Pengabdian kepada MasyarakatRilis BeritaTajuk Senin, 23 Oktober 2023


Rilis BeritaTajuk Kamis, 19 Oktober 2023
Pada tanggal 11-14 Oktober 2023, salah satu dosen Fakultas Biologi UGM, Dr. Niken Satuti Nur Handayani, M.Sc. menghadiri Symposium of Human Genetics Asia 2023 di Tokyo, Jepang. Simposium yang dilaksanakan di Toshi Center Hotel, Zenkoku Toshi Kaikan dan Sabo Kaikan. Selain Presidential Lecture yang disampaikan oleh Prof. Kenjiro Kosaki dari Center for Medical Genetics, Keio University School of Medicine, Japan; terdapat lima plenary lectures, satu di antaranya disampaikan oleh Prof. Dr. Svante Pääbo, seorang Nobel Prize Laureate dari Max-Planck Institute for Evolutionary Anthropology in Leipzig, Germany dan saat ini sebagai Adjunct Professor, di the Okinawa Institute of Science and Technology, Japan. Beliau membawakan materi yang berjudul About Neandertals, Denisovans, and modern humans. Pada acara ini dimungkinkan para ilmuwan untuk bertukar informasi terbaru dalam bidang genetika manusia, baik dalam bentuk presentasi, poster, atau diskusi interaktif di 16 judul symposium secara paralel, dan mengikuti perkembangan terkini dalam disiplin ilmu tersebut. Selain itu, pada acara tersebut para ilmuwan dapat memperoleh umpan balik yang berharga tentang penelitian dari rekan sejawat dan ahli di bidang yang sama, yang membantu untuk mengembangkan dan meningkatkan metodologi penelitian.




Di sela-sela acara simposium, Dr. Niken mendapat kesempatan berdiskusi singkat mengenai penelitian thalassemia di Fakultas Biologi UGM dengan Prof. Zilfalil bin Alwi, MBBS, M.Sc., M.Med., Ph.D., FAMM. dari Universiti Sains Malaysia. Beliau adalah UNESCO Chair on Human Genetics of Thalassemia, WHO Technical Advisory Group on Genomics dan Senior Consultan of Pediatrician & Clinical Genetics.
Dari simposium ini juga dapat diketahui tren terkini penelitian dalam bidang genetika manusia yaitu genomics, genetic variations, dan precision medicine, serta diperoleh pemahaman tentang topik yang lebih kompleks.
Pengabdian kepada MasyarakatTajuk Rabu, 18 Oktober 2023
Pada hari Senin, 2 Oktober 2023 sampai dengan Sabtu, 7 Oktober 2023 Tim MBKM Penelitian mahasiswa Program Sarjana Fakultas Biologi UGM Angkatan 2020, yaitu: Nellis Nadinda, Syariva Habiba, dan Erna Indahwati, melakukan penelitian ke PT. Gizi Indonesia, yaitu salah satu mitra MBKM Fakultas Biologi UGM, yang terletak di Jl. Veteran II No.1, Tlk. Pinang, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 16720. Kegiatan ini bertujuan untuk memproses ekstrak kering Gama Melon Parfum dalam pelaksanaan Program Penelitian Merdeka Belajar-Kampus Medreka (Lit-MBKM) Tahun 2023. Ketiga mahasiswa tersebut dibimbing oleh Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. dan Ayi Indah Utami sebagai pembimbing mitra MBKM selama di PT. Gizi Indonesia.




Selama kegiatan MBKM di PT. Gizi Indonesia, ketiga mahasiswa melakukan beberapa kegiatan diantaranya adalah belajar bahan dasar yang digunakan dalam membuat formulasi sebuah produk kosmetik dan fungsi dari bahan tersebut. Ketiga mahasiswa juga belajar mengenai alur dan SOP pembuatan produk baru yang dikerjakan di PT. Gizi Indonesia. Selanjutnya pada hari ketiga, melakukan trial pada ekstrak bubuk Melon GMP dengan menggunakan alkohol 96% dan akuades. Pada larutan alkohol 96%, ekstrak bubuk Melon GMP sukar larut dan memiliki warna yang keruh, sedangkan pada campuran akuades, ekstrak bubuk Melon GMP mudah larut dan memiliki warna yang lebih bening. Selanjutnya pada hari terakhir, kami diajak melakukan penelitian bersama dalam membuat formulasi sheet mask berbahan dasar ekstrak bubuk Melon GMP. Setelah pembuatan formulasi, langsung dilakukan percobaan pembuatan sheet mask di dalam laboratorium.
Menurut Dr. Wiko selaku dosen pembimbing, kegiatan ini merupakan langkah awal dalam penelitian lebih lanjut terhadap pemanfaatan Gama Melon Parfum (Cucumis melo L. ’GMP’) yang merupakan melon hasil penelitian di Fakultas Biologi UGM namun tidak dapat dikonsumsi. Sehingga melon GMP diarahkan sebagai bahan baku (raw material) di industri kosmetik maupun industri farmasi atau kesehatan lainnya. “Saya berharap proses ini dapat menjadi tahapan awal yang konsisten dalam mengungkap berbagai macam potensi lainnya dari metabolit sekunder di melon GMP ini” ujar Dr. Wiko. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan berujung pada terciptanya produk baru sebagai inovasi dalam bidang kecantikan dan perawatan kulit.
Pengabdian kepada MasyarakatTajuk Selasa, 17 Oktober 2023
Pada hari Minggu tanggal 15 Oktober 2023, tim mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka – Pengabdian kepada Masyarakat (MBKM-PkM) 2023 Program Sarjana Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat Dusun Pajangan, Wedomartani, Ngemplak, Selaman, Yogyakarta mengenai cara pembuatan pupuk organik cair (POC) dan eco-enzyme. Penyuluhan tersebut diselenggarakan untuk mengajak masyarakat dalam melakukan pengelolahan limbah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk organik cair (POC) dan eco-enzyme. Narasumber pada penyuluhan ini adalah tim MBKM-PkM 2023 yang beranggotakan lima mahasiswa biologi, Universitas Gadjah Mada angkatan 2020 yaitu Arba’ Ramadhani Artik, Arneta Yuvita, Ester Dewanti Yovita Wardani, Fadiah Sri Rahayu, dan Zidni Meirizka Utami di bawah bimbingan Dr. Ardaning Nuriliani, S.Si., M.Kes. dan mitra Ibu Nurini Aru Sudarsi. Tim MBKM-PkM 2023 mengadakan penyuluhan dengan tema “Rawat Bumi Mulai dari Dapur Kita”. Pada tema tersebut memuat dua materi yaitu materi mengenai pupuk organik cair dan eco-enzyme. Pada materi pertama terdiri dari materi pentingnya nutrien makro dan mikro untuk tanaman, pengertian pupuk organik dan pupuk anorganik, perbedaan antara pupuk organik dan pupuk anorganik (kimia), kelebihan dan kekurangan dari pupuk organik dan pupuk anorganik, cara pembuatan produk organik cair, dan cara pengaplikasian pupuk organik cair. Sedangkan pada materi kedua terdiri dari materi pengertian eco-enzyme, kelebihan dan kekurangan eco-enzyme, manfaat eco-enzyme, cara pembuatan eco-enzyme, dan cara pengaplikasian eco-enzyme.


Pentingnya pengelolahan sampah organik untuk saat ini sangat dibutuhkan, mengingat masalah yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai terbatasnya lahan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di TPA Piyungan. Pembuatan pupuk organik cair (POC) dan eco-enzyme merupakan salah satu cara dalam mengelolah limbah organik seperti sisa bahan makanan, sampah sayuran, sampah buah-buahan, dan dedaunan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Penggunaan pupuk organik cair (POC) dapat digunakan untuk merawat tanaman tanpa harus mengkhawatirkan efek kimia untuk tanaman. Sedangkan, penggunaan eco-enzyme tidak hanya sebagai campuran pembuatan pupuk, tetapi juga bisa bermanfaat sebagai deterjen atau pembersih dan membasmi hama tanaman. Pada pembuatan POC dan eco-enzyme tidak membutuhkan biaya yang besar, hanya bermodalkan limbah organik dari dapur, air, larutan molase (gula merah, gula aren, gula kelapa), dan larutan EM4.
Penyuluhan ini mendapatkan banyak respons positif dan antusiasme dari warga Dusun Pajangan yang terlibat langsung dalam sesi diskusi bersama dengan narasumber. Penyuluhan dari tim MBKM-PkM 2023 ini diharapkan dapat mendorong kesadaran dan keterlibatan masyarakat khususnya warga Dusun Pajangan dalam melakukan gerakan peduli lingkungan dengan mengelolah sampah dapur dan sampah organik menjadi sesuatu yang berguna bagi lingkungan. (SDGs 3).
PrestasiRilis BeritaTajuk Selasa, 17 Oktober 2023
Upaya mitigasi perubahan iklim dari sektor peternakan kurang terdengar gaungnya di Indonesia. Meskipun angka kontribusi dari sektor ini masih kecil apabila dibandingkan dengan sektor industri dan sektor energi, kontribusi sektor peternakan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dapat membantu menurunkan suhu bumi serta mencegah pemanasan global yang ekstrem. Berdasarkan data BMKG (2022), rata-rata konsentrasi emisi gas metana di dunia terus mengalami kenaikan sejak Januari 1980 sebesar 1.620 ppb hingga Desember 2021 yang mencapai angka 1.909,3 ppb. Sektor peternakan menjadi penyumbang gas metana terbesar ketiga dengan kontribusi gas metana mencapai 20 hingga 25% emisi dari keseluruhan emisi gas metana di dunia. Emisi gas metana yang dihasilkan dari sektor peternakan sebagian besar dihasilkan oleh ternak ruminansia melalui proses fermentasi di dalam lambungnya yang kompleks (rumen). Nantinya gas metana akan dikeluarkan oleh ternak pada feses dan saat bersendawa.




Permasalahan tersebut menarik perhatian Ahmad Rizal Riswanda Danuartha (Program studi Ilmu dan Industri Peternakan, angkatan 2022), Akmal Bunyamin (Program studi Biologi, angkatan 2021), Anggi Abdillah Surya Amni (Program studi Kimia, angkatan 2022), Yessa Juliaputri (Program studi Manajemen Sumberdaya Akuatik, angkatan 2021), dan Siti Komariyah (Program studi Ilmu dan Industri Peternakan, angkatan 2022) yang tergabung dalam Tim PKM-RE dengan dosen pendamping Moh. Sofiul Anam, S.Pt. M.Sc. untuk memanfaatkan rumput laut (Macroalgae Sargassum sp. dan Gracilaria sp.) yang ada di Pantai Gunung Kidul, Yogyakarta untuk dijadikan sebagai pelet suplemen pakan ternak ruminansia. Pelet suplemen tersebut diharapkan dapat memodifikasi keadaan rumen sehingga dapat mengurangi produksi dari gas metana.
Macroalgae atau yang biasa kita kenal dengan rumput laut berpotensi menjadi sumber pakan yang kaya akan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, asam amino, dan senyawa bioaktif lainnya. “Alasan kami memilih macroalgae sebagai bahan utama suplemen pakan ternak ruminansia adalah dengan adanya kandungan tanin dan saponin pada makroalga yang memiliki kemampuan menurunkan produksi gas metana. Rumput laut sudah banyak dimanfaatkan pada bidang pangan, pakan dan farmakologi. Tetapi di bidang peternakan terkait pakan aditif merupakan tantangan bagi kami untuk melakukan eksplorasi dan identifikasi senyawa penting yang bisa kami manfaatkan, apalagi menjadikan ini menjadi produk yang siap pakai, berkualitas, dan terjangkau bagi peternak” tutur Ahmad Rizal selaku ketua tim.
Yessa menambahkan bahwa penelitian mengenai potensi rumput laut untuk mitigasi gas metana sudah banyak dilakukan, tetapi belum ada inovasi berupa produk pelet yang siap pakai untuk para peternak. “Produk penelitian kami dijadikan pelet agar peternak lebih mudah mengaplikasikannya sehingga lebih efisien. Selain itu, dengan inovasi berupa suplemen berbentuk pelet, suplemen pakan ternak menjadi lebih awet dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama,” sambung Siti.
PELLETAN dikembangkan melalui pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dengan sumber dana dari Kemendikbud Ristek. Melalui integrasi dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh di bangku kuliah, mereka berhasil membuat suplemen pakan berbentuk pelet dari macroalgae yang nantinya akan diuji keefektifannya melalui uji in vitro di Laboratorium TMT (Teknologi Makanan Ternak) Fakultas Peternakan dan Laboratorium KIMOR (Kimia Organik) UGM.
Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, kabupaten Gunungkidul memiliki deretan pantai yang sangat luas sehingga memiliki potensi budidaya rumput laut, salah satunya terdapat di pantai Trenggole. “Awalnya kami mencari sampel rumput laut di pantai Trenggole Gunung Kidul, lalu rumput laut yang ditemukan diolah menjadi pelet. Setelah itu, kami melakukan uji in vitro di Lab TMT menggunakan cairan rumen yang diambil dari sapi fistula bangsa bali. Kemudian dari uji in vitro tersebut kita ambil gas nya untuk dilakukan analisis produksi gas karbon dioksida dan metananya. Dan setelah hasil uji gas test-nya keluar positif bahwa pakan suplemen ini mampu menurunkan emisi gas metana hasil dari fermentasi rumen.” jelas Akmal.
Berdasarkan uji gas test di Balai Pengujian Standar Instrumen Lingkungan Pertanian Pati terhadap pelet suplemen rumput laut yang dikembangkan Rizal dan kawan kawan, pelet suplemen tersebut berhasil menurunkan produksi gas metana sebanyak 21,19% untuk suplementasi 3% dan 21,38% untuk suplementasi 6%. Selain itu, berdasarkan analisis data dari uji in vitro yang telah mereka lakukan, pelet suplemen rumput laut tersebut mampu meningkatkan kecernaan dari pakan kering sebesar 7,11% hingga 7,29%. Hal ini tentunya merupakan angin segar bagi peternak karena berdasarkan penelitian sebelumnya 3 sampai 12% energi tercerna dari pakan tidak dapat terserap maksimal karena hilang untuk produksi gas metana.
“Kami berharap, dengan adanya inovasi ini, dapat mengurangi gas metana yang dihasilkan dari sektor peternakan, karena selama ini sektor peternakan sering dijadikan kambing hitam atas permasalahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini.” Pungkas Anggi. Penelitian ini tentunya menjadi prestasi yang membanggakan dan berpotensi besar membantu mengurangi produksi gas metana dunia. Dengan begitu, target pengurangan emisi karbon bisa didorong lebih jauh hingga perubahan iklim dapat teratasi. [Penulis: Akmal Bunyamin]
PrestasiRilis BeritaTajuk Senin, 16 Oktober 2023
Nutrifood Leadership Award (NLA) merupakan sebuah inisiatif dari perusahaan Nutrifood Indonesia yang bertujuan untuk memberikan penghargaan untuk para mahasiswa Indonesia yang memiliki potensi dalam bidang kepemimpinan. NLA 2023 mengusung tema “Contribution for Our Nation“, dengan value Nutrifood, yaitu : Health, Green, Education, dan Inclusivity. Program ini memberikan kesempatan dan terobosan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri dalam rangka berkontribusi lebih untuk masyarakat.
![[Picture 1]](https://biologi.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/11/2023/10/Picture-1-scaled-800x400.jpg)
![[Picture 2]](https://biologi.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/11/2023/10/Picture-2-scaled-800x400.jpg)
![[Picture 3]](https://biologi.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/11/2023/10/Picture-3-scaled-800x400.jpg)
![[Picture 4]](https://biologi.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/11/2023/10/Picture-4-scaled-800x400.jpg)
Beranjak dari tekad yang kuat untuk memberikan kebermanfaatan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga berdampak buat orang lain. Eva Yunizar Reza, mahasiswa Biologi angkatan 2021, mengikuti serangkaian seleksi administrasi hingga dinyatakan lolos tahap audisi semifinal yang diadakan di 4 kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari 132 semifinalis, Eva terpilih menjadi finalis untuk karantina di Jakarta. Eva bersama 19 finalis lainnya terbagi menjadi 4 kelompok untuk mengikuti mentoring dan melaksanakan project sosial yang melibatkan NGO’s yaitu Rumah Harapan Indonesia (Health), Food Cycle (Green), Istana Belajar Anak Banten (Education), dan Indika Foundation (Inclusivity).
Eva Yunizar Reza (Biologi 2021) bersama 4 mahasiswa lainnya dari Universitas Diponegoro dan Universitas Lampung tergabung dalam tim Health yang berkolaborasi bersama Rumah Harapan Indonesia. Berkat panggilan dan dorongan hati, mereka berhasil menginspirasi lebih banyak orang melalui berbagai program yang diinisiasi dengan melibatkan komunitas, volunteers, dan audience di sosial media. Eva dan tim berhasil menjadi The Winner of Nutrifood Leadership Award 2023 dan menjadi The Most Inspiring Movement.
Menurut Eva, segala pencapaian itu tidak berarti apabila tidak diimbangi dengan memberikan kebermanfaatan kepada orang lain. Eva percaya bahwa semua bermula dari langkah kecil untuk menjadi sesuatu yang besar. This is not the end, but the first step to taking an action, inspiring others, and making a better impact for our surroundings. [Penulis: Eva Yunizar Reza]
Pengabdian kepada MasyarakatTajuk Senin, 16 Oktober 2023
Hari Minggu, 8 Oktober 2023, tim mahasiswa MBKM-PKM 2023 Program Sarjana Fakultas Biologi, UGM yang beranggotakan 5 mahasiswa Biologi UGM angkatan 2020 yakni Arba’ Ramadhani Artik, Arneta Yuvita, Ester Dewanti Yovita Wardani, Fadiah Sri Rahayu, dan Zidni Meirizka Utami di bawah bimbingan Dr. Ardaning Nuriliani, S.Si.,M.Kes., dan Ibu Nurini Aru Sudarsi sebagai mitra, mengadakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat di Dusun Pajangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Penyuluhan ini bertemakan “Peningkatan Ekonomi Masyarakat melalui Optimalisasi Lahan”. Penyuluhan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat agar dapat meningkatkan kondisi ekonomi keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak terpakai di rumah dan sekitar untuk ditanami sayuran, buah, herba, maupun TOGA. Pada kegiatan kali ini, kami mengundang Bapak Panggih Dwi Atmojo, S.T. sebagai narasumber. Beliau merupakan alumni Fakultas Teknik, UGM yang saat ini aktif sebagai praktisi agroekonomis dan pendiri sekaligus pemilik Agro Edukasi Caping Merapi Yogyakarta yang beralamat di Kenayan, Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Materi penyuluhan yang diberikan adalah food garden, atau cara bertaman sayuran sekaligus pemeliharaan ikan, ayam, maupun ternak kecil lain untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari serta seputar urban farming, yakni tata cara perkebunan di kota ataupun di lahan yang terbatas.



Selain itu, narasumber juga menekankan bahwa pemanfaatan lahan kosong sebagai food garden dapat memberikan berbagai keuntungan lain yaitu, masyarakat dapat menyediakan obat tradisional secara mandiri, mempercantik pekarangan, refreshing melalui kegiatan berkebun, memperoleh pangan yang lebih sehat (bebas dari pupuk sintetis), serta produksi pupuk secara alami yang dapat diperoleh melalui sistem composting, perlindian, maupun pupuk kandang. Hal ini tentu saja sekaligus dapat berfungsi untuk mengatasi permasalahan penanganan sampah organik. Penyuluhan ini dihadiri oleh sekitar 20 an warga dan mendapatkan respons yang sangat positif, bahkan beberapa warga sangat antusias dan terlibat langsung dalam sesi diskusi bersama dengan narasumber.
Penyuluhan ini merupakan salah satu upaya untuk lebih mendorong kesadaran dan keterlibatan masyarakat khususnya di Dusun Pajangan tentang pentingnya food garden dan urban farming tidak hanya untuk manfaat secara ekonomis namun juga dalam menghadapi tantangan pangan dan lingkungan khususnya di masa depan, setelah sebelumnya tim MBKM-PKM kami membuat kebun percontohan di Dusun Pajangan yang dapat dipelihara dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk food gardening. (SDGs 3).
Pengelolaan SampahRilis BeritaTajuk Senin, 16 Oktober 2023
Yogyakarta, 12 Oktober 2023. Tim Satgas Sampah Fakultas Biologi berpean aktif dalam pendampingan pengelolaan sampah organik untuk mendukung program Sekolah Adiwiyata Nasional (Green School) di SMK N 2 Jetis Yogyakarta. Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah. Program Adiwiyata ini bertujuan membentuk sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang mampu berpartisipasi dan melaksanakan upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang. “Pada Tahun ini, SMK N 2 Jetis Yogyakarta mendapat penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional” ujar Kepala Sekolah SMKN 2 Yogyakarta bapak Dodot Yuliantoro, S.Pd., MT.
Pada acara Workshop sehari yang dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Oktober 2023 dihadiri oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Adiwiyata Guru dan Adiwiyata Siswa serta petugas kebersihan sekolah. Materi Workshop meliputi (1) Pengelolaan sampah secara umum yang disampaikan oleh Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si., M.Kes yang sekaligus sebagai Ketua Satgas Sampah Organik Fakultas Biologi UGM (2) Pengolahan sampah organik dengan berbagai metode yaitu Vermicomposting, Fermentasi (Bioferti 2023), Pembuatan POC dan budidaya maggot dengan metode ember tumpuk, pembuatan ecoenzim yang disampaikan oleh Dwi Umi Siswanti, S.Si., M.Sc. yang sekaligus sebagai Tim Ahli Satgas Sampah Fakultas Biologi (3) Praktek pembuatan kompos dengan menggunakan probiotik Bioferti 2023 yang didampingi oleh Suharjita dan Danang (Tim Satgas Sampah Fakultas Biologi UGM).



Pada pelatihan tersebut peserta sangat antusias dalam mengikuti acara workshop dan juga praktek secara langsung pengolahan sampah organiik yang meliputi pencacahan, pencampuran dengan probiotik bioferti 2023 dengan komposisi tertentu dan biang. ”Pengomposan sampah organik dengan menggunakan Bioferti 2023 yang merupakan probiotik dari Fakultas Biologi dapat mendegradasi sampah organik sekitar 7 – 14 hari dan hasil pupuk mempunyai kualiatas yang memenuhi sttandar untuk diterapkan di masayarakat” ujar Suharjito di sela-sela praktek pembuatan kompos. Pendampingan pengolahan sampah organik akan dilakukan sampai petugas kebersihan dan adiwiyata sekolah sampai mandiri mengelola sampah.
Program pendampingan Satgas Pengelola Sampah Organik di SMKN 2 Jetis, Yogyakarta merupakan salah satu upaya mewujudkan SDGs 3 (Good Health and Well Being) dan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities). Fakultas Biologi UGM berharap sampai dapat mandiri dalam mengelola sampah organik maupun yang unorganik (shp, 2023)
Pengelolaan SampahRilis BeritaTajuk Senin, 16 Oktober 2023
Kamis (12/10/2023) Tim Satgas Pengelola Sampah Organik Fakultas Biologi UGM mengunjungi Pasar Giwangan, Yogyakarta dalam rangka survei kapasitas infrastruktur dan volume sampah untuk upaya pengelolaan sampah organik. Satgas Pengelola Sampah Organik yang hadir dalam survey ini diketuai oleh Ketua Satgas Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si.,M.Kes., Tim Ahli Satgas Sukirno, S.Si.,M.Si.,Ph.D.dan Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc serta anggota Satgas Suharjito dan Danang. Satgas diterima oleh Kepala TPS3R Pasar Giwangan Kelik Novidwyanto Wibowo, SE , Susilo dan R. Dody Winardono selaku pengelola kebersihan Pasar Giwangan di bawah Dinas Perdagangan serta Agus dari LSM.
Kunjungan Satgas Pengelola Sampah Organik Fakultas Biologi UGM ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Tripartit antara Fakultas Biologi UGM -TPS3R Pasar Giwangan dan SONJO, grup Sambatan Jogja yang saat ini sedang fokus untuk mengatasi darurat sampah di Yogyakarya tanggal 6 Oktober 2023. Pada kedua pertemuan ini juga dihadiri oleh LSM Lestari, Agus Hartono dan Pengurus Paguyuban Bank Sampah DIY, Mustakim. Kunjungan diawali dengan pemaparan Kepala TPS3R terkait volume sampah pasar dan penanganannya selama ini, hambatan yang dihadapi serta rencana penanganan sampah organik.


Kelik menyampaikan bahwa sampah Pasar Giwangan selama ini menghasilkan sampah organik sebanyak 2 ton/hari. Data pengelolaan sampah organik Pasar Giwangan sejak Januari 2023 menunjukkan penurunan volume sampah yang tertangani hingga September 2023. Selam ini TPS3R Giwangan mengelola sampah organik dengan dengan biopori yang dibuat di sekitar pasar. Kompos yang dihasilkan dari biopori terhitung membutuhkan waktu lama. Satgas Pengelola Sampah Organik Fakultas Biologi UGM menawarkan teknologi sederhana untuk menangani sampah organik berupa pembuatan pupuk kompos dengan bantuan probiotik Bioferti 2023, pembuatan eco-enzyme berbahan sampah buah-buahan dan pembuatan POC dengan bantuan magot (Black Soldier Fly). Pembuatan pupuk kompos dari bahan sampah organik dengan probiotik Bioferti 2023 formula dari Fakultas Biologi UGM terbukti mampu mendegradasi sampah organik membutuhkan waktu sekitar 7 – 14 hari dengan kadar pupuk organik N (2,70%) , P (0,62%) dan K (68,3%) yang telah memenuhi standar pupuk organik.
Pada kunjungan ini Satgas memberikan bantuan Bioferti 2023 sebanyak 5 liter dan komitmen untuk mendampingi pengelolaan sampah organik Pasar Giwangan. “TPS3R Pasar Giwangan paling tepat saat ini mengolah sampah organic menjadi kompos dengan aplikasi Bioferti 2023, untuk selanjutnya bisa dibangun infrastruktur budidaya maggot sebagai solusi berikutnya dalam mengolah sampah dan hasil maggot dapat dipasarkan untuk pakan ikan dan juga dapat diterapkan pemanfaatan sampah buah untuk pembuatan eco-enzyme”, ungkap Soenarwan Hery Poerwanto selepas survei di TPS3R. Program pendampingan Satgas Pengelola Sampah Organik di TPS3R Pasar Giwangan ini merupakan salah satu Upaya mewujudkan SDGs 3 (Good Health and Well Being) dan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities). “Besar harapan kami, Fakultas Biologi UGM dan TPS3R Pasar Giwangan mempunyai Perjanjian Kerjasama sebagai penjabaran dari MoU yang telah ada antara Dinas Perdagangan Pemda DIY dengan UGM’, kata Kelik. (dus, 2023)
Rilis BeritaTajuk Jumat, 13 Oktober 2023
Hari Sabtu (16/9/2023) tim pengabdian kepada masyarakat (PkM MBKM-2023) Kedungpoh dibawah bimbingan Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc., yaitu Rahmi Qurrota Aeni, Nala Azkiya, Lena Mardiana, Nurrisma Ika Lestari, dan Kanya Nabila Febrirani melakukan kegiatan implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Desa Wisata Klayar, Kedungpoh, Nglipar, Gunung Kidul. Program ini merupakan keberlanjutan dari program penanaman dan pemanenan bawang merah organik yang dilakukan sebelumnya, yaitu pelatihan pengolahan bawang merah organik menjadi produk pangan yang dapat meningkatkan perekonomian. Program ini merupakan kerjasama Tim MBKM Kedungpoh dengan Kelompok Wanita Tani yang dipimpin oleh Sri Murni. Pelatihan dilaksanakan dikediaman Tri Wahyuni, anggota KWT. Pelatihan pengolahan bawang merah menjadi produk diversifikasi pangan berupa siwang dan pasta bawang merah.




Pelatihan pembuatan siwang dilakukan oleh mahasiswa dan Kelompok Wanita Tani sedara praktik langsung. Peserta pelatihan sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan dan tertarik dengan produk siwang. Bahkan produk ini akan diproduksi secara massal dan dipasarkan oleh KWT. Siwang merupakan olahan bawang merah khas Cirebon yang dibuat dari campuran terasi, udang rebin dan bwang merah yang disangrai sehingga memiliki aroma terasi yang kuat dan rasa yang gurih. Produk ini dibuat sebagai pengganti lauk, penambah rasa pada makanan, dan sebagai bumbu tambahan. Siwang memiliki daya simpan yang cukup lama.
Selain siwang, tim MBKM juga memberikan pelatihan pembuatan pasta bawang merah. Pasta bawang mearh merupakan produk antara dari bawang merah yang telah digiling halus dan digunakan sebagai bumbu masak siap pakai. Pasta bawang merah dapat diaplikasikan untuk seluruh masakan yang membutuhkan bawang merah seperti nasi goreng, tumisan, sayur sop, rendang, dan masakan lainnya. Masa simpan produk ini sekitar 3-4 bulan di suhu ruang dan lebih dari 6 bulan di pendingin. Kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan ide produksi kepada masyarakat khususnya Kelompok Wanita Tani Kedungpoh untuk meningkatkan perekonomian dari sektor pertanian bawang merah organik.
“Kami akan memproduksi siwang dan memasarkan produk ini secara online dan ke pasar sekitar Gunung Kidul”, ungkap Tri Wahyuni selepas acara pelatihan. Bahan bawang merah yang digunakan saat ini adalah bawang merah hasil budidaya organik yang dilakukan oleh tim MBKM Kedungpoh. “Saya bersyukur, aplikasi biofertilizer untuk budidaya organik bawang merah dan diversifikasi pangan dari produknya sangat disambut baik oleh KWT bahkan akan diproduksi dan dipasarkan”, ungkap Dwi Umi Siswanti. Program MBKM pengabdian masyarakat di Kedungpoh diharapkan berlanjut untuk tahun berikutnya dan mendukung visi Desa Kedungpoh sebagai desa unggulan produsen komodtitas pertanian organik dan desa wisata. Lebih lanjut, kegiatan MBKM pengabdian kepada masyarakat ini sebagai upaya mewujudkan dari SDGs1 (No Poverty), SDGs 3 ( Good Health and Well Being) dan SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth) karena program pengabdian ini menghasilkan produk organik yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif bernilai ekonomi tinggi.