Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki biodiversitas yang tinggi, termasuk tanaman labu atau waluh dari familia Cucurbitaceae yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan pangan. Pengembangan tanaman pangan di Indonesia bertujuan untuk mengatasi masalah krisis pangan yang telah berlangsung lama sebagai dampak akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Salah satu jenis labu yang mulai diminati dan digemari oleh masyarakat adalah Cucurbita moschata ‘Butternut’. Nama awamnya bisa sebut saja labu susu. Buah yang dikenal di luar negeri dengan nama butternut pumpkin ini sedang naik daun. Selain bentuknya unik mirip buah pir (gitar), daging buah yang berwarna oranye itu memiliki rasa manis dengan tekstur lembut. Tak hanya enak, labu susu ini juga baik untuk kesehatan karena mengandung nutrisi yang tinggi seperti serat, vitamin, antioksidan, dan beta karoten. Labu susu ini juga baik digunakan sebagai makanan pendamping ASI untuk bayi, produk olahan seperti kue atau pudding dan dapat dijadikan obat herbal antidiabetes.
Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, dua dosen dari Fakultas Biologi UGM memberikan penyuluhan sekaligus berbagi inspirasi tentang budidaya labu susu pada Kelompok Tani Dusun Kebondalem, Desa Madurejo. Kedua dosen Fakultas Biologi tersebut yaitu Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. yang juga selaku Dekan Fakultas Biologi dan Dr. Purnomo M. S. (dosen Sistematika Tumbuhan). Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan budidaya labu susu yang dilakukan pada hari Sabtu, 26 Mei 2018 di Desa Madurejo ini merupakan salah satu upaya untuk memecahkan permasalahan pangan dan suatu terobosan baru untuk menghasilkan komoditas pertanian dan produk olahan hasil panen yang bisa dijadikan sebagai ikon unggulan desa.
Dalam kesempatan ini pula, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. sebagai ketua Tim Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat berbasis Penerapaan Teknologi Tepat Guna memaparkan hasil kerjanya di Kecamatan Prambanan, pentingnya “One Village One Product” sekaligus hasil risetnya tentang pemuliaan tanaman labu susu ini menggunakan teknologi kastrasi polinasi. Menurut Dr. Budi, labu susu ini sangat cocok ditanam di Madurejo. Pangsa pasarnya juga tidak kesulitan.
“Konsumen rata-rata kalangan menengah atas. Harga jualnya tinggi sampai Rp. 70.000, 00 per kilo nya, dalam satu tanaman bisa menghasilkan 3-4 kg. Budidaya labu ini juga sangat menarik untuk dijadikan daya tarik agrowisata. Namun, perlu teknik khusus dalam budidaya nya. Kalau tidak, ya buah yang dihasilkan bermacam-macam ada yang ular, leher angsa, paprika. Nah.. kalau bentuk nya gitu ya tidak bisa masuk pasar seperti Carrefour soalnya seleksi disana ketat jadi harus bentuk gitar semua” kata Dr. Budi.

Dr. Purnomo, M.S. memaparkan tentang jenis dan karakteristik labu secara morfologi “Labu atau waluh itu banyak bentuk dan jenisnya. Ada yang bulat, lonjong, seperti buah pir, dan pipih. Untuk jenis nya bisa dilihat ada Cucurbita maxima, Cucurbita pepo, dan Cucurbita moschata. Nah, untuk labu susu ini sendiri masuk Cucurbita moscahata. Bentuknya unik ya seperti buah pir” ujarnya.
Sosialisasi yang dihadiri kurang lebih 25 orang petani ini cukup berhasil membuat para petani antusias untuk melakukan budidaya labu susu. Dari sosialisasi ini diketahui bahwa petani masih banyak yang belum mengenal tentang labu susu, khasiat, ataupun cara budidaya nya. Selain itu, mereka berharap dapat menanam dan mengolah produk labu susu hasil penelitian Fakultas Biologi UGM ini.
Salah satu anggota kelompok tani Dusun Kebondalem, Romli Jihan, sangat antusias untuk mengembangkan budidaya labu susu ini “Kami sangat tertarik dengan kegiatan ini, semoga dengan adanya bimbingan dari pihak Fakultas Biologi UGM ini kami bisa dapat ilmunya untuk menanam dan selanjutnya bisa tanam sendiri untuk tambah-tambah penghasilan. Bentuk labu nya juga unik, tahan lama pula jadi gak perlu khawatir busuk” pungkasnya.


Acara diakhiri dengan pesan beliau kepada mahasiswa untuk tidak menjadi malas dan berfokus terhadap apa yang dicita-citakan. Beliau menyampaikan ada dua hal yang harus dimiliki oleh seseorang yaitu tekun dan jujur. Dimanapun kita berada, selagi kita menjadi sosok yang tekun dan jujur, akan membawa kita menjadi orang yang dapat dipercaya, ungkapnya.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gama Band mengadakan kegiatan “MM GM: Musik Musikan Gadjah Mada” yang bertempat di gedung Pusat Kebudaayan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), pada Rabu lalu (9/5). Tidak hanya menyajikan penampilan musik dari Gama Band sendiri, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari berbagai band, antara lain adalah The Dean 1621, yakni band yang beranggotakan para Dekan dan Rektor UGM, salah satunya adalah Dekan dari Fakultas Biologi UGM, yaitu Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Agr. Sc.
Setelah ditempa pengalaman selama 15 tahun bekerja menjadi seorang pustakawan di Fakultas Biologi UGM, akhirnya pada hari Jumat, 11 Mei 2018 dalam acara “Beyond the bubbles: pustakawan dan perpustakaan yang lebih” dan pengumuman pustakawan berprestasi UGM tahun 2018. Rusna Nur Aini terpilih menjadi salah satu peserta pemilihan pustakawan berprestasi Universitas Gadjah Mada yang masuk sebagai finalis dari sekian peserta yang mengikuti ajang pemilihan tersebut. Rusna berhasil menyabet juara terbaik ke 1 dari 13 finalis yang mengikutinya.

