Karanganyar, 8 Juni 2026 – Tim Anggrek Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tim pelaksana Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 3 PTNBH yang berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan pelatihan budidaya anggrek sebagai bagian dari program pengembangan potensi kawasan Ngargoyoso–Tawangmangu berbasis ekoeduwisata untuk meningkatkan perekonomian berkelanjutan. Kegiatan berlangsung di UMKM Mitra Pabongan Orchid, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Senin (8/6), mulai pukul 09.30 hingga 13.30 WIB.
Program ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas universitas PTNBH yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal berbasis keanekaragaman hayati. Kawasan Ngargoyoso dan Tawangmangu yang berada di lereng Gunung Lawu dikenal memiliki kekayaan biodiversitas, kondisi agroklimat yang mendukung budidaya tanaman hias, serta daya tarik wisata alam yang tinggi. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekoeduwisata yang mengintegrasikan aspek pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., selaku Ketua PMKI UNS–UNNES–UGM. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dalam membangun model pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Menurutnya, ekoeduwisata tidak hanya menjadi sarana wisata, tetapi juga merupakan wadah edukasi dan konservasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelatihan mengangkat tema “Budidaya Anggrek Vanda, Cattleya, dan Phalaenopsis” dengan melibatkan akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang perbungaan dan konservasi anggrek. Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti anggrek yang telah lama mengembangkan riset bioteknologi dan konservasi anggrek Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof. Endang menjelaskan teknik budidaya anggrek Vanda, mulai dari karakteristik tanaman, kebutuhan lingkungan tumbuh, teknik pemeliharaan, hingga peluang pengembangannya sebagai komoditas unggulan kawasan.
Prof. Endang menekankan bahwa budidaya anggrek tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan anggrek melalui budidaya yang berkelanjutan dapat mengurangi tekanan pengambilan tanaman dari habitat alaminya sekaligus mendukung pelestarian plasma nutfah anggrek Indonesia.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ixora Sartika Mercuriani, M.Si., Ketua DPD Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) DIY. Pada kesempatan tersebut, Dr. Ixora memaparkan teknik budidaya anggrek Cattleya, meliputi pemilihan media tanam, pengaturan intensitas cahaya, pemupukan, hingga strategi menghasilkan tanaman berbunga dengan kualitas optimal dan nilai jual yang tinggi.






























































