Yogyakarta, 2 Oktober 2026 – Pembaharuan genetik merupakan faktor penting yang mendukung keberlanjutan budidaya dan pemuliaan ayam. Dengan metode seleksi yang ketat, sumber daya genetik yang diintroduksi ke dalam populasi mampu digunakan untuk meningkatkan mutu dan produktivitas ayam melalui hibridisasi. Hal tersebut dilakukan untuk memitigasi dampak peningkatan koefisien inbreeding akibat perkawinan sedarah dalam populasi. Oleh karena itu, Tim Hibah Gama Ayam Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui melalui Hibah Pengembangan Inovasi Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP) UGM, melakukan inisiasi pengadaan indukan ayam Arab di kandang Gama Ayam Research Team. Sebanyak 1 ekor jantan dan 2 ekor betina ayam Arab diperoleh dari breeder ayam Arab, Ayam Arab Bryan di Wonosari, Klaten.
Kegiatan pengadaan ayam Arab ini melibatkan Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Dian Sartika, M.Sc., Prananda Imammuddin Dzaki, dan Yusuf Febrianta setelah koordinasi bersama tim. Tim Hibah Gama Ayam melakukan survei di beberapa titik untuk menyeleksi indukan ayam Arab yang sesuai dengan standar kriteria Gama Ayam Research Team. Setelah menemukan indukan yang sesuai, Tim Hibah Gama Ayam selanjutnya melakukan transfer lokasi dari Klaten ke kandang karantina di Tanjungtirto, Berbah, Sleman. Karantina merupakan bagian penting dalam pengenalan sumber daya genetik dari luar ke dalam populasi. Karantina bertujuan untuk mencegah transmisi penyakit yang mungkin tidak tampak dari luar. Kegiatan yang berlangsung selama 6 jam ini berhasil mengamankan persediaan sumber daya genetik yang penting untuk kelanjutan kegiatan riset dan pemuliaan ayam.
Kegiatan yang dilakukan oleh Tim Hibah Gama Ayam ini sejalan dengan pencapaian poin-poin Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi cita cita bersama masyarakat global. Kegiatan ini merupakan implementasi SDGs poin ke-1, 2, 9, dan 12. Poin ke-1 (Tanpa Kemiskinan) diimplementasikan melalui pemberdayaan peternak lokal untuk pengadaan indukan. Poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) diimplementasikan dengan pengembangan ayam lokal hasil pemuliaan untuk mendukung kemandirian pangan. Poin ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) diimplementasikan melalui penguatan rantai produksi inovasi ayam petelur lokal. Poin ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) diimplementasikan melalui pengadaan ayam untuk tujuan pemuliaan dengan memanfaatkan sumber daya genetik lokal dan pemberlakuan karantina untuk mencegah penyebaran penyakit. Implementasi poin-poin SDGs tersebut diharapkan mampu mendukung keberlangsungan kehidupan yang lebih baik.





