Yogyakarta, 7 Oktober 2026 — Museum Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan (SPH), Fakultas Biologi UGM, menerima kegiatan pembelajaran siswa kelas X SMA Muhammadiyah Al Kautsar Kartasura. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi biologi melalui pengamatan langsung terhadap koleksi flora dan fauna serta spesimen biologis sebagai sumber belajar.
Kegiatan didampingi oleh Suwiji Lestari, S.Pd., Lisa Faradila, S.Pd., Muhammad Hafidz Arifin, S.Pd., dan M. Shah Rayzaal, S.Geo. Selain itu, proses pembelajaran juga diasisteni oleh mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3) yang menjadi peneliti di Laboratorium SPH. Kehadiran mahasiswa pascasarjana memberikan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi langsung dengan peneliti muda mengenai struktur tubuh, fungsi organ, morfologi, adaptasi, serta berbagai aspek biologis dari spesimen yang diamati.
Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuktikan dan mengonfirmasi secara langsung materi biologi yang telah diperoleh di sekolah, khususnya mengenai bentuk dan struktur fisik makhluk hidup. Melalui pengamatan terhadap spesimen nyata, siswa dapat membandingkan konsep yang dipelajari melalui buku maupun pembelajaran di kelas dengan karakter organisme yang sebenarnya.
Berbagai karakter biologis, seperti bentuk tubuh, struktur anggota gerak, penutup tubuh, bentuk paruh, tipe kaki, maupun variasi morfologi tumbuhan dan hewan, menjadi bahan diskusi untuk memahami keterkaitan antara struktur, fungsi, habitat, dan adaptasi organisme. Pendekatan tersebut membantu siswa melihat bahwa variasi bentuk pada makhluk hidup merupakan bagian dari respons biologis terhadap kebutuhan fungsi dan lingkungan hidupnya.
Kegiatan ini juga menerapkan pendekatan object-based learning, yaitu proses pembelajaran yang memanfaatkan objek dan spesimen nyata untuk mengembangkan kemampuan observasi, identifikasi, perbandingan, analisis, dan interpretasi ilmiah. Dengan didampingi oleh mahasiswa S2 dan S3 yang aktif melakukan penelitian di Laboratorium SPH, siswa tidak hanya memperoleh penjelasan tentang objek yang diamati, tetapi juga diperkenalkan pada cara berpikir ilmiah dan proses penelitian biologi.
Koleksi Museum Biologi UGM dalam kegiatan ini berperan sebagai sumber belajar sekaligus rekaman keanekaragaman hayati. Spesimen flora dan fauna tidak hanya memiliki nilai pameran, tetapi juga menyimpan informasi ilmiah yang penting bagi pendidikan, penelitian, dokumentasi biodiversitas, dan konservasi.
Kolaborasi antara Museum Biologi UGM dan Laboratorium SPH juga memperlihatkan keterhubungan antara pendidikan sekolah, pendidikan tinggi, penelitian, dan edukasi publik. Keterlibatan mahasiswa pascasarjana sebagai asisten dalam kegiatan memberikan pengalaman komunikasi sains kepada mahasiswa sekaligus menghadirkan interaksi akademik lintas jenjang antara siswa sekolah menengah, mahasiswa, peneliti, dan pendidik.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education, melalui penyediaan pengalaman pembelajaran yang kontekstual, berbasis bukti, dan memanfaatkan sumber belajar ilmiah. Selain itu, pengenalan terhadap keanekaragaman flora dan fauna serta pentingnya dokumentasi dan konservasi koleksi biologis juga sejalan dengan SDG 15: Life on Land, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap perlindungan biodiversitas dan ekosistem daratan.
Melalui kegiatan ini, Museum Biologi UGM dan Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan terus memperkuat perannya dalam menyediakan ruang pembelajaran biologi yang menghubungkan koleksi, penelitian, pendidikan, dan konservasi. Sinergi dengan sekolah diharapkan dapat memperluas pengalaman belajar berbasis sains sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan observasi, dan kepedulian generasi muda terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman siswa terhadap materi biologi, tetapi juga memberikan gambaran mengenai bagaimana ilmu biologi dipelajari dan dikembangkan melalui koleksi ilmiah, laboratorium, dan penelitian di perguruan tinggi.








