Kegiatan yang merupakan salah satu acara dalam rangkaian kegiatan bulan bumi Fakultas Biologi UGM 2011 ini, tidak hanya melibatkan mahasiswa Biologi UGM dari berbagai kelompok studi, tetapi juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas. “ Penanaman bibit mangrove ini, melibatkan
mahasiswa UNES, UNDIP, UNS, UNSOED, USP, UNY, USD, dan UIN SUKA”, ujar M. Arias Ertanto, Ketua BEM F.Biologi UGM. Seribu bibit mangrove Rhizopora sp. telah ditanam di Pasir Mendut, Kulonprogo. Lesmana Indra, koordinator kegiatan berharap agar kedepannya mangrove yang telah ditanam tersebut dapat tumbuh dengan baik sehingga dapat mencegah abrasi gelombang air laut dan menjadi suatu ekosistem yang mewadahi berbagai macam flora maupun fauna. “Kegiatan ini merupakan aksi kongkret dari mahasiswa untuk masyarakat dan lingkungan yang berkelanjutan”, imbuh Indra. Sementara Warso Suwito, Ketua Kelompok Mangrove Wana Tirta memberikan apresiasi positif atas penanaman mengrove yang dilakukan, beliau juga berharap agar kegiatan tersebut tidak hanya pada tahap menanam saja, tetapi dapat ada tindakan yang berkesinambungan.
Rilis Berita
peralatan khusus selam seperti fin/kaki katak, masker, dan snorkel. Kejuaraan fin swimming memiliki kesulitan tersendiri, dimana seluruh peserta dituntut untuk beradu kecepatan renang sembari mempertahankan berbagai alat bantu renang. Jika salah satu dari alat bantu tersebut terlepas, maka peserta akan terdiskualifikasi. Respaty Yudha hanya membutuhkan waktu 24 detik untuk memenangkan fin swimming jarak 50 meter, 59 detik untuk jarak 100 meter, dan 2 menit 6 detik untuk jarak 200 meter, serta 2 menit 20 detik untuk kategori estafet. Menurut Respaty Yudha, selain tantangan teknis tersebut dia juga menghadapi tantangan mental dikarenakan saingan lawan yang dihadapi cukup berat dan merupakan atlet professional yang telah mengikuti PON. “Namun berkat optimisme, rasa percaya diri, dan dukungan dari teman-teman maupun orang tua, semua tantangan tersebut dapat terlewati” ujarnya. Lebih lanjut Respaty Yudha berharap agar nasib atlit dan mahasiswa yang memiliki minat, bakat dan kemampuan di bidang olahraga maupun seni dapat lebih terfasilitasi oleh pemerintah maupun pihak kampus.
Prestasi yang sangat membanggakan tersebut membuktikan bahwa mahasiwa Fakultas Biologi UGM tidak hanya berjaya dibidang akademik dan penelitian saja, setelah berhasil merajai dan menyabet sekaligus lima medali pada Olympiade Nasional MIPA-PT Tahun 2011 di UPI Bandung. Kini dengan diraihnya sekaligus empat medali emas pada kejuaraan fin swimming tingkat nasional di Universitas Hang Tuah Surabaya, kembali mahasiwa Fakultas Biologi UGM, menunjukan kemampuan yang tidak meragukan lagi dibidang olahraga maupun seni.
Desa perintis yang dipilih adalah Desa Mungkid, Magelang. Adapula kegiatan yang berjalan selama 2 bulan disetiap akhir pekan ini antara lain : (1) Sensus Penduduk dan Pendataan, untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap TORCH. (2) Penyuluhan TORCH oleh Dosen Ahli Fakultas Biologi UGM. (3) Kuliah TORCH, diadakan dalam 2 tahap. Tahap pertama, pengenalan cara pencegahan dan penularan TORCH Oleh Klinik Spesialis TORCH. Tahap kedua, sharing dan testimony oleh penderita TORCH. (4) Screenig dan Bazar TORCH, kegiatan ini diadakan untuk mengajak masyarakat memeriksakan diri melalui uji hematologi dan imunologi spesifik TORCH. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan adanya Bazar Bebas TORCH yang menjual pelbagai alat-alat kebersihan dan makanan bebas TORCH. Acara puncak dari kegiatan ini adalah (5) TORCH Camp, kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pelatihan 12 jam yang diikuti mahasiswa dan pelajar. Pelatihan ini terdiri dari pelatihan memasak sehat bebas TORCH, menanam bibit pohon yang baik dan benar, dan diakhiri dengan terapi psikospiritual sebagai upaya penyembuhan secara psikologis dan spiritual.
Peserta kegiatan TORCH Camp diharapkan mampu berkomitmen bersama untuk akhirnya dapat bergabung kedalam Komunitas Pemuda Peduli TORCH. Komunitas ini nantinya diharapkan mampu melanjutkan kegiatan kepedulian terhadap infeksi TORCH di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Komunitas ini telah didirikan satu tahun yang lalu, namun masih dalam masa merintis dan terkendala dengan Sumber Daya Manusia yang sedikit dan kesulitan mencari donatur. Harapannya setelah terlaksana kegiatan Desa Siaga TORCH oleh tim PKM-M ini, komunitas Pemuda Peduli TORCH dapat melanjutkan eksistensinya dalam mensosialisasikan TORCH kepada masyarakat. ( Informasi Lebih Lanjut: Isti Anindya 081363266233)
Kraton Yogyakarta mempercayakan kepada Fakultas Biologi UGM untuk mengelola tulang Nyi Bodro. Nyi Bodro merupakan gajah kesayangan kraton yang telah meninggal pada tahun 2000 yang lalu. “Daripada tulang Nyi Bodro hanya hancur menjadi tanah, akan lebih baik jika dihibahkan dan dikelola oleh Fakultas Biologi UGM, sehingga dapat digunakan untuk penelitian dan pendidikan”, ujar Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabu Kusomo. Ditempat yang sama, Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc. memberikan apreasiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Kraton Yogyakarta kepada Fakultas Biologi UGM, beliau juga menyampaikan rasa bangga pada tim eksakavasi dan rekonstruksi Fakultas Biologi UGM atas keberhasilan yang telah dicapai.
Ekskavasi makam gajah Nyi Bodro yang berlangsung sejak rabu,(4/5/2011). Tidak ada kendala yang berarti selama proses tersebut, “Hujan yang sempat turun dan sedikit membuat genangan air di tempat penggalian, dapat secara cepat diatasi berkat koordinasi dan kekompakan seluruh tim” ujar Donan Satria Yudha, M.Sc. selaku koordinator pelaksana. Beliau juga menjelaskan bahwa, sisi kiri kerangka gajah Nyi Bodro sudah terlihat semua, selanjutnya akan dilakukan pengangkutan tulang secara bertahap mulai dari bagian caudal meliputi bagian ekor, tulang pinggang, tungkai belakang hingga mencapai bagian cranial yang ditargetkan dapat selesai dalam tiga hari kedepan. Menurut Ludmilla Fitri Untari, M.Si, Kepala Museum Biologi, tahap selanjutnya akan dilakukan pembersihan dan pengawetan tulang di Laboratorium Anatomi Hewan dan Laboratorium Taksonomi Hewan Fakultas Biologi UGM, kemudian rekonstruksi hingga dapat ditampilkan dalam sebuah display pameran di Museum Biologi UGM.
|
|
|
![]() |
| Proses Pengangkatan Simbolis dan penyerahan oleh GBPH Prabu Kusomo kepada Asisten wakil rektor senior bidang administrasi, keuangan, dan SDM UGM | Proses penyerahan simbolis oleh Asisten wakil rektor senior bidang administrasi, keuangan, dan SDM UGM kepada Dekan Fak. Biologi UGM | Proses Pengangkatan tulang kaki belakang olehMahasiswa Fak. Biologi UGM (Kukuh Indar Kusuma dan Kurnia Widyasari) | Sebagian anggota tim ekskavasi dan Rekontruksi Nyi Bodro berfoto bersama GBPH Prabu Kusomo |
Yogyakarta- Hujan yang cukup deras mengguyur Kota Yogyakarta pada kamis pagi (5/5/2011), tak menyurutkan semangat tim penggali beserta tim ekskavasi untuk terus menggali makam Gajah Nyi Bodro. “Hujan sempat membuat genangan air di tempat penggalian, namun secara cepat dan tanggap tim penggali beserta tim ekskavasi dan rekonstruksi dari Fakultas Biologi UGM, berhasil mengatasinya sehingga proses penggalian dapat terus berlangsung”, ujar Luthfi, Gatot dan Aswi, tim mahasiswa yang melakukan ekskavasi. Ekskavasi makam Gajah Nyi Bodro telah mencapai kedalaman hampir dua meter. Pada kedalaman tersebut telah terlihat bagian cranium Gajah Nyi Bodro. Menurut Zuliyati Rohmah, M.Si, tim dosen, bagian cranium yang telah terlihat merupakan bagian temporal atau parietal dari cranium Nyi Bodro.
Proses ekskavasi dibawah koordinasi Donan Satria Yudha, M.Sc, selaku koordinator pelaksana akan terus berjalan selama beberapa hari kedepan. Dikarenakan bagian tulang sudah mulai terlihat, mulai esok hari teknik penggalian yang semula menggunakan hanya cangkul dan sekop akan dimodifikasi dengan teknik penipisan tanah dengan menggunakan scrap. Hal tersebut dilakukan agar tidak merusak tulang Gajah Nyi Bodro ketika pengangkatan tanah. Penipisan tanah dan pembersihan tulang dengan teknik khusus akan langsung dilakukan oleh tim ekskavasi dan rekonstruksi dari Fakultas Biologi UGM. Selanjutnya proses penggalian akan dilanjutkan di area yang diduga terdapat kaki sambil menunggu perluasan area ekskavasi di sisi timur.
Ekskavasi dan Rekonstruksi tulang Nyi Bodro meliputi 3 tahap kegiatan yaitu penggalian kembali kerangka gajah (ekskavasi), kemudian tahap pembersihan & pengawetan kerangka yang akan dilakukan di Laboratorium Anatomi Hewan dan Laboratorium Taksonomi Hewan Fakultas Biologi UGM, dan tahap ketiga adalah rekonstruksi kerangka. Selanjutnya kerangka Nyi Bodro akan disimpan dan dipamerkan di Museum Biologi.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Fak. Biologi UGM merasa terhormat karena dipercaya untuk mengemban amanah yang diberikan oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Beliau berharap tulang gajah tersebut dapat menjadi suatu koleksi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan. Hal senada disampaikan oleh, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Probokusomo, adik Sultan Hamengku Buwono X, yang berharap agar tulang gajah sumbangan dari Kraton dapat dikelola dan dirangkai oleh Mahasiswa Fakultas Biologi UGM, sehingga dapat dilihat sebagai media pembelajaran oleh masyarakat yang berkunjung ke Museum BIologi. Sementara, Wakil Rektor Bidang Alumni dan Pengembangan Usaha, Prof. Ir. Artyanto Dharoko, M.Phil, Ph.D, mengatakan terdapat dua aspek penting dalam kegiatan ekskavasi dan rekonstruksi tersebut, yaitu aspek kesejarahan Gaja
h Kraton serta aspek penelitian dan pengembangan ilmu, terlebih terdapat beberapa mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang akan menjadikannya sebagai objek penelitian skripsi.
Gajah yang telah mati sejak sebelas tahun lalu tersebut, diberi nama Nyi Bodro oleh Kraton Ngayogyakarta. Gajah tersebut diambil dari Binjai, Sumatera Utara pada bulan Maret 1987 saat masih berusia 16 tahun, kemudian dilatih di Way Kambas sejak Desember 1987 dengan nama Qoriah. Selanjutnya gajah tersebut dibawa ke
Yogyakarta pada tahun 1996. Nyi Bodro merupakan gajah kesayangan Kraton, karena memiliki sejumlah keterampilan seperti hormat, mengalungkan bunga, menjadi fotomodel, menendang bola, dan membelit pawang dengan belalai. Sebelum sakit dan meninggal di usia 29 tahun , Nyi Bodro telah memiliki seorang anak pada tahun 1998, dan kini berada di Gembiraloka Yogyakarta.
Kegiatan ini diketuai oleh Kepala Museum Biologi UGM, Ludmilla Fitri Untari, M.Si, dan dibantu beberapa civitas akademika Fakultas Biologi UGM, yaitu Donan Satria Yudha, M.Sc, selaku Koordinator Pelaksana, Drs. Abdul Rachman, M.Si, Zuliyati Rohmah, M.Si, Subakir, dan Ratgiyanto, SE dan beberapa mahasiswa S1 maupun S2 fakultas Biologi UGM. Menurut Ludmilla Fitri Untari, M.Si, rekonstruksi tulang gajah tersebut, dapat menambah koleksi Museum Biologi dan menjadi salah satu media pembelajaran bagi siswa, guru, dan masyarakat umum.
Seleksi tingkat Nasional diikuti oleh 50 peserta dari 26 Perguruan Tinggi se-Indonesia. Pada Seleksi tingkat nasional yang dilaksanakan pada hari Jum’at dan Sabtu, tanggal 29 dan 30 April 2011 di FPMIPA UPI Bandung, Tim Perwakilan Fak. Biologi UGM mempeoleh 2 medali emas (Fajar Sofyantoro dan Yunita D. Setyorini), 2 medali perak (Imam Bagus Nugroho dan Matin Nuhamunada) dan 1 medali perunggu (Rudi Nirwantono). Prestasi para mahasiwa Fak. Biologi UGM mulai dari lolos seleksi tingkat wilayah hingga merajai ON MIPA-PT Tahun 2011 tersebut merupakan bukti bahwa mahasiswa kita memiliki kualitas yang unggul.
Keunggulan Mahasiswa Fakultas Biologi UGM sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Banyak prestasi dibidang Akademik dan Penelitian telah membuktikan hal itu. Di masa depan diharapkan mahasiswa Fak. Biologi UGM tidak hanya unggul di bidang Akademik dan Penelitian akan tetapi menjadi manusia unggul seutuhnya dengan juga menujukkan prestasi gemilang dibidang Olah raga, Seni dan Pengabdian pada Masyarakat. Selamat kepada para pemenang ON MIPA 2011 dan Selamat Berprestasi kepada Seluruh Mahasiswa Fak Biologi UGM.
Doni Marisi Sinaga, mahasiswa Fakultas Biologi, dibawah asuhan Dr.Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. berhasil mengalahkan Mohamad Ridwan (Juara II-UNY) yang sama-sama merupakan peserta dari Yogyakarta berkat artikel ilmiahnya yang berjudul “Pemilihan Cabai Merah Besar (Capsicum annuum L.) Kultivar Cipanas, TM-999, Rodeo, dan Sudra sebagai Alternatif Konsumsi Cabai Nasional Melalui Pendekatan Molekular Konvensional”.
Dalam tulisannya, Doni menawarkan beberapa kultivar lokal yang layak dibudidayakan di Indonesia. Menurutnya, keempat kultivar cabai yang ditawarkan tidak hanya bercita rasa pedas tetapi juga memiliki ukuran yang besar dan lebih resisten terhadap penyakit Antraknose dan layu bakteri yang sering muncul ketika musim penghujan datang. Selain itu, keempat kultivar dapat ditanam pada dataran tinggi dan rendah sehingga kultivar-kultivar tersebut dapat ditanam dimana saja dan kapan saja.
Dalam acara penyerahan hadiah di Gedung TVRI Jakarta pada tanggal 16 Desember 2010, Doni berharap pemerintah Indonesia tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi tetapi juga harus mempertimbangkan tingkat kesejahteraan petani. Julukan Indonesia sebagai “Negara Agraris” harus dipertanggungjawabkan dan dipertahankan. Salah satunya dengan mengimplementasikan ide-ide kontributif bangsa dalam mempertahankan ketahanan pangan. Bukan berandai-andai, jikalau Menteri Pertanian cepat tanggap terhadap masalah nasional tentu saja penduduk Indonesia tidak perlu dipusingkan dengan kenaikan harga pangan. “Ini masalah klasik” tutupnya.
Menurut Kukuh Indra, anggota tim herpetology Biologi UGM, salah satu faktor yang menghantarkan tim ini mendapat gelar peneliti terbaik pada acara tersebut adalah kontinuitas dan konsistensi peneltian keanekaragaman herpetofauna di lereng selatan Merapi, dari tahun 2006 hingga 2010. “Selama ini penelitian seputar monitoring keanekaragaman herpetofauna di suatu daerah jarang dilakukan secara kontinu dari tahun ke tahun, padahal kontinuitas sangat penting untuk memantau keberadaan berbagai spesies, dan melihat perkembangan ekosistem lokasi penelitian”, sahut Kukuh.
Berdasarkan hasil penelitian tim herpetology Biologi UGM, ditemukan 37 spesies herpetofauna di lereng Selatan Gunung Merapi, dan empat diantaranya merupakan spesies endemik Jawa. Pasca erupsi Gunung Merapi 2010, data keanekaragaman herpetofauna dari tahun 2006 hingga tahun 2010 sebelum erupsi tersebut sangat berharga. Tim herpetology Biologi UGM turut berperan dalam inventarisasi keanekaragaman herpetofauna Gunung Merapi secara ex situ. Menurut Berry Fakhry, anggota tim herpetology Biologi UGM, dalam waktu dekat ini, tim herpetology Biologi UGM akan mengadakan penelitian seputar herpetofauna pasca erupsi merapi 2010. Herpetofauna merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan, keberadaan herpetofauna di suatu daerah dapat menjadi bioindikator perubahan lingkungan. “Apa yang berubah dari lingkungan di sekitar kita, dapat diketahui dengan memahami apa yang berubah dari herpetofauna ”, imbuh Berry dan Kukuh. (ardh 12/1/11)
IBSC dan Seminar Nasional yang mengangkat tema yang membahas tentang Pola Hidup sebagai Salah Satu Agen Pengubah Biodiversitas dan Dampaknya terhadap Perubahan Iklim. Diharapkan dapat menjadi media pengenalan yang mendalam mengenai perubahan iklim, mencakup penyebab serta akibatnya kepada pelajar SMA pada khususnya dan generasi pada umumnya dapat menjadi pioner dalam gerakan pelestarian sumber daya hayati Indonesia.
Sekitar 480 siswa SMA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia, turut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Babak penyisihan serentak diadakan pada tanggal 13 Desember 2010 di tujuh regional (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan , Jabodetabek, Jawa Barat, DIY-Jawa Tengah, dan Jawa Timur). Dari tahap penyisihan tersebut diambil 50 peserta dengan rincian diambil 4 peserta terbaik pada masing-masing regional dan 14 orang diambil dari peringkat nasional teratas. Tahap semifinal dan final diselenggarakan pada tanggal 18-19 Desember 2010 di Fakultas Biologi UGM.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc. dalam sambutannya mengatakan bahwa IBSC dan Seminar Nasional tersebut merupakan suatu komitmen untuk mengembangkan keilmuan di bidang Biologi. Beliau juga memberikan ucapan selamat kepada para peserta dan guru yang mendampingi siswanya yang mengikuti kompetisi. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Panitia IBSC 2010, Ikhya Udin Gozali, dalam sambutannya, Ia mengharapkan para siswa dapat menunujukan kompetensinyan dan berkompetisi secara sehat. (ardh)

