Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Biologi UGM dengan mitra Kampung Satwa mengawali kegiatan tahun anggaran 2026 dengan melakukan kunjungan perdana dalam rangka sosialisasi program kerja tahunan di Kampung Satwa yang berlokasi di Dusun Kedung Banteng, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 55563, pada Hari Sabtu, tanggal 23 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mewujudkan program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Pemberdayaan KWT Kampung Satwa melalui Inisiasi Kampung Herbal dalam rangka Mewujudkan Kesetaraan Gender (SDG 5) dan Inovasi Industri Rumah Tangga Kreatif (SDG 9)”. Program ini dirancang untuk memberdayakan perempuan melalui pengembangan budidaya tanaman herbal berbasis rumah tangga/keluarga. Gagasan utama program diwujudkan melalui slogan “Satu Rumah, Satu Herbal” yang mendorong setiap keluarga untuk mulai membudidayakan tanaman herbal secara mandiri, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun sebagai potensi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Acara diawali dengan sambutan oleh Ketua Tim yakni Prof. Dr. Ratna Susandarini, M.Sc. dilanjutkan dengan perkenalan anggota tim yang terdiri dari Drs. Heri Sujadmiko, M.Si., Abdul Razaq Chasani, S.Si., M.Si., Ph.D., Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc., dan Dr. Laksmindra Fitria, S.Si., M.Si. Selain dari unsur dosen, dalam tim juga terdapat unsur mahasiswa dari program studi Sarjana, Magister, Profesi, dan Doktoral, yakni: Faizatun Nisa Fil Khoiri, Shela Nur Alifah, Naufal Rafif Zain, S.Si., Ani Saputri, S.Si., Inez Maylida, S.Si., Bima Kurniawan, S.Si., Bio.Cur., M.Sc., dan Ahmad Saddam Husein, S.Si., M.Sc. “Program ini kami rancang tidak hanya berfokus pada pemanfaatan lahan dan budidaya tanaman herbal saja, tetapi juga mengedepankan konsep biocircular yang ramah lingkungan melalui pemanfaatan limbah pasca panen sebagai pakan ternak dan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik. Melalui sistem ini, kita dapat mengurangi limbah sekaligus menciptakan pertanian berkelanjutan. Melalui gerakan budidaya tanaman obat keluarga (TOGA), warga didorong untuk menanam tanaman obat (herbal) di pekarangan rumah masing-masing sehingga dapat dimanfaatkan secara mandiri untuk kebutuhan kesehatan keluarga sehari-hari. Selain itu kami akan merancang sesi pelatihan untuk pengembangan keterampilan mengolah tanaman herbal menjadi produk kreatif rumah tangga yang memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi produk khas Kampung Satwa,” demikian penjelasan Prof. Ratna.
Bapak Razaq selaku Pembina Kampung Satwa turut mendukung pengembangan program dengan menekankan pentingnya sinergi antara pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan. Sebagai salah satu destinasi wisata berbasis edukasi (edu-ekowisata), pengembangan Kampung Herbal diharapkan dapat memperkuat karakter lingkungan Kampung Satwa sebagai kawasan yang asri sekaligus memiliki nilai edukatif dan ekonomi. Sementara itu, Ibu Laksmindra bersama seluruh anggota tim akan mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan dan komunikasi dengan mitra di lapangan.
Sambutan berikutnya oleh Bapak Dukuh Kedung Banteng dan Bapak Ketua RT Kampung Satwa, dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan dan komitmen pelaksanaan program kemitraan antara Fakultas Biologi UGM sebagai Pihak Pertama, Kampung Satwa sebagai Pihak Kedua, dan Yayasan Wahana Gerakan Lestari (Wagleri) sebagai Pihak Ketiga untuk lima tahun ke depan. Penandatanganan ini menjadi penanda dimulainya kolaborasi jangka panjang dalam pengembangan potensi masyarakat dan lingkungan Kampung Satwa. Pak Dukuh menyampaikan harapannya semoga kerja sama kemitraan dapat diperluas hingga tingkat padukuhan. Padukuhan Kedung Banteng terdiri atas enam Rukun Tetangga (RT), di mana Kampung Satwa adalah julukan untuk RT 6 sesuai dengan dedikasi mereka yakni menjadi lokasi koleksi dan konservasi ex situ berbagai satwa terutama herpetofauna. Ke depan diharapkan kemitraan dapat merangkul lima RT lainnya dengan menonjolkan potensi dan ciri khas masing-masing.
Dalam pertemuan ini, Ibu Warsiastuti sebagai perwakilan KWT berkesempatan menyampaikan laporan dan evaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada tahun anggaran 2025, sebagai pijakan untuk pengembangan dan keberlanjutan program pada periode berikutnya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Biologi UGM yang telah mendampingi kami selama ini sehingga keinginan kami untuk memanfaatkan lahan kosong di Kampung Satwa telah terealisasikan dengan baik. Namun demikian kerja sama warga untuk perawatan kebun masih perlu ditingkatkan lagi. Meskipun masih sederhana, Kebun KWT hingga saat ini sudah beberapa kali panen sayuran. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh tetangga RT,” kata Bu Warsi. Saat ditanya mengenai keberadaan tanaman obat, beliau menjawab, “Selain tanaman sayuran, beberapa warga sudah menanam tanaman obat (herbal) tetapi masih seadanya dan belum dimanfaatkan dengan baik karena belum tahu caranya. Dengan adanya kegiatan ini kami sangat senang, istilahnya gayung bersambut, karena kami akan mendapat tambahan ilmu dan pengalaman baru. Semoga kami dapat melaksanakanya dengan baik,” ujar Bu Warsi.
Setelah rangkaian sesi sosialisasi dan diskusi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sembari berjalan-jalan meninjau Kebun Terpadu KWT. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih erat dengan warga Kampung Satwa sebagai mitra program. Pemanfaatan lahan sebagai Kebun Terpadu telah dirintis melalui kegiatan pengabdian tahun 2025 dan selanjutnya diproyeksikan menjadi salah satu lokasi pengembangan Kebun Herbal pada tahun 2026 ini, selain yang dilakukan di rumah-rumah warga. Pada kesempatan ini dibahas rencana realisasi program yang meliputi: kerja bakti, penanaman bibit tanaman herbal, pembangunan kandang ayam kastari, serta penataan area komposter guna mendukung kawasan edu-ekowisata Kampung Satwa. Tim juga menyerahkan paket tanaman herbal sebagai pemantik awal kegiatan berupa tujuh macam bibit, yaitu: jeruk lemon, jeruk purut, jeruk nipis, jambu kristal, buah tin, leci, dan murbei.
Usai kunjungan, warga Kampung Satwa melakukan kegiatan kerja bakti untuk membersihkan kebun dan mempersiapkan lahan sebagai area budidaya tanaman herbal. Respons positif dari ibu-ibu KWT terlihat dari aksi mereka yang segera memindahkan paket tanaman yang diberikan oleh tim dari polybag ke planter bag untuk ditata dan dibudidayakan di Kebun Terpadu. Langkah sederhana tersebut menjadi awal yang menggembirakan bagi keberlangsungan program Kampung Herbal ini. Antusiasme warga menunjukkan bahwa kegiatan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi mulai diterjemahkan ke dalam aksi nyata oleh masyarakat mitra.
Melalui program ini, Fakultas Biologi UGM berharap Kampung Herbal tidak hanya menjadi ruang budidaya tanaman, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan perempuan, lingkungan, kesehatan, inovasi, dan ekonomi kreatif. Dengan semangat “Satu Rumah, Satu Herbal”, setiap rumah diharapkan dapat menjadi titik awal tumbuhnya Kampung Herbal yang lebih luas, produktif, dan berkelanjutan. Pengembangan Kampung Herbal memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5: Gender Equality melalui penguatan peran dan kapasitas perempuan dalam kegiatan produktif, serta SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengembangan inovasi dan potensi industri rumah tangga kreatif berbasis tanaman herbal. Apabila berjalan dengan baik, maka program ini juga berkontribusi terhadap SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui pengembangan peluang ekonomi keluarga, SDG 11: Sustainable Cities and Communities melalui upaya menciptakan lingkungan yang asri dan mendukung pengembangan Kampung Satwa sebagai destinasi edu-ekowisata, serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui semangat yang dicerminkan dari menjalin kemitraan jangka panjang yang diwujudkan melalui MoU.


























































