Yogyakarta, [27 Oktober 2026] – Tiga mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Karina Raihana Salsabila (23/513869/BI/11187), Layly Salsabila (23/513771/BI/11185), dan Khilda Aquilatin Nada (23/515256/BI/11220), berhasil meraih Juara 2 dan penghargaan Favorite Poster dalam ajang Essay Competition Physics Star 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Pendidikan Fisika (IMAPEFSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi (UNJA), pada 10–11 Oktober 2026. Prestasi tersebut diraih melalui karya esai ilmiah berjudul “CocoCascade: Transformasi Sabut Kelapa melalui Cascading Biorefinery menjadi XOS Prebiotik dan Nanofilm yang Berkelanjutan”. Tim yang tergabung dalam nama Cocos tersebut mengikuti kompetisi secara daring dengan mengangkat subtema Lingkungan, Energi, dan Keberlanjutan.

Physics Star 2026 merupakan ajang kompetisi yang mewadahi gagasan inovatif mahasiswa dalam bentuk karya ilmiah. Melalui kompetisi ini, tim Cocos mengangkat potensi pemanfaatan limbah sabut kelapa sebagai biomassa lignoselulosa yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Gagasan tersebut berfokus pada penerapan pendekatan cascading biorefinery untuk mengoptimalkan pemanfaatan berbagai fraksi penyusun sabut kelapa.
CocoCascade diusulkan sebagai sistem biokonversi yang mengolah sabut kelapa menjadi dua produk utama, yaitu xilooligosakarida (XOS) sebagai bahan prebiotik dan film berbasis nanoselulosa sebagai material kemasan. Inovasi ini berangkat dari besarnya potensi limbah sabut kelapa di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pendekatan cascading biorefinery, tim merancang pengolahan sabut kelapa secara bertahap berdasarkan karakteristik setiap fraksi biomassa. Fraksi hemiselulosa yang kaya xilan diarahkan untuk produksi XOS, sedangkan fraksi selulosa dimanfaatkan sebagai bahan baku nanoselulosa untuk pengembangan film kemasan. Sementara itu, fraksi lignin dan residu biomassa diarahkan untuk pemanfaatan lebih lanjut sebagai material karbon atau sumber energi, seperti biochar, bio-oil, dan biogas. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan biomassa secara lebih menyeluruh sekaligus meminimalkan limbah akhir.
Jalur produksi CocoXOS diawali dengan pretreatment alkali sabut kelapa dan fraksinasi untuk menghasilkan xilan, yang kemudian dihidrolisis secara enzimatik dengan xilanase, dimurnikan, serta dikeringkan menjadi serbuk XOS. XOS dirancang sebagai bahan pangan fungsional yang mendukung pertumbuhan Bifidobacterium dan Lactobacillus. Sementara itu, jalur CocoNanoFilm mengisolasi fraksi selulosa untuk dikonversi menjadi nanoselulosa melalui proses fibrilasi, yang selanjutnya diformulasikan menjadi film kemasan buah dan sayuran segar.
Capaian prestasi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap gagasan inovatif mahasiswa dalam mengembangkan solusi berbasis biomassa untuk mendukung keberlanjutan. Melalui
CocoCascade, tim Cocos menunjukkan potensi sabut kelapa sebagai sumber bahan baku produk pangan fungsional dan material kemasan berkelanjutan. Pengembangan gagasan ini selanjutnya memerlukan optimasi proses konversi, pengujian mutu dan keamanan produk, serta kajian performa sebelum diterapkan pada skala industri. [Penulis: Khilda Aquilatin Nada]
