SDGs
Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus sebagai Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D., menyampaikan duka dan keprihatinan mendalam atas kematian Gajah dan Harimau Sumatera di Bentang Seblat, Bengkulu.
Menurut Prof Budi, setiap kehilangan satwa kunci ini bukan hanya tragedi biodiversitas, tapi juga sinyal bahwa tekanan pada habitat dan konflik manusia-satwa sudah berada di titik kritis.
Bentang Seblat adalah salah satu benteng terakhir Harimau dan Gajah liar di Sumatera.
KOBI mengecam keras segala bentuk perburuan dan peracunan satwa dilindungi. Namun akar persoalannya adalah fragmentasi habitat dan minimnya pencegahan konflik. Tanpa koridor jelajah yang aman dan tata kelola bentang alam berbasis sains, kasus serupa akan terus berulang di kemudian hari. Gajah dan Harimau punya peran ekologis vital yang tidak dapat digantikan: sehungga menjaga hutan dan keseimbangan ekosistem adalah suatu keharusan baik pada tingkat masyarakat maupun pemerintah dan negara.
Untuk itu KOBI mendesak 3 langkah cepat:
- Audit forensik dan pemetaan titik rawan konflik secara transparan oleh KLHK dan BKSDA Bengkulu,
- Penguatan sistem peringatan dini konflik serta kompensasi adil bagi masyarakat terdampak,
- Pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan dengan insentif dan kewenangan nyata.
KOBI siap bekerjasama dengan pemerintah, NGO, akademisi dan masyarakat, serta siap menurunkan ahli biologi satwa untuk membantu. Bentang Seblat harus tetap menjadi rumah bersama bagi satwa (khususnya Gajah dan Harimau) serta manusia agar dapat hidup berdampingan secara harmoni. Karena Hutan yang sehat, maka desa-desa di tepinya juga akan sejahtera.
Pelestarian Gajah dan Harimau Sumatera di Bentang Seblat merupakan bagian penting dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 15 (Life on Land) yang berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistem daratan. Upaya konservasi yang berkelanjutan juga berkontribusi pada SDG 13 (Climate Action) melalui perlindungan hutan sebagai penyangga iklim dan sumber kehidupan bagi masyarakat.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Biologi UGM sukses menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bagi masyarakat di Dusun Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Pengembangan Budidaya Labu Susu sebagai Sumber Pangan Nabati Anti Stunting untuk Mewujudkan Kehidupan Tanpa Kelaparan”. Program strategis ini menyasar dua kelompok lokal sekaligus, yaitu Kelompok Tani Tunas Jaya dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mlati.
Kegiatan sosialisasi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku ketua tim pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembicara pertama dengan topik “Keberlanjutan Budidaya Labu Susu Citra Laga”. Pembicara kedua adalah Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc. yang memaparkan materi bertema “Manfaat Labu Susu untuk Anti Diabetes Melitus”. Materi ketiga disampaikan oleh Aryo Seto Pandu Wiranto, S.Si., M.Sc. mengenai “Mengenal Polinator dan Hama pada Tanaman Labu Susu”. Selain itu, kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa/i Fakultas Biologi antara lain Siti Yulianingsih, Pradhika Cikal Malika, Muhammad Meshal Ramadhayesa, Nafi’ah Khoirunnisa, dan Khurin ‘Aini.
Rangkaian acara diawali dengan senam pagi pukul 07.30 WIB, dilanjutkan pembukaan oleh MC dan pretest pukul 08.05 WIB. Sesi pematerian berlangsung mulai pukul 08.15 hingga 10.00 WIB yang mencakup tiga topik utama dari ketiga narasumber, diselingi dengan ice breaking diantara sesi pematerian. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab, post-test, penyampaian kesan-pesan, pemaparan rencana agenda selanjutnya, serta penutupan pada pukul 10.30 WIB.
Sosialisasi ini mencakup edukasi tentang teknik budidaya labu susu varietas Citra Laga secara berkelanjutan, potensi labu susu sebagai bahan pangan fungsional dalam pengendalian diabetes melitus, serta pengenalan terhadap organisme penyerbuk dan hama yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya. Melalui kegiatan ini, anggota Kelompok Tani Tunas Jaya dan KWT Mlati diharapkan memperoleh bekal pengetahuan yang cukup mengenai budidaya dan pengolahan labu susu menjadi tepung tinggi nutrisi sebagai produk unggulan yang dapat dipasarkan secara luas.
Program pengabdian ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi Fakultas Biologi UGM dalam pemberdayaan masyarakat berbasis potensi sumber daya lokal. [ Kotimah]
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memulai tahap budidaya labu susu dalam program bertema “Pengembangan Budidaya Labu Susu sebagai Sumber Pangan Nabati Anti Stunting untuk Mewujudkan Kehidupan Tanpa Kelaparan” di Dusun Kebondalem, Madurejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahap pembenihan dan penanaman ini dilaksanakan sebelum kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, sebagai persiapan lahan budidaya.
Tahap pertama berupa penyemaian benih yang dilaksanakan pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan ini dilakukan oleh dua mahasiswa Fakultas Biologi UGM, yaitu Pradhika Cikal Malika dan Nafi’ah Khoirunnisa. Benih labu susu varietas Citra Laga disemai menggunakan polybag sebagai media tanam awal. Metode penyemaian dalam polybag dipilih untuk memastikan tingkat perkecambahan yang optimal sebelum bibit dipindahkan ke lahan tanam.
Setelah benih berkecambah, tahap penanaman bibit ke lahan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026. Empat mahasiswa Fakultas Biologi UGM terlibat dalam kegiatan ini, yakni Siti Yulianingsih, Kotimah, Pradhika Cikal Malika, dan Muhammad Meshal Ramadhayesa. Proses penanaman dilakukan di lahan greenhouse yang telah dipersiapkan sebagai lokasi utama program budidaya labu susu. Tim mahasiswa bersama warga setempat memastikan penempatan bibit pada bedengan tanah dilakukan secara presisi dengan jarak tanam yang ideal guna mendukung pertumbuhan organ vegetatif tanaman secara maksimal.
Keberhasilan dua tahapan ini menjadi landasan penting bagi keberlanjutan siklus hidup tanaman Labu Susu Citra Laga di Dusun Kebondalem. Seluruh proses pengabdian ini diharapkan mampu memicu kemandirian Kelompok Tani Tunas Jaya dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mlati dalam memproduksi pangan fungsional secara mandiri. Hilirisasi produk berupa pemanfaatan buah labu susu segar dan tepung bernutrisi tinggi ke depan diarahkan untuk mengentaskan problem stunting wilayah, sekaligus memperkuat rantai pasok produk lokal. [Kotimah]





































































