SDG 3 : Kehidupan Sehat dan Sejahtera Pembanguan Berkelanjutan
Perpustakaan Fakultas Biologi pada Selasa, 03 Februari 2026 telah melaksanakan kegiatan Sosialisasi Layanan Perpustakaan sebagai bagian dari pengenalan kampus bagi mahasiswa baru Program Pascasarjana dan Profesi Biokurator (Kurator Keanekaragaman Hayati) angkatan semester genap tahun akademik 2025/2026 Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Biologi Tropika, Fakultas Biologi. Perpustakaan Fakultas Biologi UGM menghadirkan Aris Setiawan, S.IP., sebagai pembuka acara yang mewakili penanggung jawab Perpustakaan Fakultas Biologi, Drs. Ign. Sudaryadi, M.Kes., untuk menyampaikan sambutan serta ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru pascasarjana dan profesi Biokurator. Sambutan yang disampaikan juga menjelaskan gambaran umum Perpustakaan Fakultas Biologi yang mencakup perkenalan struktur staf perpustakaan, lokasi, serta gambaran layanan. Sambutan tersebut disampaikan untuk mahasiswa baru pascasarjana dapat memanfaatkan fasilitas dan layanan Perpustakaan Fakultas Biologi secara optimal selama masa studi.
Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan pemaparan oleh tim mahasiswa volunteer perpustakaan, Zahrotin Saleha, yang memperkenalkan layanan dan fasilitas Perpustakaan Fakultas Biologi UGM berbasis offline dan online. Fasilitas yang tersedia meliputi ruang sirkulasi, ruang Electronic Theses and Dissertations (ETD), laboratorium komputer, serta fasilitas pendukung lainnya. Program kegiatan Perpustakaan Biologi yang dipaparkan meliputi diskusi bedah buku, kegiatan mahasiswa volunteer perpustakaan, pelatihan volunteer perpustakaan, serta partisipasi pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Paparan berikutnya menjelaskan akses e-resources berupa e-journal dan e-book pada laman lib.ugm.ac.id serta pemanfaatan beberapa database jurnal yang dapat diakses secara penuh menggunakan akun email UGM. Harapan kegiatan ini untuk mahasiswa baru pascasarjana mampu memanfaatkan layanan dan sumber literasi Perpustakaan Fakultas Biologi UGM secara maksimal.
Salam literasi!

Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Tim MYCOBIOME berhasil meraih Gold Medal dalam ajang International Young Moslem Inventor Award (IYMIA) 2026, sebuah kompetisi inovasi internasional yang diselenggarakan pada 15–18 Januari 2026.
International Young Moslem Inventor Award (IYMIA) merupakan ajang yang bertujuan mendorong generasi muda dalam mengintegrasikan kemajuan sains dengan nilai-nilai religius, serta menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan global. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Ajang ini menjadi salah satu platform strategis bagi pelajar dan mahasiswa dari Indonesia maupun mancanegara untuk mempresentasikan karya inovasi berbasis riset.
Tim MYCOBIOME yang terdiri dari Aryan Mustamin, Ni’ma Ainul Fuadi Nurkhalis, Shuha Ma’muriyah Halim, Siti Aeniah, dan Wiwin Ariesti, berhasil menunjukkan keunggulan inovasi mereka di antara peserta internasional. Tim ini juga didampingi oleh Sari Darmasiwi, S.Si., M.Biotech., Ph.D. sebagai supervisor dalam proses pengembangan inovasi.
Yang membuat capaian ini semakin istimewa, kemenangan Tim MYCOBIOME diraih di tengah situasi yang penuh tekanan. Seluruh anggota tim berada pada fase krusial akademik—mulai dari persiapan sidang, penyusunan dokumen akhir, hingga proses pendaftaran yudisium. Dalam kondisi waktu yang sangat terbatas, tim tetap memutuskan untuk mengambil tantangan mengikuti kompetisi internasional dan menyelesaikan seluruh persyaratan lomba secara maksimal.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa membawa nama UGM dan Indonesia di ajang internasional ini. Jujur, ini kami jalani di tengah masa-masa paling padat, karena sebagian dari kami sedang berada di penghujung sidang dan proses menuju yudisium. Tapi kemenangan ini membuktikan bahwa keterbatasan waktu tidak menghalangi kami untuk tetap berkarya dan memberikan yang terbaik,” ungkap Aryan Mustamin selaku ketua tim.
Pada ajang IYMIA 2026, Tim MYCOBIOME mengusung inovasi bertajuk MYCOBIOME™ Postbiotic Gel Moisturizer, sebuah produk skincare microbiome-friendly yang dikembangkan melalui pendekatan bioteknologi hijau dengan memanfaatkan biodiversitas Indonesia. Inovasi ini dirancang sebagai solusi untuk menjawab tantangan kulit tropis modern, seperti kerusakan skin barrier, kulit sensitif, serta ketidakseimbangan mikrobioma kulit (disbiosis) yang sering dipicu oleh polusi, paparan sinar UV, dan penggunaan produk sintetis secara berlebihan.
“Di tengah padatnya agenda akademik, kami tetap berusaha menjaga semangat riset. Kami ingin menghadirkan produk skincare yang tidak hanya fokus pada hasil instan, tetapi juga memperhatikan keseimbangan mikrobioma kulit sebagai dasar kesehatan kulit jangka panjang, terutama untuk kondisi iklim tropis seperti Indonesia,” ujar Ni’ma Ainul Fuadi Nurkhalis.
Keunggulan utama MYCOBIOME terletak pada kombinasi biomaterial lokal, yaitu fungal chitosan sebagai alternatif non-alergenik dari chitosan berbasis udang, alginat rumput laut Indonesia sebagai pembentuk bio-hydrogel alami untuk hidrasi tahan lama, serta postbiotic Lactobacillus plantarum yang diperoleh dari fermentasi kopi lokal. Sinergi ketiga komponen ini menghasilkan gel moisturizer yang mampu memberikan hidrasi adaptif, membantu memperkuat lapisan pelindung kulit, serta menjaga keseimbangan mikroorganisme baik pada kulit.
“Bagi kami, MYCOBIOME bukan hanya inovasi untuk lomba. Ini adalah bentuk keyakinan bahwa biodiversitas Indonesia bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi dan mampu bersaing di tingkat global. Meski kami berpacu dengan waktu, kami tetap ingin menjaga kualitas dan pesan ilmiah dari inovasi ini,” kata Shuha Ma’muriyah Halim.
Selain menawarkan manfaat fungsional bagi kesehatan kulit, inovasi MYCOBIOME juga menekankan aspek keberlanjutan melalui pemanfaatan biomassa terbarukan, metode produksi hemat energi, serta pendekatan ramah lingkungan. Inovasi ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), serta SDG 13 (Climate Action).
“Kemenangan ini terasa sangat bermakna karena kami meraihnya di tengah masa yang melelahkan secara akademik. Namun, justru di situ kami belajar bahwa riset dan inovasi harus tetap berjalan—karena manfaatnya bisa melampaui ruang kelas dan berdampak untuk masyarakat,” tutur Siti Aeniah.
Perjalanan menuju kemenangan tentu tidak mudah. Tim MYCOBIOME menghadapi tantangan besar dalam menyusun konsep, menyempurnakan ide, serta mempersiapkan presentasi secara maksimal dalam waktu yang terbatas. Mulai dari penyusunan naskah, finalisasi materi, hingga latihan presentasi dilakukan secara intensif di sela-sela jadwal akademik yang padat.
“Kompetisi ini benar-benar menguji manajemen waktu dan kekompakan kami. Ada momen kami harus menyelesaikan revisi lomba di sela-sela urusan sidang dan administrasi akhir. Tapi pengalaman ini sangat berharga karena mengajarkan kami untuk tetap fokus, disiplin, dan percaya pada kerja tim,” ujar Wiwin Ariesti.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri global. Keberhasilan Tim MYCOBIOME meraih Gold Medal di IYMIA 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata melalui riset dan pengembangan teknologi berbasis potensi lokal Indonesia. [Penulis: Aryan Mustamin]

Dua mahasiswa Program Magister Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah, berhasil meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional yang diselenggarakan secara daring oleh BEM FKIP Universitas Wiraraja dalam ajang Education Day Competition (EDC) pada Desemebr 2025. Kompetisi ini mengangkat subtema “Pendidikan Karakter dan Literasi Sosial di Era Digital” dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini menunjukkan peran mahasiswa Magister Biologi UGM dalam menyusun gagasan ilmiah yang relevan dengan isu pendidikan dan kesehatan masyarakat. Keberhasilan Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah juga sejalan dengan upaya UGM dalam mendorong penelitian aplikatif yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab permasalahan kesehatan, khususnya di wilayah dengan risiko penyakit yang masih tinggi. “Kami mengangkat topik ini karena malaria masih menjadi salah satu tantangan penyakit menular di Indonesia bagian timur, khususnya di Papua Barat, dan kami melihat pendidikan di sekolah sebagai langkah penting untuk membangun pencegahan sejak dini,” ujar Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah.
Karya ilmiah yang mengantarkan prestasi tersebut berjudul “Best Practice: Inovasi Implementasi Mulok Malaria untuk Penguatan Karakter Siswa Era Digital di Papua Barat”. Tulisan ini mengangkat permasalahan tingginya kasus malaria di kalangan pelajar Papua Barat, salah satu wilayah yang menyumbang sebagian besar beban malaria nasional, serta menekankan pentingnya muatan lokal (mulok) malaria sebagai pembelajaran kontekstual untuk membentuk karakter pencegahan penyakit sekaligus meningkatkan literasi sosial dan digital siswa. Melalui pendekatan Social and Behavior Change Communication (SBCC), Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah mendokumentasikan praktik terbaik implementasi mulok malaria berbasis pembelajaran digital, kolaboratif, dan kontekstual di sekolah dasar daerah endemis tinggi. Inovasi seperti Detektif Jentik Cilik, Malaria Melody Project, dan Malaria Digital Challenge menunjukkan bahwa integrasi pendidikan, teknologi, dan kesehatan mampu menjadikan siswa sebagai agen perubahan dalam mendukung target eliminasi malaria Indonesia tahun 2030. [Penulis: Mardian Isnawati]
Penulis : Sari Darmasiwi








































