Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur – Komodo (Varanus komodoensis) merupakan kadal terbesar di dunia yang hanya hidup secara alami dan endemik di Indonesia. Satwa purba yang dilindungi ini hanya dapat ditemukan di habitat alaminya di wilayah Nusa Tenggara Timur dan menjadi salah satu ikon keanekaragaman hayati Indonesia yang memiliki nilai ekologis, ilmiah, dan konservasi yang sangat tinggi.
Dalam rangka memperkuat upaya konservasi dan pengembangan riset mengenai komodo, Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., bersama Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Biologi UGM, Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc., melakukan kunjungan ke Yayasan Komodo Survival Program (KSP) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kolaborasi penelitian komodo yang juga selaras dengan inisiasi riset internasional mengenai konservasi komodo melalui proyek Microbiome Bio-indicators of Anthropogenic Stress in Komodo Dragons (Varanus komodoensis) yang melibatkan Fakultas Biologi UGM dan Universitas Leipzig. Pertemuan lapangan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama riset serta penilaian lokasi penelitian di kawasan Taman Nasional Komodo yang dilaksanakan pada tanggal 5–11 Juli 2026.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Fakultas Biologi UGM disambut langsung oleh Ketua Yayasan Komodo Survival Program, Achmad Ariefiandy, alumnus Fakultas Biologi UGM angkatan 1998. Beliau merupakan penerima Penghargaan Alumni Muda Berprestasi Universitas Gadjah Mada Tahun 2014 atas kontribusinya dalam publikasi ilmiah internasional mengenai konservasi komodo bersama Prof. Claudio Ciofi, peneliti dari University of Florence, Italia. Kolaborasi tersebut menghasilkan berbagai publikasi ilmiah bereputasi internasional dan semakin mengukuhkan kiprahnya dalam upaya pelestarian komodo sebagai satwa endemik Indonesia di tingkat global.
Selain membahas pengembangan kerja sama penelitian biologi komodo, pertemuan tersebut juga menjadi forum untuk menginisiasi berbagai bentuk kerja sama akademik antara Fakultas Biologi UGM dengan Yayasan Komodo Survival Program. Salah satu fokus pembahasan adalah peluang studi lanjut bagi staf Yayasan KSP maupun alumni BIOGAMA yang berdomisili di Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya melalui Program Pascasarjana Fakultas Biologi UGM.
Berbagai skema pendidikan ditawarkan, mulai dari Program Magister dan Doktor jalur reguler, by Research, hingga program Double Degree. Fakultas Biologi UGM juga memperkenalkan Program Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH) sebagai salah satu program unggulan yang relevan dengan kebutuhan pengelolaan dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Ke depan, beberapa program pendidikan tersebut diharapkan dapat diselenggarakan secara daring (online) maupun melalui skema blended learning, sehingga memberikan fleksibilitas bagi para praktisi konservasi di berbagai daerah untuk melanjutkan studi.
Sebagai bagian dari pengenalan berbagai peluang studi lanjut tersebut, Fakultas Biologi UGM juga memaparkan pengalaman penyelenggaraan program Double Degree dan Joint Supervision untuk jenjang Magister maupun Doktor yang telah berjalan sejak tahun 2019 melalui berbagai kemitraan internasional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang konservasi, riset biodiversitas, serta pengelolaan satwa liar.
Melalui inisiasi kerja sama ini, Fakultas Biologi UGM dan Yayasan Komodo Survival Program berharap dapat memperkuat kolaborasi yang berkelanjutan dalam bidang penelitian, pendidikan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta pengabdian kepada masyarakat. Kemitraan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi komodo, pemberdayaan masyarakat lokal, serta mendukung upaya pelestarian kekayaan biodiversitas Indonesia secara berkelanjutan.




















































