Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (2/8)—Tiga mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Aris Budi Rohman, Aulia Robiatul Adawiyah, dan Huriyah Winda Nabillah, yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), melaksanakan kegiatan penanaman pohon di bantaran Sungai Citarum bersama tim KKN SekoCihampelas. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bertajuk “Penanaman Pohon di Bantaran Sungai Citarum”, yang bertujuan mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Kegiatan penanaman ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Yayasan Bening Saguling Foundation, warga sekitar, serta mahasiswa KKN Universitas Padjadjaran. Jenis pohon yang ditanam mencakup pohon kopi (Coffea arabica L.), mahoni Uganda (Khaya anthotheca (Welw.) C.DC.), dan angsana (Pterocarpus indicus Willd.). Seluruh bibit diperoleh dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan, Provinsi Jawa Barat.
Lokasi penanaman berada di kawasan hutan komunitas yang dikelola oleh Bening Saguling Foundation. Kegiatan ini diawali dengan acara seremonial, termasuk sambutan dari dosen pembimbing lapangan tim KKN SekoCihampelas, Dr. Sudarmaji, S.Si., M.Si. dari Program Studi Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam sambutannya, Dr. Sudarmaji menyampaikan harapan bahwa penanaman pohon ini dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat upaya konservasi di wilayah Sungai Citarum.
Setelah sambutan, pemaparan teknis dilakukan oleh penanggung jawab program, Ahmad Aris Budi Rohman. Acara dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis, dokumentasi kegiatan, dan penyampaian jargon kegiatan: “Penanaman Pohon 2025: Satu Pohon, Sejuta Kehidupan”. Jargon ini dipilih untuk mengingatkan peserta akan pentingnya pohon sebagai simbol kehidupan, harapan, dan keberlanjutan. Pohon tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga menyediakan habitat bagi makhluk hidup, memperbaiki kualitas udara, serta mencegah erosi, terutama di daerah rawan seperti bantaran sungai.
Salah satu warga BSF yang turut serta dalam kegiatan, Mang Amar, menilai kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi penting dalam menjaga kehijauan lingkungan. “Penanaman pohon ini sangat baik untuk mencegah erosi dan mengembalikan kesuburan tanah. Kita semua punya tanggung jawab menjaga alam, dan kegiatan ini adalah salah satu jalannya,” tuturnya.
Usai acara seremonial, seluruh peserta diarahkan memasuki kawasan hutan komunitas untuk menanam pohon secara langsung. Setiap peserta menanam minimal satu pohon sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan. Penanaman ini diharapkan dapat membantu mencegah erosi, terutama saat musim hujan, mengingat lokasi yang berdekatan dengan aliran Sungai Citarum. [Ahmad Aris Budi Rohman]



