Arsip:
Kegiatan Mahasiswa
Kelompok Studi Herpetologi (KSH) Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Diklat Ruang (Dikru) II pada Sabtu, 27 September 2025, bertempat di Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini menjadi agenda perdana bagi Calon Anggota Muda (CAM) XXXVI dalam rangkaian proses perekrutan anggota KSH. Melalui Dikru II, para CAM diperkenalkan dengan Departemen Keorganisasian di KSH beserta teknik handling herpetofauna pada tiap divisi keilmuan (Divisi Amphibia, Testudinata, Crocodilia, Serpentes, dan Lacertilia).
Acara dibuka oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan pematerian Departemen KO KSH, review Dikru 1, dan pematerian handling herpetofauna oleh tiap divisi keilmuan KSH. Acara kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama serta pembacaan penugasan Dikru II untuk CAM. Peserta kegiatan meliputi CAM XXXVI, Anggota Muda (AM), dan Dewan Senior (DS) KSH, dengan jumlah CAM XXXVI yang hadir sebanyak 18 orang. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta memperoleh pengetahuan, pengalaman, serta motivasi untuk lebih mendalami dunia herpetologi bersama KSH. [Penulis: KSH]
Kelompok Studi Herpetologi (KSH) Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Diklat Ruang (Dikru) II pada Sabtu, 27 September 2025, bertempat di Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini menjadi agenda perdana bagi Calon Anggota Muda (CAM) XXXVI dalam rangkaian proses perekrutan anggota KSH. Melalui Dikru II, para CAM diperkenalkan dengan Departemen Keorganisasian di KSH beserta teknik handling herpetofauna pada tiap divisi keilmuan (Divisi Amphibia, Testudinata, Crocodilia, Serpentes, dan Lacertilia).
Acara dibuka oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan pematerian Departemen KO KSH, review Dikru 1, dan pematerian handling herpetofauna oleh tiap divisi keilmuan KSH. Acara kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama serta pembacaan penugasan Dikru II untuk CAM. Peserta kegiatan meliputi CAM XXXVI, Anggota Muda (AM), dan Dewan Senior (DS) KSH, dengan jumlah CAM XXXVI yang hadir sebanyak 18 orang. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta memperoleh pengetahuan, pengalaman, serta motivasi untuk lebih mendalami dunia herpetologi bersama KSH. [Penulis: KSH]
Kelompok Studi Herpetologi (KSH) Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Diklat Ruang (Dikru) III pada Sabtu, 4 Oktober 2025, bertempat di Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini menjadi agenda perdana bagi Calon Anggota Muda (CAM) XXXVI dalam rangkaian proses perekrutan anggota KSH. Melalui Dikru III, para CAM diberikan wawasan dan diperkenalkan terkait Pembebatan & Pembidaian, KGD Medis & DAGURILA, dan Teknik Hidup di Alam Bebas (THAB) yang akan diisi oleh UKESMA dan MATALA BIOGAMA.
Acara dibuka oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan pematerian dan praktik Pembebatan & Pembidaian serta KGD Medis & DAGURILA oleh UKESMA. Setelahnya dilakukan pematerian teknik hidup alam bebas oleh MATALA BIOGAMA, demonstrasi mountaineering, dan praktik mendirikan bivak bersama CAM XXXVI. Acara kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama. Peserta kegiatan meliputi CAM XXXVI, Anggota Muda (AM), dan Dewan Senior (DS) KSH, dengan jumlah CAM XXXVI yang hadir sebanyak 17 orang. Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta memperoleh pengetahuan, pengalaman, serta motivasi untuk mendukung dan lebih mendalami herpetologi bersama KSH. [Penulis: KSH]
Acara Latihan Kepemimpinan JMMB dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Oktober 2025, bertempat di Ruang X Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja penting yang bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan membentuk karakter Islami bagi anggota muda JMMB (Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi). Acara ini dihadiri anggota JMMB muda dari angkatan 2025, serta pengurus JMMB periode 2025. Suasana kegiatan terasa penuh semangat dan antusiasme sejak awal acara dimulai.
Acara dibuka oleh pembawa acara, yaitu Ayudiya Fadilla dan Aisyah Amalia, yang memandu jalannya kegiatan dengan penuh semangat dan keceriaan. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua pelaksana, Muhammad Husein Chesta Adabi, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia, peserta, dan pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Sambutan berikutnya disampaikan oleh wakil ketua umum JMMB, Zahra Karimah Nuha, yang mewakili ketua umum. Dalam sambutannya, ditekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melatih kemampuan memimpin, tetapi juga untuk memperkuat ukhuwah antaranggota dan menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan berorganisasi.
Memasuki acara inti, kegiatan dilanjutkan dengan pematerian utama oleh Kak Mahbibul Labib Aqridho, yang merupakan mantan Mas’ul JMMB periode 2023. Beliau membawakan materi dengan judul “Menumbuhkan Jiwa Pemimpin, Membangun Generasi Berkarakter Islami”. Dalam penyampaian materinya, Kak Mahbibul menegaskan bahwa setiap muslim sejatinya adalah pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Beliau menjelaskan bahwa jiwa kepemimpinan tidak muncul secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang dalam pembentukannya. Seorang pemimpin harus melalui berbagai pengalaman, ujian, dan proses pembelajaran yang akan mengasah karakter dan kemampuannya. Kepemimpinan yang sejati bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memimpin dirinya sendiri — mengendalikan hawa nafsu, mengatur waktu, serta menjaga niat dan integritas dalam setiap langkahnya.
Dalam pemaparan materi tersebut, Kak Mahbibul juga menekankan beberapa karakter ideal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu jujur, amanah, tabligh (menyampaikan kebenaran), fathanah (cerdas), berani dan tegas, serta memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik. Beliau juga menambahkan bahwa menjadi pemimpin tidak akan terasa berat apabila disertai dengan kesadaran diri, kedekatan dengan Allah SWT, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Seorang pemimpin sejati harus mampu menjadi teladan bagi orang lain, menunjukkan sikap rendah hati, dan senantiasa memperbaiki diri.
Setelah sesi pematerian selesai, acara dilanjutkan dengan games interaktif berupa kuis yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Peserta saling berlomba menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Selain sebagai hiburan, games ini juga berfungsi untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang baru saja dipelajari.Sebagai penutup, acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama. Setelah itu dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan kepada Kak Mahbibul Labib Aqridho sebagai bentuk apresiasi atas waktu dan ilmu yang telah dibagikan kepada peserta. Kegiatan latihan kepemimpinan ini ditutup dengan suasana penuh kehangatan, semangat, dan rasa syukur. [Penulis: JMMB]
Acara Latihan Kepemimpinan 2 JMMB dilaksanakan pada hari Ahad, 19 Oktober 2025, bertempat di Masjid Al-Hayat Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Latihan Kepemimpinan 2 adalah program pengembangan diri untuk staf muda JMMB agar lebih siap menjadi pemimpin dan berkontribusi dalam organisasi. Melalui pelatihan ini, peserta akan dibekali dengan keterampilan berorganisasi dan leadership sehingga peserta diharapkan dapat menjalankan tugas organisasi dengan lebih baik. Selain itu, Latihan Kepemimpinan juga memberikan pembekalan religius bagi pada peserta untuk menciptakan generasi penerus yang akhlakul karimah dan dapat menjadi pemimpin sesuai syariat Islam. Program ini bertujuan untuk menyiapkan staff muda JMMB agar mampu mengemban tugas keorganisasian dengan lebih terarah, sistematis, profesional, dengan tetap mengemban nilai-nilai keislaman.
Acara dibuka oleh pembawa acara, yaitu Salman Ali Nazar, yang memandu jalannya kegiatan dengan penuh semangat dan keceriaan. Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Zikri Ilham Putranto, yang insyaAllah menjadi pembuka yang baik dan penuh berkah bagi rangkaian kegiatan ini. Memasuki acara inti, kegiatan dilanjutkan dengan penyetoran hafalan Al-Qur’an yang telah dipelajari sebelumnya kepada para panitia. Kegiatan ini bertujuan agar peserta dan panitia senantiasa mengingat serta menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan. Setelah sesi hafalan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh satu mentor. Dalam kelompok tersebut, peserta berdiskusi secara interaktif mengenai poin-poin penting dalam kepemimpinan seperti public speaking, pengambilan keputusan, delegasi, empati, dan strategic thinking dengan meneladani kisah dan keteladanan para tokoh besar Islam. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman mendalam sekaligus menginspirasi peserta untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dan berkarakter Islami.
Dalam hasil diskusi yang telah disampaikan melalui presentasi singkat, para peserta menyimpulkan bahwa dalam memimpin, seorang pemimpin perlu memiliki berbagai
kemampuan penting. Public speaking menjadi dasar untuk menyampaikan gagasan dengan jelas dan meyakinkan, sehingga mampu menggerakkan dan menginspirasi orang lain. Kemudian, pengambilan keputusan menuntut keberanian serta kebijaksanaan dalam memilih langkah terbaik di antara berbagai kemungkinan yang ada. Selanjutnya, delegasi menunjukkan kemampuan pemimpin untuk mempercayakan tugas kepada anggota tim sesuai kapasitasnya, agar tujuan bersama dapat tercapai dengan efektif. Sementara itu, empati menjadi kunci dalam memahami kondisi, perasaan, dan kebutuhan anggota tim, sehingga terbangun hubungan yang harmonis dan saling menghargai. Terakhir, strategic thinking atau berpikir strategis diperlukan agar seorang pemimpin mampu melihat permasalahan secara menyeluruh, merancang langkah jangka panjang, serta menavigasi tim menuju keberhasilan dengan perencanaan yang matang. Melalui kelima aspek ini, peserta belajar bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya soal kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga tentang meneladani nilai-nilai moral, kebijaksanaan, dan keteladanan seperti yang dicontohkan para tokoh Islam.
Memasuki acara terakhir, yakni sesi foto bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta dan panitia tampak antusias dan bersemangat. Momen ini menjadi simbol kebersamaan serta bentuk apresiasi atas partisipasi dan kerja sama selama kegiatan berlangsung. Semoga dengan adanya acara Latihan Kepemimpinan 2 ini, peserta dapat mengambil banyak pelajaran berharga, menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berintegritas, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam setiap tindakan dan tanggung jawab kepemimpinan di masa depan. [Penulis: JMMB]
Fakultas Biologi UGM telah lama menjalin kerjasama dengan Leiden Universiteit, salah satunya adalah program joint research. Satu mahasiswa program Doktor Biologi UGM (Dany Lesmana Hakim) berkesempatan melakukan program tersebut di Naturalis Biodiversity Center dan Hortus botanicus Leiden, Netherland yang dimulai pada tanggal 7 Oktober hingga 19 Oktober 2025. Dalam kunjungannya di Leiden, Dany melakukan riset yang berhubungan dengan disertasinya.
Pada kunjungannya di Naturalis Biodiversity Center Leiden, Dany mengamati semua spesimen herbarium dari Myristica fragrans Houtt. yang berasal dari Asia meliputi : Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Papua Nugini atau New Guinea. Spesimen herbarium dari Pala terletak pada Collection Lab lantai 4 atau yang dikenal dengan CoLa4. Pada hari pertama, Collection manager Botanie (Susana Arias Guerrero) menyampaikan pengenalan mengenai lokasi penyimpanan dari spesimen-spesimen herbarium tanaman dan juga petunjuk keselamatan di laboratorium. Beberapa bagian tanaman pala yang diamati meliputi : daun, buah, dan biji serta dilakukan perbandingan morfologi unik tanaman pala dari berbagai daerah asal koleksinya. Sumber informasi yang didapat ini nantinya digunakan sebagai data pendukung dalam riset disertasi.
Selain berkunjung ke Naturalis Biodiversity Center, Dany mengunjungi Hortus botanicus Leiden yang merupakan taman botani tertua di Belanda dan Eropa Barat yang dibangun pada tahun 1590. Taman botani ini memiliki luas hingga 4 hektar. Kunjungan pertama ini, Dany bertemu dengan Prof. Dr. rer.nat. Paul Kessler sebagai dosen Co-promotor disertasi nya di Hortus Grand Café yang terletak di dalam Hortus botanicus Leiden. Selain berdiskusi mengenai riset disertasi, Dany dan Prof. Dr. rer.nat. Paul Kessler juga berkeliling di Hortus botanicus ini. Prof. Dr. rer.nat. Paul Kessler menjelaskan sejarah dan juga koleksi tanaman apa saja yang ada di Hortus botanicus Leiden. Inisiasi pendirian Hortus botanicus Leiden setelah berdirinya Leiden Universiteit dengan membangun kebun herbal untuk media pengajaran mahasiswa kedokteran yang terletak di belakang gedung akademik kampus Rapenburg.
Koleksi tanaman di Hortus sangat lengkap yang berasal dari seluruh dunia termasuk Indonesia yang ditanam baik di dalam greenhouse maupun di luar greenhouse. Tanaman yang ada di dalam greenhouse umumnya berisi tanaman tropis yang tidak dapat hidup di lingkungan Belanda. Contoh tanaman yang ada antara lain : bunga Jade (Strongylodon macrobotrys), pohon tulip (Liriodendron tulipifera), lili air raksasa (Victoria amazonica), bunga lotus (Nelumbo nucifera ‘Pekinensis Rubra’), pohon terbas Jepang (Zelkova serrata), kantung semar (Nepenthes sp.), bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum), berbagai tanaman anggrek (lebih dari 4000 spesies, salah satunya Grammatophyllum speciosum), pohon Fagus sylvatica, pinus Wollemi (Wollemia nobilis), Thunbergia mysorensis, Ginkgo biloba, pisang kultivar ‘Siam Ruby’, Myristica fragrans Houtt. dari Indonesia, Aristolochia arborea, belimbing manis (Averrhoa carambola) yang berasal dari Jawa sampai Maluku, lumut Spanyol (Tillandsia usneoides), Monstera sp., Hibiscus sp., nanas (Ananas comosus (L.) Merr. ‘Victoria’, Acalypha hispida, Citrus sp., Pseudocydonia sinensis, Aster tataricus, Helonias thibetica, Clerodendrum bungei Steud., Rostrinucula dependens, Gaultheria borneensis, dan Gaultheria procumbens.
Program joint research ini dalam rangka mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) : tanpa kelaparan (SDG 2), pendidikan berkualitas (SDG 4), ekosistem daratan (SDG 15) dan kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17). Program joint research ini didanai oleh Direktorat Kerjasama Global UGM 2025 dan dana riset INUCoST 2025.
Yogyakarta, 21 September 2025, Matalabiogama (Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada) mengadakan perjalanan susur gua menuju Gua Jlamprong, Desa Mojo, Ngeposari, Gunung Kidul. Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian acara DIKLATSAR CAM XXVIII yang diadakan untuk menyediakan ruang praktik langsung setelah diadakannya sesi pematerian teoretis. Dengan harapan CAM dapat mengaplikasikan kemampuan lapangan dan merasakan langsung keseruan menjelajah.
Peserta yang hadir dalam ekspedisi kali ini berjumlah sekitar 14 orang dengan peserta merupakan AM XXVI, AM XXVII, dan CAM 28 XXVIII yang dipimpin oleh Faiq Mishbahul Aufa sebagai Ketua Pelaksana DIKLATSAR CAM XXVIII. Kegiatan susur gua dipandu oleh Mas Wawan, Mas Budi, dan Mas Arif selaku pemandu resmi dari tim pengelola Gua Jlamprong.
Sebelum memulai ekspedisi, peserta terlebih dahulu melakukan tahapan persiapan yang berorientasi pada Manajemen Risiko. Seluruh peserta perlu memastikan kesiapan fisiknya mumpuni dalam menunjang ekspedisi lapangan kali ini. Tidak luput dengan pemeriksaan kelengkapan peralatan yang mencakup helm caving, sepatu boots, headlamp, baterai cadangan, serta peralatan nonteknis seperti P3K dan logistik. Selain itu, peserta juga dibekali dengan pengarahan teknis keberangkatan menuju Gua Jlamprong seperti halnya pemilihan rute, prosedur komunikasi, serta simulasi penanganan kondisi darurat.
Usai menyelesaikan seluruh rangkaian persiapan, peserta berangkat secara terkoordinasi dari Fakultas Biologi UGM pada pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi pada pukul 10.30 WIB dengan durasi perjalanan sekitar 2,5 jam. Sesampainya di lokasi, peserta tiba di basecamp yang merupakan rumah salah seorang warga. Sambutan baik dari tuan rumah menghadirkan suasana ramah nan hangat. Kegiatan susur gua dimulai pada pukul 11.00 WIB.
Gua Jlamprong terletak di Desa Mojo, Ngeposari, Semanu, Gunung Kidul. Gua ini bertipe horizontal dan membutuhkan waktu penyusuran kurang lebih 2,5–3 jam. Jalur penelusuran gua didominasi oleh medan berlumpur yang membuat permukaan pijakan menjadi licin. Pada beberapa titik di dalam gua, terdapat genangan air yang kedalamannya dapat mencapai 1,5 meter. Lebih dalam memasuki lorong Gua Jlamprong, terdapat ornamen geologis berupa stalaktit dan stalagmit. Selain itu, gua ini juga menjadi habitat bagi beragam hewan penghuni gua seperti kelelawar dan serangga gua.
Penyusuran Gua Jlamprong terselesaikan pada pukul 14.00 WIB dengan seluruh peserta berhasil melalui rangkaian kegiatan tanpa kurang sesuatu apapun. Setelah beristirahat sejenak, peserta bersiap untuk perjalanan pulang meninggalkan lokasi pada pukul 15.00 WIB. Sebelum kembali, para peserta menyampaikan salam pamit kepada pengelola basecamp yang telah menyambut dengan ramah. Kehangatan tersebut menghadirkan perasaan diterima dengan baik selama singgah di basecamp. Setelah itu, peserta menempuh perjalanan pulang sekitar 3 jam menuju Fakultas Biologi UGM dan tiba pada pukul 18.00 WIB.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan ekspedisi lapangan ke Gua Jlamprong kali ini dapat dikatakan terlaksana dengan baik. Setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan di lapangan terlaksana sesuai rencana. Meskipun demikian, sebagaimana kegiatan lapangan tetap membuka ruang lebar terhadap perbaikan, khususnya dalam aspek efisiensi waktu dan peningkatan manajemen logistik agar kegiatan dapat berjalan lebih optimal. Vivat et Floreat! [Penulis: Matalabiogama]
Jama’ah Mahasiswa Muslim Biologi (JMMB) Universitas Gadjah Mada sukses menyelenggarakan Sowan Dakwah JMMB x KMIB dengan tema “SINERGI : Silaturahmi Inspiratif, Eratkan Relasi, Gagas Inovasi” yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 September 2025, bertempat di Masjid Al-Hayat Fakultas Biologi. Kegiatan ini berhasil mengumpulkan sekitar 35 orang peserta dari kedua lembaga, yang terdiri atas pengurus maupun anggota aktif. Acara silaturahmi LDF diadakan dengan tujuan mempererat persaudaraan antara JMMB dan KMIB, menjadi wadah berbagi ide bersama, dan memperkuat komitmen dakwah di lingkungan kampus. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana dalam melahirkan kolaborasi yang berkesinambungan antar lembaga.
Kegiatan diawali dengan pembukaan acara secara resmi dipandu oleh MC yaitu Nadiya Rahma Ihsan dan pembacaan tilawah Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 77–82 oleh Abdullah Zhafran Aly Bamsyah yang memberikan suasana khidmat serta untuk mengharap keberkahan dan kelancaran acara. Acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan oleh Ketua dari masing-masing lembaga. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua JMMB (Rafli Nur Muhammad Fahrezi) dan dilanjutkan sambutan kedua yang disampaikan oleh Ketua KMIB (Muhammad Faiz Ahnaf) Sambutan-sambutan yang diberikan memperkuat tekad bersama untuk menyukseskan acara hingga selesai dan menjadi penyemangat terjalinnya ikatan persaudaraan antara LDF JMMB dan KMIB.
Kegiatan inti pada sowan dakwah adalah presentasi program kerja masing-masing LDF. Program kerja JMMB disampaikan oleh Ketua JMMB (Rafli Nur Muhammad Fahrezi) dan dilanjutkan dengan program kerja KMIB yang disampaikan oleh Ketua KMIB (Muhammad Faiz Ahnaf). Presentasi program kerja ini memberikan wawasan tidak hanya mengenai program kerja,
tetapi juga pengenalan masing-masing anggota, struktur lembaga, pengenalan divisi, dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masing-masing LDF. Usai pemaparan program kerja dari masing-masing LDF, agenda dilanjutkan dengan diskusi terbuka antar LDF bersama masing-masing bidang. Pada sesi ini, setiap anggota dari bidang terkait diberi ruang untuk saling bertukar pandangan sehingga dapat semakin memperdalam pemahaman terhadap program kerja yang telah disampaikan. Selain rangkaian pemaparan program kerja dan diskusi terbuka, acara juga diselingi dengan berbagai permainan interaktif dan kolaboratif sebagai sarana untuk mempererat persaudaraan antara JMMB dan KMIB. Melalui permainan tersebut, peserta diajak untuk berinteraksi lebih dekat sehingga dapat menumbuhkan ikatan yang semakin kuat. Terakhir, dilaksanakan serah terima kenang-kenangan dan dokumentasi sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara Sowan Dakwah JMMB x KMIB.
Kami menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah berperan, berpartisipasi aktif, dan menunjukkan antusias yang luar biasa selama berlangsungnya acara Sowan Dakwah JMMB x KMIB dengan tema “SINERGI : Silaturahmi Inspiratif, Eratkan Relasi, Gagas Inovasi” ini. Dengan semangat persatuan, kolaborasi yang kokoh, dan komitmen dakwah yang terus diperkuat, kami percaya JMMB UGM akan terus berkembang sebagai wadah yang inspiratif untuk pembinaan serta pengembangan potensi mahasiswa dan civitas akademika Muslim Biologi. JMMB, One Big Family! [Penulis: Panitia Silaturahmi LDF JMMB x KMIB]
Jama’ah Mahasiswa Muslim Biologi (JMMB) Universitas Gadjah Mada sukses menyelenggarakan Rihlah Jaulah JMMB x GAMAIS dengan tema “Connecting Hearts, Empowering Movements” yang telah dilaksanakan pada hari Ahad, 21 September 2025, bertempat di Ruang 1 dan 2 Gedung B Fakultas Biologi. Kegiatan ini berhasil mengumpulkan sekitar 40 orang peserta dari kedua lembaga, yang terdiri atas pengurus maupun anggota aktif. Acara rihlah jaulah diadakan dengan tujuan mempererat persaudaraan antara JMMB dan GAMAIS, menjadi wadah berbagi ide bersama, dan memperkuat komitmen dakwah di lingkungan kampus. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana dalam melahirkan kolaborasi yang berkesinambungan antar lembaga.
Kegiatan diawali dengan pembukaan acara secara resmi dipandu oleh MC yaitu Nisrina Rahma Adihapsari. Acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan oleh Ketua dari masing-masing lembaga. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua JMMB (Rafli Nur Muhammad Fahrezi) dan dilanjutkan sambutan kedua yang disampaikan oleh Wamas’ulah GAMAIS (Nur Khayati). Sambutan-sambutan yang diberikan memperkuat tekad bersama untuk menyukseskan acara hingga selesai dan menjadi penyemangat terjalinnya ikatan persaudaraan antara LDF JMMB dan GAMAIS.
Kegiatan inti pada rihlah jaulah adalah presentasi program kerja masing-masing LDF. Program kerja JMMB disampaikan oleh Ketua JMMB (Rafli Nur Muhammad Fahrezi) dan dilanjutkan dengan program kerja GAMAIS yang disampaikan oleh Wamas’ulah GAMAIS (Nur Khayati). Presentasi program kerja ini memberikan wawasan tidak hanya mengenai program kerja, tetapi juga pengenalan masing-masing anggota, struktur lembaga, pengenalan divisi, dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masing-masing LDF. Usai pemaparan program.
kerja dari masing-masing LDF, agenda dilanjutkan dengan diskusi terbuka antar LDF bersama masing-masing bidang. Pada sesi ini, setiap anggota dari bidang terkait diberi ruang untuk saling bertukar pandangan sehingga dapat semakin memperdalam pemahaman terhadap program kerja yang telah disampaikan. Terakhir, dilaksanakan serah terima kenang-kenangan dan dokumentasi sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara Rihlah Jaulah JMMB x GAMAIS.
Kami menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah berperan, berpartisipasi aktif, dan menunjukkan antusias yang luar biasa selama berlangsungnya acara Rihlah Jaulah JMMB x GAMAIS dengan tema “Connecting Hearts, Empowering Movements” ini. Dengan semangat persatuan, kolaborasi yang kokoh, dan komitmen dakwah yang terus diperkuat, kami percaya JMMB UGM akan terus berkembang sebagai wadah yang inspiratif untuk pembinaan serta pengembangan potensi mahasiswa dan civitas akademika Muslim Biologi. JMMB, One Big Family! [Penulis: Panitia Rihlah Jaulah JMMB x GAMAIS]
Perkuliahan Etnobiologi di Keraton Yogyakarta: Menyelami Kearifan Budaya dalam Menjaga Biodiversitas
Pada Sabtu, 27 September 2025, mahasiswa Program Studi Magister Biologi Fakultas Biologi yang terdaftar dalam mata kuliah Etnobiologi mengikuti kegiatan perkuliahan lapangan yang unik di Keraton Yogyakarta. Kegiatan berlangsung dari pukul 11.00 ini dilakukan dalam bentuk diskusi terbuka mengenai kearifan budaya di lingkungan Keraton serta kaitannya dengan biodiversitas. Mahasiswa didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, Ibu Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D.Eng. berdiskusi secara interaktif bersama dua narasumber dari pihak Keraton Yogyakarta, yaitu RA Siti Amirul Nur Sundari, Carik Kawedanan Radyo Kartiyoso) dan Mas Jajar Praba Hanendra (Mas Irmawan).
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan antara mahasiswa dan narasumber, dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai silsilah Keraton Yogyakarta, makna candrasengkala atau simbol-simbol pada bangunan, serta etika berpakaian di lingkungan Keraton. Diskusi utama kemudian berfokus pada kearifan budaya dan hubungannya dengan biodiversitas. Narasumber menjelaskan bahwa berbagai tumbuhan yang tumbuh di area Keraton memiliki makna dan fungsi tersendiri. Beberapa di antaranya seperti beringin, sawo kecik, gayem, dan kepel ditanam serta dirawat secara khusus oleh pihak Keraton. Selain itu, terdapat pula tanaman yang tumbuh alami tanpa campur tangan manusia, seperti paku-pakuan yang menempel di beberapa pohon besar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang hubungan erat antara budaya dan lingkungan, tetapi juga memahami bahwa pelestarian biodiversitas telah menjadi bagian dari warisan budaya Keraton Yogyakarta sejak lama.
Tumbuhan yang tumbuh di area Keraton Yogyakarta tidak sekadar elemen penghias lingkungan, tetapi memiliki nilai kearifan budaya yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta, terutama di lingkungan keraton. Tanaman-tanaman tersebut disusun dengan penuh makna dan fungsi, mulai dari peneduh, penyerap polutan, pelindung sumber air, hingga penahan angin. Menurut R.A. Siti Amirul Nur Sundari setiap tumbuhan di Keraton memiliki filosofi dan peran ekologis yang saling melengkapi. Beliau menjelaskan makna filosofi dan fungsi beberapa tumbuhan antara lain Beringin, pohon gayam, Jambu Dersana,
Beringin: Simbol Kesakralan dan Penopang Kehidupan
Pohon beringin dianggap suci dan sakral di lingkungan keraton. Secara ekologis, beringin berperan penting sebagai penyedia oksigen, penyimpan air tanah, serta tempat hidup bagi berbagai tumbuhan dan hewan kecil. Karena peran pentingnya, hanya Sri Sultan yang berhak menanam pohon beringin. Sri Sultan juga melarang penanaman beringin secara berlebihan untuk menjaga keanekaragaman hayati, agar lingkungan tidak menjadi monokultur yang mengancam spesies tumbuhan lain. Selain itu, akar beringin yang kuat dan menyebar luas dapat merusak fondasi bangunan dan saluran air bila ditanam terlalu dekat dengan infrastruktur.
Jambu Dersana: Lambang Kesejukan dan Ketenteraman
Tanaman jambu dersana melambangkan ketenangan dan kesejukan batin. Kata “durs” berarti hujan yang membawa kesejukan. Filosofi ini mengajarkan bahwa siapa pun yang memasuki area keraton harus membawa aura sejuk dan damai, baik lahir maupun batin. Hal ini mencerminkan pentingnya kecerdasan emosional serta sikap tenang dan santun ketika berada di lingkungan keraton.
Pohon Gayam: Keteguhan dan Keseimbangan
Gayem/Gayam bermakna keteguhan dan ketahanan. Ia tetap tumbuh kuat meskipun dalam kondisi sulit, sehingga menjadi simbol keteguhan hati, kesucian, dan keseimbangan hidup. Nilai ini mengajarkan bahwa setiap individu yang memasuki wilayah keraton hendaknya menjaga keseimbangan antara alam dan spiritualitas.
Sawo Kecik: Kesabaran dan Kehalusan Budi
Tanaman sawo kecik melambangkan kesabaran dan ketekunan. Buah sawo yang manis memerlukan waktu lama untuk matang, menggambarkan bahwa kebaikan dan kebijaksanaan tidak dapat dicapai secara instan. Dalam budaya Jawa, kata “sawo” sering diasosiasikan dengan kesantunan dan kelembutan perilaku. Walau tampak sederhana dari luar, buah sawo memiliki rasa manis dan gizi tinggi — sebuah simbol bahwa nilai sejati seseorang terletak pada perkataan dan perilakunya, bukan pada penampilan luar. Filosofi ini sejalan dengan pepatah Jawa, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”
Kepel: Simbol Kesucian, Keharuman Hati, dan Jiwa Ksatria
Tumbuhan kepel memiliki filosofi yang mendalam dalam budaya Keraton Yogyakarta. Tanaman ini melambangkan kesucian dan keharuman hati, mencerminkan sosok seseorang yang berperilaku baik, bertutur halus, dan berhati bersih. Selain itu, kepel juga mengandung nilai-nilai luhur seorang kesatria Jawa, yang dirangkum dalam empat prinsip utama:
nyawiji (menyatu dan selaras), greget (bersemangat), sengguh (percaya diri), dan ora mingkuh (bertanggung jawab dan pantang menyerah).
Secara filosofis, keempat nilai ini membentuk tahapan perjalanan batin seorang kesatria. Dimulai dari menyatukan diri dengan profesi dan tugas yang dijalani (nyawiji), lalu menumbuhkan semangat untuk melakukan yang terbaik (greget), hingga muncul rasa percaya diri (sengguh) dalam menjalankan tanggung jawabnya. Pada tahap puncak, nilai ora mingkuh menegaskan integritas sejati seorang kesatria—tetap berjuang dan tidak menyerah meski menghadapi kesulitan.
Di lingkungan Keraton Yogyakarta, pohon kepel biasanya ditanam di area sakral atau dekat dengan keputren (tempat tinggal para putri keraton). Tanaman ini termasuk jenis langka, dan upaya konservasinya dilakukan oleh pihak keraton dengan dukungan lembaga-lembaga terkait untuk memastikan kelestariannya.
Selain memiliki makna filosofis yang mendalam, berbagai tumbuhan juga dimanfaatkan oleh Keraton Yogyakarta dalam upacara adat dan kegiatan sehari-hari. Penggunaan tumbuhan ini mencerminkan perpaduan antara kearifan lokal, simbolisme budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu contoh menarik terdapat dalam upacara Yasa Peksi Burak, yang diselenggarakan untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj. Dalam upacara ini, pihak keraton membuat replika burung sebagai simbol Buraq, tunggangan Nabi Muhammad SAW saat Isra Mikraj. Replika tersebut dibuat dari kulit jeruk bali, sementara bagian bawahnya dihiasi sarang dari daun pacar dan susunan buah-buahan bertingkat, yang melambangkan keindahan dan kemakmuran.
Dalam tradisi keraton lainnya, seperti upacara syukuran, juga dikenal berbagai polo-poloan, yaitu kelompok makanan tradisional yang berasal dari tumbuhan dengan karakteristik pertumbuhan tertentu.
- Polo Kesimpar merupakan buah dari tanaman yang menjalar di permukaan tanah, seperti semangka, melon, dan blewah.
- Polo Pendem berasal dari tanaman yang tumbuh dan berbuah di dalam tanah, seperti ubi, singkong, kentang, talas, gadung, dan kacang tanah.
- Polo Gantung adalah hasil tanaman yang berbuah menggantung di pohon, contohnya mangga, jambu, jeruk bali, dan anggur.
Selain digunakan dalam upacara adat, tumbuhan juga berperan penting dalam aktivitas sehari-hari di keraton. Misalnya, asam jawa digunakan sebagai bahan pencuci kereta kerajaan agar lebih awet, sementara jeruk nipis dan air kelapa muda digunakan untuk membersihkan benda-benda pusaka seperti keris pada bulan Suro. Pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan tersebut memperlihatkan bagaimana Keraton Yogyakarta menjaga harmoni antara budaya, spiritualitas, dan alam, sekaligus meneruskan tradisi leluhur yang sarat makna ekologis dan simbolis.
Pertemuan dengan Ibu Amirul dan Bapak Irmawan memberikan kesan yang mendalam bagi mahasiswa. Banyak pengetahuan berharga yang diperoleh mengenai pemanfaatan tumbuhan dan hewan di lingkungan Keraton Yogyakarta serta kaitannya dengan budaya Jawa. Mahasiswa dapat memahami filosofi mendalam yang terkandung di balik berbagai tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan dalam ritual budaya maupun kehidupan sehari-hari masyarakat Mataram.
Pengetahuan etnobiologi yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan bagian penting dari kearifan lokal yang perlu dijaga kesinambungannya di masa mendatang. Melalui kunjungan studi ini, mahasiswa juga dapat meneladani berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan oleh pihak Keraton dalam melestarikan tumbuhan langka dan bernilai budaya tinggi.
Sebagai mahasiswa Biologi UGM, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga keanekaragaman hayati asli Indonesia. Metode pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan penuh makna seperti ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap alam dan budaya bangsa. Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam dan menumbuhkan keinginan untuk kembali belajar langsung di lapangan.
Kegiatan ini juga selaras dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama Tujuan 4 (Pendidikan Bermutu) melalui penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal, Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian nilai-nilai budaya dan tradisi lokal, serta Tujuan 15 (Menjaga Ekosistem Darat) dengan dukungan terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan pelestarian tumbuhan langka di lingkungan Keraton Yogyakarta. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman akademik mahasiswa, tetapi juga mendorong kontribusi nyata terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan di Indonesia (GAL/ZR).
Adapun mahasiswa Program Studi Magister Biologi Fakultas Biologi UGM yang mengikuti kegiatan ini antara lain Mahyono Hassanudin, Ogilvy Galang Rizki, Arbiatun Nurlaili Assyifa, Syarafina Azzahra, Naufal Rafif Zain, Inez Maylida, dan Ani Saputri.














































