
Dua mahasiswa Program Magister Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah, berhasil meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional yang diselenggarakan secara daring oleh BEM FKIP Universitas Wiraraja dalam ajang Education Day Competition (EDC) pada Desemebr 2025. Kompetisi ini mengangkat subtema “Pendidikan Karakter dan Literasi Sosial di Era Digital” dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini menunjukkan peran mahasiswa Magister Biologi UGM dalam menyusun gagasan ilmiah yang relevan dengan isu pendidikan dan kesehatan masyarakat. Keberhasilan Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah juga sejalan dengan upaya UGM dalam mendorong penelitian aplikatif yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab permasalahan kesehatan, khususnya di wilayah dengan risiko penyakit yang masih tinggi. “Kami mengangkat topik ini karena malaria masih menjadi salah satu tantangan penyakit menular di Indonesia bagian timur, khususnya di Papua Barat, dan kami melihat pendidikan di sekolah sebagai langkah penting untuk membangun pencegahan sejak dini,” ujar Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah.
Karya ilmiah yang mengantarkan prestasi tersebut berjudul “Best Practice: Inovasi Implementasi Mulok Malaria untuk Penguatan Karakter Siswa Era Digital di Papua Barat”. Tulisan ini mengangkat permasalahan tingginya kasus malaria di kalangan pelajar Papua Barat, salah satu wilayah yang menyumbang sebagian besar beban malaria nasional, serta menekankan pentingnya muatan lokal (mulok) malaria sebagai pembelajaran kontekstual untuk membentuk karakter pencegahan penyakit sekaligus meningkatkan literasi sosial dan digital siswa. Melalui pendekatan Social and Behavior Change Communication (SBCC), Mardian Isnawati dan Mifta Mardiah mendokumentasikan praktik terbaik implementasi mulok malaria berbasis pembelajaran digital, kolaboratif, dan kontekstual di sekolah dasar daerah endemis tinggi. Inovasi seperti Detektif Jentik Cilik, Malaria Melody Project, dan Malaria Digital Challenge menunjukkan bahwa integrasi pendidikan, teknologi, dan kesehatan mampu menjadikan siswa sebagai agen perubahan dalam mendukung target eliminasi malaria Indonesia tahun 2030. [Penulis: Mardian Isnawati]
