Klaten, 1 Agustus 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Pelatihan Budidaya Lebah Madu dan Klanceng yang berlangsung di Desa Wisata KABUT Kebonalas, Manisrenggo, Klaten, pada Sabtu (1/8). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata berbasis konservasi, budidaya lebah tanpa sengat (klanceng), serta peningkatan nilai ekonomi produk lokal.
Pelatihan menghadirkan dua materi utama, yaitu Pengenalan dan Budidaya Klanceng serta Pengenalan Tumbuhan Penghasil Nektar dan Polen beserta Kalender Pembungaan untuk Budidaya Lebah Madu dan Klanceng. Kedua materi tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai teknik budidaya sekaligus pengelolaan sumber pakan lebah secara berkelanjutan.
Materi Pengenalan dan Budidaya Klanceng disampaikan oleh Drs. Ign. Sudaryadi, M.Kes., yang menjelaskan berbagai aspek dasar budidaya lebah tanpa sengat, mulai dari karakteristik biologinya, teknik pemeliharaan koloni, hingga strategi pengembangan usaha klanceng sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain penyampaian materi di dalam kelas, peserta juga memperoleh pengalaman langsung melalui praktik pemecahan koloni klanceng, yang dilakukan di sela-sela sesi pelatihan sehingga peserta dapat mengamati dan mempraktikkan teknik perbanyakan koloni secara benar.
Sementara itu, Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si. menyampaikan materi mengenai tumbuhan penghasil nektar dan polen sebagai sumber pakan utama lebah madu maupun klanceng. Dalam paparannya dijelaskan pentingnya pemilihan jenis tanaman berbunga yang sesuai, penyusunan kalender pembungaan sepanjang tahun, serta strategi penanaman vegetasi pendukung agar ketersediaan nektar dan polen tetap terjaga. Pengetahuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas koloni sekaligus mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Desa Wisata KABUT.
Kegiatan pelatihan ini didukung oleh tim pelaksana yang terdiri atas Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D., Drs. Ign. Sudaryadi, M.Kes., Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si., Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Umi Mahnuna Hanung, S.Si., M.Sc. Kolaborasi lintas bidang keilmuan tersebut menjadi kekuatan dalam menghadirkan pelatihan yang tidak hanya membahas aspek budidaya, tetapi juga pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran, seluruh peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar penyusunan program pendampingan lanjutan sehingga materi yang telah diperoleh dapat diterapkan secara optimal di lapangan.
Pada sesi penutupan, tim pelaksana menyampaikan perangkat budidaya lebah madu yang terdiri dari stub lebah dua tingkat, masker budidaya lebah, sikat, kurungan ratu, sikat halus, dan pencongkel multiguna. Tim juga menyampaikan 10 koloni lebah madu dan 15 koloni lebah klanceng untuk percontohan. Untuk selanjutnya, tim juga menyampaikan tindak lanjut program pengabdian, yaitu penyelenggaraan praktik koloni lebah madu dan pelatihan mengenai promosi produk UMKM melalui platform pemasaran digital yang akan dipandu oleh Umi Mahnuna Hanung, S.Si., M.Sc. bersama tim. Program lanjutan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memasarkan produk-produk berbasis lebah, seperti madu, propolis, bee pollen, maupun produk olahan lainnya, sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui rangkaian pelatihan ini, Fakultas Biologi UGM berharap masyarakat Desa Wisata KABUT Kebonalas dapat mengembangkan budidaya lebah madu dan klanceng secara berkelanjutan, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat desa wisata sebagai pusat edukasi konservasi, keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan terus menghasilkan inovasi yang mendukung pembangunan desa, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Kegiatan ini mendukung beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).














































































