hadiah berbentuk snack bucket.

Teladan Kartini Jiwa Muda Indonesia

Rilis Berita Kamis, 4 Mei 2017

Sleman, Yogyakarta- Suasana ramai nan meriah memberi warna yang berbeda di Fakultas Biologi, Jumat (21/4/17). Kemeriahan tersebut merupakan bagian dari Peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Fakultas Biologi UGM bersama dengan Dharma Wanita Pusat UP Fakultas Biologi dan KABIOGAMA Pusat. Kegiatan bertema “Teladan Kartini, Jiwa Wanita Indonesia” ini berangsur-rangsur kian ramai menuju puncak acara. Serangkaian kegiatan seperti pelatihan merangkai bunga, lomba merias wajah tanpa cermin, lomba karaoke, lomba menghias nasi tumpeng dan bazzar turut memeriahkan peringatan ini. Setiap tahun perayaan hari Kartini selalu ramai diselenggarakan oleh berbagai kalangan. Baik di sekolah, institusi maupun komunitas. Perjuangan Kartini yang begitu berani melawan zaman dan membawa perubahan besar pada kehidupan dan kedudukan kaum wanita, selau menjadi sumber inspirasi bukan hanya wanita namun semua kalangan. Fakultas Biologi UGM merayakan hari Kartini dengan suasana yang sangat meriah.

Salah satu rangkaian acara Peringatan Hari Kartini adalah pelatihan merangkai bunga yang diikuti lebih dari 20 civitas akademika Fakultas Biologi yang keseluruhannya perempuan. Dalam kegiatan ini tak hanya mendengarkan pakem dalam merangkai bunga, namun peserta dapat langsung menerapkan dan menyalurkan imajinasinya dalam menyusun kuntum bunga menjadi rangkaian indah dalam vas. Selain mengantongi ilmu dasar merangkai bunga, peserta juga dipersilahkan membawa hasil rangkaian untuk dipajang dirumah masing-masing. Beberapa civitas berencana meletakan vas di meja kantor atau di laboratorium.“Nanti bunganya saya pajang di Lab, biar semangat kerjanya” ucap salah satu laboran.

Dalam rangka memperkenalkan produk milik civitas Fakultas Biologi, selama dua hari diselenggarakan bazaar yang berlokasi di depan Ruang Seminar dari pukul 09.00 – 15.00 WIB. Stand yang terjajar rapi menawarkan berbagai produk hasil kreativitas dosen seperti tas dari anyaman milik Ibu Ganies Rieza (Lab. Genetika), bakso ikan bandeng olahan Pak Trijoko (Lab. Sistematika Hewan), batik kontemporer buah karya Harmoko Batik milik Mbak Lisna (Lab. Biokimia), anggrek spesies maupun hibrid juga diperkenalkan oleh Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Yogyakarta dan masih banyak produk lain yang tidak kalah menarik. Selama dua hari stand selalu ramai pengunjung tidak hanya dari kalangan biologi namun juga peminat dari fakultas MIPA dan geografi.

Selain pelatihan dan bazar ada juga beberapa perlombaan yang diikuti oleh mahasiswa dan pegawai, yaitu lomba karaoke yang dapat diikuti oleh laki-laki maupun wanita dari mahasiswa hingga karyawan, merias wajah tanpa cermin dan merias tumpeng nasi kuning yang dilaksanakan bersamaan dengan acara puncak bertempat di belakang Auditorium Fakultas Biologi dan langsung diumumkan di akhir acara yang menjadi pemenang 1 Lab Bioteknologi, ke 2 Lab SPH dan ke 3 Lab Genetika. Tidak kalah menarik denan merias tumpeng, salah satu lomba yang dipenuhi oleh kaum hawa, yaitu lomba merias wajah tanpa cermin dengan bahasa keren “no mirror makeup”. Kegiatan ini diikuti 13 peserta yang terdiri dari mahasiwa, karyawan, alumni, dan dosen Fakultas Biologi. Riuh ramai terasa ketika peserta mulai mengaplikasikan alat makeup seperti foundation, eyeshadow, pensil alis dan blush on.

Acara terakhir adalah talkshow dan pengumuman pemenang lomba. Yang unik dari acara ini adalah tamu undangan yang memakai kebaya. Selain itu juga ada acara lomba memakai kebaya dan pelatihan menggunakan kebaya. Acara dibuka oleh Rektor UGM, Prof.Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., membuka acara puncak yang digelar di Auditorium Fakultas Biologi. Dalam pidato pembuka, beliau sangat mengapresiasi kegiatan peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Fakultas Biologi. Beliau menyampaikan bahwa Ibu Kartini merupakan tokoh yang patut diteladani, tidak hanya sebagai pejuang emansipasi tetapi juga sebagai wanita yang berperan penting sebagai pelopor yang mampu merubah peradaban bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Begitu pula dengan Dekan Fakultas Biologi, Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D, dalam pidato sambutannya beliau mengatakan bahwa Ibu Kartini patut diteladani dan beliau menaruh harapan kepada para kartini masa kini untuk terus berjuang dan bersinar bagi bangsa dan negara dengan karya yang nyata. “Majulah Kartini Indonesia, jayalah untuk kemajuan bangsa” pungkas beliau dalam piadato sambutan.

Pada puncak acara, ruang Auditorium Fakultas Biologi juga disulap menjadi area fashion show dan pelatihan. Beberapa wanita nampak anggun mengenakan kebaya begitu juga dengan laki-laki yang nampak gagah dengan memakai beskap. Paguyuban Chattra Kebaya turut dihadirkan sebagai narasumber yang memberikan tips dan trik sederhana dalam berkebaya. Mereka juga mengajak kaum wanita untuk berkebaya dalam aktivitas sehari-hari sebagai bentuk cinta terhadap warisan budaya bangsa. Peragaan busana juga digelar dengan memamerkan produk dari Chattra Kebaya, Juwita Batik dan Hatmoko Batik. Model pada fashion show terdiri dari civitas akademika UGM itu sendiri, baik petugas laboratorium, mahasiswa, dosen, bahkan pegawai perpustakaan. Hal ini menjadikan acara tersebut terasa hangat dan menguatkan persaudaraan antar civitas akademika. Keterlibatan yang menyeluruh dari semua kalangan ini semakin menyemarakkan peringatan hari Kartini tahun 2017 di fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada tercinta. Acara yang dinanti-nanti oleh peserta lomba juga tidak ketinggalan meriah, yaitu acara pembagian hadiah. Pembawa acara menyebutkan satu persatu bidang lomba dan pemenangnya. Sebelum penutupan acara, panitia juga membagikan berbagai doorprize bagi yang beruntung. Acara kemudian ditutup sebelum sholat Jum’at dilaksanakan. (DMF/AM/PDN/WAA/RNP)

Hari Bumi 2017: Butterfly#7

Rilis Berita Selasa, 2 Mei 2017

Hari Sabtu, 22 April 2017 lalu adalah peringatan Hari Bumi Internasional. Apa itu Hari Bumi Internasional? Yaitu hari yang diperingati seluruh dunia untuk mengingat kembali akan kesejahteraan dan keberlangsungan bumi, tempat kita hidup dan tinggali. Dalam rangka memperingati Hari Bumi ini, BEM Biologi kembali mengadakan serangkaian acara tahunan yaitu Butterfly (Biology For Better Future Life-Youth) yang ke-7.

Butterfly tahun ini mengusung tema “Selaras Bersama Biodiversitas” dengan 3 rangkaian acara yang berlangsung pada bulan April. Acara pertama bernama Bioskop (Biologi dalam Teleskop) yang dilaksanakan pada 7 April 2017. Acara ini bekerja sama dengan Departemen Media Komunikasi dan Informasi BEM Biologi, berupa menonton film “2100” bersama-sama sambil berdiskusi mengenai lingkungan. Acara ini juga menghadirkan Qisty Fauziyah dari IMOB (Indonesian Movement for Biodiversity) dan Rizal Dzikri (menteri KLH BEM KM UGM 2016) sebagai pembicara dan pemantik diskusi. Acara berjalan dengan seru ditemani pop corn dan snack yang membuat jalannya acara benar-benar seperti di bioskop.

Acara kedua yaitu diskusi online nasional yang dilaksanakan pada 15 April 2017 dengan judul ‘Pelik Kebocoran Minyak Lepas Pantai Lirik degradasi Lingkungan dan Konflik Tak Berujung’. Acara ini dibatasi hanya untuk 100 peserta dari berbagai kalangan dan daerah se-Indonesia. Diskusi online ini dimoderatori oleh Ahmad Ardi selaku Ketua Kelompok Studi Kelautan (KSK Biogama) tahun 2017 dengan pembicara yaitu  Drs. Budi Santosa sebagai Ketua tim penyusun dokumen Amdal Intakindo PT. Geospasia Wahana Jaya dan alumni Fakultas Biologi angkatan ’92. Diskusi berjalan dua arah dengan durasi selama kurang lebih 3 jam yang dirasa belum dapat memuaskan antusiasme peserta diskusi karena tema yang diangkat sangat menarik.

Acara ketiga yaitu Music Corner dengan tema “A Melody for Diversity” yang diikuti KS dan lembaga di Fakultas Biologi. Acara ini berkolaborasi dengan Departemen Minat dan Bakat dari BEM Biologi. Meski dirundung hujan, tapi acara tetap berjalan lancar. Pada akhir acara didapatkan pemenang yaitu Alfisyahrin Hafiz yaitu perwakilan dari BioSC (Biology Orchid Study Club).

Acara keempat sebagai acara puncak sekaligus penutup rangkaian acara Butterfly #7, diadakan longmarch. Pada kegiatan longmarch ini Fakultas Biologi bekerja sama dengan Koalisi Hijau yaitu gabungan dari Fakultas Biologi, MIPA, Geografi, Kehutanan, Fakultas Teknologi Pertanian, serta D3 Kehutanan UGM. Longmarch dimulai dari kantor Dinas Pariwisata dengan titik akhir yaitu 0 km Yogyakarta. Selama perjalanan, peserta membagikan bibit tumbuhan serta pesan untuk peduli lingkungan kepada masyarakat di sepanjang Jalan Malioboro. Di titik akhir dilaksanakan pensi dan orasi dari masing-masing fakultas, deklarasi cinta bumi, serta peresmian Koalisi Hijau. Peserta dari anggota KS/Lembaga Fakultas Biologi terlihat meriah dengan berbagai macam kostum ciri khas mereka.

Semua rangkaian acara tidak dapat berjalan tanpa antusiasme dari berbagai elemen baik dari internal Fakultas Biologi maupun masyarakat pada umumnya. Namun sejatinya, Hari Bumi tidak cukup hanya diperingati pada 22 April saja. Karena kepedulian terhadap bumi dan lingkungan haruslah terus-menerus, agar Bumi ini tetap nyaman untuk menjadi tempat kita bersandar. Selamat Hari Bumi, semoga senantiasa terlindung dan melindungi bumi.

Butterfly #7
Selaras Bersama Biodiversitas

Peran Biolog dan Sejarah Kehidupan di Bumi

Rilis Berita Selasa, 25 April 2017

Oleh: Budi Setiadi Daryono, Ph.D.*

Budi Setiadi Daryono (Jawa Pos Photo) Berbicara tentang Bumi kita, tidak akan terlepas dari sejarah tentang asal usul kehidupan. Saat Bumi baru saja terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu, maka belum ada satupun bentuk kehidupan yang muncul, bahkan saat itu Bumi bukan tempat yang nyaman bagi kehidupan. Setelah melalui evolusi yang panjang, maka kehidupan di Bumi mulai terbentuk sekitar 3,5 miliar tahun lalu. Hal ini dapat diketahui dari struktur batuan kuno yang dikenal sebagai stromatolit. Stromatolit dihasilkan oleh mikroba yang membentuk selaput mikroba yang dapat memerangkap lumpur. Sampai saat ini stromatolit masih terus dihasilkan oleh mikroba dan memiliki kemiripan dengan stromatolit kuno.

Hingga saat ini Bumi menjadi satu-satunya planet layak huni di alam semesta ini. Berbagai teori diungkapkan oleh ilmuwan tentang awal terbentuknya kehidupan di Bumi. Salah satunya adalah teori Abiogenesis modern yang dicetuskan oleh Oparin, J.B.S Haldane, Harold Urey, dan Stanley Miller. Teori tersebut menyatakan bahwa  gas penyusun atmosfer purba dapat membentuk asam amino dan basa nitrogen yang identik dengan penyusun asam nukleat pada makhluk hidup. Adanya tegangan listrik tinggi, radiasi UV, dan kondisi alam semesta saat itu menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang membentuk bentuk awal kehidupan. Molekul yang dihasilkan secara Abiotik disebut protobion yang tidak dapat melakukan reproduksi namun dapat mempertahankan lingkungan kimia internalnya dari pengaruh lingkungan luar.

Milyaran tahun setelah kehidupan pertama terbentuk, maka  makhlu hidup di Bumi telah bekembang dengan pesatnya, baik jumlah maupun jenisnya. Makhluk hidup di Bumi berevolusi mengikuti perubahan kondisi geologis Bumi. Hingga saat ini terdapat 17 negara yang dinyatakan sebagai Megadiversitas yaitu Australia, Kongo, Madagaskar, Afrika Selatan, Indoneia, India, China, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Brazil, Kolombia, Ekuador, Meksiko, Peru, Amerika dan Venezuela. Suatu Negara dianggap sebagai negara Megadiversitas jika memiliki luas area kurang dari 10% luas bumi namun menopang kehidupan 70% spesies bumi.

Para ilmuwan juga belum mampu memastikan seberapa besar keragaman makhluk hidup di bumi ini. Pada tahun 2016, diperkirakan terdapat 2 milyar hingga 10 milyar spesies makhluk hidup yang ada di bumi. Namun, hanya 1,6 milyar saja yang sudah dideskripsikan dan 80% lebih sisanya belum dideskripsikan. Hal ini menjadi peluang yang besar bagi para Biolog dalam mengungkap kekayaan Sumber Daya Hayati dunia.

Semakin tuanya umur bumi dan ledakan populasi manusia yang sangat besar  menyebabkan beberapa spesies terancam kelangsungan hidupnya. Hotspot biodiversitas adalah suatu area yang memiliki keragaman biodivesitas tinggi namun memiliki potensi terancam kepunahan yang tinggi. Hingga saat ini terdapat 36 hotspot biodiversitas di bumi yang memegang peranan penting dalam mempertahankan keberlansungan kehidupan beberapa spesies bumi dan bahkan kehidupan bumi pada umumnya.

Indonesia merupakan negara yang masuk dalam salah satu hotspot biodiversitas dunia. Tak mengherankan lagi, pembangunan tak berkelanjutan dan industrialisasi lahan hijau yang sedang gencar terjadi di Indonesia menjadi acaman besar bagi kelangsungan hidup flora fauna. Sebut saja kasus kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera tahun 2015 yang menyebabkan kerusakaan jutaan hektar hutan di Indonesia dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga 196 Triliun rupiah. Hilangnya lahan hutan tersebut jelas menyebabkan hilangnya habitat ratusan flora dan fauna yang mungkin saja hanya dijumpai di Indonesia. Kemudian kasus alih fungsi hutan menjadi lahan sawit yang mengambil paksa habitat orang utan, ular, dan satwa hutan lainnya. Tidak hanya itu alih fungsi hutan menjadi lahan sawit juga menyebabkan hilangnya cadangan air tanah dan penurunan produksi oksigen oleh flora hutan sehingga akan mengubah iklim dalam jangka panjang.

Lebih jauh, biodiversitas ekosistem laut Indonesia juga terancam oleh beberapa kasus seperti kasus tumpahan minyak Montara di Laut Timor pasca ledakan saat pengeoran minyak 2009 silam dan yang terbaru adalah kasus karamnya kapal pesiar Caledonian Sky yang merusak lebih dari 20 Ha terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat yang setara dengan kerugian ekonomi sebesar 800 – 1200 milyar $ USA.

Pada peringatan hari Bumi ini sudah sepantasnya kita untuk lebih perhatian dengan kondisi bumi dan spesies makhluk hidup lainnya. Banyak peran yang dapat ‘dimainkan’ oleh para ilmuan Biologi dan kita semua sebagai upaya untuk mencari jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi dunia seperti ancaman kerusakan lingkungan, menurunnya kualitas kehidupan, ancaman terhadap kelangsungan hidup ekosistem global dan kepunahan keanekaragaman hayati dalam jangka panjang. Sehingga harapan kita bersama bahwa Bumi yang kita tinggali akan tetap lestari.

*) Penulis adalah Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada serta Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI)

Quo Vadis Biologi di Indonesia : Peran dan Status Biolog di Negara Mega Biodiversitas

Rilis Berita Kamis, 30 Maret 2017

Ditulis oleh : Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr Sc.*

Budi Setiadi Daryono (Jawa Pos Photo)Tulisan ini disusun bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) Konsorsium Biologi Nasional (KOBI) pada tanggal 20-21 Maret di Purwokerto. Semoga tulisan ini juga diterbitkan bersamaan dengan masa menunggu siswa dan siswi kelas 12 SMA di seluruh Indonesia yang telah mendaftarkan diri pada SNMPTN 2017. Seluruh siswa-siswi tersebut kini sedang melalui tahapan seleksi SNMPTN yang hasilnya akan diumumkan pada tanggal 26 April mendatang. Diantara sekian banyak jurusan yang dipilih, akan ada berbagai pertimbangan dan pertanyaan berkaitan dengan prospek kerja, kesesuaian minat, serta pengemabangan karir masa depannya.

Jika melihat data peminat Biologi pada Program Sarjana khususnya, terlihat kecenderunganya stagnan kalau tidak  malah cenderung menurun pada beberapa PTN dan PTS tertentu di Indonesia. Biologi yang mendalami keilmuan di bidang hayati menjadi jurusan yang kurang familiar dan rentan dengan berbagai pertanyaan pragmatis. Dari sekian pertanyaan yang disampaikan terhadap pemilihan minat Biologi, maka pertanyaan yang paling umum dan klasik baik sebelum maupun pada saat orientasi kampus mahasiswa adalah “Kuliah di jurusan Biologi memang bisa apa dan akan menjadi apa?”. Beruntung bagi mahasiswa yang memang menyenangi dan mendalami Biologi sebagai sebuah keilmuan, jawabannya kurang lebih pastilah sama dan sederhana : “Karena saya suka dan cinta Biologi, atau jawabanya yang umum karena saya nanti ingin jadi guru atau dosen, atau peneliti di lembaga penelitian.”

Kemudian bagaimana dengan mereka yang mungkin, merasa terjerembab dan tidak cocok  dengan jurusan atau minat ini? Bagaimana pula dengan yang memang tertarik ingin menempuh minat Biologi murni, namun masih ragu-ragu karena tidak terlihat menjanjikan? Bagaimana peran penting serta keunggulan sebagai Biolog di Indonesia? Hal ini dapat menjadi sebuah pembahasan menarik mengingat keilmuan Biologi masih dipandang kurang ‘bergengsi’ dan prospektif oleh umumnya masyarakat di Indonesia jika dibandingkan jurusan lain semisal kedokteran, ekonomi, hukum, fisipol, psikologi, atau teknik. Padahal, menjadi seorang Biolog bukan sekadar menjadi guru, peneliti atau dosen saja. Menjadi seorang Biolog berarti mempelajari serta menerapkan kaidah penelitian ilmiah untuk memberikan solusi terbaik bagi alam, makhluk hidup, dan kehidupan. Sebagai contoh dari data jenis pekerjaan yang dimiliki oleh alumni Fakultas Biologi UGM tercatat kurang lebih 56 jenis pekerjaan yang ditekuni oleh para alumni Biologi, sebut saja Embriologis pada Human In Vitro Fertilization, Bioteknologis, Mikrobiologis, Konsultan dan Analis Linkungan, Konservasionis, Kurator Museum, Perekayasa Genetik, Analis Bioinformatik, Quality Control proses dan produk industri, Pemulia Hewan dan Tumbuhan serta masih banyak jenis pekerjaan yang dilakukan para Biolog dalam dunia kerjanya.

Meskipun demikin, harus diakui perkembangan keilmuan Biologi sebagai fundamental Science atau ilmu dasar di Indonesia kenyataanya kurang bersinar, jikalau tidak memprihatinkan. Hal ini dapat terjadi karena Biologi sebagai Rumpun  Keilmuan yang cukup luas cakupannya berupa Bonggol/Cabang Keilmuwannya dianggap belum mampu memberikan prospek profesi selain guru, dosen dan peneliti di lembaga penelitian. Kondisi ini juga diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap profesi dosen dan ilmuwan di bidang Biologi di Indonesia, sehingga mereka yang memang ingin mendalami Biologi dan cabang-cabang keilmuannya, tentu saja akan merasa lebih menguntungkan jika bekerja di bidang atau sektor lainnya. Belum adanya Departemen atau setingkat Kementrian yang secara langsung mengembangkan potensi profesi Biolog juga berimplikasi pada ketidakjelasan jenis pekerjaan yang umumnya bermuara pada Kementrian atau Departemen terkait.

Di tingkat dunia juga terlihat ketidakberfihakannya terhadap Biologi dan Para Biolog. Sebagai contoh meski jumlah peraih Nobel Bidang Kedokteran dan Fisiologi lebih banyak disandang oleh Para Biolog dibandingkan Para Dokter kesehatan, namun ironisnya tidak ada kategori Nobel bidang Biologi untuk penelitian dan para peneliti di bidang Biologi, lain halnya dengan Nobel di bidang Kimia dan Fisika.

Keprihatinan tersebut semakin terbukti, sebagaimana yang dilaporkan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, bahwa jumlah ahli pengelompokan jenis flora dan fauna (Taksonom) yang merupakan cabang ilmu krusial dalam Biologi di Indonesia ‘sangat memprihatinkan dan tidak seimbang dengan jumlah keanekaragaman hayati tanah air yang begitu melimpah. Menurutnya, dari sekitar 9000 peneliti di Indonesia, ahli taksonomi hanya berjumlah 174 orang. Padahal berdasarkan data World Conservation Monitoring Centre of the United Nations Environment Programme (UNEP-WCMC) yang dirilis pada tahun 2004, Indonesia menempati peringkat ketiga keanekaragaman hayati terbesar dengan kategori sebagai negara dengan jumlah spesies mammalia terbanyak pertama dan spesies ikan terbanyak kedua di dunia.

Fakta ini menunjukan bahwa Indonesia sebagai biodiversity hotspot membuka banyak sekali kesempatan untuk diteliti dan dikembangkan oleh orang-orang yang mendalami Biologi. Sehingga seharusnya Biologi bagi Indonesia adalah prioritas utama dalam menjaga, mengelola, memanfaatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati bangsa dan dunia.

Biologi sebagai ilmu pengetahuan dibidang kehayatan (life sciences), dalam implementasi yang optimal telah terbukti meningkatkan nilai tambah yang bermanfaat bagi pembangunan pada berbagai sektor kehidupan umat manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Temuan-temuan dibidang biologi telah dapat melestarikan  keanekaragaman hayati dan memberikan nilai tambah khususnya dalam sektor kesehatan, pertanian, industri dan lingkungan.

Sebagai contoh, kekayaan sumber daya mikrobia asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi sumber antibiotik baru yang bernilai lebih seperti Streptomyces indonesiensis dan Streptomyces cangkringensis yang ditemukan dari daerah sekitaran kaki Gunung Merapi, Yogyakarta. Tanaman indigenous yang dimiliki Indonesia pun memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber fitofarmaka yang unggul, sebut saja buah merah (Pandanus conideus Lam.) yang berasal dari pedalaman Papua. Banyaknya kekayaan yang dapat digali dan dikembangkan kemanfaatannya untuk masyarakat sesungguhnya merupakan sebuah ‘panggilan’ terhadap profesi dosen dan peneliti di bidang Biologi untuk sekiranya lebih proaktif dalam menggali potensi-potensi tersebut dan mengembangkannya dengan bijaksana.

Sesungguhnya terdapat beberapa profesi sebagai Biolog yang mungkin belum banyak dilirik dan dipertimbangkan masyarakat Indonesia namun memiliki prospek profesi yang cukup menjanjikan. Beberapa diantaranya adalah tenaga konservasi sumber daya alam di taman nasional, pelaku industri di bidang penyelia bahan dan alat penunjang penelitian, illustrator buku-buku pendidikan terutama pada ranah ilmu hayati, Kurator Museum, Bioteknologis seperti ahli kultur jaringan dan stem cell, pemulia hewan/tanaman (breeder), Biologi Forensik, Embriologis, Mikrobiologis dan teknisi quality control (terutama di bidang pengolahan limbah dan baku kualitas air). Kesemua profesi di atas sesungguhnya masih membutuhkan banyak ahli dari bidang keilmuan Biologi, sehingga masih membuka jalan bagi mereka yang memang ingin mengembangkan dirinya dengan segenap jiwa raga sesuai minat dan bakat yang dimiliki anak bangsa.

Akhir kata, dibutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari segenap elemen yang bersinggungan dengan pengembangan bidang dan minat keilmuan Biologi; baik itu guru sekolah menengah dan atas, dosen di perguruan tinggi, mau pun pemerintah (dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan khusunya Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dalam pengembangan profesi Biolog) dalam menunjang serta mempersiapkan Biolog yang unggul. Karena saya percaya, membentuk generasi Biolog yang unggul dapat memberikan kontribusi dan solusi luar biasa dalam bidang pendidikan, maritim, pertanian, lingkungan hidup dan kesehatan di Indonesia yang mampu mempercepat pemenuhan cita- cita bangsa Indonesia sendiri dalam memajukan kesejahteraan umum untuk menjadi bangsa yang adil dan makmur.

*) Penulis merupakan Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada dan Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI)

Rakornas KOBI Bahas Penyelamatan dan Pelestarian Kekayaan Sumber Daya Hayati Indonesia

Rilis Berita Selasa, 21 Maret 2017

KBRN, Purwokerto: Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang memiliki kekayaan alam melimpah terutama keanekaragaman hayatinya dan bahkan sudah diakui dunia. Kekayaan hayati tersebut tidak luput dari kehancuran dan kepunahan akibat salah satunya pemanasan global.

Karena itu, Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang merupakan himpunan penyelenggara pembelajaran perguruan tinggi bidang biologi menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas) di Purwokerto selama dua hari dari 20 – 21 Maret 2017.

Ketua KOBI, Dr. Budi Setiadi Daryono mengatakan, ada tiga isu yang paling krusial untuk dibahas yaitu menjaga, memanfaatkan dan melestarikan kekayaan sumber daya hati yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang sudah disampaikan dunia kita menempati nomor dua di dunia dari kehancuran atau kepunahan akibat pemanasan global dan perubahan iklim beberapa tahun terakhir”, ungkapnya kepada RRI sebelum Rakornas di Purwokerto, Senin (20/3/2017)

Menurut Dia, hal itu penting dilakukan karena kalau tidak akan berakibat serius  terhadap kelangsungan hidup organisme.

“Sebetulnya kita sudah dimodali  keanekaragaman dan kekayaan sumber daya hati yang bisa kita manfaatkan di berbagai sektor”, ujar Dr. Budi Setiadi Daryono.

Untuk itu keanekaragaman dan sumber daya hayati tersebut, lanjutnya, perlu dijaga dan dilestarikan.

”Inilah yang harusnya aware dimana satu hal kalau kekayaan dan keanekaragaman hayati kita sudah punah, kita tidak bisa lagi mengembalikannya itu, ya sehingga sebelum punah mari kita jaga, kita manfaatkan dan kita lestarikan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan dan berupa modal yang sangat besar bagi bangsa ini dari Tuhan yang Maha Kuasa”, pungkasnya.

Selain isu menjaga dan melestarikan kekayaan sumber daya hayati Indonesia, Dr. Budi Setiadi Daryono yang juga Dekan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) menambahkan, Rakornas juga membahas pemantapan kurikulum nasional.

“Secara prinsip, Rakornas juga membahas pemantapan kurikulum nasional untuk program studi biologi baik di tingkat sarjana maupun tingkat pasca sarjana”, imbuh Dr. Budi Setiadi Daryono.

Rakornas konsorsium Biologi Indonesia itu diikuti 48 perwakilan dari 33 perguruan tinggi dari Sumatera hingga Papua.(RPW/rri.co.id)

Anomali Iklim dan Ancaman Ketahanan Pangan

Rilis Berita Kamis, 16 Maret 2017

Oleh: Budi Setiadi Daryono*

Budi Setiadi Daryono (Jawa Pos Photo)Menanggapi artikel Rudi Wahyono di Jawa Pos pada 7 Maret 2017, ada beberapa hal menarik yang penting untuk digarisbawahi. Pertama-tama, fenomena anomali iklim La Nina memang harus dilihat sebagai bagian dari rangkaian El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan bukan berdiri sendiri. ENSO yang diawali dengan El Nino pada 2015 hingga awal 2016 serta berlanjut dengan La Nina pada 2016–2017 membawa dua isu utama berupa ketahanan pangan nasional sekaligus cekaman berupa seleksi terhadap biodiversitas di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2002 menyatakan bahwa La Nina pada 1996 membawa kenaikan produktivitas beras Indonesia sebesar 2,73 persen dari total produksi beras pada 1995, yaitu 1.357.366 ton. Namun, El Nino yang terjadi pada 1998 dan hanya berselang dua tahun dari 1996 justru mengurangi produksi beras hingga 5 juta ton dan mengakibatkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional serta kondisi ekonomi Indonesia pada waktu itu. Dengan demikian, bukan tidak mungkin, jika tidak ditangani dengan serius, isu ketahanan pangan akibat peristiwa ENSO tersebut juga bakal diwarnai peristiwa sosial politik berskala nasional.

Peringatan itu pernah disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya. Dia menyatakan, dalam sejarah Indonesia, kerap kali jika terjadi El Nino skala besar, peristiwa sosial dan politik yang juga besar senantiasa mengiringi (baca ”Kepala BMKG Andi Eka Sakya: La Nina Belum Puncaknya” di beritagar.id 29 September 2016).

Untuk menanggulangi ancaman ketahanan pangan nasional akibat anomali iklim ENSO tahun ini, diperlukan keseriusan pemerintah, khususnya beberapa kementerian terkait (antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Bulog), untuk senantiasa berperan aktif memprediksi, menyusun, dan mengeksekusi langkah-langkah mitigasi yang strategis serta tepat. Meliputi proses penyediaan pangan dari hulu (petani) hingga hilir (konsumen), paling tidak sampai akhir tahun ini.

ENSO juga dapat memengaruhi harga pangan akibat ketimpangan pasokan serta permintaan, juga memengaruhi besaran biaya dan teknis distribusi. Tingginya curah hujan akibat La Nina akhir-akhir ini juga mengakibatkan pasokan bahan pangan di beberapa tempat terputus karena terkena banjir, tanah longsor, atau bahkan tingginya gelombang pasang air laut. Perbaikan metode, jalur distribusi, sarana, dan prasarana untuk mengatasi ketimpangan pasokan bahan pangan yang dapat terjadi akibat ENSO juga harus dipersiapkan mulai sekarang jika tidak ingin terjadi lonjakan beberapa harga komoditas pertanian. Sebagaimana terjadi pada harga cabai yang melonjak hingga di atas Rp 100 ribu per kilogram pada Januari–Februari 2017. Hal itu antara lain terjadi pada tanaman hortikultura, sayur, dan buah-buahan yang tidak toleran terhadap paparan curah hujan yang tinggi. Sehingga tanaman menjadi rentan dan mengakibatkan gagal panen serta lonjakan harga.

Beberapa waktu lalu Bambang Irawan, peneliti di Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor, juga menyampaikan bahwa fluktuasi berupa penurunan produksi pangan akibat El Nino dan peningkatan produksi pangan akibat La Nina paling tinggi terjadi pada produksi jagung. Hal itu menunjukkan bahwa produksi jagung paling sensitif terhadap peristiwa anomali iklim sehingga daerah-daerah sentra produksi jagung seperti Madura, Nusa Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan perlu diberi perhatian khusus. Penggunaan green house untuk pengembangan bibit unggul yang tahan terhadap cekaman perendaman kekeringan dan perendaman –serta penggunaan screen house untuk budi daya dan skala produksi buah (meskipun bukan satu-satunya)– dapat menjadi syarat penting dalam menjamin ketersediaan pasokan yang berkelanjutan dan mengurangi ketidakpastian akibat fenomena ENSO berupa La Nina yang terjadi pada tahun ini.

Selain ancaman ketahanan pangan dan dampaknya terhadap kondisi sosial politik nasional sebagaimana paparan sebelumnya, ENSO dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan keanekaragaman hayati di Indonesia. Dampak ENSO bagi kehilangan dan kepunahan biodiversitas memang tidak dapat dirasakan langsung seperti halnya pada ancaman ketahanan pangan. Namun, kehilangan biodiversitas dalam jangka panjang justru akan lebih merusak tatanan ekosistem serta menimbulkan kerugian sistemik yang tidak dapat diukur dengan materi karena berlangsungnya kepunahan.

La Nina yang membawa curah hujan lebih tinggi disertai kenaikan suhu dan kelembapan relatif rerata akan memberikan cekaman terhadap ekosistem dan dapat menimbulkan seleksi alam. Dalam hal ini, keberadaan La Nina akan menciptakan bottleneckeffect terhadap spesies yang memiliki toleransi rendah akan kenaikan suhu serta cekaman perendaman akibat tingginya curah hujan dan kelembapan. Misalnya yang terdapat pada ekosistem hutan padang rumput di Nusa Tenggara, sebagian Jawa Timur, dan Bali.

Flora dan fauna indigenous asli Indonesia bisa jadi terancam punah atau setidaknya mengalami tekanan seleksi yang kurang menguntungkan. Contohnya adalah penentuan jenis kelamin penyu hijau yang sangat dipengaruhi kondisi suhu pada saat pengeramannya. Penyu hijau (Chelonia mydas L.) merupakan spesies yang jenis kelamin anakannya dipengaruhi kondisi suhu (temperature sex determination/TSD). Sebagai contoh, pada suhu lebih dari 29 derajat Celsius, anakan penyu umumnya berkelamin betina. Sebaliknya, pada suhu kurang dari 29°C, umumnya anakan penyu berkelamin jantan. Jika pada saat pengeraman suhu lingkungannya lebih dari 33°C, akan timbul kematian bagi embrio penyu.

Akhir kata, semoga fenomena ENSO berupa La Nina yang terjadi tahun ini dapat menjadi cermin untuk refleksi bagi bangsa kita bahwa pada hakikatnya manusia memang tidak dapat lepas dari alam. Juga, sudah selayaknya fenomena ENSO ini menjadikan kita lebih mawas diri serta menjaga kelestarian alam dengan lebih baik. (*)

*Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada serta ketua Konsorsium Biologi Indonesia (Kobi)

International Conference on Applied Science and Health (ICASH) 2017: “Improving Health and Well Being for Better Society”

Rilis BeritaSeminar Kamis, 2 Maret 2017

International Conference on Applied Science and Health (ICASH) 2017 merupakan kegiatan konferensi internasional yang diselenggarakan atas kerjasama antara Mahidol University dengan Indonesian Scholar Colloquium (InSchool), DL-Enterprise, Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan Universitas Dipenogoro yang dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2017 di Mahidol University, Salaya Campus, Phutthamonthon, Nakhon Pathom, Thailand. Pada pertemuan ini, semua partisipan yang merupakan peneliti muda dari berbagai bidang akan mewujudkan solusi untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik baik dari bidang kesehatan, dan lain-lain. Pada kegiatan ini terpilih 67 paper terbaik untuk sesi oral presentation dan 68 paper untuk sesi poster presentation. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Undergraduate, Magister, Doctoral, dan Lecturer dari Indonesia, Thailand, dan beberapa negara internasional.

Pada kesempatan ini Universitas gadjah Mada mengirimkan tiga orang delegasi mahasiswa Undergraduate Fakultas Biologi yang telah dinyatakan lolos seleksi untuk mempresentasikan paper mereka yang berjudul “Potential Chemopreventive Agent : Study of Apoptosis in the Extracts of Sponge-Associated Fungi from Yogyakarta against Cervical Cancer HeLa Cell Line”. Adapun delegasi tersebut yaitu Eka Ramadhani (Biologi 2013), Aditya Nur Subchan (Biologi 2014) dan Fajar Priyambada (Biologi 2011). Penelitian ini merupakan hasil dari kegiatan PKM-Penelitian pada tahun 2015 yang juga dikerjakan oleh Abrory Agus Cahya Pramana, S.Si (Biologi 2010) dan Nur Rofika Ayu Shinta Amalia, S.Si (Biologi 2012) dan dibawah bimbingan Dr.biol.hom. Nastiti Wijayanti, M.Sc.

Pada kegiatan ini tim dari Fakultas Biologi adalah satu-satunya delegasi dari Universitas Gadjah Mada dan satu-satunya tim yang merupakan mahasiswa Undergraduate. “Suatu kehormatan bagi kami sebagai delegasi UGM dapat terpilih dan menghadiri konferensi internasional ini dikarenakan kami merupakan satu-satunya tim yang berasal dari mahasiswa Undergraduate dan dapat mempresentasikan hasil penelitian kami di depan reviewer dari Thailand, Jepang, Indonesia, dan para peserta conference. Sebelum dinyatakan lolos sebagai peserta, kami harus mengerjakan beberapa revisi demi kebaikan penulisan paper penelitian tersebut. Hal ini tentunya menjadi tantangan dan pengalaman yang sangat berharga bagi kami”, ujar Eka Ramadhani.

Adanya kegiatan ini dapat membuka kesempatan bagi kami untuk mendapatkan banyak relasi dengan para ahli, peneliti, dan dosen-dosen dari berbagai Universitas. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus diadakan dan diikuti oleh teman-teman dari Universitas Gadjah Mada, khususnya Fakultas Biologi guna meningkatkan kemampuan dalam segi publikasi ilmiah.

Presentasi Hasil Tugas Belajar Dosen Fakultas Biologi: Dr. Sukirno & Rury Aprilurrahman, M.Sc

Rilis Berita Senin, 5 Desember 2016

Fakultas Biologi kini memberikan penghargaan kembali kepada kedua Dosen yang telah berhasil menyelesaikan studinya, beliau adalah Dr. Sukirno dan Rury Aprilurrahman, M.Sc. Penghargaan berupa presentasi kuliah umum. Kuliah umum dibuka oleh Dekan Fakultas Biologi (Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc) dan dihadiri oleh para guru besar (Profesor), dosen dan mahasiswa S3. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 01 Desember 2016 menjadi motivasi tersendiri yang perlu dikembangkan dalam dunia akademisi. Penelitian dengan isu genetika molecular yang dipadukan dengan dengan disiplin ilmu lain seperti morfologi, taxonomi dan biogeografi ini menjadi bagian tersendiri hingga diharapkan kedepannya menjadi tim kerja yang sinergis dan saling melengkapi. Harapannya kedua dosen ini juga dapat menjadi bagian dalam tim genetika populasi.

Penyampaian topic mengenai: Molecular Taxonomy and evolution of freshwater Crayfish of Genus Cherax (Decapoda: Parastacidae) from Northern Australia dan New Guinea. Studi tentang taxonomi dan evolusi lobster air tawar terutama dari Papua dan Australia Utara oleh Bapak Ruri, M.Sc dan Morphometrics and molecular studies of palm weevils from Saudi Arabia and Indonesia. Studi hama utama kelapa, sagu dll di Indonesia dan hama utama kurma di negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Eropa oleh Dr. Sukirno, menjadi bagian yang menarik dalam ilmu biologi. Banyaknya biodiversitas yang belum terungkap menjadi tantangan tersendiri bagi para ilmuwan khususnya dalam ilmu biologi. Crayfish dan Rhynchophorus spp. yang merupakan objek penelitian beliau berdua misalnya, yang hingga kini masih banyak aspek penelitian yang belum terungkap dan terselesaikan secara ilmu, baik secara biogeografi, taxonomi, ekologi maupun disiplin ilmu biologi lainnya. Sebagai contoh Kumbang jenis Rhynchophorus sp., di Indonesia (yakni Departemen Pertanian) masih belum aware terhadap hama tersebut. Hama yang berada di batang atau basal tanaman hingga mematikan jenis tanaman palmae secara perlahan tetapi pasti menjadi isu penting yang harus diselesaikan, karena posisi atau keberadaan hama yang sulit terpantau oleh kasat mata dan jika terinfeksi sulit dideteksi secara dini. Sementara itu, disisi lain dari ilmu biologi taxonomi beragamnya jenis kumbang Rhynchophorus sp. pada setiap jenis tanaman palmae memberikan informasi monofiletik, yang menyebabkan jenis tersebut berasal dari ancestor yang sama. Begitu halnya dengan jenis Crayfish yang terkadang perbedaan capit yang soft pet menjadi variasi genotip meskipun jenis ini berasal dari ancestor yang sama. Perbedaan morfologi dan warna tubuh berbeda dapat terjadi pada ancestor yang sama.

Studi ekstensif dan data yang representatif selalu dibutuhkan dalam penelitian. Informasi dan pengetahuan tidak akan habis dan mati sampai akhir hayat, semua akan terus berkembang secara pesat, dan disinilah para ilmuwan (scientist) selalu dibutuhkan untuk mengungkap ilmu tersebut.

Biology Brainiac Competition

Rilis Berita Jumat, 2 Desember 2016

Fakultas Biologi UGM kembali mengadakan olimpiade bergengsi. Setelah sempat vakum sejak tahun 2012, olimpiade biologi tingkat SMA berhasil digelar. Dengan nama baru yaitu BBC atau Biology Brainiac Competition, olimpiade ini diikuti oleh 134 peserta dari 31 sekolah yang  tersebar di seluruh pulau Jawa. Mengusung tema ‘Maximize your Capacity’, tiap peserta diharapkan mampu memaksimalkan segela potensi yang dimilikinya melalui adanya kompetisi ini.

Olimpiade ini dilakukan dalam dua hari, pada tanggal 5 – 6 November  2016, bertempat di gedung Fakultas Biologi UGM Yogyakarta. Olimpiade ini dibagi menjadi dua babak. Hari pertama merupakan babak penyisihan dan dilanjutkan babak final pada hari berikutnya. Babak penyisihan berupa tes tertulis dan babak final berupa tes analisis dan praktikum.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh ketua BBC 2016, Chalvia Zuyyina (2015), ketua BEM Fakultas Biologi, Dinda Ayu Islami (2013), serta Dekan Fakultas Biologi, Bapak Budi Setyadi Daryono, S. Si., M. Agr. Sc., Ph. D. Kemudian, seluruh peserta dibawa menuju ruang masing-masing untuk mengukuti ujian secara tertulis. Ujian tertulis ini dilakukan dalam 2 sesi, dimana setiap sesi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

Dari babak penyisihan, terpilih 14 peserta dengan 10 nilai terbaik. Nama-nama tersebut antara lain,

  1. Mukhammad Nur Hidayatullah (MAN 2 Kebumen)
  2. William Nathaniel (SMAK Penabur Cirebon)
  3. Luqman Abdan S (MA Husnul Khotimah)
  4. Nurul Ainun Nuha (SMA Kesatuan Bangsa)
  5. Fildza Aulia Az. (MA Husnul Khotimah)
  6. Adrian Wiryanata G. (SMA PL Van Lith)
  7. Shabrina Dewi Fiesta (SMAN 1 Wonogiri)
  8. Hilmy Atha S. (SMAN 4 Surakarta)
  9. Dewa Putu Adhi N.A. (SMA Kesatuan Bangsa)
  10. Sasangka Adhita N (SMA Kesatuan Bangsa)
  11. Fahry Arbyansyah F.M. (SMAN 1 Pacitan)
  12. Alliza Kurnia A.A (SMAN 4 Surakarta)
  13. Wahyuning Ati Ashari (SMAN 1 Cilacap)
  14. Almaas Salmaa L. (SMAN 1 Purworejo)

Keempat-belas peserta selanjutnya akan melanjutkan babak final pada hari kedua. Babak  final terdiri dari soal analisis dan praktikum. Pada soal analisis peserta diminta mempresentasikan jawaban dari suatu masalah di hadapan juri secara langsung. Juri yang menilai, merupakan dosen Fakultas Biologi UGM sendiri, yaitu Ibu Ganies Riza A., S.Si., M.Sc.; Lisna Hidayati, S.Si., M.Biotech dan Bapak Rahardian Yudo Hartantyo, S.Si., M.Sc.

Pada akhirnya, Dewa Putu Adhi keluar sebagai Juara I, disusul oleh Hilmi Atha S. sebagai juara II dan Muhammad Nur Hidayat sebagai juara III. Selain itu untuk Best Analysis diraih oleh Fahry Arbyansyah F. M sementara Best Practical diraih oleh Adrian Wiryanata G. Ketiganya, mendapat sertifikat, dengan juara I mendapat Piala Gubernur beserta uang tunai Rp2.500.000. Juara kedua mendapat Piala Bupati dan uang tunai Rp1.500.000 dan juara III mendapat piala rektor dan uang tunai Rp1.000.000. Selamat kepada para pemenang.

1…207208209210211…222

Akreditasi

Berita Terakhir

  • Wisuda Pascasarjana Fakultas Biologi UGM Tandai Lahirnya Lulusan Fast Track
  • Soroti Tantangan Malaria Indonesia Timur, Mahasiswa Magister Biologi UGM Raih Juara Nasional
  • Pendaftaran Program Internalisasi Nilai-nilai Pioner (PIN PIONER) UGM 2026
  • Jadwal KKN-PPM UGM Periode 1 dan 2 Tahun 2026
  • Dosen Tunghai University Taiwan Bagikan Riset Genetika Kupu-Kupu di Guest Lecture Fakultas Biologi UGM
Universitas Gadjah Mada

UNIVERSITAS GADJAH MADA

FAKULTAS BIOLOGI
Jalan Teknika Selatan, Sekip Utara,
Yogyakarta 55281
biologi-ugm@ugm.ac.id
Telepon/Fax: +62 (274) 580839

Tentang Kami

  • Sejarah
  • Organisasi
  • Staff
  • VISI, MISI & TUJUAN
  • Biodiversitas
  • Informasi Publik

KEMAHASISWAAN

  • Pelayanan Mahasiswa
  • Organisasi Mahasiswa
  • Pengajuan Kerja Praktik Lapangan
  • Izin Penelitian Lapangan
  • Layanan Konseling Mahasiswa

Akademik

  • Peraturan Akademik
  • Pengumuman Akademik

Survei Kepuasan Layanan

  • Survei Layanan Akademik
  • Survei Layanan KASDM
  • Survei Layanan P2MKSA
  • Survei Layanan Laboratiorum
  • Survei Layanan K5L dan Driver

Akreditasi

  • Image 1
  • Image 2
  • Image 3

© 2024 FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju