Bantul, 13 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan lingkungan berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos dan Pemanfaatan Maggot Black Soldier Fly (BSF)” yang diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan PkM ini ditujukan bagi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Lestari’ yang berlokasi di Pedukuhan Mertosanan Kulon, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada berbagai teknologi sederhana dan aplikatif untuk mengelola sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim PkM Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dalam sambutannya, Prof. Diah menekankan bahwa sampah organik merupakan komponen terbesar penyusun sampah rumah tangga yang, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti bau tidak sedap, meningkatnya risiko penyebaran penyakit, serta bertambahnya volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Setelah sambutan dari Ketua Tim PkM, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua KWT Lestari, yang menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan motivasi anggota kelompok dalam mengelola sampah organik rumah tangga secara berkelanjutan sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan budi daya tanaman yang telah dijalankan oleh KWT.
Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai pembuatan pupuk kompos yang disampaikan oleh Dr. Siti Nurbaiti, S.Si. Materi diawali dengan pengenalan berbagai jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, seperti sisa buah dan sayuran, daun-daunan, ampas kopi dan teh, serta sisa makanan nabati. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa kompos merupakan hasil dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang kaya unsur hara dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk meningkatkan kesuburan tanah. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip keseimbangan antara bahan hijau dan bahan cokelat yang berperan penting dalam menghasilkan kompos berkualitas.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si., yang menyampaikan materi mengenai pengolahan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens). Dalam paparannya dijelaskan bahwa maggot BSF merupakan larva lalat tentara hitam yang mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa kaya protein dalam waktu relatif singkat. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan. Menurut Dr. Wiko, pemanfaatan maggot BSF dapat mengurangi massa sampah organik hingga sekitar 35–45% serta menghasilkan berbagai produk bernilai guna, yaitu maggot atau prepupa sebagai sumber protein pakan ikan dan unggas, kasgot sebagai pupuk organik padat, serta pupuk organik cair (POC) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selama sesi pemaparan materi, para peserta dari KWT ‘Lestari; juga turut aktif dalam bertanya dan menceritakan pengalaman yang pernah dilakukan dalam pengelolaan sampah organiknya, sehingga memperkaya diskusi terkait tantangan konsistensi dalam pelaksanaan pengelolaan sampah organik. Setelah sesi penyampaian materi, Dr. Nurbaiti dan Dr. Wiko secara langsung dan bergantian memandu praktik pembuatan pupuk kompos menggunakan compost bag serta maggot BSF melalui dua metode budidaya, yaitu metode ember tumpuk dan metode kotak maggot (Si Komat). Kepada peserta ditunjukkan praktik mulai dari persiapan alat dan bahan, penyusunan lapisan bahan organik, pemberian aktivator, hingga teknik perawatan selama proses pengomposan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai bahan-bahan yang tidak dianjurkan untuk dikomposkan, seperti plastik, logam, kaca, popok/pampers, minyak goreng, tulang, puntung rokok, dan bahan kimia rumah tangga yang dapat menghambat proses penguraian.
Dalam pemanfaatan maggot menggunakan metode ember tumpuk, peserta diperkenalkan pada sistem pengolahan sampah organik yang memungkinkan pemanenan tiga produk sekaligus, yaitu maggot, kasgot, dan pupuk organik cair hasil fermentasi air lindi. Sementara itu, metode kotak maggot difokuskan pada produksi maggot dan kasgot dengan pengelolaan kelembapan media yang optimal. Peserta juga memperoleh berbagai tips teknis terkait pemilihan bahan baku, pengaturan kelembapan dan suhu media, serta penanganan bahan yang perlu dihindari agar proses penguraian berlangsung efektif dan tidak menimbulkan bau.
Kegiatan ini turut menghadirkan perspektif akademik mengenai pengelolaan sampah dan penerapan prinsip ekonomi sirkular yang disampaikan oleh Prof. Dr. rer. nat. Andhika Puspito Nugroho. Pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat merupakan langkah strategis untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang selama ini sering dianggap sebagai limbah. Melalui pendekatan ini, sampah organik dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat sehingga mendukung terwujudnya sistem pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan didukung oleh tim PkM Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas Winda Fionita Nur Safitri, Layly Salsabila, Alfonsus Fidel Pandu Ekanto, Miftahurrozi (mahasiswa Program Sarjana), Noor Laila Safitri (mahasiswa Program Magister), dan Fatimatuzzahra (mahasiswa Program Doktor). Tim berperan aktif dalam membantu pelaksanaan kegiatan, mendampingi peserta selama praktik, serta memfasilitasi diskusi dan tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berharap anggota KWT Lestari dapat mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah organik yang telah diperkenalkan sehingga mampu mengurangi timbunan sampah rumah tangga, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian dan perekonomian masyarakat. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai permasalahan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan (SDG 12 – konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab).











































