Arsip:
SDG 13 : Penanganan Perubahan Iklim
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada melalui Center for Tropical Biodiversity (CENTROBIO) melakukan pertemuan kerja sama dengan Spectrum pada Selasa, 12 Mei 2026, bertempat di Ruang Sidang KPTU Fakultas Biologi UGM. Pertemuan ini membahas rencana kolaborasi dalam proyek monitoring biodiversitas di Kabupaten Sorong, Papua, yang berfokus pada kelompok burung, mamalia, dan herpetofauna.
Agenda tersebut dihadiri oleh Direktur CENTROBIO, Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc., bersama tim CENTROBIO yang terdiri atas Dr. Dwi Sendi Priyono, S.Si., M.Si., Akbar Reza, S.Si., M.Sc., dan Annisa Mawarni, S.Si. Sementara itu, pihak Spectrum diwakili oleh Sayyid Fachrurrazi selaku Direktur dan Miftahul Jannah.
Dalam diskusi, kedua pihak membahas potensi sinergi dalam pelaksanaan survei dan monitoring biodiversitas di kawasan Sorong yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi dan ekosistem tropis yang penting untuk dijaga keberlanjutannya. Monitoring yang direncanakan meliputi inventarisasi spesies, pengumpulan data ekologis, pemetaan habitat, hingga pelaksanaan pendekatan partisipatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan masyarakat sebagai dasar pengelolaan dan konservasi sumber daya alam.
Dr. Rury Eprilurahman menyampaikan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi akademisi dan praktisi dalam mendukung konservasi biodiversitas Indonesia dan dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan konservasi maupun pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Spectrum merupakan konsultan yang bergerak dalam bidang survei biodiversitas, monitoring satwa liar, analisis data ekologis, Geographic Information System (GIS), serta penyusunan laporan teknis untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan konservasi berbasis sains. Organisasi ini memiliki pengalaman kerja di ekosistem hutan tropis dan wilayah terpencil, dengan fokus pada inventarisasi dan monitoring burung, mamalia, dan herpetofauna. Selain itu, Spectrum juga memiliki kapasitas untuk bekerja secara kolaboratif dengan masyarakat lokal dan berbagai pemangku kepentingan.
Sebagai hasil dari pertemuan tersebut, CENTROBIO Fakultas Biologi UGM dan Spectrum sepakat untuk menjalin kerja sama dan melaksanakan proyek bersama terkait kegiatan biodiversitas, khususnya dalam bidang survei, monitoring, dan pengelolaan data biodiversitas di Indonesia. Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan kolaborasi yang lebih luas dalam mendukung penelitian, konservasi, dan pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Kegiatan kolaborasi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 15 (Life on Land) melalui upaya perlindungan ekosistem daratan dan konservasi keanekaragaman hayati, SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan data dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kemitraan antara institusi akademik dan mitra profesional dalam mendukung konservasi berbasis sains.

Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Raih Gold Medal dan The ICGI Special Award pada International Science Project Competition (ISPC) 2026.
Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui karya inovatif bertajuk “ENVIORA ─ Environmental Immobilized Organisms for Remediation of Air”. Inovasi tersebut berhasil meraih Gold Medal sekaligus The ICGI Special Award (Indonesian Centre for Giftedness Innovation) dalam ajang International Science Project Competition 2026.
Karya ini dikembangkan oleh Maureen Andrea Agatha dan Fahima Ellya Wulandari dari Universitas Gadjah Mada di bawah bimbingan Dr. Miftahul Ilmi, S.Si., M.Si.
ENVIORA merupakan inovasi living paint atau cat biologis aktif yang memanfaatkan mikroorganisme Thiobacillus sp. dan Bacillus subtilis untuk membantu mereduksi polutan udara seperti sulfur dioksida (SO₂) dan volatile organic compounds (VOCs), serta hifa jamur (mycelium) sebagai struktur penyangga biologis (biological scaffold). Teknologi ini mengintegrasikan mikroorganisme yang diimobilisasi dalam matriks hidrogel dan biopolimer sehingga permukaan bangunan dapat berfungsi sebagai sistem pemurni udara pasif yang berkelanjutan.
Menurut tim peneliti, inovasi ini hadir sebagai solusi alternatif terhadap permasalahan polusi udara perkotaan yang semakin meningkat akibat urbanisasi dan aktivitas industri. Berbeda dengan teknologi filtrasi konvensional yang membutuhkan energi besar, ENVIORA bekerja secara pasif melalui aktivitas metabolisme mikroba sehingga lebih ramah lingkungan dan berpotensi diterapkan secara luas pada infrastruktur perkotaan.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa inovasi berbasis bioteknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
“ENVIORA tidak hanya menawarkan konsep ilmiah, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan arsitektur berkelanjutan yang mampu berperan aktif dalam menjaga kualitas udara,” ujar tim peneliti.
Selain meraih Gold Medal, penghargaan khusus dari Indonesian Centre for Giftedness Innovation diberikan atas nilai inovasi, keberlanjutan, serta potensi implementasi teknologi ENVIORA dalam mendukung kota cerdas dan ramah lingkungan di masa depan.
Ke depan, tim peneliti berencana mengembangkan ENVIORA menuju tahap uji lapangan dan optimalisasi formulasi agar memiliki ketahanan lingkungan yang lebih baik serta dapat diaplikasikan secara nyata pada berbagai permukaan bangunan perkotaan.
Dengan capaian ini, Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat global, khususnya dalam bidang lingkungan dan teknologi berkelanjutan. [Penulis: Fahima Ellya Wulandari]
Pada tanggal 5 April 2026, mahasiswa Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada peserta Matakuliah Etnobotani tingkat Sarjana (S1) Kelas A, mengikuti kegiatan kuliah lapangan di Museum Kedhaton Yogyakarta. Perkuliahan lapangan ini adalah merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang berbasis kontekstual (contextual teaching and learning), pengalaman (experiential learning), dan sumber daya (resource-based learning). Pendekatan ini menghubungkan materi pelajaran dengan konteks nyata (benda koleksi/sejarah) untuk meningkatkan keterlibatan aktif, observasi langsung, dan berpikir kritis mahasiswa. Matakuliah Etnobotani Kelas A diampu oleh Prof. Dr. Ratna Susandarini, M.Sc. dan Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si.
Pada saat Kuliah Lapangan tersebut sejumlah 31 Mahasiswa didampingi oleh Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si., mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh narasumber yaitu Kepala Museum Kedhaton (RA Siti Amirul Nur Sundari, Carik Kawedanan Radyo Kartiyoso) dan Staff Ahli Museum Kedhaton (Mas Jajar Praba Hanendra). Selain itu hadir pula salah satu dosen Fakultas Biologi UGM Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D.Eng.
Dalam perkuliahan tersebut mahasiswa mempelajari keanekaragaman tumbuhan dan makna simbolisnya yang dipergunakan dalam berbagai ritual masyarakat Jawa yang merupakan rangkaian siklus hidup (daur hidup) yang komprehensif, dimulai dari Tahap Awal: Kehamilan dan Kelahiran (Siklus Awal Kehidupan) (diawali dengan Mapati (Empat Bulanan), Mitoni / Tingkeban (Tujuh Bulanan), Brokohan, Sepasaran (lima hari), Puputan (Tali Pusar Lepas), Selapanan (35 Hari), dan Tedak Siten (Tujuh Bulanan)); Tahap Tengah: Masa Dewasa dan Perkawinan (Sunatan/Khitanan, Nontoni & Lamaran, Siraman & Midodareni, Pernikahan (Akad/Panggih); dan Tahap Akhir: Kematian (Perjalanan Kembali) (Siklus Akhir Kehidupan), yang bertujuan memohon keselamatan, rasa syukur, dan penghormatan kepada alam semesta. Dalam mempelajari makna simbolis dari setiap spesies tumbuhan yang dipergunakan dalam upacara, maka mahasiswa akan memahami pula mengenai makna spiritual dari ritual Jawa tersebut yang merupakan penjabaran dari hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Gusti Allah Sang Maha Pencipta.
Kearifan lokal Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi ini menjadi aset budaya yang sangat berharga dan patut dipertahankan keberlanjutannya di masa depan. Mahasiswa juga dapat berperan aktif dalam melaksanakan konservasi ilmu pengetahuan tradisional tersebut supaya tidak hilang dari peradaban masyarakat saat ini. Selain itu, Kraton Yogyakarta selain telah melakukan berbagai upaya konservasi pengetahuan etnobotani tersebut juga telah melaksanakan berbagai langkah pelestarian tanaman langka yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi.
Kegiatan ini turut mendukung tercapainya sejumlah target dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDG 4: Quality Education melalui pendekatan pembelajaran yang mengedepankan pengalaman langsung di lapangan; SDG 11: Sustainable Cities and Communities dengan memanfaatkan situs warisan budaya sebagai media edukasi; SDG 12: Responsible Consumption and Production, setelah mahasiswa mengikuti perkuliahan Etnobotani dapat menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan alam yang bertanggungjawab; SDG 13: Climate Action karena mendorong penguatan literasi lingkungan serta mempererat hubungan antara manusia dan alam; SDG 15: Life on Land melalui peningkatan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati; SDG 17: Partnerships for the Goals yang mendorong kerjasama dengan berbagai institusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. – Ludmilla —
Yogyakarta, 25 April 2026 – Program Studi Magister Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan kuliah lapangan Mata Kuliah Etnobiologi di kawasan Candi Prambanan pada Sabtu, 25 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan pembelajaran berbasis konteks (contextual learning) yang terintegrasi dengan pendekatan interdisipliner antara biologi dan budaya.
Mata kuliah ini berada di bawah koordinasi akademik Prof. Dr. Ratna Susandarini, M.Sc. selaku koordinator mata kuliah, dengan salah satu pengampu Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D. Eng. yang memfasilitasi pelaksanaan kuliah lapangan ini. Dalam kapasitasnya sebagai koordinator, Prof. Ratna Susandarini berperan strategis dalam merancang arah pembelajaran, memastikan keselarasan capaian pembelajaran, serta mengintegrasikan pendekatan etnobiologi dalam kurikulum Magister Biologi secara komprehensif.
Kegiatan ini mengangkat relief candi sebagai sumber data ilmiah untuk mengeksplorasi relasi manusia dan fauna dalam perspektif sejarah dan budaya. Mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap representasi hewan dalam relief yang menggambarkan kisah Ramayana dan Krisnayana, dua narasi penting dalam tradisi klasik Jawa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengidentifikasi bentuk morfologi fauna yang tergambar dalam relief, tetapi juga menganalisis makna simbolik, ekologis, dan kultural dari representasi tersebut. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal masa lampau merekam interaksi manusia dengan keanekaragaman hayati dalam bentuk visual yang kaya makna.
Dalam pernyataannya, Ibu Zuliyati Rohmah menekankan bahwa etnobiologi membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami biodiversitas secara lebih holistik. “Relief candi menjadi arsip budaya yang merekam bagaimana manusia masa lalu mengamati, mengenali, dan memberi makna terhadap fauna di sekitarnya. Ini adalah bentuk pengetahuan yang sangat relevan untuk dikaji dalam konteks biologi modern,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendukung implementasi Outcome-Based Education (OBE), khususnya dalam penguatan kemampuan analisis kritis, sintesis lintas disiplin, serta keterampilan interpretasi berbasis data lapangan.
Lebih lanjut, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain: SDG 4 (Quality Education): melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung di lapangan. SDG 11 (Sustainable Cities and Communities): dengan pemanfaatan situs warisan budaya sebagai sumber pembelajaran. SDG 15 (Life on Land): melalui peningkatan kesadaran terhadap keanekaragaman hayati, dan SDG 13 (Climate Action): melalui penguatan literasi lingkungan dan relasi manusia-alam.
Kegiatan ini menegaskan komitmen Program Studi Magister Biologi UGM dalam menghadirkan pendidikan biologi yang integratif, kontekstual, dan berorientasi pada keberlanjutan, dengan memposisikan budaya sebagai bagian penting dalam memahami sistem kehidupan.
Yogyakarta, 30 April 2026 – Center for Tropical Biodiversity (Centrobio) Fakultas Biologi UGM melaksanakan webinar seri ketiga bertajuk “Muda Mudi Konservasi: Ngobrolin A-Z Tentang Biodiversitas”, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari Sumatra hingga Papua. Profil audiens sangat beragam, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, pemancing, hingga staf BKSDA dan peneliti. Sesi webinar diisi oleh dua narasumber, yakni Indira Nurul Qomariah, M.Si., Bio.Cur. dari Centre for Orangutan Protection (COP) yang juga alumni Program Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati Fakultas Biologi UGM, dan Dr. Luthfi Nurhidayat Dosen Lab SPH Fakultas Biologi UGM. Acara dipandu oleh Apriliawati, M.Sc., lulusan program Magister Biologi UGM yang bergelut di dunia konservasi perairan, serta dihadiri oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan Fakultas Biologi UGM. Webinar tersebut membahas komitmen pelestarian biodiversitas dari aspek terestrial dan akuatik.
Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan memberikan sambutannya dan menekankan bahwa kontribusi terhadap pelestarian biodiversitas mencakup seluruh bidang ilmu biologi, bukan hanya ekologi. Beliau juga menggarisbawahi tanggung jawab besar Indonesia sebagai negara megabiodiversitas dan berharap seminar ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus berpartisipasi secara berkesinambungan.
Sesi pemaparan pertama diawali dengan cerita Indira mengenai upaya konservasi orangutan di Indonesia. Beliau memaparkan kerja LSM Centre for Orangutan Protection yang fokus pada penyelamatan orangutan Sumatra dan Kalimantan, perlindungan hutan, serta habitatnya di berbagai wilayah. Indira menjelaskan tantangan utama berupa hilangnya habitat yang memicu konflik manusia-satwa dan perdagangan ilegal. LSM COP bekerja melindungi orangutan di garda terdepan, melalui patroli pengamanan hutan, penyelamatan, penanganan medis, rehabilitasi, pelepasliaran, dan riset. Selain itu, dipaparkan pula peluang bagi mahasiswa melalui program COP School angkatan ke-16 di Yogyakarta yang pendaftarannya dibuka hingga 10 Mei 2026 sebagai wadah pembelajaran konservasi praktis.
Narasumber selanjutnya, yaitu Luthfi Nurhidayat, memaparkan materi bertajuk penelitian dan implementasi restocking ikan lokal di Yogyakarta. Beliau menyoroti penurunan signifikan populasi ikan wader akibat fragmentasi sungai dan polusi. Luthfi membagikan keberhasilan program restocking ikan wader yang mencapai peningkatan populasi di Sungai Baros dan Sungai Gandok. Melalui kerangka delapan tahapan restocking yang komprehensif, program ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga melibatkan pemangku kebijakan seperti Dinas Kelautan Perikanan DIY, BRIN, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), serta yang paling penting adalah peran aktif masyarakat melalui kelompok pengawas (Pokmaswas) untuk restocking dan pengawasan sungai.
Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab yang berlangsung interaktif antara peserta dan kedua narasumber. Berbagai isu dibahas, mulai dari strategi menghadapi fragmentasi habitat orangutan tapanuli hingga teknis pemilihan lokasi restocking ikan agar tidak merusak keragaman genetik lokal. Peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi, baik dalam menanyakan peluang riset maupun kolaborasi magang. Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengedukasi masyarakat, khususnya anak muda, agar konservasi dimulai dari hal sederhana seperti menjaga kebersihan sungai hingga kampanye media sosial.
Seminar bertajuk konservasi dan biodiversitas tersebut menunjukkan komitmen Fakultas Biologi dalam perannya pada pembangunan berkelanjutan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu kualitas pendidikan yang baik (SDG 4), aksi penanganan perubahan iklim (SDG 13), serta pelestarian biodiversitas yang berdampak pada kehidupan air dan darat (SDG 14 dan SDG 15).
Tim dari Mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada berhasil meraih prestasi membanggakan pada ajang Sriwijaya Innovation National Essay and Poster Award SINEPA 2026 dengan memperoleh Juara 1 kategori esai jenjang perguruan tinggi pada subtema pertanian. Tim tersebut terdiri dari Widya Arum Prastanti sebagai ketua, serta beranggotakan Okcarinda Wahyu Romadani dan Rahma Amalia, dengan dosen pendamping Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. Prestasi ini menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi melalui karya tulis ilmiah yang relevan terhadap permasalahan aktual di sektor pertanian Indonesia.

Kompetisi tingkat nasional ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan tujuan mendorong lahirnya gagasan inovatif dan solutif dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Pada subtema pertanian, peserta dituntut untuk mampu merancang solusi yang aplikatif terhadap permasalahan ketahanan pangan nasional. Adapun gelombang 3 pendaftaran dibuka pada 17 Februari–3 Maret 2026, kemudian dilanjutkan tahap penilaian pada 4 – 7 Maret 2026, dan selanjutnya pengumuman juara dilaksanakan pada 9 Maret 2026.
Dalam kompetisi tersebut, tim mahasiswa Fakultas Biologi UGM mengangkat esai yang membahas konsep TriBioFit Smart Agro Network, yaitu model sistem pengendalian hama berbasis desa yang mengintegrasikan bioinsektisida hayati dengan monitoring berbasis data serta koordinasi kolektif petani. Gagasan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan penurunan produksi padi nasional yang salah satunya disebabkan oleh serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta sistem pengendalian hama yang masih bersifat individual dan reaktif di tingkat lapangan.
TriBioFit dikembangkan sebagai inovasi bioinsektisida hayati berbasis kombinasi jamur entomopatogen Beauveria bassiana dengan bahan alami seperti biji jarak (Jatropha curcas) dan gulma siam (Chromolaena odorata). Inovasi ini tidak hanya berfungsi sebagai agen pengendali hama yang ramah lingkungan, tetapi juga diintegrasikan dalam sistem berbasis desa yang memungkinkan pencatatan, analisis, serta pengambilan keputusan secara kolektif.
Melalui pendekatan ini, pengendalian hama tidak lagi dilakukan secara parsial, melainkan secara serempak dalam satu hamparan berbasis data lapangan. Sistem ini juga dilengkapi dengan fitur monitoring, evaluasi, serta perencanaan tindakan berjenjang yang bertujuan meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis. Dengan demikian, konsep ini diharapkan mampu mendukung stabilitas produksi padi, meningkatkan efisiensi biaya produksi, serta menjaga keseimbangan agroekosistem.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Selain itu, gagasan yang dihasilkan diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui implementasi di tingkat desa sebagai model pertanian berbasis komunitas dan data di era Society 5.0. Pemikiran dalam karya tulis ilmiah ini memberikan kontribusi terhadap SDGs nomor 11 (Sustainable cities and communities), 12 (Responsible consumption and production), dan 15 (Life on land). [Penulis: Okcarinda Wahyu Romadani]
Yogyakarta, 21 Maret 2026 Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., dipercaya menjadi khotib dalam pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang diselenggarakan pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Lapangan Graha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada. Pelaksanaan Shalat Idul Fitri berlangsung berjalan lancar dan khusuk serta dihadiri ribuan jamaah dari civitas akademika UGM serta masyarakat umum.
Dalam khutbahnya, Prof. Budi Setiadi Daryono mengajak jamaah untuk memaknai Idul Fitri tidak sekadar sebagai perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi sebagai momentum memperkuat ketakwaan, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Mengawali khutbahnya, Prof. Budi menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT sehingga umat Islam dapat melaksanakan Shalat Idul Fitri dalam suasana aman dan penuh kebahagiaan. Ia juga mengajak jamaah untuk bersyukur atas kondisi Indonesia yang masih diberikan keamanan dan kenyamanan, berbeda dengan sebagian saudara muslim di berbagai negara yang tengah menghadapi konflik dan kesulitan.
“Marilah kita panjatkan syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Negara kita masih merasakan kenyamanan dan keamanan. Ini adalah anugerah yang patut kita syukuri,” ungkapnya.
Selanjutnya Prof. Budi menyampaikan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bertugas menjadi khalifah di bumi. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Ramadan seperti disiplin ibadah, kepedulian sosial, serta semangat berbagi hendaknya tetap dijaga dan dilanjutkan setelah bulan Ramadan berakhir.
“Idul Fitri bukan sekadar perayaan, bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan, tetapi momentum untuk menguatkan tekad menjadi hamba Allah yang lebih taat, menjaga kesucian hati, dan mempererat silaturahmi,” jelasnya.
Dalam khutbah tersebut, Prof. Budi juga menekankan pentingnya kesalehan sosial sebagai bagian dari implementasi nilai Ramadan. Ia mengajak jamaah untuk memperkuat hubungan kekerabatan, saling memaafkan, serta membangun kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, silaturahmi merupakan salah satu amalan penting yang ditekankan dalam ajaran Islam.
Selain itu, sebagai akademisi di bidang biologi, Prof. Budi turut mengangkat tema eko-spiritualitas, yakni hubungan antara spiritualitas manusia dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menyampaikan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri dari perilaku konsumtif yang menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan.
Prof. Budi mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serius terkait masalah lingkungan, termasuk meningkatnya jumlah sampah dan dampak pemanasan global. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum meningkatkan kesadaran ekologis.
Beberapa langkah konkret yang disampaikan dalam khutbahnya antara lain mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, mengurangi emisi karbon, serta menanam dan merawat pohon sebagai bentuk sedekah lingkungan.
“Setiap manusia membutuhkan pohon sebagai sumber oksigen. Pertanyaannya, apakah kita sudah menanam minimal lima pohon selama hidup kita? Ini menjadi refleksi sekaligus ajakan untuk menjaga bumi yang Allah amanahkan kepada kita,” ungkapnya.
Di akhir khutbah, Prof. Budi mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai awal baru dalam memperbaiki hubungan dengan Allah (Hablum Minallah), hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas), serta hubungan dengan alam (Hablum Minal ‘Alam).
Melalui khutbah Idul Fitri tersebut, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono berharap semangat Ramadan dapat terus terjaga dan menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang lebih baik, penuh kepedulian, serta berkelanjutan bagi masa depan.
Yogyakarta, 2026. Aisyah Amalia Salsabila, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024, menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui partisipasi dalam Youth Leaders Exchange and Conference (YLEC) Chapter Bangkok 2026 yang diselenggarakan pada 4-7 Februari 2026 di Bangkok, Thailand. Program ini merupakan forum global yang mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan, memperluas jejaring internasional, serta membangun kolaborasi lintas budaya dan disiplin ilmu.
Kegiatan YLEC 2026 menghadirkan serangkaian agenda strategis, antara lain international leadership conference, diskusi panel bersama pembicara internasional, cultural exchange session, serta presentasi proyek kolaboratif. Dalam forum tersebut, Aisyah aktif terlibat dalam pembahasan isu-isu global seperti pembangunan berkelanjutan, inovasi berbasis sains, peran generasi muda dalam mitigasi perubahan iklim, serta kontribusi akademisi muda dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Partisipasi ini menjadi wujud nyata komitmen Fakultas Biologi UGM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan dan penguatan kompetensi mahasiswa sebagai global citizen. Melalui interaksi langsung dengan delegasi dari berbagai latar belakang budaya dan akademik, mahasiswa mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, berpikir kritis, kepekaan sosial, serta keterampilan kolaborasi global.
Selain mengikuti konferensi, para delegasi juga melakukan kunjungan akademik dan institusional di KBRI Bangkok untuk mempelajari praktik pendidikan dan pengembangan kepemudaan di tingkat regional Asia Tenggara. Kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Keikutsertaan mahasiswa Fakultas Biologi UGM dalam YLEC Chapter Bangkok 2026 diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi, berprestasi, dan berkontribusi di tingkat internasional. Fakultas Biologi UGM akan terus mendorong mahasiswa untuk aktif dalam berbagai forum global sebagai bagian dari upaya mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing internasional. [Penulis: Aisyah Amalia Salsabila]
Inovasi pertanian cerdas berbasis sains dan teknologi digital kembali mengantarkan mahasiswa Magister Biologi UGM meraih prestasi di kancah internasional. Melalui ajang 2nd International Student Summit (2nd ISS) 2026, tim KARSIVA.ID berhasil memperoleh Silver Medal sekaligus penghargaan Favorite Poster pada Subtema Agriculture dalam kompetisi esai dan poster yang diselenggarakan pada 14-15 Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tim inovator terdiri atas Nur Aini (ketua tim), Indah Ayu Lestari, Anisa Handani Uno, Brenda Febrina, dan Inez Maylida. Pada babak final, tiga mahasiswa yaitu Nur Aini, Indah Ayu Lestari, dan Anisa Handani Uno bertindak sebagai delegasi yang hadir dan mempresentasikan karya secara langsung di Malaysia. Tim KARSTIVA.ID di bawah bimbingan Ibu Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si.
Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung karya berjudul “KARSTIVA.ID: Smart Eco-Farming Innovation for Karst Soil Revitalization in Gunungkidul, Yogyakarta” . Karya ini terlebih dahulu melalui proses seleksi dan dinyatakan lolos sebagai finalis oleh tim reviewer internasional sebelum berkompetisi pada babak final.
2nd International Student Summit (2nd ISS) merupakan forum ilmiah internasional yang mempertemukan mahasiswa dari enam negara dalam rangkaian exhibition, penjurian, dan presentasi final sebelum awarding ceremony . Pada kategori yang diikuti, penilaian mencakup kualitas gagasan ilmiah dalam esai serta kemampuan visualisasi dan komunikasi ilmiah melalui poster.
KARSTIVA.ID dikembangkan sebagai respons terhadap tantangan pengelolaan lahan karst di Gunungkidul yang didominasi kawasan karst hingga 53% . Kondisi tanah dengan retensi air rendah dan kerentanan degradasi menjadi latar belakang pengembangan solusi berbasis biochar–microbial synergy yang dikombinasikan dengan praktik regenerative agriculture serta integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) .
Platform digital KARSTIVA.ID menghadirkan prototype fitur seperti Smart Soil Dashboard, AI AgroPredict, Biochar Bank, TaniBot AI, dan Srawung Tani Forum . Sistem ini dirancang untuk membantu petani dalam memantau kondisi tanah secara real-time, merencanakan irigasi dan pemupukan berbasis prediksi, serta meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sistem pertanian.
Integrasi pendekatan ekologis, teknologi, dan pemberdayaan komunitas menjadi kekuatan utama inovasi ini. Capaian Silver Medal mencerminkan kualitas substansi ilmiah karya, sementara penghargaan Poster Favorit menunjukkan keberhasilan tim dalam mengkomunikasikan solusi secara efektif kepada audiens internasional.
Melalui semangat “Turning Dryland into Smartlands” , inovasi KARSTIVA.ID diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian cerdas berbasis riset yang aplikatif untuk kawasan karst di Indonesia.
Yogyakarta, 10 Februari 2026 – Departemen Biologi Tropika, Fakultas Biologi UGM, menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Studi S3 Dosen Fakultas Biologi UGM pada Selasa (10/02) di Auditorium Biologi Tropika. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 – 12.00 WIB ini dihadiri oleh dosen serta mahasiswa pascasarjana Fakultas Biologi UGM.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Bapak Abdul Razaq Chasani, Ph.D. selaku Ketua Departemen Biologi Tropika dan dipandu oleh MC Asrindon, S.I.Kom. Kegiatan diseminasi ini bertujuan untuk berbagi pengalaman studi doktoral, pemaparan hasil disertasi dosen, serta membuka peluang kolaborasi penelitian. Topik-topik yang dipresentasikan dalam kegiatan diseminasi ini sejalan dengan komitmen fakultas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya pada aspek kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya hayati.
Diseminasi ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dipandu oleh Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. sebagai moderator, dengan narasumber Dr. Luthfi Nurhidayat, M.Sc., Dr.Eng. Atikah Fitria Muharromah, S.Si., M.Eng., dan Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si., M.Sc. Pada sesi ini, para narasumber memaparkan pengalaman studi doktoral serta hasil-hasil penelitian disertasinya yang mencakup regenerasi dan studi evolusi tokek, pemanfaatan teknologi next-generation sequencing pada vektor penyakit, serta penelitian biosorpsi merkuri oleh tumbuhan air dan mikroalga.
Sesi kedua dipandu oleh Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D. sebagai moderator, dengan menghadirkan narasumber Dr. Utaminingsih, S.Si., M.Sc., Dr. Dila Hening Windyaraini, S.Si., M.Sc., dan Dr. Laksmindra Fitria, S.Si., M.Sc. Penelitian yang disampaikan meliputi kajian anatomis, fitokimia dan molekuler tanaman ciplukan, kajian multidisiplin kasus dengue di Kabupaten Bantul, serta pemuliaan Cavia porcellus (Linnaeus, 1758) untuk mendukung penelitian di bidang dermatologi dan kedokteran estetika.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Departemen Biologi Tropika berharap dapat memperkuat budaya riset, mendorong pertukaran ide-ide ilmiah, serta membuka peluang kolaborasi penelitian antara dosen dan mahasiswa guna mendukung inovasi dan pembangunan berkelanjutan.





























