Pengabdian kepada Masyarakat
Yogyakarta, 26 Mei 2025 – Tim MBKM-Lit Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada melaksanakan kunjungan lapangan ke Kebon Pasinaon. Tim MBKM-Lit yang dibimbing oleh Drs. Ign. Sudaryadi, M.Kes. ini diikuti oleh empat mahasiswa anggota tim, yaitu Rafli Nur Muhammad Fahrezi, Jocelyn Wisely, Fadilla Nur Hidayat, dan Ghefira Nur Fatimah. Kebun Pasinaon yang terletak di Desa Sirahan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah dikelilingi dengan banyak tanaman floral sebagai sumber pakan lebah klanceng (Trigona laeviceps).
Dalam kunjungan ini, tim MBKM-Lit berfokus dalam melakukan pengambilan sampel lebah klanceng, yang terdiri dari madu lebah, polen lebah (bee-pollen), dan propolis lebah. Sampel-sampel hasil koleksi tersebut kemudian akan dianalisis lebih lanjut di Laboratorium Balai Konservasi Borobudur, Kabupaten Magelang.
Sampel madu dikoleksi dengan mengambil kantung-kantung yang terdapat pada stup (sarang buatan) lebah klanceng. Kantung-kantung madu tersebut kemudian diperas dan disaring madunya. Madu selanjutnya dikumpulkan dalam wadah tertutup dan diberi label. Sampel polen diambil dengan cara mengumpulkan kantung-kantung polen yang terdapat pada stup untuk kemudian disimpan dalam wadah tertutup dan diberi label. Selayaknya sampel polen, sampel propolis dikoleksi dengan mengambil propolis yang terdapat di dalam stup untuk selanjutnya disimpan di dalam wadah tertutup dan diberi label.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan diskusi ringan bersama pengelola Kebun Pasinaon, yakni Bapak Niko. [Penulis: Rafli Nur Muhammad Fahrezi]
Artikel terkait:
Koordinasi Awal Tim Hibah Desa Mitra Fakultas Biologi UGM dalam Rangka Pengembangan Edu-Ekowisata dan Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Satwa, Moyudan, Sleman, DIY
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kampung Satwa dalam Rangka Mendukung Kegiatan Edu-Ekowisata
Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (2/8)—Tiga mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Aris Budi Rohman, Aulia Robiatul Adawiyah, dan Huriyah Winda Nabillah, yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), melaksanakan kegiatan penanaman pohon di bantaran Sungai Citarum bersama tim KKN SekoCihampelas. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bertajuk “Penanaman Pohon di Bantaran Sungai Citarum”, yang bertujuan mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Kegiatan penanaman ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Yayasan Bening Saguling Foundation, warga sekitar, serta mahasiswa KKN Universitas Padjadjaran. Jenis pohon yang ditanam mencakup pohon kopi (Coffea arabica L.), mahoni Uganda (Khaya anthotheca (Welw.) C.DC.), dan angsana (Pterocarpus indicus Willd.). Seluruh bibit diperoleh dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan, Provinsi Jawa Barat.
Lokasi penanaman berada di kawasan hutan komunitas yang dikelola oleh Bening Saguling Foundation. Kegiatan ini diawali dengan acara seremonial, termasuk sambutan dari dosen pembimbing lapangan tim KKN SekoCihampelas, Dr. Sudarmaji, S.Si., M.Si. dari Program Studi Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam sambutannya, Dr. Sudarmaji menyampaikan harapan bahwa penanaman pohon ini dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat upaya konservasi di wilayah Sungai Citarum.
Setelah sambutan, pemaparan teknis dilakukan oleh penanggung jawab program, Ahmad Aris Budi Rohman. Acara dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis, dokumentasi kegiatan, dan penyampaian jargon kegiatan: “Penanaman Pohon 2025: Satu Pohon, Sejuta Kehidupan”. Jargon ini dipilih untuk mengingatkan peserta akan pentingnya pohon sebagai simbol kehidupan, harapan, dan keberlanjutan. Pohon tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga menyediakan habitat bagi makhluk hidup, memperbaiki kualitas udara, serta mencegah erosi, terutama di daerah rawan seperti bantaran sungai.
Salah satu warga BSF yang turut serta dalam kegiatan, Mang Amar, menilai kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi penting dalam menjaga kehijauan lingkungan. “Penanaman pohon ini sangat baik untuk mencegah erosi dan mengembalikan kesuburan tanah. Kita semua punya tanggung jawab menjaga alam, dan kegiatan ini adalah salah satu jalannya,” tuturnya.
Usai acara seremonial, seluruh peserta diarahkan memasuki kawasan hutan komunitas untuk menanam pohon secara langsung. Setiap peserta menanam minimal satu pohon sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan. Penanaman ini diharapkan dapat membantu mencegah erosi, terutama saat musim hujan, mengingat lokasi yang berdekatan dengan aliran Sungai Citarum. [Ahmad Aris Budi Rohman]
Pada tanggal 26 Juli 2025, bertempat di Pendopo Griya Syabin Jamblangan Purwobinangun Pakem, Sleman, telah terselenggara acara pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengoptimalkan aneka olahan kue berbasis salak. Inisiatif ini merupakan bagian dari program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), yang mendorong mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang berkontribusi pada pembangunan lokal. Acara ini dipimpin oleh Dr. Dra. Raden Roro Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, DAP&E, B.Sc., M.Biomed, ketua hibah MBKM dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Acara ini dihadiri oleh 25 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Surya Merapi, yang berkumpul untuk belajar tentang pengolahan salak menjadi berbagai produk kue. Dr. Upiek memberikan pengarahan yang bermanfaat tentang cara meningkatkan nilai ekonomi salak dengan mengubahnya menjadi produk yang inovatif dan dapat dipasarkan. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan sumber daya ekonomi dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat lokal.
Selama sesi tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai resep dan teknik untuk membuat kue lezat menggunakan salak. Tujuannya adalah untuk mendiversifikasi penggunaan buah lokal ini dan memberdayakan perempuan di komunitas dengan memberikan keterampilan yang dapat meningkatkan pendapatan. Dengan mengoptimalkan penggunaan salak, para wanita didorong untuk menjelajahi peluang bisnis baru yang dapat meningkatkan status ekonomi mereka.
Dr. Upiek menekankan pentingnya kolaborasi dan keterlibatan komunitas dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ia menyoroti bahwa dengan bekerja sama, para wanita dapat menciptakan merek untuk produk mereka, yang akan membantu mempromosikan kreasi mereka di luar pasar lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas produk mereka dan menarik lebih banyak pelanggan, yang pada akhirnya akan meningkatkan penjualan dan pendapatan.
Acara ini juga mencakup tips praktis di mana peserta dapat mempraktikkan pembuatan kue salak di bawah pengawasan Dr. Upiek dan timnya. Pengalaman praktis ini sangat penting dalam membangun kepercayaan diri para wanita dalam keterampilan kuliner mereka. Antusiasme di ruangan tersebut sangat terasa saat peserta berbagi ide dan pengalaman, mendorong rasa kebersamaan dan kolaborasi.
Selain keterampilan kuliner, acara ini juga fokus pada strategi pemasaran. Peserta diberikan edukasi tentang cara mempromosikan produk mereka secara efektif melalui media sosial dan pasar lokal. Pengetahuan ini sangat penting di era digital saat ini, di mana kehadiran online dapat berdampak signifikan pada penjualan dan jangkauan pelanggan. Para wanita didorong untuk memanfaatkan alat ini untuk meningkatkan prospek bisnis mereka.
Inisiatif ini diharapkan memiliki dampak jangka panjang pada komunitas, karena tidak hanya memberikan keterampilan langsung tetapi juga menanamkan rasa kewirausahaan di antara peserta. Dengan memberdayakan perempuan untuk mengelola sumber daya ekonomi mereka, program ini bertujuan untuk menciptakan efek riak yang menguntungkan seluruh komunitas. Peningkatan pendapatan bagi para wanita ini dapat meningkatkan standar hidup dan investasi yang lebih besar dalam pendidikan dan kesehatan bagi keluarga mereka.
Saat acara berakhir, para peserta mengungkapkan rasa terima kasih mereka atas kesempatan untuk belajar dan berkembang. Banyak yang menyatakan kegembiraan mereka untuk memulai usaha kecil mereka sendiri berdasarkan keterampilan yang mereka peroleh. Kolaborasi antara UGM dan Kelompok Wanita Tani Jamblangan adalah bukti kekuatan pengabdian masyarakat dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi.
Sebagai kesimpulan, optimalisasi produk kue berbasis salak merupakan langkah signifikan menuju peningkatan sumber daya ekonomi dan pendapatan masyarakat Jamblangan. Melalui inisiatif seperti ini, program MBKM terus memainkan peran penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan memberdayakan komunitas lokal
Pada Minggu, 20 Juli 2025 telah dilangsungkan pertemuan dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari Kelurahan Caturtunggal tentang “manfaat Taman Obat Keluarga dan Taman Sayur”. Materi yang disampaikan oleh Dr. Djoko Santosa, M.Si dan Dr.Dra. Rr. Upiek Ngesti W. Astuti, M.Biomed telah memberikan pemahaman baru dan motivasi bagi ibu-ibu anggota KWT untuk lebih produktif dan inovatif terhadap hasil-hasil lahan dan pekarangannya. Pada kesempatan tersebut juga dihadiri oleh bapak Dukuh, Bapak Punjul Santosa, yang turut mendukung kegiatan yang berlangsung, dan berharap bahwa kegiatannya merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Pada pertemuan tersebut, pertanyaan dan diskusi berjalan sangat antusias dan memunculkan ide-ide untuk melaksanakan kegiatan lain yang mendukung dan berdampak untuk ketahanan pangan dan akan meningkatkan ekonomi keluarga. Kegiatan pertemuan diakhiri dengan foro Bersama. Kegiatan ini mendukung komitmen global dan nasional dalam upaya untuk mensejahterakan Masyarakat melalui SDGs: (3) Kehidupan sehat dan sejahtera; (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (11) Kota dan Permukiman yang berkelanjutan, (12) Konsumsi dan Produksi yang bertanggungjawab; dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi UGM kembali digelar pada Jumat, 18 Juli 2025, di Balai Dusun Belimbing Sari, Desa Caturtunggal, Depok, Sleman. Kegiatan yang bertajuk “Pengendalian Vektor Nyamuk Melalui Pendekatan Biologi dan Pemanfaatan Minyak Atsiri” ini menghadirkan 35 ibu‑ibu anggota PKK setempat yang antusias mengikuti rangkaian sesi materi dan praktik interaktif.
Tim Dosen Desa Mitra Caturtunggal terdiri dari Dr. Dra. Rr. Upiek Ngesti W.A., B.Sc., DAP&E, M.Biomed (Laboratorium Sistematika Hewan), Woro Anindito Sri Tunjung, S.Si., M.Sc., Ph.D (Laboratorium Biokimia), Nur Indah Septiani, S.Si., M.Sc., Ph.D (Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan), dan Sari Darmasiwi, S.Si., M.Biotech., Ph.D (Laboratorium Mikrobiologi).
Dr. Dra. Rr. Upiek Ngesti W.A., B.Sc., DAP&E, M.Biomed memaparkan jenis‑jenis nyamuk dan penyakit vektor yang berbahaya—seperti demam berdarah dan malaria—serta habitat dan daur hidupnya. Beliau menjelaskan strategi pengendalian biologis menggunakan ikan dan predator, langkah fisik melalui 3M (menguras, menutup, mengubur), dan metode kimiawi fogging sebagai upaya preventif. Penyajian materi yang komprehensif ini memberikan gambaran jelas kepada para peserta tentang pentingnya sinergi berbagai metode pengendalian.
Dilanjutkan oleh Woro Anindito Sri Tunjung, S.Si., M.Sc., Ph.D., sesi kedua mengupas tuntas pemanfaatan minyak atsiri untuk mengusir nyamuk. Dalam gaya penyampaian yang ringan namun informatif, Dr. Woro menjelaskan definisi minyak atsiri, beragam sumber tanaman penghasil seperti sereh, jeruk purut, daun kemangi dan lain-lain, serta dua pendekatan praktis: menanam tanaman pengusir di pekarangan rumah dan membuat pengharum ruangan alami. Para peserta terlihat antusias menyimak langkah‑langkah destilasi sederhana hingga aplikasi langsung di rumah.
Puncak acara berupa praktik pembuatan kantong pengharum ruangan dari campuran bahan kering berupa buah dan batang cengkeh, bunga lawang, serta serai yang dikemas dalam kantong goni. Kantong aromatik ini mudah dipraktikkan, ekonomis, dan hasilnya cantik sekaligus fungsional untuk mengusir nyamuk. Diskusi ringan antarpeserta menambah keakraban, sekaligus bertukar tips agar aroma bertahan lebih lama.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yaitu SDG 3: Good Health and Well‑being, SDG 11: Sustainable Cities and Communities, dan SDG 17: Partnerships for the Goals. Diharapkan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh akan mendorong upaya pengendalian nyamuk secara berkelanjutan di Dusun Belimbing Sari dan memperkuat kesehatan lingkungan masyarakat.






















































