Arsip:
Prestasi
Yogyakarta (UGM) – Di tengah meningkatnya ancaman antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi salah satu tantangan besar dunia kesehatan, tim mahasiswa Biologi Universitas Gadjah Mada berhasil menorehkan prestasi dengan meraih Juara 3 dalam ajang National Biotechnology Essay Competition (NBEC) 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, dengan mengusung tema “Empowering Sustainable Development through Biotechnology Innovation.”
Tim yang terdiri atas Anggistina Wulansari sebagai ketua, serta Putri Amalia Sholehah dan Sabrina Labista Wibowo sebagai anggota, mengangkat gagasan inovasi berjudul “One-Tube MRSA Kit: Solusi Diagnostik Cepat Berbasis Multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b untuk Deteksi Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) secara Berkelanjutan.” Gagasan ini masuk dalam subtema Biofarmasi dan Teknologi Kesehatan.
Inovasi One-Tube MRSA Kit hadir sebagai gagasan diagnostik molekuler cepat untuk mendeteksi MRSA, yaitu bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotik metichillin. MRSA menjadi perhatian serius karena dapat menyebabkan infeksi yang sulit ditangani, terutama di fasilitas kesehatan. Keterlambatan deteksi dapat berdampak pada pemilihan terapi yang kurang tepat dan memperbesar risiko penyebaran resistensi antimikroba.
Melalui konsep multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b, kit ini dirancang untuk mendeteksi keberadaan Staphylococcus aureus sekaligus gen resistensi MRSA, seperti mecA/mecC, dalam satu sistem tabung tertutup. Teknologi multiplex LAMP berperan sebagai metode amplifikasi DNA yang cepat pada suhu konstan, sedangkan CRISPR-Cas12b berfungsi sebagai sistem deteksi spesifik berbasis pengenalan target gen. Pendekatan one-tube diharapkan dapat membuat proses deteksi menjadi lebih cepat, praktis, efisien, dan minim risiko kontaminasi.
Lebih dari sekadar gagasan alat diagnostik, One-Tube MRSA Kit dirancang sebagai kontribusi bioteknologi dalam mendukung layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap ancaman infeksi resisten antibiotik. Inovasi ini sejalan dengan SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam mendukung deteksi dini penyakit infeksi dan pengendalian resistensi antimikroba. Selain itu, gagasan ini juga berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure melalui pengembangan teknologi diagnostik berbasis bioteknologi, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui konsep kit yang lebih efisien dan berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.
“MRSA bukan hanya persoalan bakteri resisten, tetapi juga tentang waktu. Semakin cepat infeksi terdeteksi, semakin besar peluang tenaga kesehatan mengambil keputusan terapi yang tepat. Melalui One-Tube MRSA Kit, kami ingin menawarkan gagasan diagnostik yang cepat, spesifik, dan lebih sederhana untuk mendukung pengendalian AMR,” ujar Anggistina Wulansari, ketua tim.
Putri Amalia Sholehah menambahkan bahwa inovasi ini lahir dari keresahan terhadap metode deteksi yang masih membutuhkan waktu dan fasilitas tertentu. “Kami melihat bahwa tantangan deteksi MRSA tidak hanya terletak pada akurasi, tetapi juga pada kecepatan dan kemudahan penggunaannya. Oleh karena itu, pendekatan multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b dalam sistem one-tube menjadi gagasan yang potensial untuk menjawab kebutuhan diagnostik yang lebih praktis,” tuturnya.
Sementara itu, Sabrina Labista Wibowo menyampaikan bahwa gagasan ini juga menekankan pentingnya inovasi bioteknologi yang tidak berhenti di laboratorium. “Bagi kami, bioteknologi harus mampu hadir sebagai solusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. One-Tube MRSA Kit menjadi bentuk upaya kami untuk menghubungkan ilmu molekuler dengan permasalahan nyata di bidang kesehatan, khususnya dalam menghadapi ancaman resistensi antibiotik,” ungkapnya.
Ajang National Biotechnology Essay Competition (NBEC) 2026 menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan kreatif dan solutif berbasis bioteknologi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Capaian Juara 3 ini menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan ide inovatif untuk menjawab tantangan kesehatan global.
Ke depan, tim berharap gagasan One-Tube MRSA Kit dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penyempurnaan desain, validasi laboratorium, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan demikian, inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan platform diagnostik MRSA yang cepat, akurat, praktis, dan berkelanjutan. [Penulis: Anggistina Wulansari]
Mahasiswa Program Studi Pascasarjana Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Kamila Islamiati, berhasil meraih Bronze Medal pada kategori Kesehatan dalam ajang Mandalika Essay Competition (MEC) 8 tingkat nasional yang diselenggarakan pada 16–18 Mei 2025. Prestasi tersebut diraih melalui karya inovatif berjudul “NUSACOLL (Nusantara Collagen): Inovasi Balutan Luka Bioaktif Berbasis Kolagen Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebagai Solusi Terapi Ulkus Diabetikum Berkelanjutan” di bawah bimbingan Prof. Dr. Rarastoeti Pratiwi, M.Sc.
Melalui karya tersebut, Kamila menawarkan konsep balutan luka bioaktif berbasis kolagen yang diekstraksi dari kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) sebagai alternatif terapi ulkus diabetikum yang lebih berkelanjutan. Inovasi ini berangkat dari tingginya angka kasus diabetes di Indonesia yang terus meningkat serta tingginya risiko komplikasi berupa ulkus diabetikum yang dapat menyebabkan infeksi kronis hingga amputasi.
Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi diabetes yang ditandai dengan gangguan penyembuhan luka akibat inflamasi kronis, kerusakan saraf, serta penurunan aliran darah ke jaringan. Penanganan yang tersedia saat ini umumnya meliputi kontrol glikemik, terapi antiinfeksi, debridement, serta penggunaan balutan luka. Namun, sebagian besar balutan konvensional masih berfungsi sebagai pelindung pasif dan belum mampu berperan optimal sebagai matriks biologis yang mendukung regenerasi jaringan.
Melalui konsep NUSACOLL, limbah kulit ikan nila dimanfaatkan sebagai sumber kolagen tipe I yang berpotensi dikembangkan menjadi biomaterial medis bernilai tinggi. Pemilihan ikan nila didasarkan pada tingginya produksi budidaya ikan tersebut di Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Produksi yang besar tersebut juga menghasilkan limbah biomassa berupa kulit, sisik, dan tulang yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.
NUSACOLL dirancang dalam bentuk sponge kolagen berpori yang dibuat melalui metode Pepsin Soluble Collagen (PSC) dan freeze-drying. Struktur berpori yang dihasilkan menyerupai matriks ekstraseluler alami sehingga berpotensi mendukung infiltrasi fibroblas, difusi nutrien, pertukaran oksigen, serta pembentukan jaringan granulasi yang penting dalam proses penyembuhan luka.
Selain memiliki sifat biokompatibel dan biodegradabel, kolagen ikan juga menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan kolagen mamalia, seperti risiko zoonosis yang lebih rendah, kemudahan pemenuhan aspek kehalalan, serta pemanfaatan limbah perikanan yang mendukung konsep ekonomi sirkular.
“NUSACOLL berangkat dari pertanyaan sederhana, yaitu bagaimana jika limbah kulit ikan nila Indonesia dapat dimanfaatkan menjadi biomaterial kesehatan yang bernilai tinggi. Melalui inovasi ini, saya berharap sumber daya lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi pasien ulkus diabetikum,” ujar Kamila.
Inovasi NUSACOLL dinilai memiliki potensi karena tidak hanya menawarkan solusi pada aspek kesehatan, tetapi juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah perikanan menjadi produk bernilai tambah. Konsep ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Ajang Mandalika Essay Competition (MEC) 8 menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menyampaikan gagasan inovatif berbasis riset dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Keberhasilan meraih Bronze Medal pada kompetisi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap gagasan ilmiah yang mengintegrasikan bidang kesehatan, biomaterial, dan keberlanjutan lingkungan.
Ke depan, Kamila berharap konsep NUSACOLL dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian eksperimental, mulai dari ekstraksi kolagen, karakterisasi biomaterial, uji biokompatibilitas, hingga uji pra-klinis sehingga berpotensi menjadi salah satu kandidat balutan luka bioaktif berbasis sumber daya lokal Indonesia. [Penulis: Kamila Islamiati]
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, yaitu Felicia Nagata Christina (angkatan 2024) dan Azra Belva Naprilian (angkatan 2022) yang merupakan mahasiswa bimbingan Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., berhasil meraih Medali Perunggu dalam Kompetisi Esai Nasional “ORYZHA: Agricultural Scientific Competition” dengan tema utama Best Innovation in Agricultural Science for Achieving Sustainable Development Goals.yang diikuti oleh mahasiswa berbagai universitas ternama dari Indonesia.
Kompetisi ini terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari penulisan naskah esai ilmiah, pembuatan poster ilmiah, pembuatan powerpoint presentasi, hingga presentasi final di depan dewan juri. Felicia dan Belva mengangkat subtema “Pemuliaan Tanaman” melalui esai berjudul “Salimaize: Pengembangan Jagung Varietas 8665C melalui Penyisipan Gen Tahan Salin Berbasis Agrobacterium tumefaciens untuk Optimalisasi Pertanian Lahan Pesisir.”
Gagasan ini berfokus pada permasalahan tingginya tingkat salinitas pada lahan pesisir di Indonesia yang menyebabkan pemanfaatan lahan pertanian, khususnya tanaman pangan, belum optimal. Kondisi kadar garam yang tinggi menyebabkan produktivitas tanaman pangan menurun sehingga banyak lahan pesisir belum dimanfaatkan secara maksimal. Dalam inovasi tersebut, jagung dipilih sebagai objek pengembangan karena merupakan komoditas pangan utama kedua setelah padi dan memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Varietas padi tahan salinitas di Indonesia telah dikembangkan, sementara varietas jagung tahan salinitas belum tersedia di Indonesia.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi praktis dalam menangani masalah cekaman salinitas pada sektor pertanian tepatnya di wilayah pesisir. Selain itu, upaya ini sejalan dengan poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) dalam meningkatkan ketahanan pangan serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penciptaan peluang ekonomi baru. Prestasi yang diraih Felicia dan Belva menjadi bukti kontribusi nyata mahasiswa Fakultas Biologi UGM dalam menghadirkan inovasi berbasis sains yang relevan terhadap tantangan global. Diharapkan, gagasan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan. [Penulis: Felicia Nagata Christina]
Yogyakarta — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada melalui inovasi bioteknologi pertanian bertajuk “HEAT-POTATO (HSP70-Enhanced Adaptive Tolerance in Potato)” yang berhasil meraih Gold Medal dalam ajang internasional Global Competition for Life Science (GloCoLis) 2026.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Sri Garcinia Lathifah, Fahima Ellya Wulandari, Tika Permatasari, dan Ayu Nawang Wulan di bawah bimbingan akademik Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. Proyek tersebut mengangkat solusi inovatif terhadap ancaman perubahan iklim terhadap ketahanan pangan global, khususnya pada tanaman kentang (Solanum tuberosum).
“HEAT-POTATO” merupakan pengembangan kentang toleran panas berbasis rekayasa genetika melalui overekspresi gen HSP70 (Heat Shock Protein 70). Teknologi ini dikembangkan menggunakan pendekatan in vitro dan transformasi berbantuan Agrobacterium tumefaciens untuk meningkatkan kemampuan tanaman bertahan terhadap stres suhu tinggi akibat pemanasan global.
Melalui penelitian ini, tim berhasil menghasilkan lini kentang transgenik yang menunjukkan peningkatan ekspresi HSP70, gen yang berperan penting sebagai molecular chaperone dalam menjaga stabilitas protein sel saat tanaman mengalami cekaman panas. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempertahankan produktivitas kentang di tengah meningkatnya suhu global yang selama ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian.
Menurut tim peneliti, perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produktivitas kentang secara signifikan akibat terganggunya proses fotosintesis, pembentukan umbi, serta stabilitas membran sel tanaman. Oleh karena itu, pengembangan varietas kentang tahan panas menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di masa depan.
Keberhasilan meraih Gold Medal pada kompetisi internasional ini menjadi bukti bahwa inovasi riset mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan teknologi pertanian modern berbasis bioteknologi.
Prestasi ini sekaligus memperkuat komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendorong lahirnya inovasi-inovasi sains yang berdampak bagi masyarakat dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin Zero Hunger dan Climate Action.
Dengan capaian tersebut, “HEAT-POTATO” diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan varietas kentang unggul yang lebih tangguh, produktif, dan adaptif terhadap tantangan lingkungan global di masa mendatang. [Penulis: Fahima Ellya Wulandari]
Dua mahasiswa Program Magister Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Adelfiani dan Felisitas Meli Podhi, berpartisipasi sebagai presenter dalam 9th International Conference on Veterinary, Agriculture and Life Sciences (ICVALS) 2026 yang diselenggarakan oleh International Society for Research in Education and Science pada 2–5 April 2026 di Konya Teknik Üniversitesi, Turki. Konferensi internasional tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara di Asia dan Eropa untuk membahas perkembangan terkini di bidang ilmu hayati, pertanian, dan veteriner.
Dalam konferensi tersebut, Adelfiani dalam kesempatan ini bertindak sebagai Session Chair sekaligus Presenter mempresentasikan penelitian berjudul “Impact of Natural Disaster and Essential Spawning Habitat (ESH) Characteristics on the Conservation of the Vulnerable Endemic Bilih Fish (Mystacoleucus padangensis) in Lake Singkarak, Indonesia.” Penelitian tersebut membahas dampak bencana alam yang melanda Sumatera Barat pada November 2025 terhadap kelestarian ikan bilih (Mystacoleucus padangensis), spesies ikan endemik Danau Singkarak terancam punah yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis penting bagi masyarakat setempat. Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc. Melalui penelitian tersebut, Adelfiani menyoroti bagaimana perubahan ekosistem pascabencana dapat memengaruhi essential spawning habitat (ESH) atau habitat pemijahan esensial yang dibutuhkan ikan bilih untuk mempertahankan populasinya di alam. Kajian ini menjadi penting dalam mendukung strategi konservasi spesies endemik Indonesia di tengah meningkatnya ancaman perubahan lingkungan dan bencana alam.
Sementara itu, Felisitas Meli Podhi mempresentasikan penelitian berjudul “In Vivo Developmental Toxicity and Teratogenic Evaluation of Cucumis melo L. var. Gama Melon Parfum Extract on Wader Pari Fish (Rasbora lateristriata) Embryos.” Penelitian ini mengkaji efek toksisitas perkembangan dan potensi teratogenik ekstrak Gama Melon Parfum terhadap embrio ikan wader pari (Rasbora lateristriata), salah satu ikan native Indonesia yang mulai menghadapi tekanan populasi akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc. dan Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc. Gama Melon Parfum merupakan varietas melon hasil pengembangan dan hibridisasi oleh Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada yang dikenal memiliki aroma khas serta potensi senyawa bioaktif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak Gama Melon Parfum memiliki potensi aktivitas antikanker melalui pengujian in vitro pada sel kanker payudara. Melanjutkan penelitian tersebut, studi yang dipresentasikan pada ICVALS 2026 berfokus pada evaluasi keamanan biologis dan dampaknya terhadap perkembangan embrio menggunakan pendekatan in vivo dengan model ikan lokal Indonesia.
Partisipasi kedua mahasiswa dalam ICVALS 2026 menjadi bentuk kontribusi aktif mahasiswa Fakultas Biologi UGM dalam memperkenalkan penelitian berbasis biodiversitas Indonesia di forum ilmiah internasional. Selain menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, konferensi ini juga membuka peluang pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi riset lintas negara.
“Melalui konferensi ini, kami mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan potensi biodiversitas dan penelitian dari Indonesia kepada komunitas ilmiah internasional. Kami berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang toksikologi perkembangan dan konservasi spesies endemik,” ujar Felisitas dan Adelfiani. [Penulis: Adelfiani]

Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Raih Gold Medal dan The ICGI Special Award pada International Science Project Competition (ISPC) 2026.
Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui karya inovatif bertajuk “ENVIORA ─ Environmental Immobilized Organisms for Remediation of Air”. Inovasi tersebut berhasil meraih Gold Medal sekaligus The ICGI Special Award (Indonesian Centre for Giftedness Innovation) dalam ajang International Science Project Competition 2026.
Karya ini dikembangkan oleh Maureen Andrea Agatha dan Fahima Ellya Wulandari dari Universitas Gadjah Mada di bawah bimbingan Dr. Miftahul Ilmi, S.Si., M.Si.
ENVIORA merupakan inovasi living paint atau cat biologis aktif yang memanfaatkan mikroorganisme Thiobacillus sp. dan Bacillus subtilis untuk membantu mereduksi polutan udara seperti sulfur dioksida (SO₂) dan volatile organic compounds (VOCs), serta hifa jamur (mycelium) sebagai struktur penyangga biologis (biological scaffold). Teknologi ini mengintegrasikan mikroorganisme yang diimobilisasi dalam matriks hidrogel dan biopolimer sehingga permukaan bangunan dapat berfungsi sebagai sistem pemurni udara pasif yang berkelanjutan.
Menurut tim peneliti, inovasi ini hadir sebagai solusi alternatif terhadap permasalahan polusi udara perkotaan yang semakin meningkat akibat urbanisasi dan aktivitas industri. Berbeda dengan teknologi filtrasi konvensional yang membutuhkan energi besar, ENVIORA bekerja secara pasif melalui aktivitas metabolisme mikroba sehingga lebih ramah lingkungan dan berpotensi diterapkan secara luas pada infrastruktur perkotaan.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa inovasi berbasis bioteknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
“ENVIORA tidak hanya menawarkan konsep ilmiah, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan arsitektur berkelanjutan yang mampu berperan aktif dalam menjaga kualitas udara,” ujar tim peneliti.
Selain meraih Gold Medal, penghargaan khusus dari Indonesian Centre for Giftedness Innovation diberikan atas nilai inovasi, keberlanjutan, serta potensi implementasi teknologi ENVIORA dalam mendukung kota cerdas dan ramah lingkungan di masa depan.
Ke depan, tim peneliti berencana mengembangkan ENVIORA menuju tahap uji lapangan dan optimalisasi formulasi agar memiliki ketahanan lingkungan yang lebih baik serta dapat diaplikasikan secara nyata pada berbagai permukaan bangunan perkotaan.
Dengan capaian ini, Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat global, khususnya dalam bidang lingkungan dan teknologi berkelanjutan. [Penulis: Fahima Ellya Wulandari]
Yogyakarta, 13 Mei 2026 Prestasi membanggakan kembali diraih oleh dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Endang Semiarti. Beliau menerima penghargaan Recent Citation Impact Award (2022–2025) dari Indonesian Journal of Biotechnology atas kontribusi ilmiahnya melalui publikasi bereputasi internasional.
Penghargaan tersebut diberikan kepada artikel berjudul “Application of CRISPR/Cas9 Genome Editing System for Molecular Breeding of Orchids” yang diterbitkan pada tahun 2020. Berdasarkan data Scopus, artikel tersebut terpilih sebagai salah satu artikel dengan jumlah sitasi tertinggi selama periode 2022–2025.
Artikel ilmiah ini merupakan hasil penelitian kolaboratif internasional antara Fakultas Biologi UGM dan Nagoya University, Jepang. Kolaborasi tersebut terlaksana melalui dukungan pendanaan Hibah PKLN Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia periode 2017–2019 serta pendanaan dari Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), Pemerintah Jepang, pada periode yang sama.
Kolaborasi internasional ini turut melibatkan peneliti dari Nagoya University, Jepang, yakni Dr. Yasushi Yoshioka dan Prof. Shogo Matsumoto, yang berkontribusi sebagai co-author dalam publikasi ilmiah tersebut. Selain itu, tim peneliti UGM dalam program pendanaan JSPS 2017–2019 juga melibatkan Prof. dr. Ir. Aziz Purwantoro dan Prof. Dr. Ir. Jaka Widada dari Fakultas Pertanian UGM. Kerja sama ini menjadi salah satu wujud penguatan jejaring penelitian internasional sekaligus mendukung pengembangan riset bioteknologi tanaman.
Capaian ini menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi Prof. Endang Semiarti dalam pengembangan riset di bidang bioteknologi, khususnya pemanfaatan teknologi CRISPR/Cas9 untuk pemuliaan molekuler tanaman anggrek. Penelitian tersebut dinilai memberikan dampak ilmiah yang luas dan menjadi rujukan bagi berbagai penelitian lanjutan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi publikasi ilmiah yang dinilai memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kualitas dan pengaruh akademik jurnal di tingkat internasional.
Prestasi ini juga sejalan dengan komitmen Fakultas Biologi UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui penguatan kualitas pendidikan tinggi dan publikasi ilmiah, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengembangan inovasi bioteknologi modern, serta SDG 15: Life on Land melalui upaya konservasi dan pengembangan keanekaragaman hayati tanaman, termasuk anggrek, menggunakan pendekatan molekuler yang berkelanjutan.
Sekar Jasmine Canitri, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), bersama tim lintas universitas yang terdiri dari Adillah Rizki Indriyati dari dan Anjar Maulana Afriansah dari Universitas Brawijaya, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang National Essay Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Akademi Rumah Mahasiswa. Kompetisi ini merupakan perwujudan dari inisiatif pengembangan kapasitas akademik mahasiswa Indonesia yang turut didukung oleh berbagai pihak strategis, di antaranya Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) Universitas Brawijaya, program Diktisaintek Berdampak, Akademi Karya Ilmiah, serta Rumah BUMN. Kolaborasi ini mencerminkan sinergi lintas sektor dalam mendorong inovasi mahasiswa yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat. Kompetisi ini mengangkat tema besar mengenai pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 serta inovasi solusi atas berbagai isu strategis di Indonesia, yang mendorong mahasiswa untuk menghadirkan gagasan kreatif, inovatif, dan aplikatif. Babak final kompetisi ini dilaksanakan secara daring pada 28 Februari 2026. Kompetisi tingkat nasional ini
Dalam kompetisi tersebut, Sekar Jasmine Canitri bersama tim mengusung karya berjudul “ReMiner Brush: Pasta Gigi Remineralisasi Aktif Berbasis Nanohidroksiapatit Tulang Ikan Cakalang”. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di dunia. Secara global, sekitar 3,5 miliar penduduk mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut, dengan prevalensi karies pada anak usia sekolah mencapai 60–90%. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi karies sebesar 82,8%, sementara Riskesdas 2018 mencatat angka yang lebih tinggi yaitu 88,8%, terutama pada kelompok usia anak.
Selama ini, upaya pencegahan karies masih didominasi oleh pendekatan berbasis fluoride. Namun, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dari sisi keamanan penggunaan pada anak serta aksesibilitas produk, khususnya di negara berkembang. Di sisi lain, inovasi berbasis teknologi yang berkembang saat ini cenderung meningkatkan harga produk sehingga kurang terjangkau bagi masyarakat luas. Menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan ReMiner Brush, yaitu gel pasta gigi edible berbasis nano-hidroksiapatit (nHAp) yang diekstraksi dari limbah tulang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Hidroksiapatit merupakan biomaterial yang memiliki kemiripan dengan struktur alami enamel gigi, sehingga mampu mendukung proses remineralisasi secara biomimetik.
Inovasi ini menawarkan berbagai keunggulan. Dari sisi kesehatan, ReMiner Brush berpotensi menurunkan prevalensi karies pada anak usia sekolah, mendukung remineralisasi enamel secara biologis, serta menjadi alternatif produk yang lebih ramah anak sehingga dapat mengurangi dental anxiety. Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah tulang ikan cakalang mampu mengurangi pencemaran organik sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular. Sementara dari sisi ekonomi, inovasi ini membuka peluang pengembangan rantai nilai baru berbasis limbah perikanan serta mendorong keterlibatan UMKM dalam produksi biomaterial bernilai tambah. Lebih lanjut, inovasi ReMiner Brush turut berkontribusi terhadap pencapaian beberapa tujuan SDGs, di antaranya Good Health and Well-being (SDG 3), Industry, Innovation and Infrastructure (SDG 9), serta Responsible Consumption and Production (SDG 12).
Prestasi yang diraih oleh tim ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas universitas serta pemanfaatan ilmu biologi dan sumber daya lokal mampu menghasilkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat. Ke depan, inovasi ReMiner Brush diharapkan dapat dikembangkan hingga tahap implementasi dan komersialisasi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas, khususnya dalam meningkatkan kesehatan gigi anak di Indonesia. [Penulis: Sekar Jasmine Canitri]
Mahasiswa Fakultas Biologi UGM Raih Penghargaan Nasional berupa Juara 1, Gold Medal, dan Best Poster pada lomba Esai Nasional Nusantara Creative Competition (NCC) 3 tanggal 11 – 12 April 2026. NCC 3 2026 merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) Bekerjasama dengan Politeknik TEDC Bandung setiap satu tahun sekali. Kegiatan NCC 3 dilaksanakan secara offline pada jenjang siswa dan mahasiswa yang terdiri dari lomba esai. Perlombaan ini mengusung tema “Ide, Inovasi, dan Keberanian Berpikir Generasi Muda Sebagai Fondasi Kemajuan Nusantara”.

Mahasiswa S1 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Angkatan 2022, yaitu Salsabila Arwa Maharani, Winda Lutfiana Hafidz, dan Intan Nur Aprilia, dan berhasil meraih prestasi berupa Juara 1, Gold Medal, dan Best Poster pada Lomba Esai yang diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) Bekerjasama dengan Politeknik TEDC Bandung 2026 di bawah bimbingan Ibu Wahyu Aristyaning Putri, S.Si., M.Sc., Ph.D. Karya esai ini diajukan dengan subtema “Lingkungan” yang berjudul “Rekayasa Comamonas thiooxidans Berbasis PETase, MHETase, dan LuxCDABE sebagai Biosensor Bioluminesensi dan Agen Biodegradasi PET pada Lingkungan Tercemar Mikroplastik”.
Meningkatnya pencemaran mikroplastik di Indonesia menjadi latar belakang penyusunan karya esai ini. Inovasi yang diangkat berupa rekayasa Comamonas thiooxidans berbasis PETase, MHETase, dan luxCDABE sebagai biosensor bioluminesensi sekaligus agen biodegradasi PET, menawarkan solusi berkelanjutan dalam mendeteksi serta mengurangi pencemaran mikroplastik di lingkungan. Sistem ini memungkinkan deteksi produk degradasi plastik PET secara real-time melalui sinyal bioluminesensi, sekaligus mempercepat proses penguraian polimer PET menjadi senyawa yang lebih sederhana. Inovasi tersebut tidak hanya menghadirkan metode pemantauan lingkungan yang ramah lingkungan dengan biaya rendah, tetapi juga memiliki nilai aplikatif tinggi karena dapat menjadi alternatif dari metode konvensional yang cenderung mahal dan kurang praktis di lapangan. Diharapkan, penerapan biosensor rekombinan ini menjadi strategi berkelanjutan dalam pengendalian pencemaran mikroplastik, serta mendukung perlindungan ekosistem dan kesehatan masyarakat di sekitar area terdampak. Dengan demikian, lingkungan yang terpapar mikroplastik dapat dipantau secara efektif sehingga risiko dampak negatif terhadap organisme hidup dapat ditekan. Lingkungan yang lebih bersih dan aman akan mendorong keberlanjutan ekosistem, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta mendukung pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab di masa depan, sehingga mampu mendukung tercapainya SDGs ke-3, ke-6, ke-12, dan ke-14. [Penulis: Salsabila Arwa Maharani]
Prestasi gemilang ditorehkan oleh tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam ajang IGNITE FUTURE FEST 2026 yang diselenggarakan oleh Futura Innovation Hub bekerja sama dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 3–6 April 2026. Tim mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang diketuai oleh Widya Arum Prastanti, bersama Husna Nadia dan Regina Siska Ekaristi Nainggolan, berhasil meraih Honorable Medal pada esai kategori Gizi & Kesehatan dengan judul “Abon BioFerra: Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Belut dan Ampas Tahu sebagai Upaya Pencegahan Anemia.”
Esai yang ditulis mengangkat isu serius tentang tingginya prevalensi anemia di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, menurunkan daya tahan tubuh, performa belajar, serta meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. Tim ini menilai bahwa pendekatan suplementasi tablet tambah darah selama ini belum sepenuhnya efektif karena rendahnya kepatuhan konsumsi dan efek samping yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, mereka merancang solusi berbasis pangan fungsional yang dapat diintegrasikan langsung ke dalam pola konsumsi harian.
Gagasan utama yang mereka tawarkan adalah Abon BioFerra, sebuah inovasi pangan fungsional berbentuk abon yang memanfaatkan dua bahan utama: belut sebagai sumber zat besi heme dengan bioavailabilitas tinggi, serta ampas tahu yang merupakan limbah industri pangan namun masih kaya akan protein dan serat. Pemilihan bentuk abon didasarkan pada tingkat penerimaan masyarakat Indonesia yang sudah sangat akrab dengan produk abon, baik dari segi rasa, kepraktisan, maupun daya simpannya yang lama. Selain itu, pemanfaatan ampas tahu juga mengusung prinsip ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Keberhasilan tim ini tidak lepas dari kedalaman analisis, orisinalitas gagasan, serta kemampuan mereka dalam mempresentasikan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan. Para juri memberikan apresiasi tinggi terhadap pendekatan holistik yang mengintegrasikan isu gizi, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu produk pangan.
Dalam langkah selanjutnya, tim BioFerra berharap inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil dan remaja putri. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, dan industri pangan, untuk mewujudkan pencegahan anemia yang lebih efektif, terjangkau, dan berkelanjutan di Indonesia. [Penulis: Widya Arum Prastanti]































