Sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan, termasuk di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dewasa ini, permasalahan sampah di wilayah Yogyakarta menjadi hal yang masih belum terselesaikan sepenuhnya. Banyak masyarakat masih belum dapat mengelola sampah organik yang mereka hasilkan, sehingga menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Sebagian besar masyarakat masih membuang sampah organik bercampur dengan anorganik, sehingga proses penguraian alami terhambat dan menimbulkan pencemaran lingkungan.
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan edukasi dan praktik pengelolaan sampah organik di Desa Ngemplak Asem, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, pada Minggu (9/11). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-MBKM) yang bertujuan meningkatkan kesadaran serta kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara berkelanjutan.
Program ini digagas oleh tim mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas Anasya Zabna Sabilla, Salsa Fathiyah Hanim, Agung Miftah, dan Hafidz Alfitra Salam, di bawah bimbingan Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. Program tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan di desa Ngemplak yang memiliki banyak peternakan dan lahan pertanian, sehingga menghasilkan volume sampah organik cukup tinggi. Melihat potensi tersebut, tim mahasiswa memperkenalkan metode ember tumpuk dan composter bag sebagai inovasi sederhana,
ekonomis, dan ramah lingkungan untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang bernilai guna.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi sosialisasi mengenai urgensi pengelolaan sampah organik terhadap kesehatan lingkungan dan potensi ekonominya bagi masyarakat. Selanjutnya, warga dilibatkan secara langsung dalam praktik penggunaan ember tumpuk dan composter bag. Melalui penerapan metode ember tumpuk, peserta memperoleh pemahaman mengenai proses pengelolaan sampah organik dengan sistem bertingkat yang memanfaatkan aktivitas maggot sebagai agen biokonversi untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik.
Sementara itu, pada penerapan metode composter bag, warga diperkenalkan pada teknik pengomposan berbasis pelapisan bahan organik kering dan basah yang diperkaya dengan bioaktivator mikroba guna mengoptimalkan proses fermentasi hingga dihasilkan kompos padat yang siap diaplikasikan pada lahan pertanian atau tanaman pekarangan.
Masyarakat terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka aktif berdiskusi dan bertanya mengenai mekanisme penguraian sampah, pemanfaatan kompos padat maupun cair, serta potensi pengelolaan maggot sebagai pakan ternak atau penyubur tanaman pekarangan.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si., selaku dosen pembimbing kegiatan, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat mahasiswa dan partisipasi aktif masyarakat. “Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi sederhana, limbah organik dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga,” ungkapnya.
Metode ember tumpuk dan composter bag diharapkan dapat menjadi solusi aplikatif dalam mengurangi volume sampah organik rumah tangga, sekaligus menghasilkan pupuk alami yang dapat dimanfaatkan untuk kebun dan lahan pertanian warga. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung terwujudnya lingkungan yang bersih, hijau, dan berkelanjutan di wilayah pedesaan.
Inisiatif ini juga merupakan bagian dari komitmen Fakultas Biologi UGM dalam mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 11 (responsible cities and communities), nomor 12 (responsible consumption and production), dan nomor 15 (life on land). Ke depan, tim PKM-MBKM berencana melaksanakan kegiatan pendampingan lanjutan agar teknologi pengelolaan sampah organik tersebut dapat diterapkan secara mandiri dan konsisten oleh masyarakat Desa Ngemplak Asem.






