Saat diserahkan ke YKAY, satwa langka yang berumur kurang dari satu tahun itu memiliki ukuran panjang 70 centimeter dan kisaran berat 1 – 2,5 kg. Buaya Irian merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi sesuai dengan PP No. 7 Tahun 1999 dan UU No 5 Tahun 1990. Status buaya air tawar tersebut masuk dalam kategori Apendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) atau konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies tumbuhan dan satwa liar. Buaya yang memiliki habitat asal Papua tersebut terancam punah apabila perdagangan bebas terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Menurut drh. Dian Tresno Wikanti, dokter hewan di YKAY, tindakan mahasiswa Biologi UGM untuk menyerahkan Buaya Irian ke lembaga konservasi merupakan hal yang tepat. “Satwa seperti buaya, akan sulit jika dipelihara secara perorangan, di YKAY satwa akan dipelihara dengan baik dan tepat”, papar drh. Dian. Yayasan konservasi memiliki kompetensi untuk merawat dan merehabilitasi hewan-hewan liar yang dilindungi. Menurut Dhanu dan drh. Dian, tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah pengadaan dan pengkondisian kandang, penelitian, pemeliharaan untuk Buaya Irian tersebut, dan jika memungkinkan YKAY akan mengembalikan buaya tersebut kembali ke habitat asalnya.
Saat ini perdagangan dan kepemilikan ilegal satwa liar masih banyak ditemui. “satwa langka sekarang ini kurang terlindungi dan dapat ditemukan di pasar karena banyak konsumen yang berminat, oleh karena itu diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk mengurangi perdagangan ilegal tersebut”, ujar Dhanu. Hal senada disampaikan oleh manajer operasional YKAY Ferry Ardiyanto, yang menyebutkan bahwa penyerahan ini merupakan kampanye yang perlu dicontoh dalam rangka menyelamatan satwa langka dari perdagangan liar. (ard, foto by Kukuh).





Wakil Dekan Bidang Riset dan Kemahasiswaan F. Biologi UGM, mengatakan bahwa Inovasi di bidang pertanian, salah satunya melalui inovasi melon dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara primadona agribisnis. Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Ag, ketua workshop mengatakan bahwa Indonesia memerlukan 3-5 ton benih melon setiap tahunnya, namun Indonesia baru mampu memenuhi 0,5 ton saja. Sedangkan pemenuhan 80% kebutuhan masih mengimpor benih dari luar. Untuk mewujudkan Indonesia mandiri benih, diperlukan beberapa solusi yang melibatkan sinergisitas berbagai pihak.
Solusi menurut Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Ag, antara lain memproduksi benih berkualiatas (tugas akademisi dan peneliti), meningkatkan rasa nasionalisme (agar petani dan konsumen) bangga dan percaya pada benih lokal, bantuan pemasaran produk, serta kebijakan dari pemerintah yang berpihak pada penggunaan benih lokal. “Saatnya bangsa ini harus mandiri dari benih apapun ” sahut beliau.
Oleh karena itu, dalam rangka mengasah kemampuan para mahasiswa, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY mengadakan Olimpiade Sains dan Teknologi Mahasiswa tingkat Nasional yang merupakan ajang kompetisi bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi di Indonesia, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Olimpiade Sains dan Teknologi Mahasiswa tingkat Nasional ini diselenggarakan pada tanggal 22-24 November 2011 lalu di Hotel Brongto, Yogyakarta. Bidang studi yang dilombakan meliputi bidang Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika. Delegasi UGM yang mewakili untuk bidang biologi adalah Hasna Fadliatul Bidayah (Bio/2010) yang meraih juara I untuk bidang Biologi dan Dewi Kusumawati (Bio/2008) yang meraih juara II bidang Biologi, keduanya adalah mahasiswa Fakultas Biologi UGM. Sedangkan juara III diraih oleh delegasi dari Universitas Atmajaya Yogyakarta.



Berdasarkan data dari Sekertaris Panitia, ibu Ardaning Nuriliani, S.Si., M.Kes., konferensi ini dihadiri lebih dari 400 orang, berasal dari berbagai negara antara lain Indonesia, Jepang, Australia, Belanda dan Afrika. Sebanyak 82 makalah akan disampaikan dalam bentuk presentasi oral dan 59 makalah disampaikan dalam bentuk poster. Semua makalah tersebut meliputi 5 kelompok topik yaitu 1) Molecular Biology, Genetic and Bio-informatics; 2) Ecology and Conservation; 3) Systematic and Evolution; 4) Physiology and Developmental Biology; dan 5) Bio-medics, imbuh beliau.
Developmental Biology, Prof. Yasumasa Bessho (Graduate School of Biological Sciences, Nara Institute of Science and Technology, Japan) dengan makalah bertema Biomedics, Prof. Chris Austin (School of Environmental and Life Sciences, Charles Darwin University, Australia) untuk bidang Ecology and Conservation, Drs. Langkah Sembiring, M.Sc., Ph.D (Faculty of Biology, Universitas Gadjah Mada, Indonesia) dengan makalah yang bertema Systematic and Evolution, dan Dr. Yu Hao (Department of Biological Science, National University of Singapore, Singapore) akan membawakan makalah untuk bidang Molecular Biology, Genetic, and Bioinformatics.
Pada acara yang tersebut, Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc menyampaikan pidato laporan tahunan dekan yang merupakan laporan dalam hal kebijakan, program, dan capaian hasil kegiatan Fakultas Biologi UGM selama satu tahun. Diakhir pidato, Dr. Retno Peni berharap agar di usia yang ke-56, fakultas Biologi UGM semakin memberi manfaat bagi masyarakat. “Semoga Fakultas Biologi UGM semakin jaya, semakin bersemangat, dan penuh manfaat bagi kesejahteraan bangsa dan negara Republik Indonesia”, ungkap beliau.






