Pariwisata menjadi salah satu ujung tombak perekonomian dunia. Di Indonesia, pariwisata diestimasi akan menyumbang US$ 16 miliar pada tahun ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis tengah tahun ini, kunjungan wisatawan mancanegara mengalami kenaikan 12.92% dengan angka 9.06 juta kunjungan. Sementara itu, di Yogyakarta higga Juni tercatat total 1.859.888 pengunjung yang terdiri dari wisatawan mancanegara 113.993 orang dan wisatawan domestik 1.745.895 orang. Tren positif ini disambut baik oleh berbagai kalangan, salah satunya dengan pembukaan destinasi wisata baru yang mengedepankan pengalaman menyenangkan seperti banyaknya lokasi foto dan lezatnya hidangan khas daerah.
Pasar Ndelik, yang berada dalam kawasan Puri Mataram, menjadi produk wisata menjanjikan di lingkup Yogyakarta. Terletak di Dusun Jugang Pangukan, Tridadi, Sleman, area Pasar Ndelik menawarkan atraksi berupa makanan tradisional dan proses jual belinya. Mengandalkan Pandel sebagai pengganti fisik rupiah, penjual di Pasar Ndelik juga menekan penggunaan plastik dalam transaksinya. Walaupun demikian, masih banyak potensi yang perlu digali dari para penjual di Pasar Ndelik. Maka dari itu, Lisna Hidayati, M. Biotech. dan koleganya melakukan pengabdian dengan tema utama penggunaan pewarna alami. Aries Bagus Sasongko, M. Biotech., salah satu anggotanya, mengungkapkan bahwa penggunaan pewarna makanan dari bahan alam seperti kembang telang, daun suji, dan kunyit akan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam membeli produk makanan minuman di Pasar Ndelik.
Kegiatan pengabdian ini memiliki tujuan teknologi tepat guna. Diawali dengan pelatihan penggunaan pewarna alami, pematerian mengenai kemasan alami, penanganan komplain konsumen, perhitungan laba rugi, filosofi makanan, hingga perhitungan kalori makanan sudah disampaikan. Pada kesempatan ini, kegiatan pengabdian sudah mencapai puncak acaranya dengan berbagai agenda. Acara dimulai dengan zumba bersama masyarakat sekitar dilanjutkan sambutan oleh Dekan Fakultas Biologi UGM dan Wakil Bupati Kabupaten Sleman. Pada kesempatan ini, Wabup menyampaikan bahwa masyarakat harus gemar melakukan aktivitas fisik serta berharap Pasar Ndelik bisa menjadi tujuan wisata yang sangat terkenal hingga ranah internasional. Acara dilanjutkan dengan prosesi nandur bareng yang secara simbolis dilakukan oleh Wakil Bupati Kabupaten Sleman, Dra.Hj.Sri Muslimatun, M.Kes., Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., dan Direktur Bumdes Tridadi Makmur, H. Agus Khaliq serta pihak sponsor. Acara yang dibantu oleh Keluarga Mahasiswa Pascasarjana, alumni dan mahasiswa Fakultas Biologi UGM serta didukung oleh Hatmoko Batik, JCI Yogyakarta, Pusaka Nusantara, Perempuan Berkebaya dan Puri Mataram ini dilanjutkan dengan lomba masakan tradisional yang menyasar penjual di Pasar Ndhelik. Pada lomba ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan semua materi yang telah disampaikan. Penjurian dilakukan oleh Dwi Larasatie Nur Fibri, Ph.D. selaku perwakilan panitia, Nurpuji Mumpuni, S.Si.,M.Kes. selaku Ketua Dharmawanita Fakultas Biologi UGM, Johan Wiryanto, selaku perwakilan dari Kepala Desa Tridadi menghasilkan juara I yaitu dari kelompok Dewi Sikandi, juara II dari kelompok Dewi Woro Sembrodo, juara III diraih oleh Dewi Sri, juara harapan I oleh Dewi Kunti, juara harapan II oleh Dewi Sinta serta juara favorit dari kelompok Tara. Acara dilanjutkan dengan Mbathik bareng dan roadshow Pasar Ndelik. Luthfi Nurhidayat, M. Sc. berujar bahwa saat ini Puri Mataram terus berbenah untuk menjadi salah satu destinasi utama keluarga, salah satunya dengan panganan tempo dulu yang ramah lidah. “Wah saya merasa senang sekali setiap hari minggu saya berjualan disini selalu ramai. Saya juga bisa menambah wawasan tentang banyak hal. Pokoknya saya semakin termotivasi untuk menjadi penjual yang bijak, bisa ngasih tau pembeli asal usul makanannya dan juga ramah lingkungan” kata Susmiati, penjual di Pasar Ndelik. “Saya baru pertama kali kesini dan menangkap kesan kalau konsep wisata disini sangat baik, karena menonjolkan nostalgia Yogyakarta sekaligus destinasi foto modern. Tentu, saya akan kesini lagi mengajak teman saya” ujar Kensrie, salah satu pengunjung.
Acara diakhiri dengan foto bersama. Dengan adanya program pengabdian ini, diharapkan akan adanya peningkatan kualitas dan akses menuju destinasi, penguatan data dan informasi serta peningkatan atraksi yang terintegrasi baik di Pasar Ndelik maupun Puri Mataram. –ABK-



















Pemilihan lokasi kegiatan sebagai tempat dilaksanakan pengabdian masyarakat, bukan tanpa alasan dikarenakan kawasan tersebut sedang dikembangkan menjadi kawasan Sentra Wisata Anggrek Kabupaten Kulon Progo. Kawasan Banyunganti sendiri merupakan daerah yang memiliki jenis tanaman anggrek lokal khas Kulon Progo. Anggrek lokal menjadi salah satu potensi besar daerah yang harus dikembangkan agar dapat menjadi pendapatan lebih bagi masyarakat. Perlu adanya fokus dari masyarakat dalam berbisnis untuk menambah pendapatan bagi masyarakat. Hal itulah yang menjadi topik yang disampaikan oleh narasumber dalam kegiatan ini yaitu Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc. dari Fakultas Pertanian UGM. Beliau selaku penggiat bisnis, memberikan tips dan trik dalam membangun usaha bisnis dengan melihat potensi kawasan Banyunganti yang dapat diangkat. Dapat berupa membuat souvenir khas daerah tersebut atau makanan khas yang dapat menarik minat wisatawan. Beliau juga menekankan tentang pentingnya berinovasi dalam membangun suatu usaha.









Pelatihan dimulai pukul 09.00 WIB, acara dibuka oleh Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. dilanjutkan dengan pematerian oleh Ir. Kadarso, M.S.. Materi yang disampaikan meliputi cara budidaya anggrek dengan sistem aeroponik dan hidroponik yang dapat dilakukan pada jenis tanaman anggrek Dendrobium, Grammatophyllum, Cattleya dan Phalaenopsis. Kemudian dijelaskan mengenai alat dan bahan yang diperlukan, yaitu bibit tanaman anggrek, arang kayu, larutan pupuk, talang air plastik, lem paralon, kain flanel, pot plastik ukuran 10 cm dan lain-lain. Masyarakat juga dijelaskan mengenai cara pengenceran pupuk, penanaman tanaman anggrek dan prosedur pemeliharaan anggrek terkait penempatan tanaman pada lingkungan tumbuh yang benar, pengkabutan air dan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit pada tanaman anggrek. Setelah pematerian selesai, masyarakat diajak untuk mempraktikkan secara langsung pembuatan instalasi penanaman anggrek secara aeroponik dan hidroponik yang dipandu langsung oleh Ir. Kadarso, M.S. Selain itu masyarakat juga diberikan pemahaman bahwa dengan menggunakan teknik ini akan mempermudah dalam perawatan anggrek, lebih efisien dan juga lebih murah sehingga diharapkan masyarakat mampu merawat anggrek dengan lebih baik.












