SDG 2 : Tanpa Kelaparan
Magelang, Indonesia – Dr. Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D. bersama tim peneliti dari Smart Genetics Research Group Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kolaborator internasional dari Universiti Malaya yang terdiri atas Assoc. Prof. Dr. Tan Boon Chin, Dr. Chua Kah Ooi, dan Dr. Lau Su Ee mengimplementasikan inovasi pertanian berbasis genetika dan budidaya berkelanjutan melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional yang didukung oleh Program Equity Universitas Gadjah Mada. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan produktivitas stroberi Indonesia melalui penerapan teknologi hasil riset serta penguatan kapasitas petani melalui kolaborasi internasional. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk hilirisasi penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Program yang mengusung tema “Pengembangan Modern Integrated Farming melalui Teknologi Smart Genetics Breeding Program guna Peningkatan Kualitas dan Produksi Stroberi Indonesia” ini dilaksanakan di Kebun Inggit Strawberry, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Desa Banyuroto yang terletak di lereng Gunung Merapi dan Merbabu merupakan salah satu kawasan penghasil stroberi yang telah berkembang sebagai destinasi agrowisata berbasis masyarakat. Potensi sumber daya alam yang dimiliki menjadikan wilayah ini sebagai lokasi strategis untuk penerapan inovasi pertanian berbasis riset dan teknologi. Namun demikian, petani masih menghadapi sejumlah tantangan dalam budidaya stroberi, antara lain produktivitas tanaman yang cenderung fluktuatif, kualitas buah yang belum seragam dan optimal, serta keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya modern. Oleh karena itu, program pengabdian ini hadir sebagai upaya untuk menjembatani hasil-hasil penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui penerapan teknologi genetika tanaman dan sistem budidaya yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Sebagai respons atas berbagai permasalahan tersebut, tim pengabdian menerapkan pendekatan Smart Genetics Breeding sebagai teknologi pemuliaan tanaman berbasis genetika yang dikembangkan dari hasil penelitian tim peneliti. Teknologi ini memanfaatkan metode poliploidisasi untuk menghasilkan varietas stroberi unggul yang memiliki karakter agronomis lebih baik. Tanaman hasil pengembangan tersebut diharapkan memiliki ukuran buah yang lebih besar, kualitas yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan kemampuan adaptasi yang lebih kuat terhadap perubahan lingkungan.
Selain pengembangan bibit unggul, program ini juga mengintegrasikan konsep Modern Integrated Farming melalui penerapan sistem budidaya yang lebih terukur dan berbasis data. Petani mendapatkan pendampingan mengenai penggunaan teknologi pertanian presisi untuk mendukung pengelolaan lahan dan tanaman secara lebih efektif. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus membantu petani dalam mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan kondisi lapangan.
Kolaborasi dengan Universiti Malaya menjadi salah satu komponen penting dalam pelaksanaan program ini. Salah satu topik yang diperkenalkan oleh tim Universiti Malaya adalah pemanfaatan sistem hidroponik sebagai alternatif metode budidaya yang lebih efisien dan adaptif terhadap keterbatasan lahan. Sistem tersebut dinilai mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara lebih terkontrol sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi. Tim Universiti Malaya juga membagikan pengalaman terkai pengelolaan dan penggantian media tanam dalam 2-5 kali siklus panen untuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk yang berlebihan serta mendukung sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Dr. Ganies Riza Aristya, kolaborasi internasional memberikan nilai tambah yang besar dalam pengembangan program pengabdian kepada masyarakat. “Melalui kerja sama ini, kami tidak hanya mengimplementasikan hasil penelitian yang telah dikembangkan di UGM, tetapi juga memperoleh berbagai perspektif baru dari pengalaman mitra internasional. Pertukaran pengetahuan tersebut sangat penting untuk menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan petani,” ujarnya. Program ini juga mencakup berbagai kegiatan pendampingan bagi kelompok tani, mulai dari penguatan kapasitas budidaya, penerapan teknologi pertanian, hingga pengembangan sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memahami pentingnya pengelolaan sumber daya yang efisien dalam usaha pertanian. Pendekatan partisipatif yang diterapkan juga memungkinkan masyarakat terlibat secara aktif dalam proses pengembangan dan penerapan teknologi.
Program ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penerapan teknologi Smart Genetics Breeding dan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian yang mendukung ketahanan pangan. Program ini juga mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kapasitas petani dan peningkatan produktivitas usaha tani yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui sinergi antara inovasi berbasis riset, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi internasional, program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta mendukung pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat jejaring kerja sama internasional melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan Centre for Research in Biotechnology for Agriculture (CEBAR), Universiti Malaya, Malaysia, yang dilaksanakan pada 4 Juni 2026. Kerja sama ini menjadi langkah awal dalam pengembangan kolaborasi akademik dan penelitian antara kedua institusi melalui komitmen bersama untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
LoI ditandatangani atas nama Fakultas Biologi UGM oleh Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., selaku Dekan Fakultas Biologi UGM, dan oleh Assoc. Prof. Dr. Tan Boon Chin, selaku Direktur CEBAR Universiti Malaya. Kegiatan penandatanganan ini turut dihadiri oleh Dr. Lau Su Ee, Executive Director, UM Agroforestry, serta Dr. Chua Kah Ooi, Head of Academic Programmes, Centre for Research in Biotechnology for Agriculture (CEBAR). Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan kapasitas akademik melalui kemitraan yang saling menguntungkan.
Pada kegiatan penjajakan dan penandatanganan LoI tersebut, Fakultas Biologi UGM diwakili oleh Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, serta Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya, khususnya dalam bidang bioteknologi, genomika, pertanian, dan pengembangan riset berbasis teknologi mutakhir.
Melalui LoI tersebut, kedua institusi sepakat untuk menjajaki berbagai bentuk kerja sama yang meliputi pertukaran mahasiswa, dosen, dan peneliti; pelaksanaan penelitian dan publikasi ilmiah bersama; penyelenggaraan seminar, konferensi, simposium, dan summer course; pertukaran staf akademik sebagai dosen tamu; pengangkatan profesor adjung; serta pertukaran informasi dan sumber daya akademik. Berbagai program tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di kedua institusi.
Terjalinnya kerja sama antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya ini juga merupakan salah satu luaran dari kegiatan Joint Supervision Tahap 2 Skema Equity 2026 yang mengangkat tema penelitian “Karakterisasi Genom dan Analisis Fungsional Gen pada Tebu Komersial Indonesia (Saccharum hybrid) Berbasis Whole Genome Sequencing untuk Mendukung Swasembada Gula Nasional.” Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Program Magister Biologi UGM, yaitu Tiara Putria Judith, S.Si., Sabrina Labista Wibowo, S.Si., dan Oliv Nurul Kanaya, S.Si., di bawah bimbingan Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Kerja sama antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya sejalan dengan komitmen kedua institusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas pendidikan dan pertukaran akademik internasional, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan riset dan inovasi untuk mendukung produktivitas pertanian dan swasembada gula nasional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi genomika dan bioteknologi dalam penelitian, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi strategis antarperguruan tinggi di tingkat internasional. Diharapkan kemitraan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia maupun dunia.
Program Hibah Penguatan Internasionalisasi Akademik melalui Pembimbingan Bersama (Joint Supervision) Tahap 2 Skema Equity Tahun 2026 telah sukses menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture bertajuk “Advances in Genomics and Biotechnology for Sustainable Agriculture and Life Science” pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.00–12.00 WIB di Auditorium MMA, Fakultas Pertanian, UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kolaborasi akademik internasional sekaligus peningkatan kapasitas riset dan pendidikan tinggi di bidang omics tanaman, bioteknologi, serta ilmu hayati berkelanjutan. Program hibah ini diketuai oleh Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D. selaku Principal Investigator (PI), dengan anggota tim Widhi Dyah Sawitri, S.Si., M.Agr., Ph.D.
Guest Lecture menghadirkan tiga narasumber internasional, yaitu Dr. Tan Boon Chin, Dr. Lau Su Ee, dan Dr. Chua Kah Ooi dari Universiti Malaya, Malaysia. Pada sesi pertama, Dr. Tan menyampaikan materi berjudul “How Banana Plants Cope with Drought: Insight into Morphological and Molecular Responses” yang membahas respons morfologi dan molekuler tanaman pisang terhadap cekaman kekeringan serta pentingnya pendekatan genomik dalam pengembangan tanaman toleran stres lingkungan.
Dr. Lau memaparkan materi “Drought Responses of Pandanus and the Biostimulant Potential of Oil Palm Wood Vinegar” mengenai respons tanaman pandan terhadap kekeringan serta potensi oil palm wood vinegar sebagai biostimulan ramah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. Materi ini memberikan wawasan mengenai integrasi bioteknologi dan pemanfaatan sumber daya hayati untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Pada sesi terakhir, Dr. Chua Kah Ooi menyampaikan materi mengenai karakterisasi komunitas bakteri dan identifikasi spesies bakteri baru pada semut rangrang Asia (Oecophylla smaragdina) menggunakan pendekatan mikrobiologi dan analisis molekuler. Selain itu, Dr. Chua juga memperkenalkan peluang studi lanjut program magister di Universiti Malaya serta peluang kolaborasi riset internasional bagi mahasiswa dan akademisi. Kegiatan ini dihadiri oleh 105 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, dan akademisi dari berbagai bidang ilmu pertanian, bioteknologi, dan biologi. Antusiasme peserta terlihat selama sesi pemaparan materi maupun diskusi interaktif bersama para narasumber internasional.
Sebagai bagian dari implementasi Program Hibah Penguatan Internasionalisasi Akademik melalui Pembimbingan Bersama (Joint Supervision), kegiatan ini juga dilanjutkan dengan sesi diskusi akademik terkait pengembangan penelitian mahasiswa Program Magister Biologi, Fakultas Biologi UGM. Tiga mahasiswa magister, yaitu Tiara Putria Judith, Oliv Nurul Kanaya, dan Sabrina Labista Wibowo, memaparkan serta mendiskusikan arah penelitian yang berfokus pada topik besar omics pada tanaman tebu, meliputi pengembangan riset genomik, bioteknologi, dan pendekatan molekuler untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Diskusi bersama narasumber internasional ini menjadi wadah pertukaran gagasan ilmiah, masukan penelitian, serta penguatan kolaborasi akademik internasional dalam mendukung pelaksanaan skema Joint Supervision. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan terkait pengembangan metodologi penelitian, peluang kolaborasi riset lintas institusi, serta penguatan kapasitas akademik dan publikasi ilmiah di tingkat internasional.
Kegiatan ini mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan inovasi pertanian berkelanjutan, SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan kolaborasi internasional, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi bioteknologi, serta SDG 13 (Climate Action) melalui kajian respons tanaman terhadap cekaman kekeringan sebagai dampak perubahan iklim.
Yogyakarta – Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di planet ini. Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, kekayaan biodiversitas laut Indonesia harus dipandang bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi biru (blue economy) berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
Fakultas Biologi UGM memiliki pandangan bahwa masa depan ekonomi maritim Indonesia dan dunia sangat bergantung pada kemampuan mengelola kekayaan hayati laut secara berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi. Hal ini disampaikan oleh Budi Setiadi Daryono selaku Dekan Fakultas Biologi dan Narasumber dalam National acara Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Balai Senat UGM.
Indonesia menempati posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), wilayah yang dikenal sebagai pusat biodiversitas laut dunia. Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 76% spesies karang perairan dangkal dunia dan sekitar 37% spesies ikan karang dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki sekitar 21% spesies lamun dunia dan 21% tutupan mangrove global, menjadikannya salah satu paru-paru ekosistem laut terbesar di dunia. Kekayaan ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pengembangan ekonomi biru global yang berkelanjutan.
Kontribusi Indonesia terhadap ekonomi biru tidak hanya berasal dari sumber daya perikanan. Ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang berperan sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon sink yang sangat efektif.
Keberadaan ekosistem tersebut membantu mengurangi emisi karbon, menjaga stabilitas iklim global, serta memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem pesisir Indonesia sesungguhnya merupakan investasi strategis bagi keberlanjutan ekonomi dunia.
Fakultas Biologi UGM menegaskan bahwa laut bukan hanya tempat menangkap ikan. Laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, dan bioteknologi modern.
Salah satu bidang yang menjanjikan adalah penelitian mikrobioma laut, yaitu eksplorasi mikroba dan virus laut yang berpotensi menghasilkan enzim industri, senyawa antimikroba, hingga biokatalis untuk berbagai kebutuhan teknologi masa depan.
Selain itu, percepatan hilirisasi rumput laut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan Indonesia. Rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi nutraseutikal, bahan baku industri kesehatan, serta produk berbasis bioekonomi lainnya.
Prof. Budi Setiadi Daryono menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya laut. Jika selama ini laut lebih banyak dipandang sebagai ruang eksploitasi sumber daya alam, maka ke depan laut harus ditempatkan sebagai “Living Laboratory” (Laboratorium Hidup) yang menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Paradigma baru ini menjadi bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai Maritime Innovation Powerhouse atau pusat inovasi maritim dunia. Dalam konsep ini, nilai ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan, tetapi oleh kemampuan menghasilkan data, riset, teknologi, dan produk inovatif berbasis biodiversitas laut.
Meskipun memiliki potensi luar biasa, Fakultas Biologi UGM melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, antara lain lemahnya hilirisasi produk kelautan dan belum sinkronnya tata kelola ruang laut antar sektor.
Untuk mempercepat pengembangan ekonomi biru, Fakultas Biologi UGM mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat segera diwujudkan, antara lain:
- Mengintegrasikan produk kelautan ke dalam program ketahanan pangan nasional dan percepatan penurunan stunting.
- Memperkuat rantai pasok pangan laut serta sistem jaminan mutu produk kelautan.
- Memfokuskan program bioprospeksi laut pada komoditas prioritas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang komersialisasi yang jelas.
- Mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam pengembangan inovasi maritim berbasis sains.
Dengan kekayaan biodiversitas laut yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi biru dunia. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai apabila pengelolaan sumber daya laut dilakukan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan. Bagi Fakultas Biologi UGM, masa depan laut Indonesia bukan sekadar tentang sumber daya alam, melainkan tentang bagaimana biodiversitas dapat diubah menjadi kekuatan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Biologi UGM sukses menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bagi masyarakat di Dusun Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Pengembangan Budidaya Labu Susu sebagai Sumber Pangan Nabati Anti Stunting untuk Mewujudkan Kehidupan Tanpa Kelaparan”. Program strategis ini menyasar dua kelompok lokal sekaligus, yaitu Kelompok Tani Tunas Jaya dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mlati.
Kegiatan sosialisasi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku ketua tim pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembicara pertama dengan topik “Keberlanjutan Budidaya Labu Susu Citra Laga”. Pembicara kedua adalah Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc. yang memaparkan materi bertema “Manfaat Labu Susu untuk Anti Diabetes Melitus”. Materi ketiga disampaikan oleh Aryo Seto Pandu Wiranto, S.Si., M.Sc. mengenai “Mengenal Polinator dan Hama pada Tanaman Labu Susu”. Selain itu, kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa/i Fakultas Biologi antara lain Siti Yulianingsih, Pradhika Cikal Malika, Muhammad Meshal Ramadhayesa, Nafi’ah Khoirunnisa, dan Khurin ‘Aini.
Rangkaian acara diawali dengan senam pagi pukul 07.30 WIB, dilanjutkan pembukaan oleh MC dan pretest pukul 08.05 WIB. Sesi pematerian berlangsung mulai pukul 08.15 hingga 10.00 WIB yang mencakup tiga topik utama dari ketiga narasumber, diselingi dengan ice breaking diantara sesi pematerian. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab, post-test, penyampaian kesan-pesan, pemaparan rencana agenda selanjutnya, serta penutupan pada pukul 10.30 WIB.
Sosialisasi ini mencakup edukasi tentang teknik budidaya labu susu varietas Citra Laga secara berkelanjutan, potensi labu susu sebagai bahan pangan fungsional dalam pengendalian diabetes melitus, serta pengenalan terhadap organisme penyerbuk dan hama yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya. Melalui kegiatan ini, anggota Kelompok Tani Tunas Jaya dan KWT Mlati diharapkan memperoleh bekal pengetahuan yang cukup mengenai budidaya dan pengolahan labu susu menjadi tepung tinggi nutrisi sebagai produk unggulan yang dapat dipasarkan secara luas.
Program pengabdian ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi Fakultas Biologi UGM dalam pemberdayaan masyarakat berbasis potensi sumber daya lokal. [ Kotimah]
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memulai tahap budidaya labu susu dalam program bertema “Pengembangan Budidaya Labu Susu sebagai Sumber Pangan Nabati Anti Stunting untuk Mewujudkan Kehidupan Tanpa Kelaparan” di Dusun Kebondalem, Madurejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahap pembenihan dan penanaman ini dilaksanakan sebelum kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, sebagai persiapan lahan budidaya.
Tahap pertama berupa penyemaian benih yang dilaksanakan pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini dilakukan oleh dua mahasiswa Fakultas Biologi UGM, yaitu Pradhika Cikal Malika dan Nafi’ah Khoirunnisa. Benih labu susu varietas Citra Laga disemai menggunakan polybag sebagai media tanam awal. Metode penyemaian dalam polybag dipilih untuk memastikan tingkat perkecambahan yang optimal sebelum bibit dipindahkan ke lahan tanam.
Setelah benih berkecambah, tahap penanaman bibit ke lahan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026. Empat mahasiswa Fakultas Biologi UGM terlibat dalam kegiatan ini, yakni Siti Yulianingsih, Kotimah, Pradhika Cikal Malika, dan Muhammad Meshal Ramadhayesa. Proses penanaman dilakukan di lahan greenhouse yang telah dipersiapkan sebagai lokasi utama program budidaya labu susu. Tim mahasiswa bersama warga setempat memastikan penempatan bibit pada bedengan tanah dilakukan secara presisi dengan jarak tanam yang ideal guna mendukung pertumbuhan organ vegetatif tanaman secara maksimal.
Keberhasilan dua tahapan ini menjadi landasan penting bagi keberlanjutan siklus hidup tanaman Labu Susu Citra Laga di Dusun Kebondalem. Seluruh proses pengabdian ini diharapkan mampu memicu kemandirian Kelompok Tani Tunas Jaya dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mlati dalam memproduksi pangan fungsional secara mandiri. Hilirisasi produk berupa pemanfaatan buah labu susu segar dan tepung bernutrisi tinggi ke depan diarahkan untuk mengentaskan problem stunting wilayah, sekaligus memperkuat rantai pasok produk lokal. [Kotimah]



























































