Tegalrejo, 11 Desember 2025,
SDG 3 : Kehidupan Sehat dan Sejahtera Pembanguan Berkelanjutan
Pada Sabtu, 6 Desember 2025 bertempat di Balai Padukuhan Karanggayam Kelurahan Caturtunggal telah dilaksanakan kegiatan edukasi “manfaat dan cara pengolahan tanaman obat keluarga” yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang TOGA dan berbagai manfaat bagi Kesehatan keluarga, dan kedepan dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Kegiatan edukasi ini dihadiri oleh Ketua Pelaksana Penggerak PKK Kelurahan Caturtunggal, ibu Siti Juwariyah, Bapak Dukuh Karanggayam Wiraka Damastiarno dan Ketua PKK ibu Wiwik Dwi Karyawatiningsih, beserta 25 anggota PKK Padukuhan Karanggayam. Pada kesempatan tersebut, narasumber Dr.Dra.Rr. Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, B.Sc., DAP&E, M.Biomed menyampaikan berbagai macam tanaman yang bermanfaat sebagai obat bagi keluarga, yanag dapat ditanam di sekitar rumah bahkan diteras. Hal ini mengingat kondisi fisik rumah di area permukiman di Karanggayam sangat padat dengan jalan yang sempit. Selain edukasi, pada kegiatan tersebut juga disampaikan bibit tanaman TOGA sekaligus meramu 7 bahan kering tanaman TOGA sebagai pengusir serangga. Selanjutnya, kegiatan ini ditutup dengan foto Bersama. Kegiatan ini mendukung komitmen global dan nasional dalam upaya untuk mensejahterakan Masyarakat melalui SDGs: (3) Kehidupan sehat dan sejahtera; (11) Kota dan Permukiman yang berkelanjutan, dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Mahasiswa Fakultas Biologi UGM berhasil meraih penghargaan nasional berupa Juara 3 pada lomba Esai Nasional Chemical Industry Technology Biggest National Competition (CARBON) tanggal 26 November 2025. CARBON 2025 merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Teknologi Industri Kimia Universitas Padjadjaran setiap satu tahun sekali. Kegiatan CARBON dilaksanakan secara offline pada jenjang siswa dan mahasiswa yang terdiri dari lomba esai, case competition, dan poster. Perlombaan ini mengusung tema “Bio-circular Innovation for a Sustainable Future Creating Impact through Science, Technology, and Youth Collaboration”.

Mahasiswa S1 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Angkatan 2022, yaitu Winda Lutfiana Hafidz, Intan Nur Aprilia, dan Salsabila Arwa Maharani berhasil meraih prestasi berupa Juara 3 pada Lomba Esai yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran Tingkat Nasional 2025 di bawah bimbingan Bapak Arief Muammar, S.Si., M.Sc. Karya esai ini diajukan dengan subtema “Affordable Healthcare & Bio-Diagnostics” yang berjudul “Rekayasa Escherichia coli Rekombinan Berbasis merR-luxCDABE dan Metallothionein Sebagai Biosensor Bioluminesen dan Agen Bioremoval Merkuri (Hg) pada Perairan Tercemar”.
Adanya peningkatan pencemaran merkuri akibat aktivitas pertambangan emas di Indonesia, terutama pada wilayah dengan limbah tailing yang mengandung merkuri (Hg) hingga melebihi baku mutu lingkungan, mendasari pembuatan karya esai ini. Inovasi deteksi pencemaran merkuri berbasis biosensor mikroba rekombinan menawarkan solusi berkelanjutan dalam memantau dan mengurangi dampak toksisitas merkuri di area pertambangan emas. Dengan memanfaatkan Escherichia coli yang direkayasa membawa gen merR sebagai sensor, luxCDABE sebagai penghasil sinyal bioluminesen, dan Metallothionein sebagai agen pengikat ion Hg²⁺, teknologi ini mampu memberikan deteksi real-time sekaligus menurunkan kadar logam berat secara langsung. Inovasi yang ditawarkan tidak hanya menghadirkan metode pemantauan lingkungan yang ramah lingkungan dan berbiaya rendah, tetapi juga memiliki nilai aplikatif tinggi karena mampu menggantikan teknik konvensional yang mahal dan tidak praktis di lapangan. Diharapkan penggunaan biosensor rekombinan ini menjadi strategi berkelanjutan yang tidak hanya berkontribusi pada pengendalian pencemaran merkuri, tetapi juga mendukung perlindungan kesehatan masyarakat dan kelestarian ekosistem di sekitar area tambang emas. Dengan menerapkan teknologi biosensor ini, perairan dan lingkungan bekas aktivitas pertambangan dapat dipantau secara efektif sehingga risiko paparan merkuri bagi masyarakat dapat ditekan. Lingkungan yang pulih dan aman dari kontaminasi merkuri akan mendukung keberlanjutan ekosistem, meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab di masa depan. [Penulis: Winda Lutfiana Hafidz]
[Penulis: Aulia Faza Dyasti]




















































