Sabtu (27/6) Tim Desa Mitra Fakultas Biologi UGM memberikan pelatihan pembuatan hard candy dan chrysanthemum tea serta penanganan insekta pengganggu tanaman krisan di Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Tim ini terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa baik S1, S2 maupun S3. Pada pelatihan pertama, Tim diwakili oleh Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.M.Sc., Aqil Abyan Rahman, S.Si dan Agil Faiqotul Iqbaliyah (mahasiswa S2) serta Kaka Pria Ananta (mahasiswa S1). Peserta pelatihan adalah anggota Industri Rumah Tangga (IRT) Al Barokah dan PKK Pokja-3 Desa Kedungpoh.
Dwi Umi dan Agil memberikan pelatihan pembuatan hard candy dan tehh berbahan bunga krisan sedangkan Aqil dan Kaka memberikan pelatihan penanganan hama pengganggu tanaman krisan secara hayati. Bahan dasar hard candy adalah sirup bunga krisan, isomalt, gula pasir, asam sitrat dan air. Sirup bunga krisan dibuat dari 45 gram bunga krisan kering yang dimasak bersama gula pasir dan asam sitrat serta air. Berdasarkan hasil penelitian Marlyn Dian Laksitorini, M.Sc.Apt.,Ph.D dan Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc, yang dipublikasi dalam Jurnal Majalah Obat Tradisional, bunga krisan mempunyai aktivitas antioksidan tinggi dan meningkatkan kecerdasan anak usia dini. Pembuatan hard candy ini mempermudah pemberian asupan kepada anak anak usia satu hingga lima tahun. Tehh bunga krisan dibuat secara sederhana dengan mengeringkan kuntum krisan yang masih kuncup. Tehh krisan dapat diseduh langsung dengan air panas atau diekstrak dan dijadikan tehh celup.
Upaya budidaya krisan di dataran yang tidak terlalu tinggi membutuhkan ketekunan dan kewaspadaan terhadap hama dari jenis insekta, diantaranya thrips, lalat pengorok daun, kutu kebul, kepik, ulat tanah, tungau merah dan belalang kayu. Kutu kebul dan tungau merah paling diwaspadai pada sistem budidaya krisan di greenhouse karena mudahnya insekta ini masuk melalui lubang kecil dan perantara angin. Insekta pengganggu ini biasa disebut dengan OPT (organisme pengganggu tanaman) dapat ditangani secara hayati menggunakan bawang putih, beberapa serasah misalnya daun mimba dan pemanfaatan insekta predator semacam tawon parasit untuk mengatasi lalat pengorok batang. “Bila kita temukan lalat parasit ini di sekitar greenhouse jangan buru-buru kita basmi, karena serangga tersebut memangsa lalat pengorok batang”, ungkap Aqil.
Pemaparan kedua narasumber ini diakhiri dengan praktik langsung pembuatan hard candy dan tehh krisan di Rumah Produksi Al Barokah. Hard candy yang dihasilkan dinikmati langsung oleh peserta dan Sebagian dibawa pulang untuk oleh-oleh bagi putra putri mereka. “Kami sudah mendampingi masyarakat Kedungpoh sejak 2019 hingga saat ini dan berharap suatu saat desa ini mandiri dan maju secara ekonomi, pertanian serta kesejahteraanya”, kata Dwi Umi menutup paparannya. Kegiatan ini merupakan pangejawantahan dari SDG-1 (Tanpa Kemiskinan), SDG-2 (Tanpa kelaparan), SDG-3 (Kehidupan sehat dan sejahtera), SDG-5 (Kesetaraan Gender), SDG-12 (Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), dan SDG-17 (Kemitraan untuk mencapai tujuan). (DUS)




