SDGs
Bantul, 13 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan lingkungan berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos dan Pemanfaatan Maggot Black Soldier Fly (BSF)” yang diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan PkM ini ditujukan bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Lestari’ yang berlokasi di Pedukuhan Mertosanan Kulon, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada berbagai teknologi sederhana dan aplikatif untuk mengelola sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim PkM Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dalam sambutannya, Prof. Diah menekankan bahwa sampah organik merupakan komponen terbesar penyusun sampah rumah tangga yang, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti bau tidak sedap, meningkatnya risiko penyebaran penyakit, serta bertambahnya volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Setelah sambutan dari Ketua Tim PkM, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua KWT Lestari, yang menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan motivasi anggota kelompok dalam mengelola sampah organik rumah tangga secara berkelanjutan sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan budi daya tanaman yang telah dijalankan oleh KWT.
Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai pembuatan pupuk kompos yang disampaikan oleh Dr. Siti Nurbaiti, S.Si. Materi diawali dengan pengenalan berbagai jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, seperti sisa buah dan sayuran, daun-daunan, ampas kopi dan teh, serta sisa makanan nabati. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa kompos merupakan hasil dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang kaya unsur hara dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk meningkatkan kesuburan tanah. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip keseimbangan antara bahan hijau dan bahan cokelat yang berperan penting dalam menghasilkan kompos berkualitas.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si., yang menyampaikan materi mengenai pengolahan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens). Dalam paparannya dijelaskan bahwa maggot BSF merupakan larva lalat tentara hitam yang mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa kaya protein dalam waktu relatif singkat. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan. Menurut Dr. Wiko, pemanfaatan maggot BSF dapat mengurangi massa sampah organik hingga sekitar 35–45% serta menghasilkan berbagai produk bernilai guna, yaitu maggot atau prepupa sebagai sumber protein pakan ikan dan unggas, kasgot sebagai pupuk organik padat, serta pupuk organik cair (POC) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selama sesi pemaparan materi, para peserta dari KWT ‘Lestari; juga turut aktif dalam bertanya dan menceritakan pengalaman yang pernah dilakukan dalam pengelolaan sampah organiknya, sehingga memperkaya diskusi terkait tantangan konsistensi dalam pelaksanaan pengelolaan sampah organik. Setelah sesi penyampaian materi, Dr. Nurbaiti dan Dr. Wiko secara langsung dan bergantian memandu praktik pembuatan pupuk kompos menggunakan compost bag serta maggot BSF melalui dua metode budidaya, yaitu metode ember tumpuk dan metode kotak maggot (Si Komat). Kepada peserta ditunjukkan praktik mulai dari persiapan alat dan bahan, penyusunan lapisan bahan organik, pemberian aktivator, hingga teknik perawatan selama proses pengomposan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai bahan-bahan yang tidak dianjurkan untuk dikomposkan, seperti plastik, logam, kaca, popok/pampers, minyak goreng, tulang, puntung rokok, dan bahan kimia rumah tangga yang dapat menghambat proses penguraian.
Dalam pemanfaatan maggot menggunakan metode ember tumpuk, peserta diperkenalkan pada sistem pengolahan sampah organik yang memungkinkan pemanenan tiga produk sekaligus, yaitu maggot, kasgot, dan pupuk organik cair hasil fermentasi air lindi. Sementara itu, metode kotak maggot difokuskan pada produksi maggot dan kasgot dengan pengelolaan kelembapan media yang optimal. Peserta juga memperoleh berbagai tips teknis terkait pemilihan bahan baku, pengaturan kelembapan dan suhu media, serta penanganan bahan yang perlu dihindari agar proses penguraian berlangsung efektif dan tidak menimbulkan bau.
Kegiatan ini turut menghadirkan perspektif akademik mengenai pengelolaan sampah dan penerapan prinsip ekonomi sirkular yang disampaikan oleh Prof. Dr. rer. nat. Andhika Puspito Nugroho. Pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat merupakan langkah strategis untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang selama ini sering dianggap sebagai limbah. Melalui pendekatan ini, sampah organik dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat sehingga mendukung terwujudnya sistem pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan didukung oleh tim PkM Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas Winda Fionita Nur Safitri, Layly Salsabila, Alfonsus Fidel Pandu Ekanto, Miftahurrozi (mahasiswa Program Sarjana), Noor Laila Safitri (mahasiswa Program Magister), dan Fatimatuzzahra (mahasiswa Program Doktor). Tim berperan aktif dalam membantu pelaksanaan kegiatan, mendampingi peserta selama praktik, serta memfasilitasi diskusi dan tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berharap anggota KWT Lestari dapat mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah organik yang telah diperkenalkan sehingga mampu mengurangi timbunan sampah rumah tangga, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian dan perekonomian masyarakat. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai permasalahan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan (SDG 12 – konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab).
Yogyakarta, 11 Juni 2026– Mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Karina Raihana Salsabila, mahasiswa Fakultas Biologi UGM, berhasil meraih Medali Emas Bidang Biologi pada Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 8–12 Juni 2026.
ONMIPA-PT merupakan ajang kompetisi sains nasional bagi mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia yang mencakup empat bidang keilmuan, yaitu Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Pada tahun 2026, kompetisi ini diikuti oleh ratusan finalis terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang telah melalui tahapan seleksi internal dan seleksi wilayah.
Pada bidang Biologi, Universitas Gadjah Mada meloloskan empat mahasiswa ke tingkat nasional, yaitu Ganang Fattahuddien Attar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan; Karina Raihana Salsabila dari Fakultas Biologi; Made Laksmi Priyahita dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan; serta Qais Zaidan Altaf dari Fakultas Biologi. Dari kontingen tersebut, UGM berhasil meraih dua medali pada bidang Biologi, yaitu Medali Emas oleh Karina Raihana Salsabila dan Medali Perak oleh Ganang Fattahuddien Attar.
Capaian Karina menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fakultas Biologi UGM karena menunjukkan kualitas akademik mahasiswa dalam penguasaan konsep biologi, kemampuan analitis, serta daya saing pada kompetisi sains tingkat nasional. Keberhasilan ini juga mencerminkan ekosistem akademik Fakultas Biologi UGM yang terus mendorong mahasiswa untuk berprestasi, mengembangkan kapasitas keilmuan, dan berkontribusi dalam penguatan budaya ilmiah di Indonesia.
Selain Karina, partisipasi Qais Zaidan Altaf sebagai finalis nasional bidang Biologi juga menjadi bagian penting dari kontribusi Fakultas Biologi UGM dalam kontingen ONMIPA-PT 2026. Kehadiran dua mahasiswa Fakultas Biologi UGM pada tingkat nasional menunjukkan konsistensi fakultas dalam membina talenta muda di bidang sains hayati.
Fakultas Biologi UGM menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Karina Raihana Salsabila atas perolehan Medali Emas, kepada Qais Zaidan Altaf atas keberhasilannya menjadi finalis nasional, serta kepada seluruh kontingen ONMIPA UGM yang telah berjuang dan mengharumkan nama universitas. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Fakultas Biologi UGM untuk terus mengembangkan potensi, memperkuat kompetensi akademik, dan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. [Penulis: FS]
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan prestasi di ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei 2026. Tim yang terdiri atas Ikhlasul Amal (Fakultas Biologi), Qorina Nisrina Hafshah (Fakultas Teknologi Pertanian), Zikra Fataha Al Mutansir (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan), Diva Nadiartalika, serta Athar Rosyad Partadireja (Fakultas Psikologi) berhasil meraih Silver Medal Theme Health, Silver Medal Sub Theme Food, dan Favorite Poster Theme Food melalui inovasi yang berfokus pada upaya preventif dalam menghadapi krisis kesehatan mental generasi muda.

Mengangkat isu meningkatnya gangguan kecemasan (anxiety) pada remaja dan dewasa muda, tim UGM menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mengintegrasikan aspek biologis, psikologis, dan teknologi dalam satu kerangka solusi yang saling melengkapi. Berangkat dari fakta bahwa kesehatan mental remaja menjadi tantangan global yang semakin mendesak, tim melihat bahwa berbagai upaya penanganan selama ini cenderung berfokus pada satu aspek tertentu. Padahal, kecemasan merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi fisiologis, pola pikir, hingga lingkungan sosial dan digital yang dihadapi individu setiap hari. Oleh karena itu, tim mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah CalmBar, sebuah snack bar fungsional yang mengkombinasikan konsep nutritional neuroscience dengan sensory grounding. Produk ini diformulasikan menggunakan bahan-bahan alami seperti kacang hijau, biji labu (pumpkin seed), duckweed (Lemna minor), kacang tanah, peppermint, madu, kismis, dan Virgin Coconut Oil (VCO). Berbagai bahan tersebut dipilih karena mengandung protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan, serta senyawa bioaktif seperti GABA, triptofan, dan mentol yang berpotensi mendukung fungsi sistem saraf, menjaga stabilitas suasana hati, serta membantu regulasi emosi.
Tim menyadari bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Di era digital, banyak remaja mengalami tekanan psikologis akibat paparan media sosial, perbandingan sosial, serta kecenderungan merasa dirinya selalu diperhatikan dan dinilai oleh orang lain. Fenomena yang dikenal sebagai spotlight effect ini sering kali menjadi pemicu munculnya kecemasan sosial yang berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan SELF-SCAN (Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era), sebuah sistem berbasis aplikasi yang dirancang untuk membantu individu memahami pola pikir, emosi, serta pemicu kecemasan yang mereka alami secara real-time. Melalui pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA), sistem ini mampu memantau dinamika psikologis pengguna dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.
Menurut Ikhlasul Amal selaku ketua tim, kedua inovasi tersebut sebenarnya dirancang sebagai satu kesatuan pendekatan yang saling melengkapi. CalmBar berperan dalam mendukung regulasi emosi melalui nutrisi dan pengalaman sensoris yang menenangkan, sementara SELF-SCAN membantu pengguna membangun kesadaran metakognitif agar mampu mengenali, mengevaluasi, dan mengelola pola pikir yang memicu kecemasan.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri,” ungkapnya. Integrasi kedua inovasi tersebut terlihat dari pendekatan yang digunakan. Pada CalmBar, pengguna tidak hanya mengonsumsi makanan fungsional, tetapi juga mendapatkan panduan breathing exercise dan teknik grounding 5-4-3-2-1 yang tercantum pada kemasan produk. Di sisi lain, SELF-SCAN memperkuat proses tersebut melalui fitur-fitur seperti Algorithmic Trigger Radar, The Auditor, dan Pattern Intelligence yang membantu pengguna mengidentifikasi pemicu kecemasan, melakukan refleksi diri, serta membangun ketahanan mental jangka panjang.
Tim menjelaskan bahwa tujuan utama dari pengembangan inovasi ini adalah mengubah paradigma penanganan kesehatan mental dari yang bersifat reaktif menjadi preventif. Dengan memanfaatkan aktivitas sehari-hari seperti mengonsumsi makanan dan penggunaan perangkat digital, mereka berharap dukungan kesehatan mental dapat diakses secara lebih mudah, praktis, dan berkelanjutan oleh generasi muda.
Keberhasilan meraih penghargaan pada ajang internasional tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan multidisiplin yang menggabungkan ilmu multidisipliner mampu menghasilkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Selain menjadi ajang pembuktian kemampuan akademik, kompetisi ini juga memberikan kesempatan bagi tim untuk berdiskusi dan bertukar gagasan dengan peserta dari berbagai negara mengenai tantangan kesehatan mental yang dihadapi generasi muda di seluruh dunia.
Ke depan, tim berharap inovasi yang mereka kembangkan tidak berhenti pada tahap kompetisi, tetapi dapat dilanjutkan melalui penelitian, pengembangan prototipe, hingga implementasi nyata di masyarakat. Dengan mengintegrasikan pendekatan biologis dan psikologis dalam satu ekosistem inovasi, mereka optimistis bahwa CalmBar dan SELF-SCAN dapat menjadi bagian dari solusi masa depan dalam mendukung kesehatan mental generasi muda yang lebih sehat, resilien, dan berdaya menghadapi tantangan era digital. [Penulis: Ikhlasul Amal]
Mendukung Pengembangan Pendidikan, Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum
Yogyakarta, 11 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum dan Pengembangan Tenaga Pendidik pada 9-10 Juni 2026 di Grand Rohan Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, pengelola program studi serta seluruh dosen sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dalam merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan terkini.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., dalam sambutannya menegaskan pentingnya pemahaman dosen terhadap proses penyusunan kurikulum sebagai fondasi penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, fakultas juga perlu memfasilitasi pengembangan kompetensi dosen agar mampu menyusun kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan zaman.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai kebijakan kurikulum pendidikan tinggi yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc. Dalam paparannya, Prof. Bambang menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya status akreditasi prodi, regulasi yang berlaku, rekomendasi lembaga akreditasi, hasil benchmarking, sistem penjaminan mutu serta transformasi ilmu biologi yang semakin berkembang secara multidisiplin dan transdisiplin. Prof. Bambang juga menekankan bahwa kurikulum pendidikan tinggi saat ini sangat diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih fleksible dan mampu menjawab tantangan global melalui pendekatan transdisiplin yang mengintegrasikan berbagai ilmu.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister Biologi, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang memaparkan implementasi kurikulum yang sedang berjalan sekaligus memperkenalkan rumusan awal Kurikulum 2026 untuk Program Studi Magister Biologi. Sesi selanjutnya diisi oleh Ketua Program Studi Doktor Biologi, Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D., yang juga menyampaikan implementasi kurikulum yang berjalan saat ini dan rumusan kurikulum 2026 untuk Program Studi Doktor Biologi.
Berbagai masukan dan saran konstruktif dari para dosen dalam sesi diskusi berlangsung secara aktif. Masukan tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyempurnaan rancangan kurikulum 2026 di Fakultas Biologi UGM.
Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan pemaparan kembali oleh Prof. Dr. Bambang Retnoaji, M.Sc. terkait berbagai regulasi dan kebijakan akademik yang berkaitan denagn publikasi. Selanjutnya, Ketua Program Studi Sarjana Biologi, Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., mempresentasikan rancangan Kurikulum 2026 untuk Program Studi Sarjana Biologi yang telah disusun berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang saat ini sedang berjalan.
Diskusi yang melibatkan dosen kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan hari kedua. Melalui forum tersebut, para dosen memberikan berbagai pandangan terkait struktur kurikulum, peta kurikulum, mata kuliah baru, serta penguatan kompetensi yang diperlukan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berupaya memastikan bahwa Kurikulum 2026 disusun secara partisipatif, komprehensif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan mahasiswa. Penguatan kualitas kurikulum diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas, relevan, dan kolaboratif.
Karanganyar, 8 Juni 2026 – Tim Anggrek Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tim pelaksana Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 3 PTNBH yang berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan pelatihan budidaya anggrek sebagai bagian dari program pengembangan potensi kawasan Ngargoyoso–Tawangmangu berbasis ekoeduwisata untuk meningkatkan perekonomian berkelanjutan. Kegiatan berlangsung di UMKM Mitra Pabongan Orchid, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Senin (8/6), mulai pukul 09.30 hingga 13.30 WIB.
Program ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas universitas PTNBH yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal berbasis keanekaragaman hayati. Kawasan Ngargoyoso dan Tawangmangu yang berada di lereng Gunung Lawu dikenal memiliki kekayaan biodiversitas, kondisi agroklimat yang mendukung budidaya tanaman hias, serta daya tarik wisata alam yang tinggi. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekoeduwisata yang mengintegrasikan aspek pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., selaku Ketua PMKI UNS–UNNES–UGM. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dalam membangun model pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Menurutnya, ekoeduwisata tidak hanya menjadi sarana wisata, tetapi juga merupakan wadah edukasi dan konservasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelatihan mengangkat tema “Budidaya Anggrek Vanda, Cattleya, dan Phalaenopsis” dengan melibatkan akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang perbungaan dan konservasi anggrek. Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti anggrek yang telah lama mengembangkan riset bioteknologi dan konservasi anggrek Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof. Endang menjelaskan teknik budidaya anggrek Vanda, mulai dari karakteristik tanaman, kebutuhan lingkungan tumbuh, teknik pemeliharaan, hingga peluang pengembangannya sebagai komoditas unggulan kawasan.
Prof. Endang menekankan bahwa budidaya anggrek tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan anggrek melalui budidaya yang berkelanjutan dapat mengurangi tekanan pengambilan tanaman dari habitat alaminya sekaligus mendukung pelestarian plasma nutfah anggrek Indonesia.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ixora Sartika Mercuriani, M.Si., Ketua DPD Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) DIY. Pada kesempatan tersebut, Dr. Ixora memaparkan teknik budidaya anggrek Cattleya, meliputi pemilihan media tanam, pengaturan intensitas cahaya, pemupukan, hingga strategi menghasilkan tanaman berbunga dengan kualitas optimal dan nilai jual yang tinggi.
Evaluasi Tengah Tahun (ETT) merupakan kegiatan setiap tahun yang dilaksanakan oleh pengurus harian Kelompok Studi Biology Orchid Study Club (BiOSC). Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja yang telah berjalan selama setengah periode kepengurusan Kabinet Corybas pictus dan menjadi wadah aspirasi anggota baik dalam bentuk saran maupun masukan. Pada tahun ini, ETT BiOSC dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2026 pukul 08.30 – 13.00 WIB secara daring melalui Google Meet. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota aktif BiOSC dari Angkatan Diksar 18, Angkatan Diksar 19, dan Angkatan Diksar 20.
Pelaksanaan kegiatan ETT BiOSC dibagi menjadi dua tahapan. Pada tahap pertama dilakukan secara asinkron yaitu pengisian penilaian melalui Google Form yang disebarkan oleh pengurus harian. Hasil dari formulir tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk Rapor Evaluasi Tengah Tahun (ETT). Tahap kedua dilakukan pemaparan matriks kerja pengurus harian beserta evaluasinya yang dilaksanakan secara sinkronus melalui Google Meet yang dipandu oleh Safira Zahra Raihanika dari Divisi Budidaya sebagai Master of Ceremony (MC). Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Nazwa Nur Sahara selaku Ketua BiOSC 2026 dan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. selaku Pembina BiOSC. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh pengurus harian. Pemaparan dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Nazwa Nur Sahara sebagai Ketua BiOSC 2026, Satria Muqid Nurhidayat sebagai Sekretaris Umum, Daariin Farah Tsabita sebagai Bendahara Umum, Dary Saka Fitrady sebagai Koordinator Keilmuan, Stanisius Ken Sidharta sebagai Koordinator Divisi Penelitian, Alfonsus Fidel Pandu Ekanto sebagai Koordinator Divisi Budidaya, Golda Theresia Simarmata sebagai Koordinator Divisi Konservasi, Muhammad Rafi Al Farid sebagai Koordinator Kewirausahaan, Hira Nitya Subekti sebagai Koordinator Keorganisasian, Lailatul Lidya Dwi Cahyani sebagai Kepala Bidang PSDM, Muhammad Haykal Nur Arifin sebagai Kepala Bidang Humjar, Gita Novi Fitriani sebagai Kepala Bidang Kerumahtanggaan, dan Felicia Nagata Christina sebagai Kepala Bidang Media dan Publikasi.
Pemaparan presentasi yang telah selesai kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab oleh peserta dan peninjauan oleh Dewan Pendamping Organisasi (DPO) BiOSC serta pemaparan Rapor Evaluasi Tengah Tahun pengurus harian. Rapor ini berisi penilaian kinerja pengurus harian, matriks kerja yang telah terlaksana, evaluasi terhadap pengurus harian, dan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan oleh anggota. Hasil dari rapor ini menilai bahwa masing-masing pengurus harian BiOSC Kabinet Corybas pictus mengerjakan program kerja dengan baik. Kegiatan Evaluasi Tengah Tahun BiOSC 2026 ditutup dengan games dan penyampaian kesan pesan harapan oleh para peserta serta dokumentasi bersama. [Penulis: BiOSC]
#SDG 4: Pendidikan Berkualitas
#SDG 14: Ekosistem Lautan
#SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Magelang, Indonesia – Dr. Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D. bersama tim peneliti dari Smart Genetics Research Group Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kolaborator internasional dari Universiti Malaya yang terdiri atas Assoc. Prof. Dr. Tan Boon Chin, Dr. Chua Kah Ooi, dan Dr. Lau Su Ee mengimplementasikan inovasi pertanian berbasis genetika dan budidaya berkelanjutan melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional yang didukung oleh Program Equity Universitas Gadjah Mada. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan produktivitas stroberi Indonesia melalui penerapan teknologi hasil riset serta penguatan kapasitas petani melalui kolaborasi internasional. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk hilirisasi penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Program yang mengusung tema “Pengembangan Modern Integrated Farming melalui Teknologi Smart Genetics Breeding Program guna Peningkatan Kualitas dan Produksi Stroberi Indonesia” ini dilaksanakan di Kebun Inggit Strawberry, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Desa Banyuroto yang terletak di lereng Gunung Merapi dan Merbabu merupakan salah satu kawasan penghasil stroberi yang telah berkembang sebagai destinasi agrowisata berbasis masyarakat. Potensi sumber daya alam yang dimiliki menjadikan wilayah ini sebagai lokasi strategis untuk penerapan inovasi pertanian berbasis riset dan teknologi. Namun demikian, petani masih menghadapi sejumlah tantangan dalam budidaya stroberi, antara lain produktivitas tanaman yang cenderung fluktuatif, kualitas buah yang belum seragam dan optimal, serta keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya modern. Oleh karena itu, program pengabdian ini hadir sebagai upaya untuk menjembatani hasil-hasil penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui penerapan teknologi genetika tanaman dan sistem budidaya yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Sebagai respons atas berbagai permasalahan tersebut, tim pengabdian menerapkan pendekatan Smart Genetics Breeding sebagai teknologi pemuliaan tanaman berbasis genetika yang dikembangkan dari hasil penelitian tim peneliti. Teknologi ini memanfaatkan metode poliploidisasi untuk menghasilkan varietas stroberi unggul yang memiliki karakter agronomis lebih baik. Tanaman hasil pengembangan tersebut diharapkan memiliki ukuran buah yang lebih besar, kualitas yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan kemampuan adaptasi yang lebih kuat terhadap perubahan lingkungan.
Selain pengembangan bibit unggul, program ini juga mengintegrasikan konsep Modern Integrated Farming melalui penerapan sistem budidaya yang lebih terukur dan berbasis data. Petani mendapatkan pendampingan mengenai penggunaan teknologi pertanian presisi untuk mendukung pengelolaan lahan dan tanaman secara lebih efektif. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus membantu petani dalam mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan kondisi lapangan.
Kolaborasi dengan Universiti Malaya menjadi salah satu komponen penting dalam pelaksanaan program ini. Salah satu topik yang diperkenalkan oleh tim Universiti Malaya adalah pemanfaatan sistem hidroponik sebagai alternatif metode budidaya yang lebih efisien dan adaptif terhadap keterbatasan lahan. Sistem tersebut dinilai mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara lebih terkontrol sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi. Tim Universiti Malaya juga membagikan pengalaman terkai pengelolaan dan penggantian media tanam dalam 2-5 kali siklus panen untuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk yang berlebihan serta mendukung sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Dr. Ganies Riza Aristya, kolaborasi internasional memberikan nilai tambah yang besar dalam pengembangan program pengabdian kepada masyarakat. “Melalui kerja sama ini, kami tidak hanya mengimplementasikan hasil penelitian yang telah dikembangkan di UGM, tetapi juga memperoleh berbagai perspektif baru dari pengalaman mitra internasional. Pertukaran pengetahuan tersebut sangat penting untuk menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan petani,” ujarnya. Program ini juga mencakup berbagai kegiatan pendampingan bagi kelompok tani, mulai dari penguatan kapasitas budidaya, penerapan teknologi pertanian, hingga pengembangan sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memahami pentingnya pengelolaan sumber daya yang efisien dalam usaha pertanian. Pendekatan partisipatif yang diterapkan juga memungkinkan masyarakat terlibat secara aktif dalam proses pengembangan dan penerapan teknologi.
Program ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penerapan teknologi Smart Genetics Breeding dan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian yang mendukung ketahanan pangan. Program ini juga mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kapasitas petani dan peningkatan produktivitas usaha tani yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui sinergi antara inovasi berbasis riset, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi internasional, program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta mendukung pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.











































































