
Klaten, 11 Juli 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melaksanakan kegiatan koordinasi bersama Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kebun Buah Tlatar (KABUT) Kebonalas dalam rangka pelaksanaan program “Budidaya Lebah Madu untuk Peningkatan Produktivitas Buah dan Pengembangan Agrowisata di Desa Wisata KABUT Kebonalas Menuju Masyarakat Hidup Sehat dan Sejahtera”. Program ini merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3 (Good Health and Well-being) serta berkontribusi pada SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan jasa penyerbukan dan konservasi keanekaragaman hayati.
Kegiatan koordinasi dilaksanakan pada 11 Juli 2026 di kawasan Objek Wisata Kebun Buah Tlatar (KABUT) Kebonalas, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten.
Program pengabdian ini diketuai oleh tim dosen Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas: Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D., Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Sc., dan Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D, serta Umi Mahnuna Hanung, S.Si., M.Sc. Dalam kegiatan koordinasi tersebut, tim pengabdian berdiskusi bersama mitra mengenai penyusunan rencana pelaksanaan program budidaya lebah madu dan lebah tanpa sengat (klanceng), penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan kawasan agrowisata berbasis edukasi, peningkatan produktivitas tanaman buah melalui optimalisasi jasa penyerbukan, serta pelatihan digital marketing untuk mendukung pemasaran produk hasil budidaya.
Turut hadir dalam kegiatan koordinasi tersebut para mitra dari Pemerintah Desa dan POKDARWIS Kebonalas, yaitu: Bapak Supriyanto, S.Pd., Kepala Desa Kebonalas; Bapak Drs. Suwadi, Ketua Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) KABUT Kebonalas; dan Bapak Sunardi, perwakilan Pemerintah Desa Kebonalas. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada Unit Kebonalas dan Unit Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat memperkuat pendampingan masyarakat dalam implementasi teknologi budidaya lebah madu serta pengembangan paket wisata edukasi berbasis konservasi.
Lebah sebagai Pendukung Produktivitas dan Agrowisata
Dalam koordinasi tersebut disampaikan bahwa keberadaan lebah madu (Apis cerana) serta lebah tanpa sengat atau klanceng memiliki peranan penting sebagai serangga penyerbuk yang mampu meningkatkan keberhasilan pembentukan buah, kualitas hasil panen, serta menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.
Selain menghasilkan madu, propolis, bee pollen, dan produk turunannya, budidaya lebah juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik agrowisata edukatif, sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan wisata Kebun Buah Tlatar.
Ketua tim pengabdian, Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan budidaya lebah tidak hanya berorientasi pada produksi madu, tetapi juga pada peningkatan layanan ekosistem melalui proses penyerbukan tanaman buah.
“Lebah merupakan komponen penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Dengan meningkatkan populasi lebah penyerbuk di kawasan Kebun Buah Tlatar, diharapkan produktivitas buah meningkat sekaligus membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis konservasi dan pertanian berkelanjutan.”
Lebah madu dan klanceng membutuhkan nektar dan polen sebagai pakan alaminya, oleh karena itu perlu adanya pelatihan penyusunan kalendar pembungaan tanaman pakan alami lebah madu dan klanceng sehingga setiap hari selalu tersedia tanaman pakan yang berbunga. Selain itu, tanaman pakan yang ada diharapkan mempunyai nilai ganda sebagai tanaman penghasil buah-buahan atau manfaat lainnya bagi kehidupan keseharian manusia.
Pelatihan dan Demonstrasi Lapang
Sebagai tindak lanjut hasil koordinasi, tim pengabdian bersama mitra telah menyepakati pelaksanaan kegiatan lanjutan berupa: pada tanggal 25 Juli 2026 akan dilaksanakan Pelatihan dan Demonstrasi Budidaya Lebah Madu (Apis spp.) dan pada tanggal 1 Agustus 2026 akan dilaksanakan Pelatihan dan Demonstrasi Budidaya Lebah Klanceng (Tetragonula spp.). Adapun materi pelatihan akan meliputi: pengenalan jenis-jenis lebah madu dan lebah klanceng, teknik pembuatan dan penempatan stup, manajemen koloni, pemeliharaan dan kesehatan koloni, teknik panen madu, pemanfaatan propolis dan produk lebah lainnya, peran lebah dalam meningkatkan produktivitas tanaman buah, penyusunan kalendar pembungaan, budidaya tanaman buah-buahan sebagai sumber pakan alami lebah madu dan klanceng, pelatihan digital marketing hasil produksi madu, dan pengembangan paket wisata edukasi budidaya lebah.
Mendukung SDGs 3 dan SDGs 13
Program ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, antara lain:
SDG 3 – Good Health and Well-being
- meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan sehat melalui peningkatan produksi buah;
- menghasilkan madu sebagai pangan fungsional bernilai gizi tinggi;
- mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui usaha budidaya lebah.
SGD 4 – Quality Education
- Pendidikan Keterampilan Kerja: Pelatihan memberikan transfer pengetahuan teknis, mulai dari pemeliharaan sarang (stup), pemanenan higienis berbasis SOP, hingga pengolahan produk bernilai tambah seperti madu, lilin, dan propolis.
- Pembelajaran Berkelanjutan (Lifelong Learning): Program ini menyasar masyarakat umum, kelompok tani, atau komunitas lokal agar mereka dapat mandiri secara ekonomi dan terus belajar beradaptasi dengan inovasi pertanian.
- Edukasi Lingkungan dan Ekosistem: Selain aspek ekonomi, pelatihan menanamkan pemahaman ekologis tentang pentingnya lebah sebagai penyerbuk alami (pollinator) yang menjaga kelestarian alam dan ketahanan pangan.
SDG 13 – Climate Action
- meningkatkan konservasi serangga penyerbuk sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan ekosistem;
- mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim melalui peningkatan keanekaragaman hayati;
- memperkuat praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan;
- meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian habitat lebah.
SGD 15 – Life on Land
- Konservasi Penyerbuk Utama: Lebah memainkan peran krusial dalam menjaga keanekaragaman hayati dengan menyerbuki berbagai tanaman liar.
- Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK): Budidaya seperti lebah Apis cerana atau lebah klanceng memungkinkan pemanfaatan hutan tanpa merusak ekosistem.
- Restorasi Habitat: Budidaya yang berkelanjutan membutuhkan penyediaan pakan berupa bunga (misalnya air mata pengantin atau bunga matahari) yang secara tidak langsung mendukung reboisasi dan perbaikan lingkungan.
Komitmen Kolaborasi
Melalui sinergi antara Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Pemerintah Desa Kebonalas, POKDARWIS KABUT Kebonalas, serta mahasiswa KKN-PPM UGM, diharapkan Desa Wisata KABUT Kebonalas dapat berkembang sebagai kawasan agrowisata berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman buah, memperkuat ekonomi lokal melalui usaha budidaya lebah dan produk turunannya, serta menjadi contoh penerapan pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi di Kabupaten Klaten.
