Yogyakarta, 10 Juli 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat budaya keselamatan kerja (safety culture) melalui penyelenggaraan Pelatihan Mitigasi Bencana Kebakaran yang diikuti oleh 88 peserta pada Jumat (10/7). Kegiatan ini melibatkan dosen, tenaga kependidikan, laboran, petugas keamanan, petugas kebersihan (cleaning service). Pelatihan ini diselenggarakan oleh Fakultas Biologi bekerjasana dengan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. Dalam sambutannya, Budi Setiadi Daryono menegaskan bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab seluruh warga kampus. Oleh karena itu, setiap individu yang bekerja di lingkungan Fakultas Biologi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran.
“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Setiap dosen, tenaga kependidikan, laboran, maupun tenaga pendukung harus memahami prinsip-prinsip dasar penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Kemampuan tersebut menjadi bekal penting untuk memberikan respons awal secara cepat dan tepat apabila terjadi kebakaran sebelum petugas yang berwenang tiba di lokasi,” ujar Budi.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini memiliki nilai strategis mengingat Fakultas Biologi UGM memiliki berbagai laboratorium yang menggunakan bahan kimia dengan karakteristik risiko yang beragam, termasuk bahan yang mudah terbakar. Kesiapsiagaan seluruh sivitas akademika menjadi salah satu upaya penting dalam meminimalkan risiko kecelakaan serta melindungi keselamatan manusia, fasilitas, dan kegiatan akademik.
Untuk mengukur efektivitas pelatihan, seluruh peserta mengikuti pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Evaluasi tersebut bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta mengenai mitigasi kebakaran, prosedur tanggap darurat, serta penggunaan berbagai peralatan pemadam kebakaran.
Materi pelatihan disampaikan oleh Nunu Lutfi, S.T., M.Ec.Dev., narasumber dari Kantor K5L UGM. Dalam paparannya, Nunu menjelaskan mengenai potensi penyebab kebakaran di lingkungan kerja, klasifikasi jenis kebakaran, strategi pencegahan, prosedur evakuasi, serta prinsip penggunaan media pemadam kebakaran sesuai dengan karakteristik sumber api. Dalam paparannya, Nunu Lutfi menekankan bahwa keberhasilan penanganan kebakaran sangat ditentukan oleh kecepatan respons pada menit-menit awal kejadian. Menurutnya, pemahaman mengenai teknik pemadaman yang tepat dan kemampuan mengambil tindakan secara cepat akan sangat membantu mengurangi risiko meluasnya kebakaran serta meminimalkan kerusakan terhadap manusia, fasilitas, maupun aset institusi.
“Pengetahuan dan keterampilan dalam menangani kebakaran secara cepat, tepat, dan taktis akan sangat berpengaruh terhadap upaya meminimalkan risiko kerusakan yang lebih besar. Namun, kesiapsiagaan tidak cukup hanya melalui pelatihan. Diperlukan kontrol dan pengawasan secara berkala terhadap sarana dan prasarana keselamatan, seperti APAR, hidran, jalur evakuasi, dan sistem proteksi kebakaran lainnya. Di samping itu, pelatihan rutin bagi pegawai yang memiliki tanggung jawab dalam penanganan keadaan darurat juga perlu terus dilakukan agar kompetensi dan kesiapsiagaan tetap terjaga,” jelas Nunu.
Setelah sesi teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan di lapangan Volley yang dipandu oleh tim instruktur K5L UGM yang terdiri atas Gunawan Praptono, Suroto, Choirul Anwar, dan Siti Nurnaini. Pada sesi ini, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam menangani berbagai simulasi kebakaran, mulai dari pemadaman kebakaran pada tabung gas, teknik pemadaman menggunakan kain basah, penggunaan APAR jenis dry powder, hingga simulasi pemadaman menggunakan hidran.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Seluruh peserta, termasuk Dekan Fakultas Biologi beserta para kepala laboratorium, mengikuti praktik secara bergantian dengan pendampingan langsung dari instruktur. Keterlibatan aktif pimpinan fakultas dalam setiap sesi menjadi contoh nyata bahwa budaya keselamatan harus dibangun mulai dari tingkat manajemen hingga seluruh unsur pendukung di lingkungan kerja.
Sementara itu, Kepala Kantor Administrasi Fakultas Biologi UGM, Amin Susiatmojo, S.Pt., M.Sc., menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk meningkatkan kapasitas seluruh sumber daya manusia dalam menghadapi potensi keadaan darurat.
“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kewaspadaan seluruh personel Fakultas Biologi dalam menghadapi potensi bencana kebakaran. Kesiapsiagaan tidak dapat dibangun secara parsial, tetapi harus melibatkan seluruh unsur di lingkungan fakultas, mulai dari tenaga kependidikan, laboran, petugas keamanan, petugas kebersihan, dosen, kepala laboratorium, hingga pimpinan fakultas. Dengan keterlibatan semua pihak, diharapkan terbentuk sistem respons darurat yang cepat, terkoordinasi, dan efektif sehingga mampu meminimalkan risiko apabila terjadi keadaan darurat,” jelasnya.
Melalui pelatihan ini, Fakultas Biologi UGM berharap budaya keselamatan kerja semakin mengakar dalam setiap aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain meningkatkan kompetensi individu, kegiatan ini juga memperkuat koordinasi antarunit sehingga seluruh sivitas akademika memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai potensi kedaruratan di lingkungan kampus. Upaya ini sejalan dengan komitmen Fakultas Biologi UGM untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.
#sdgs
#SDG 3 – Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera
#SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas
#SDG 8 – Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi):
#SDG 11 – Sustainable Cities and Communities (Kota dan Komunitas Berkelanjutan):
#SDG 13 – Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim)

































































