Yogyakarta, 23 November 2025 Festival Anggrek Vanda tricolor (FAVt) merupakan sebuah agenda tahunan yang digagas untuk merayakan kekayaan hayati lereng Merapi sekaligus memperkuat upaya konservasi anggrek endemik Indonesia. Festival yang berlangsung pada tanggal 18–23 November 2025 di Pendopo dan Alun-Alun Ambarukmo ini adalah Festival Anggrek Vanda tricolor #8. Kegiatan ini diinisiasi oleh Ibu Hj, Sri Suprih Lestari dan Yayasan Pelestarian Anggrek Merapi (YPAM). Pada penyelenggaraan tahun ini dipimpin oleh Ketua Panitia Ibu Endah Sri Widiastuti. Kegiatan ini juga terlaksana berkat dukungan kolaboratif dari berbagai lembaga, yaitu Dinas Koperasi dan UKM DIY, Pecinta Anggrek Indonesia (PAI), dan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, yang menunjukkan sinergi kuat antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas konservasi.

Dengan mengusung tema “Pesona Anggrek Vanda tricolor Warisan Hutan Merapi”, festival tahun ini berperan bukan sekadar sebagai ajang pameran anggrek, tetapi juga wadah edukasi publik dan advokasi konservasi. Kegiatan ini menjadi medium yang sangat relevan untuk memperkenalkan pentingnya pelestarian Vanda tricolor var. suavis, sebuah spesies anggrek yang habitat alaminya di kawasan Merapi terus menghadapi tekanan ekologis. Melalui pameran, dialog ilmiah, serta interaksi dengan komunitas budidaya, masyarakat mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai nilai ekologis dan urgensi perlindungan anggrek endemik.
Selama enam hari penyelenggaraan, festival menampilkan rangkaian agenda edukatif, termasuk workshop aklimatisasi anggrek, mindfulness on orchid, lukisan botani anggrek, hingga sesi talkshow tentang Anggrekpreneur, anggrek dan ekonomi kreatif, danpotensi anggrek dalam mendukung pariwisata DIY. Program-program tersebut memperluas literasi publik mengenai budidaya anggrek dan peluangnya yang besar sekaligus mempertemukan para peminat anggrek dengan ahli di bidangnya. Selain itu, terdapat klinik anggrek yang difasilitasi oleh YPAM dan PAI setiap hari, memberikan layanan konsultasi langsung bagi pengunjung terkait perawatan anggrek, teknik kultur, dan troubleshooting budidaya. Kehadiran klinik ini mempertegas orientasi festival pada transfer pengetahuan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Kompetisi anggrek yang menjadi inti festival berlangsung dengan empat kategori utama: kontes anggrek V. tricolor memperebutkan Piala Gubernur DIY, kontes anggrek spesies dengan piala dari PAI DPP Jakarta, kontes Best of Show memperebutkan Piala Rektor UGM, serta kontes anggrek hibrida dengan piala PAI DPD DIY. Penjurian dilakukan oleh juri kompeten dari berbagai kota seperti Jakarta, Tangerang, Malang, Salatiga, Semarang, dan Bandung, yang memastikan objektivitas sekaligus menaikkan kelas festival ini sebagai ajang kompetisi bertaraf nasional. Dalam kesempatan ini pemenang kategori Best of Show, Firmansyah Jauhari mendapatkan Piala Rektor UGM yang diberikan oleh Dr. Slamet Widianto, M.Sc (Wakil Dekan Bisang KASDM Fakultas Biologi UGM.
Selain rangkaian pameran dan kompetisi, FAVt ke-8 juga menghadirkan dua agenda edukasi yang melibatkan sivitas akademika Fakultas Biologi UGM. Pada sesi talkshow bertema “Anggrek: Potensi Pariwisata di DIY”, Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. menekankan pentingnya konservasi V. tricolor sebagai flora identitas Merapi serta peluang pengembangan wisata edukasi berbasis anggrek melalui teknologi kultur jaringan dan pemberdayaan masyarakat, bersama narasumber dari Dinas Pariwisata DIY dan ASITA yang menyoroti potensi jalur wisata tematik dan penguatan kampung wisata. Selanjutnya, melalui agenda Bedah Buku & Dialog Anggrek bertajuk “Merawat Anggrek dengan Hati dan Logika”, menghadirkan Sri Suprih Lestari dan Gunawan, S.P. sebagai narasumber sekaligus penulis buku yang turut berbagi pengalaman dalam praktik budidaya anggrek. Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. hadir sebagai pembedah sekaligus moderator, memberikan perspektif ilmiah yang melengkapi pengalaman para narasumber, sehingga diskusi berlangsung interaktif dan memberikan ruang tanya jawab mendalam mengenai teknik perawatan serta berbagai persoalan budidaya yang kerap dihadapi masyarakat. Kehadiran dua agenda ini memperkuat posisi FAVt ke-8 sebagai wadah berbagi pengetahuan antara akademisi, praktisi, dan komunitas anggrek, sekaligus memperkaya literasi publik mengenai konservasi dan pemanfaatan anggrek di DIY.
Pada gelaran tahun ini, Fakultas Biologi UGM turut menghadirkan satu tenant yang menampilkan berbagai produk inovasi, edukasi, serta hasil hilirisasi riset civitas akademika. Tenant Fakultas Biologi memperkenalkan tiga lini utama produk, yaitu Biofloragama, pupuk percepatan pembungaan berbasis hormon unggul yang telah terbukti efektif pada berbagai jenis anggrek; Pupuk Organik Cair (POC) “Dr. S”, formulasi organik terstandardisasi hasil pengembangan peneliti Fakultas Biologi untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara ramah lingkungan; serta Bioscorp, lini merchandise edukatif berupa enamel pin, gantungan kunci, dan totebag yang dirancang oleh mahasiswa BiOSC sebagai media literasi publik. Selain itu, tenant Fakultas Biologi juga menyediakan anggrek botolan hasil kultur jaringan sebagai wujud penerapan bioteknologi tanaman dalam skala praktis dan edukatif bagi masyarakat.
Fakultas Biologi UGM mengapresiasi seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan FAVt ke-8. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kerja sama antara penyelenggara, komunitas, akademisi, dan masyarakat dapat memberi manfaat nyata bagi upaya pelestarian anggrek dan peningkatan pengetahuan publik. Kami berharap semangat kolaboratif ini dapat terus berlanjut sehingga kegiatan serupa dapat semakin memperkuat kesadaran dan kepedulian terhadap kekayaan hayati Merapi dan Indonesia.
(Penulis : Elke Gildantia dan Pauline Destinugrainy Kasi)
