• UGM
  • Portal Simaster
  • IT Center
  • Webmail
  • KOBI
  • Bahasa Indonesia
    • English
  • Informasi Publik
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Biologi
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi, Misi & Tujuan
    • Organisasi
    • Staff
      • Tenaga Pendidik
      • Adjunt Professor
      • Tenaga Kependidikan
      • Kepakaran dan Topik Riset Dosen
    • Fasilitas
      • Animal House
      • Kebun Biologi
      • Konsultasi Kesehatan Mental
      • Laboratorium
      • Museum Biologi
      • Perpustakaan
    • Galeri
      • Gedung Fakultas
      • Museum Biologi
      • Penelitian
      • Gama Melon
  • Akademik
    • Program Sarjana
      • Visi, Misi, dan Tujuan
      • Matakuliah S1
      • Pendaftaran Skripsi
      • Pendaftaran Ujian Skripsi
      • Pendaftaran Yudisium
      • Pendaftaran Wisuda
      • Klaim MK Ekstrakurikuler
    • IUP
    • Program Profesi
      • Apa itu PKKH ?
      • Sejarah Pendirian Program Studi PKKH
      • Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Program Studi PKKH
      • Kompetensi Lulusan Program Studi PKKH
      • Bahan Kajian dan Profil Lulusan Program Studi PKKH
      • Kurikulum Program Studi PKKH
      • Pendaftaran Mahasiswa Baru PKKH
      • Informasi dan FAQ Program Studi PKKH
    • Program Magister
      • Deskripsi Program Magister Biologi
      • Mata Kuliah S2
      • Struktur Kurikulum Program Magister
      • Info Pendaftaran
      • PENDAFTARAN UJIAN KOMPREHENSIF
      • Pendaftaran Ujian Tesis
      • pendaftaran yudisium
      • Pendaftaran Wisuda
      • Tracer Study
    • Program Doktor
      • Visi, Misi, Tujuan, & Sasaran Program Doktor Biologi
      • Kurikulum Program Doktor
      • Info Pendaftaran
      • Pendaftaran Ujian Komprehensif
    • Akreditasi dan Jaminan Mutu
  • PENELITIAN & PENGGABDIAN
    • Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology
    • Berkala Ilmiah Biology
    • Pengelolaan Sampah
  • Kerja Sama
  • Alumni
    • Berita Alumni
    • BCADC (Web Alumni)
    • Data Kabiogama Pascasarjana
    • Data Kabiogama Sarjana
  • Beranda
  • Rilis Berita
  • hal. 213
Arsip:

Rilis Berita

Publikasi KSH UGM Mengenai Ekologi dan Keanekaragaman Reptil dan Amfibi Menoreh Mendapatkan Prestasi Membanggakan dalam Seminar Nasional Biodiversitas UNS

Rilis Berita Kamis, 10 November 2016

Publikasi ilmiah merupakan salah satu elemen penting dalam ilmu pengetahuan. Publikasi ilmiah berfungsi untuk untuk menjelaskan hasil penelitian yang sudah dilakukan agar diketahui oleh masyarakat luas. Publikasi ilmiah juga dilakukan oleh Kelompok Studi Herpetologi Fakultas Biologi UGM (KSH UGM) sebagai salah satu kelompok studi di bawah naungan Fakultas Biologi UGM. KSH UGM telah melaksanakan penelitian Ekspedisi Herpetofauna Jilid II di Menoreh atas bantuan dana dari segenap alumni KSH UGM, Direktorat Kemahasiswaan UGM, dan Warung SS pada Agustus 2016. Ekspedisi tersebut dilaksanakan di Taman Sungai Mudal, Air Terjun Kembangsoka, dan Air Terjun Kedungpedut di Kabupaten Kulon Progo. Hasil penelitian ekspedisi dipublikasikan secara oral dalam Seminar Nasional Biodiversitas dengan tema ‘Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Melalui Penerapan Bioteknologi’ yang diadakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret, Jumat (04/11) kemarin. Seminar berlangsung di hotel Lor’in D’Wongso di Jalan Adi Sucipto no 47, Solo. Keynote speaker pada seminar ini yaitu Prof. Dr. Antonius Suwanto (Guru Besar Genetika Mikroba, Institut Pertanian Bogor dan Pakar Biologi Molekuler dan Rekayasa Genetika), Dr. Ir. Ayu Dewi Utari (Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur), Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. (Guru Besar Biologi Konservasi, Universitas Sebelas Maret Surakarta).

KSH mengirimkan empat perwakilannya sebagai pemakalah dalam kegiatan seminar ini. Presentasi dilaksanakan secara paralel dalam tujuh kelas sesuai dengan bidang pemakalah. Tiga orang perwakilan KSH berada di kelas D (Zoologi) antara lain: Abdul Fattah, R.M. Farchan Fathoni, dan Lathifatul Faliha. Sedangkan Elpri Eka Permadi berada di ruang G (Ekokonservasi).  Abdul Fattah mempresentasikan mengenai ‘Keanekaragaman dan Distribusi Anura di Kedungpedut dan Kembangsoka’, R.M Farchan Fathoni mempresentasikan mengenai ‘Data Awal Keanekaragaman Ordo Anura di Taman Sungai Mudal’, Lathifatul Faliha mempresentasikan tentang ‘Keanekaragaman dan Distribusi Subordo Serpentes dan Subordo Lacertilia di Taman Sungai Mudal’, dan Elpri Eka Permadi mempresentasikan mengenai ‘Dampak Pembukaan Kawasan Ekowisata Kembang Soka terhadap Keanekaragaman Herpetofauna di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta’. Salah satu perwakilan KSH, Elpri Eka Permadi menjadi salah satu pemakalah terbaik dalam Seminar tersebut. Pemakalah terbaik di pilih dari masing-masing kelas paralel sesuai bidang penelitian. Terdapat 128 peserta yang mengikuti presentasi oral dalam ajang ini.

Publikasi ilmiah yang dilaksanakan KSH UGM merupakan salah satu upaya dalam mencapai visi yang dimiliki KSH. Berkembangnya khasanah ilmu mengenai reptil dan amfibi di Indonesia merupakan visi besar KSH sejak awal berdirinya. Student et conservant! KSH Jaya! KSH! (A.Fattah, R.M.F.Fathoni, E.E.Permadi)

Penyambutan Mahasiswa Baru Program Studi Pascasarjana Fakultas Biologi Tahun 2016

Rilis Berita Senin, 31 Oktober 2016

Sebanyak lima puluh tiga mahasiswa telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa program Pascasarjana Fakultas Biologi UGM. Mahasiswa yang berasal dari Aceh hingga Ambon diterima secara resmi dalam acara Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) “Morfogeneself 2016” yang diselenggarakan selama dua hari pada hari Rabu (31/8/2016) dan Kamis (1/9/2016) di Auditorium Ruang Sidang Bawah Fakultas Biologi UGM. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Suwarno Hadisusanto, S.U. Pada pembukaan acara tersebut, beliau menyampaikan untuk tidak membanggakan masa lalu dan tidak mencemaskan masa depan.

Acara pada hari pertama difokuskan dalam pengenalan alumni dan civitas akademika. Alumni dari Fakultas Biologi UGM, Dewi Kartikawati Paramita, M.Sc., Ph.D. menyapa mahasiswa baru dengan memberikan penjelasan singkat tentang peran biologi dalam bidang kesehatan. Bagian yang paling menarik dari penjelasan beliau adalah ilmu biologi telah dapat digabungkan dengan disiplin ilmu lainnya untuk mendesain sebuah produk yang tepat guna, seperti identifikasi kadar gula darah pada air mata dengan menggunakan sensor mini yang tertanam pada softlens. Hasil penelitian dari Ibu Dewi juga tidak kalah bersaing, bahkan telah diproduksi dengan nama NPC strip-G. NPC strip-G adalah detektor dini keberadaan sel kanker pangkal leher (nasofaring) yang berbentuk seperti strip. “Indonesia menempati peringkat keempat di Asia Tenggara dengan penderita kanker nasofaring terbanyak dan pria di DI Yogyakarta berada pada peringkat pertamanya. Deteksi dini harus dilakukan, sebab bila mencapai stadium lanjut, proses penyembuhannya sangat beresiko”, imbuh Ibu Dewi.

Penjelasan dari Ibu Dewi Kartikawati disambut dengan antusias oleh mahasiswa baru. Dengan antusiasme yang semakin tinggi, acara dilanjutkan dengan pengenalan KMP. KMP adalah organisasi mahasiswa pascasarjana di Fakultas Biologi UGM yang mewadahi berbagai departemen untuk pengembangan softskill mahasiswa pascasarjana. Sebagai organisasi kemahasiswaan, KMP berada di bawah Kaprodi S2 dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.

Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan juga memberikan pengenalan pada acara ini. Beliau menyampaikan mengenai seluk-beluk kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang ada di lingkungan Fakultas Biologi. Penyampaian dari Beliau yang santai dan dibumbui dengan kelakar yang lucu mampu menyejukkan suasana kegiatan.

Mahasiswa yang terbawa suasana santai menjadi semakin nyaman ketika beranjak ke acara pengenalan dosen pascasarjana. Dosen dari berbagai laboratorium berkumpul di ruangan yang sama dengan mahasiswa baru. Tanpa ada sekat, dosen mengenalkan diri sertatopic interest dalam penelitiannya dengan berbagai cara yang khas. Ada yang menjelaskan dengan rinci, ada pula yang menantang mahasiswa untuk mencari nama beliau dalam situs pencarian jurnal. Salah satu dosen biokimia, Woro Anindito Sri Tunjung, M.Sc., Ph.D. bahkan menyeletuk, “Silahkan cari H-index saya agar kalian tahu produktivitas publikasi saya”.

Acara pada hari pertama diakhiri dengan penjelasan administrasi dan akademik oleh Kaprodi S2. Dengan tegas Ibu Diah Rachmawati menghimbau mahasiswa untuk fokus di dua semester awal perkuliahan agar mampu menempuh penelitian tesis di semester tiga dan empat.

Hari kedua PMB disusun oleh rangkaian acara yang bertujuan mengakrabkan mahasiswa baru dengan fasilitas penelitian dan pengenalan minat studi. Enam minat studi yang ada di program pascasarjana, yaitu biosains, ekologi dan biologi konservasi, botani, zoologi, mikrobiologi, dan genetika dan biologi sel & molekuler dijelaskan oleh KMP, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Pada sesi ini, mahasiswa baru dikelompokkan berdasarkan minatnya untuk memudahkan diskusi dan sharing dengan mahasiswa angkatan 2015.

Setelah berdiskusi, mahasiswa dikenalkan dengan fasilitas penunjang penelitian di Fakultas Biologi. Acara yang bertajuk “Tour de Lab” ini menyasar tiga belas laboratorium dan perpustakaan untuk dijadikan objek wisata. Di setiap laboratorium, mahasiswa dikenalkan dengan fasilitas penelitian yang ada di dalamnya, mulai dari alat, reagen, hingga greenhouse. Acara ini merupakan acara terakhir pada hari kedua. Secara resmi, penyambutan mahasiswa baru ditutup oleh Kaprodi S2, Ibu Diah Rachmawati.

Festival Anggrek Vanda Tricolor 2016

Rilis Berita Selasa, 18 Oktober 2016

Semarak penganggrekan terlihat di Festival anggrek Vanda tricolor yang diadakan di Titi Orchi nursery, Jln. Boyong-Pakem, Tebonan, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta selama 2 hari, yaitu Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2016. Acara ini bertujuan agar masyarakat turut berperan dalam memelihara dan melestarikan kekayaan anggrek, khususnya anggrek Vanda tricolor asli wilayah Merapi, dan juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memelihara dan melestarikan Vanda tricolor.

Acara ini terselenggara atas kerjasama dari berbagai pihak yaitu Titi Orchid, Pemda Kabupaten Sleman, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, BiOSC, Fakultas Pertanian Universitas Janabadra, PAI DIY, Pramuka UIN Sunan Kalijaga, Taman Nasional Gunung Merapi, Bank Sleman, Harian Jogja, Mie Bakso Mr. Blankon, Tempo.com, Hortimart, dan Kotaperak.

Tidak hanya menyelenggarakan kontes pameran anggrek Vanda tricolor, festival ini juga dimeriahkan dengan lomba fotografi, pelatihan budidaya anggrek, dan demo merangkai karangan bunga. Berbagai pihak turut hadir di dalam acara ini di antaranya Dr. Budi S. Daryono, M.agr.Sc selaku Dekan Fakultas Biologi, Dr. Endang Semiarti M.S., M.Sc. selaku Ketua PAI DIY, Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes selaku wakil bupati Kabupaten Sleman, Sri Suprih Lestriati Bangun Andarini pemilik Nursery Titi Orchids. Peserta lomba fotografi meningkat dari tahun sebelumnya dari 18 orang dan sekarang menjadi 25 orang.

Acara hari pertama dibuka pada pukul 09.30 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bunga Anggrek PAI yang dipimpin oleh Ir. Kadarso Ms., selaku ketua panitia acara. Acara dilanjutkan oleh sambutan-sambutan dari Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Ketua PAI DIY. Kemudian diadakan demo merangkai bunga oleh Ibu Hervia Budi, serta penilaian lomba kontes anggrek Vanda tricolor. Pembukaan acara resmi festival anggrek Vanda tricolor var. Suavis ke 2 tahun 2016 dimulai pada pukul 11.15 WIB oleh Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes, (wakil Bupati Sleman) dan PAI DIY juga mengangkat Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes sebagai Duta Anggrek DIY. Pemberian anggrek Vanda tricolor dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada melalui Ibu Dra. Hj. Sri Muslimatun M.Kes, kepada bapak Dodi agar dapat dibudidayakan dan dikembalikan lagi ke alam. Dilanjutkan dengan pengambilan foto anggrek Vanda tricolor oleh para peserta lomba fotografi. Acara berakhir pada pukul 16.00 WIB.

Mengutip informasi dari Bapak Dr. Budi S. Daryono bahwa di Taiwan, bagian pseudobulb anggrek Dendrobium yang dikeringkan dapat dijual hingga seharga 15 juta rupiah/kilo, untuk dipergunakan sebagai biomedicine dan obat herbal. Namu, di Indonesia yang memiliki kekayaan biodiversitas hingga kurang lebih 5000 spesies anggrek masih belum bisa mengembangkan hal tersebut. Ketua PAI DIY juga berharap dengan adanya acara ini, anggrek Vanda tricolor dapat menjadi ikon kota Yogyakarta, dan lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas. Hal tersebut dapat terlaksana apabila ada interaksi antara asosiasi, pebisnis, komunitas, dan pemerintah. Hal tersebut juga sejalan dengan visi dari BiOSC yaitu mewujudkan BiOSC sebagai salah satu pusat pelestarian dan pengembangan anggrek di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan masyarakat.

Festival Vanda tricolor dilanjutkan pada hari minggu dan dimeriahkan dengan pelatihan budidaya, pembagian doorprize, pengumuman pemenang kontes vanda dan lomba fotografi serta penutup. (Hafizh)

Talk Show “Museum di Hatiku” Ajak Masyarakat untuk Mencintai dan Mengunjungi Museum

Rilis Berita Selasa, 11 Oktober 2016

Museum Biologi UGM turut diundang untuk mengisi acara Talk Show “Museum di Hatiku”. Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Duta Museum DIY 2016 bekerjasama dengan Galeria Mall Yogyakarta. Bersama dengan dua museum yang lain, yaitu Museum Geoteknologi Mineral UPN dan Rumah Garuda, dikampanyekan gerakan mencintai dan mengunjungi museum. “Nanti pembicara bisa mempromosikan museumnya,” jelas Kuncoro Sejati, penanggung jawab acara. Talk show berlangsung pada hari Minggu, 9 Oktober 2016, di selasar utama Galeria Mall sejak pukul 18.00 WIB.

Talk show dimulai dengan dua narasumber dari Rumah Garuda yaitu Bung Nanang R. Hidayat dan Bung Sila, dimoderatori oleh Nurkotimah. Rumah Garuda ditunjuk untuk mengkampanyekan museum mewakili kluster sejarah. Mereka menjelaskan tokoh-tokoh pencipta lambang negara Republik Indonesia dengan wayang. Dijelaskan pula bahwa inspirasi dari lambang tersebut, yaitu burung Garuda Indonesia, adalah elang jawa. Sehubungan dengan informasi tersebut, Museum Biologi UGM memiliki koleksi taksidermi elang jawa (Nisaetus bartelsi). Masyarakat dapat mengamati seperti apa kesamaan Garuda Indonesia dan elang jawa di Museum Biologi UGM.

Acara talk show diselingi dengan monolog, tari tradisional, dan launching aplikasi Arutala. Ketiganya merupakan persembahan Ikatan Duta Museum DIY 2016. Setelahnya, talk show dilanjutkan untuk museum kluster sains yang di moderatori oleh Edwin Daru Anggara. Kepala Museum Biologi UGM, Donan Satria Yudha, dan Kepala Museum Geoteknologi Mineral UPN, Premonowati, menjadi narasumbernya.

Dalam kesempatan ini, Pak Donan menjelaskan bahwa Museum Biologi UGM sebagai pusat informasi hayati untuk pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Banyak informasi-informasi mengenai flora dan fauna dapat digali di Museum Biologi dengan tepat. “Intinya kita memberikan informasi yang kuat, yang benar di museum. Ada pemandu/ edukatornya. Pengunjung juga bisa membaca keterangan pada label. Contohnya duyung, paus, dan lumba-lumba itu bukan ikan. Mereka mammal. Kalau dibilang ikan, salah kaprah. Katak dan kodok itu berbeda. Beda pada tungkai belakangnya. Penyu dan kura-kura juga beda. Penyu hidup di laut, sedangkan kura-kura di air tawar,” jelas Pak Donan.

Di Museum Biologi UGM kita bisa juga bisa mengetahui jenis-jenis satwa dan flora fauna endemik Indonesia. Tidak asal satwa eksotik atau aneh dipajang di Museum Biologi UGM. Masing-masing daerah di Indonesia memiliki flora dan fauna dengan keunikan dan ciri khas sendiri. Pengunjung dapat melihatnya dengan seksama. Memamerkan awetan hewan endemik Indonesia diharapkan dapat memupuk rasa senang, rasa cinta, dan rasa bangga terhadap Indonesia. “Harapannya, terlebih untuk anak-anak dan pemuda, timbul keinginan untuk melakukan konservasi, tidak hanya mengambil dari alam,” terang Pak Donan.

Pada akhir acara, Narasumber menjelaskan jam layanan museum untuk masyarakat yang ingin berkunjung. Museum Biologi UGM buka pada hari Senin-Jumat. Hari Senin-Kamis museum menerima kunjungan pada jam 07.30-16.00 WIB. Hari Jumat museum menerima kunjungan pada jam 07.30-15.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu museum libur, namun ada pertimbangan khusus bagi rombongan sekolah yang telah mengajukan surat permohonan kunjungan. Hari libur nasional, Museum Biologi UGM tutup. Selain pemberitahuan secara langsung di panggung, pengunjung Galeria Mall juga mendapatkan informasi ini melalui brosur yang dibagikan saat talk show berlangsung. Masyarakat juga dapat mengakses informasi pada website www.biologi.museumjogja.org via internet.

Ayo wisata edukasi ke museum. Salam sahabat museum, museum di hatiku. (Scholastika)

Gedung Sinar Mas Fakultas Biologi Diresmikan

Rilis Berita Senin, 10 Oktober 2016

Gedung Sinar Mas Fakultas Biologi diresmikan, Sabtu (8/10). Acara peresmian gedung baru tersebut dihadiri segenap tamu undangan, seperti Ketua MWA UGM, Prof. Dr. Pratikno, Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto, Rektor UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., dan Board Member of Sinar Mas yang juga Chairman Sinar Mas Agribusiness & Foods, Franky O. Widjaja.

Rektor UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mengungkapkan rasa syukur atas selesainya pembangunan gedung baru tersebut. Dengan selesainya gedung baru ini diharapkan berbagai lompatan, khususnya di bidang penelitian maupun pengabdian masyarakat, dari Fakultas Biologi akan muncul.

“Dengan kerja sama berbagai pihak ini UGM akan terus melompat dan maju meskipun dengan banyak risiko, seperti terbatasnya anggaran,”papar Dwikorita.

Rektor menegaskan selesainya gedung baru ini bertepatan dengan usia UGM yang akan menginjak 67 tahun. Di usianya tersebut UGM kembali meneguhkan jati dirinya sebagai universitas kerakyatan dan perjuangan dengan spirit socioentreprenur.

Sementara itu, Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto., mengatakan Fakultas Biologi merupakan salah satu fakultas yang fokus untuk memikirkan masa depan. Untuk itu Sulistiyanto berharap pihak perguruan tinggi yang bermitra dengan dunia usaha dapat meningkatkan hasil-hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pengembangan biodiversitas diharapkan akan banyak dihasilkan dari sini,” ujar Sulistiyanto.

Di tempat sama, Ketua MWA UGM yang sekaligus Mensesneg, Prof. Pratikno, mengatakan harus lebih banyak penelitian dari kampus yang bermanfaat untuk masyarakat. “Masalah obat misalnya, seharusnya bisa jauh lebih murah bila banyak penelitian yang memang bisa bersinergi dengan kebutuhan masyarakat banyak,” ujarnya.

Kesehatan menurut Pratikno, harus mendapatkan perhatian lebih karena sangat dibutuhkan masyarakat dan  biaya pengobatan di Indonesia yang masih sangat tinggi. Pratikno berharap nantinya UGM akan semakin banyak bersinergi dengan berbagai pihak.

Gedung Sinar Mas ini memiliki luas lebih dari 5.800 m2 yang terdiri atas 5 lantai dan diantaranya berisikan 3 ruang kelas, laboratorium sistematika tumbuhan, laboratorium fisiologi tumbuhan, laboratorium mikroteknik tumbuhan, laboratorium taksonomi tumbuhan, laboratorium biologi umum, teaching laboratorium, perpustakaan dan ruang monitoring. Peletakan batu pertama dilakukan pada 13 Juni 2015 silam.Gedung Sinar Mas di Fakultas Biologi UGM ini merupakan gedung ramah lingkungan yang pertama di Yogyakarta. (Humas UGM/Satria)

Mahasiswa Magister Fakultas Biologi Mengikuti FSC-UC SUMMER SCHOOL 2016 Di Thailand

Rilis Berita Kamis, 8 September 2016

“Climate Change: Impact on Food Security”

Dio Nardo Wijaya
Master Student
Faculty of Biology
Universitas Gadjah  Mada
Email : dio.nardo.w@mail.ugm.ac.id

Dio Nardo Wijaya, mahasiswa Program Magister minat Biologi Molekular dan Genetika  Fakultas Biologi UGM mendapatkan kesempatan untuk mengikuti “FSC-UC Summer School 2016” di Kasetsart University, Thailand dengan tema “Climate Change: Impact on Food Security” yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli sampai 11 Agustus 2016.

Program FSC-UC Summer School 2016 ini membahas mengenai perubahan iklim serta dampaknya bagi ketahanan pangan di seluruh dunia khususnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Program ini diselenggarakan yang bekerja sama dengan the Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture (SEARCA); the Southeast Asian University Consortium for Graduate Studies in Agriculture and Natural Resources (UC); the Food Security Center (FSC) of the University of Hohenheim , Germany dan the German Academic Exchange Service (DAAD) sebagai pemberi dana.

Program ini terdiri dari tiga modul yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan produksi makanan. Setiap modul terdiri atas perkuliahan/teori, studi kasus, diskusi dan kunjungan lapangan. Semua rangkaian kegiatan dalam program ini menuntut keaktifan dari para pesertanya dan saya beruntung mendapatkan teman-teman yang luar biasa dalam program ini. Semua peserta yang berasal dari berbagai negara lain seperti Malaysia, Myanmar, Kamboja, Laos, Filipina, Pakistan, Thailand, Ghana, Kamerun, Kenya, El Salvador, Kontarika, Kolumbia dan Argentina begitu aktif berpartisipasi dalam rangkaian program ini. Kami saling bertukar cerita mengenai kondisi dan permasalahan akibat perubahan iklim dari masing-masing negara.

Modul 1 yang berlangsung dari tanggal 25 hingga 29 Juli 2016 membahas mengenai perubahan iklim dan dampaknya bagi akuakultur/perikanan. Modul ini diampu oleh Dr. Sukrit Nimitkul. Beliau merupakan dosen Fakultas Perikanan di Kasetsart University. Dalam modul ini, saya bersama peserta lain dibawa untuk memahami apa sebenarnya perubahan iklim dan bahaya yang bisa ditimbulkannya khususnya dalam bidang akuakultur/perikanan. Sealin itu semua peserta juga diberikan pengetahuan mengenai kondisi akuakultur/fisheries di Thailand dan teknologi serta sistem yang digunakan oleh pembudidaya ikan di Thailand dalam menghadapi permasalahan perubahan iklim.

Modul 2 yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 5 Agustus 2016 membahas mengenai perubahan iklim dan dampaknya bagi peternakan. Modul kedua ini diampu oleh Dr. Jean Rust. Beliau merupakan peneliti dari Dohne Agricultural Development Institute, Afrika Selatan. Pemahaman mengenai modul kedua ini mengambil studi kasus dari peternakan di Afrika Selatan. Berbagai solusi yang coba diterapkan pada peternakan di Afrika Selatan seperti pemilihan indukan unggul hingga masalah nutrisi dan kesehatan hewan ternak dikaji dalam modul ini. Selain itu, pemanfaatan kotoran ternak dan cahaya matahari sebagai sumber energi juga sangat penting untuk dilakukan disana.

Modul 3 yang merupakan modul terakhir berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Agustus 2016 membahas mengenai bagaimana menerapkan sistem pertanian pintar dengan memanfaatkan teknologi seperti satelit dan robot. Modul ini diampu oleh Dr. David Reiser. Beliau merupakan dosen dari University of Hohenheim, Jerman.  Dalam modul ini diajarkan dan didiskusikan mengenai sistem pemetaan menggunakan satelit, bagaimana mengukur variasi kerenggangan tanah menggunakan proximal sensing dan remote sensing, positioning systems (Global Navigation Satellite Systems (GNSS), Global Positioning System (GPS) dan Real Time GPS (DGPS)), sistem koordinat, digital images, dan kontrol mesin serta robot. Teknologi ini diharapkan mampu mengatasi permasalahn pertanian akibat perubahan iklim, meskipun untuk merapkannya di negara berkembang msaih sangat sulit.

Setelah mengikuti ketiga modul ini semua peserta diharapkan mampu mengembangkan ide sebagai solusi untuk menjaga ketahanan pangan di negaranya masing-masing mengingat perubahan iklim yang terjadi berpotensi besar mengancam ketahanan pangan di seluruh dunia. Sebagai salah satu peserta dari program ini saya merasa program ini memberikan banyak sekali pengetahuan baru bagi saya dan semoga pengetahuan ini  dapat saya pergunakan sebaik-baiknya.

Mahasiswi Biologi UGM Mewakili Indonesia dalam Konferensi Internasional di Bangkok

Rilis Berita Senin, 5 September 2016

Berfoto di depan gedung konferensi (Universitas Chulalongkorn) bersama beberapa delegasi dari negara ASEAN
Seluruh delegasi ASEAN-KOREA Youth Network Workshop 2016 : “Marine Conservation- Promoting the Sustainable Use of Coastal and Marine Resouces”
Kegiatan penanaman kembali mangrove di Pusat Konservasi Hutan Mangrove Klong Klone

Pada tanggal 2-10 Agustus 2016 lalu, seorang mahasiswi Fakultas Biologi UGM bernama Elory Leonard ikut berpatisipasi dalam kegiatan ASEAN-KOREA Youth Network Workshop 2016 (AKYNW) di Bangkok, Thailand. AKYNW yang pada tahun ini bertajuk “Marine Conservation – Promoting the Sustainable Use of Coastal and Marine Resources” melibatkan 120 delegasi pemuda multi-disciplinary dari seluruh negara anggota ASEAN dan Korea Selatan. Elory Leonard sendiri merupakan salah satu dari 12 delegasi perwakilan Indonesia selama konferensi berlangsung. Bersama dengan Elory Leonard, juga mengikuti AKYNW dua delegasi Indonesia lain yang berasal dari Universitas Gadjah Mada yaitu Archita Nur Fitrian (FISIPOL) serta Timothy Jevon Lieander (FEB).

Program AKYNW diselenggarakan tahun ini oleh ASEAN-KOREA Centre dan ASEAN Studies Center Chulalongkorn University sebagai perwujudan kerjasama yang berkelanjutan antara ASEAN dengan Korea Selatan. Selain itu, ajang ini juga dimaksudkan sebagai langkah bersama demi menyambut ASEAN Community 2025: Stability, Prosperity and Sustainability.

Terkait dengan tema utama konferensi yang diangkat tahun ini, seluruh delegasi acara disuguhkan pemaparan mengenai konservasi lingkungan laut dan pesisir negara-negara ASEAN secara berkelanjutan (sustainable) yang telah terancam serta mengalami degradasi disebabkan oleh perubahan sosial dan pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya pemaparan, para delegasi juga berkesempatan untuk terlibat langsung dalam salah satu kegiatan konservasi ekosistem laut yaitu penanaman kembali hutan mangrove di Pusat Konservasi Hutan Mangrove Klong Klone di provinsi Samut Songkhram. Untuk menutup program, para delegasi dari tiap negara juga diberi kesempatan untuk dapat mempresentasikan studi kasus yang terkait dengan tema dalam forum simposium di depan duta-duta besar negara, petinggi-petinggi ASEAN dan ahli-ahli terkemuka lainnya.

Melalui program ASEAN-KOREA Youth Network 2016 peserta delegasi dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis dan percaya diri dalam mengutarakan pendapat, menambah pengalaman bekerja sama dengan tim dalam skala internasional, serta juga dapat meningkatkan kepedulian dalam bidang konservasi kelautan. Ilmu yang didapat dari program ini juga diharapkan bermanfaat untuk mengembangkan tindakan konservasi serta pemberdayaan sumber daya laut dan pesisir dalam negeri, sehingga dapat bermanfaat pula untuk kemajuan pembangunan Indonesia.

Mahasiswa UGM Mengikuti INSPIRE Malaysia 2016

Rilis Berita Jumat, 2 September 2016

Peserta INSPIRE bersama mahasiswa IIUM (kami di barisan depan nomor 2 dan 3 dari kanan)
Foto bersama usai Upacara di KBRI
Peserta INSPIRE mengikuti workshop di IIUM

Dua mahasiswa UGM mengikuti program Inter-Nationalism Student Progressive Resolution Exchange (INSPIRE) Malaysia 2016 di Kuala Lumpur pada tanggal 16-19 Agustus 2016. Kedua mahasiswa tersebut adalah Anisa Parazulfa (Biologi-2012) dan Layfanifa Jihan Rifka (Teknik Geomatika-2015). INSPIRE Malaysia 2016 merupakan program student exchange yang diadakan oleh Gotravindo. Program ini diadakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar mengenai kepemimpinan (leadership) dan pengembangan inovasi bisnis sebagai kunci dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). INSPIRE Malaysia 2016 diikuti oleh 40 mahasiswa dari seluruh Indonesia, termasuk UGM.

Selama 4 hari peserta diajak untuk mengeksplorasi kehidupan dan ekonomi masyarakat di Malaysia. Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara. Mencakup tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan dengan luas total 329.847 km persegi. Ibukota Malaysia berada di Kuala Lumpur sedangkan Putrajaya merupakan pusat pemerintahan persekutuan. Pada hari pertama, peserta diajak untuk mengeksplorasi kawasan Putrajaya. Peserta ditantang untuk melakukan wawancara mengenai berbagai topik kepada warga negara asing yang berada di sekitar kompleks Putrajaya.

Kegiatan di hari kedua merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan bagi kami. Hari itu, tanggal 17 Agustus 2016 bertepatan hari ulang tahun Indonesia yang ke-71. Peserta INSPIRE 2016 berkesempatan mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia. Upacara tidak hanya dihadiri oleh staf KBRI namun juga warga negara Indonesia yang sedang tinggal di Kuala Lumpur. Semangat nasionalisme peserta upacara sangat terasa pada momen tersebut, terlebih karena upacara sakral tersebut dilaksanakan di negara asing. Usai upacara, kami diajak mengunjungi Royal Selangor Pewter Factory yang terkenal dengan produksi dan pengolahan timah terbesar di Malaysia. Peserta kemudian berangkat menuju International Islamic University of Malaysia (IIUM) untuk mengikuti workshop dan diskusi Internasional. Workshop dengan tema ‘Reation between Nations in the Framework of Global Welfare’ disampaikan oleh salah satu dosen IIUM. Pada keempatan tersebut kami juga berdiskusi dengan mahasiswa IIUM mengenai ‘Education and Global Perspective’.

Hari ketiga diisi dengan mengunjungi Istana Sultan Malaysia, Dataran Merdeka, Musium dan Galeri Seni Bank Negara Malaysia serta Central Market. Musium dan Galeri Seni Bank Negara Malaysia memamerkan sejarah dan seni pembuatan mata uang, terutama mata uang negara Malaysia. Tantangan untuk mengasah inovasi bisnis peserta diberikan saat mengunjungi pusat oleh-oleh di Malaysia, Central Market. Peserta ditantang untuk menjual produk kerajinan tangan buatan Indonesia kepada pengunjung Central Market yang kebanyakan warga negara asing. Peserta lebih dulu menganalisis harga barang kerajinan yang berjenis sama, kemudian berusaha menjual produk dengan harga yang lebih tinggi. Di hari keempat, dilakukan upcara penutupan untuk melepas peserta kembali ke tanah air.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi UG, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. menyambut baik dan mendukung kegiatan INSPIRE yang akan membekali mahasiswa dalam Indonesia untuk belajar leadership dan pengembangan inovasi bisnis khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Tim Gama Melon Gandeng Petani Blitar

Rilis Berita Minggu, 28 Agustus 2016

7390-tim-gama-melon-gandeng-petani-blitarTim Gama Melon dari Fakultas Biologi UGM menggandeng petani di Desa Modangan, Nglegok, Blitar untuk menanam Gama melon, jenis varietas buah melon dari  hasil riset UGM. Kerja sama tersebut ditandai penyerahan benih melon kultivar Tacapa GB, Tacapa Silver, dan Hikapel kepada Bapak H. Sudjari sebagai perwakilan dari kelompok tani Kampung Melon pada pekan lalu di Blitar.

Dr. Budi Setiadi Daryono, ketua peneliti Gama Melon, mengatakan perkembangan riset Tim Gama Melon Fakultas Biologi UGM saat ini memasuki tahap hilirisasi produk penilitian yang telah tervalidasi serta tersertifikasi oleh Kementerian Pertanian Indonesia. “Kami memiliki kurang lebih 10 kultivar melon lokal yang telah kami kembangkan, 2 diantaranya telah memperoleh SK Kementan, 2 lainnya sedang proses pengajuan SK, dan sisanya siap untuk diluncurkan kapan saja dengan bekerja sama di Kampung Melon ini,” ujar Dr. Budi Daryono, Jumat (26/8).

Untuk menggandeng petani di melon di desa Modangan, Blitar, kata Budi, pihaknya menyerahkan melon kultivar Tacapa GB, Tacapa Silver, dan Hikapel. Selain itu, tim Gama Melon juga menggandeng mitra industri untuk dapat membangun greenhouse baru di Kampung Melon sehingga dapat  diduplikasi dan dikembangkan untuk benih melon lokal melalui petani seed grower di Kampung Melon.

Budi menambahkan, kerja sama dengan petani melon di Blitar dalam rangka mendukung membangun Kampung Melon Modangan menjadi Kampung Agrowisata yang memanjakan wisatawan dan pecinta melon serta percontohan bagi desa lainnya di Indonesia.

Sementara itu, Sudjari menuturkan saat ini Kampung Melon Desa Modangan masih kewalahan dalam memenuhi kebutuhan melon ketika menghadapi kunjungan wisatawan yang semakin hari kian meningkat. “Jika bisa kami sangat berharap melon selalu tersedia di kampung ini sehingga wisatawan tidak kecewa saat berkenjung ke desa kami,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kampung Melon diresmikan langsung oleh Bupati Blitar pada tahun 2015 silam memiliki 4 greenhouse yang memproduksi melon. Para wisatawan dapat memetik buah melon langsung dari tanamannya dan dinikmati saat itu juga di tengah perkampungan yang asri dengan udara sejuk dari Gunung Kelud ditemani dengan fasilitas yang telah disediakan Kelompok Tani Melon seperti area out bond, kolam renang, gazebo serta dilengkapi mushalla dan toilet.

Namun, permasalahan yang kini muncul adalah masih kurangnya produksi dan variasi kultivar melon yang ada di Kampung Melon. Hal tersebut juga diakui oleh perangkat Desa Modangan sehingga sinergi dan kerja sama masih perlu ditingkatkan untuk menyempurnakan konsep Desa Agrowisata Melon yang saat ini menjadi satu-satunya Kampung Melon di Indonesia. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

“Sacred Waters”: Hutan Adat di Wonosadi dan Conservation Value

Rilis Berita Senin, 15 Agustus 2016

Presentasi kedua mahasiswa dari Charles Darwin University
Penyerahan sertifikat kepada kedua mahasiswa oleh Dekan Fakultas Biologi UGM

Kondisi alam saat ini menjadi perhatian banyak ahli. Begitu halnya dengan perubahan iklim yang dewasa ini disinyalir akibat pola kehidupan manusia yang terus berusaha mengeksploitasi alam untuk kebutuhan hidupnya. Kebutuhan air, udara dan sumber kehidupan lainnya biasanya dibutuhkan secara bersamaan, yang tidak hanya dibutuhkan secara primer tetapi bahkan kualitas hidup mewah yang lebih nyaman. Kebutuhan tersebutlah mendorong manusia semakin “rakus” dalam pengelolaan alam tanpa mempertimbangkan faktor keseimbangan alam. Pola hidup komersialisasi terhadap sumber daya alam, dengan menebang hutan, menempati daerah penyangga hutan dan atau menempati daerah aliran sungai menjadi pola tersendiri pada manusia, akibatnya banjir dan longsor menjadi berita keseharian.

Memperlajari kearifan lokal melalui eksplorasi kondisi masyarakat, serta menjelaskan pandangan hidup masyarakat menjadi hal penting yang bermakna pada pemahaman budaya. Meskipun sebenarnya secara naluri masyarakat di nusantara kaya akan pemahaman, pengetahuan dan pandangan hidup yang bernuansa kepedulian pada keseimbangan alam. Banyak kearifan ekologis yang termanifestasi dalam budaya hidup seimbang dengan alam. Ketika masyarakat mengelaborasi dan mempraktikan konsep tersebut, maka secara langsung pula alam akan bersahabat dan memberikan lingkungan yang nyaman. Seperti halnya masyarakat yang berada di sekitar hutan Wonosadi, Ngawen, Gunung Kidul Yogyakarta yang masih mempertahankan sikap hidup seimbang dengan alam, dengan menjaga kearifan ekologisnya melalui ritual mistis. Pandangan masyarakat terhadap eksistensi dan makna hutan mengarah pada konsep ekologi, yaitu: hutan sebagai penyedia air, hutan sebagai pelestarian mata air, hutan melindungi erosi, hutan menjaga polusi udara, agar tetap sejuk dan segar serta hutan juga sebagai pendukung konservasi alam.

Kesempatan dan pemikiran yang baik tersebut ditangkap oleh Fakultas Biologi UGM, bersama dua orang mahasiswa dari Charles Darwin University yang sedang melakukan studi banding di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Fakultas Biologi mencoba untuk mempelajari permasalahan ekologi pada hutan adat di Wonosadi tersebut, sampling analisis vegetasi dilakukan di sekitar Desa Beji, yang berimplikasi terhadap konservasi cadangan air di Desa Beji nantinya. Hasil penelitiannyapun telah di presentasikan pada hari Jum’at, 05 Agustus 2016 di Fakultas Biologi. Dalam presentasinya mereka menyampaikan bahwa sejauh ini mereka berpikir tentang pentingnya air sebagai evaporation dan transpiration dengan tujuan akhir adalah “economic forest”. Hasil analisis vegetasi dapat diketahui bahwa Cyathocalyx sp., Syzygium racemosum, Syzygium aquenum, Tectona grandis dan Syzigium cumini cukup mendominasi di hutan tersebut. Kehadiran tumbuhan Tectona grandis mencapai 33% dalam sample site, dengan nilai yang signifikan terhadap economic value, walaupun sebagian besar keragaman jenis ini sangat rendah, yang hanya ditemukan dalam bentuk pohon dan tidak ditemukan dalam bentuk seedling. Sementara dukungan data sekunder berupa pengukuran cahaya matahari, kelembaban dan temperatur telah dilakukan. Mereka menarik kesimpulan bahwa hutan adat wonosadi merupakan hutan yang dapat melindungi dan menyediakan ekosistem alam, hutan tersebut memiliki nilai yang tidak terhingga secara konservasi ekosistem. Selain itu, keragaman alami dari jenis tumbuhan yang ada dapat membantu pelestarian air resapan pada debit air yang ada di sekitar lokasi.

Masyarakat menyadari bahwa kesinambungan, kesadaran akan eksistensi hutan merupakan manifestasi konsep hubungan Manusia dengan Tuhan dan Manusia dengan alam semesta. Hutan sebagai keberkahan dari Tuhan Pencipta Alam kepada manusia, begitu pula dengan mata air yang telah diberikan yang tidak pernah berhenti. Bersyukur untuk kelestarian alam adalah salah satu tujuan mereka. Sementara Adat dengan berbagai manifestasinya masih akan ada dan hidup di sekitar Wonosadi.

1…211212213214215…225

Akreditasi

Berita Terakhir

  • Tim Mahasiswa Fakultas Biologi UGM Raih Bronze Medal pada 2nd International Student Summit 2026
  • Angkat Inovasi Susu Nabati Probiotik Kacang Hijau, Tiga Mahasiswa Biologi UGM Raih Medali Perak di Lomba Esai Cipta Nusantara Fest
  • Mahasiswa UGM Raih Dua Medali Perak dan Satu Medali Perunggu pada International Student Summit 2026 di Malaysia
  • Dharma Wanita Persatuan UP Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Pelatihan Budidaya Anggrek
  • Upacara Melepas Wisudawan-Wisudawati Program Sarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun Akademik 2025/2026
Universitas Gadjah Mada

UNIVERSITAS GADJAH MADA

FAKULTAS BIOLOGI
Jalan Teknika Selatan, Sekip Utara,
Yogyakarta 55281
biologi-ugm@ugm.ac.id
Telepon/Fax: +62 (274) 580839

Tentang Kami

  • Sejarah
  • Organisasi
  • Staff
  • VISI, MISI & TUJUAN
  • Biodiversitas
  • Informasi Publik

KEMAHASISWAAN

  • Pelayanan Mahasiswa
  • Organisasi Mahasiswa
  • Pengajuan Kerja Praktik Lapangan
  • Izin Penelitian Lapangan
  • Layanan Konseling Mahasiswa

Akademik

  • Peraturan Akademik
  • Pengumuman Akademik

Survei Kepuasan Layanan

  • Survei Layanan Akademik
  • Survei Layanan KASDM
  • Survei Layanan P2MKSA
  • Survei Layanan Laboratiorum
  • Survei Layanan K5L dan Driver

Akreditasi

  • Image 1
  • Image 2
  • Image 3

© 2024 FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju