SDG 1 : Tanpa Kemiskinan
Yogyakarta, 08 Agustus 2024 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Desa Mitra Fakultas Biologi UGM 2024 bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Padukuhan Malangrejo, Ngemplak. Tim ini dipimpin oleh Prof. Dr. Laurentius Hartanto Nugroho, M.Agr., Dr. Yekti Asih Purwestri, S.Si., M.Si., dan Dr. Tri Rini Nuringtyas, S.Si., M.Sc. Kegiatan yang berjudul “Sosialisasi Pemanfaatan Minyak Bekas Pakai dan Tanaman Sereh Wangi Menjadi Lilin Aromaterapi” ini melibatkan tujuh mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Padukuhan Malangrejo, Ngemplak.
Program ini dilaksanakan pada hari Kamis, 08 Agustus 2024, dari pukul 15.30 hingga 17.30 WIB di Pendopo Padukuhan Malangrejo, tempat berkumpulnya warga, khususnya anggota KWT Lestari. Acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Isti Maryati, Ketua KWT Lestari Malangrejo, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Laurentius Hartanto Nugroho, M.Agr., Dr. Yekti Asih Purwestri, S.Si., M.Si., serta Dr. Tri Rini Nuringtyas, S.Si., M.Sc.. Dalam sambutan tersebut, disampaikan harapan agar sosialisasi ini dapat memotivasi para peserta untuk memanfaatkan limbah rumah tangga berupa minyak bekas dan tanaman sereh wangi yang banyak tumbuh di kebun-kebun mereka, untuk diolah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomis.
Sesi pertama kegiatan ini berupa pemaparan materi oleh tim dosen. Prof. Dr. Laurentius Hartanto Nugroho, M.Agr., Dr. Yekti Asih Purwestri, S.Si., M.Si., dan Dr. Tri Rini Nuringtyas, S.Si., M.Sc. menjelaskan dampak negatif penggunaan berulang minyak goreng, yang dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah dan berisiko menyebabkan penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung. Mereka juga menyoroti bahaya pembuangan minyak jelantah yang sembarangan, yang dapat merusak ekosistem air dan tanah. Selain itu, tim dosen juga memaparkan manfaat tanaman sereh wangi, yang mengandung senyawa aktif seperti citral, geraniol, limonene, cymene, dan myrcene, yang memiliki efek anti-inflamasi dan antimikroba, serta memberikan aroma yang menyegarkan. Tanaman ini dapat diolah menjadi minyak sereh wangi yang bermanfaat untuk kesehatan kulit, relaksasi otot, serta lilin aromaterapi.
Pada sesi kedua, para peserta mengikuti demonstrasi dan praktik langsung yang dipandu oleh mahasiswa KKN. Mereka mempelajari proses penjernihan minyak bekas menggunakan arang aktif dan zat kimia bleaching earth, metode ekstraksi minyak sereh wangi yang sederhana, serta cara membuat lilin aromaterapi dengan mencampurkan minyak sereh wangi dengan stearic acid.
Program Desa Mitra ini juga diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam enam poin, yaitu: Tanpa Kemiskinan (No Poverty), Tanpa Kelaparan (Zero Hunger), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth), Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production). Selain itu, program ini juga berkontribusi terhadap capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 2 dan IKU 3 bagi Fakultas Biologi UGM.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota KWT Lestari Malangrejo dapat meningkatkan wawasan, keterampilan, serta bekerja sama dalam mengembangkan produk lokal yang bernilai tambah, yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan.
SDGs:
#SDG 1: No poverty
#SDG 2: Zero Hunger
#SDG 3: Good Health and Well-being
#SDG 12: Responsible Consumption and Production
Yogyakarta, 26 Agustus 2024- Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (PkM MBKM) Fakultas Biologi 2024 Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Desa Madurejo, yang diketuai oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr. Sc. bersama dengan anggota 3 mahasiswa Fakultas Biologi yaitu diantaranya Ihsanti Tsania Fajriati, Haris Dwi Nugroho, dan Laksita Chesarina serta 5 perwakilan dari Kelompok Wanita Tani Melati Madurejo telah melaksanakan pemanenan pertama labu susu pertama yang telah dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Agustus 2024, dimulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB. Pemanenan dilakukan di Green House yang berada di Mutihan, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta.
Setelah pemanenan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan koordinasi antara Tim PkM MBKM dan anggota KWT Melati terkait program MBKM Pengabdian Masyarakat di semester gasal serta keberlanjutan produk yang akan diangkat utama oleh KWT Melati. Selain itu produk-produk tersebut juga akan didaftarkan sertifikasi halal dan P-IRT. Produk berbasis labu susu yang diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat khususnya.
Kegiatan PkM MBKM yang diselenggarakan ini juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs). Dengan mengadakan sosialisasi ini, kami menargetkan 7 (tujuh) poin dari 17 (tujuh belas) poin SDGs : poin ke satu (no poverty : tanpa kemiskinan), poin ke dua (zero hunger : tanpa kelaparan), poin ke empat (gender equality : kesetaraan gender), poin ke 8 (decent work and economic growth : pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), poin kesepuluh (reduced inequalities : berkurangnya kesenjangan), dan poin ke dua belas (responsible consumption and production : konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab). Selain itu kegiatan ini juga merupakan capaian IKU 2 (MBKM di luar kampus) dan IKU 3 (dosen di luar kampus) bagi Fakultas Biologi UGM.
Kegiatan ini harapannya memberikan wawasan yang lebih mendalam kepada anggota KWT Melati melalui diskusi interaktif dan meningkatkan kerjasama yang akan berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan demikian, program MBKM Pengabdian Masyarakat ini tidak hanya memberikan manfaat akademis tetapi juga berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat di Desa Madurejo dan menjadi tonggak awal dari kolaborasi yang lebih erat antara universitas dan masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian, serta menjadi langkah penting dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. [MBKM PKM Labu Susu]
PIONIR Metamorphoself 2024 mengumumkan bahwa salah satu mahasiswa baru Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dzaky Naufal Nugraha, telah menerima bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100%, di mana seluruh biaya UKT sebesar 0 rupiah. Prestasi ini merupakan bagian dari komitmen UGM dalam memberikan akses pendidikan kepada seluruh kalangan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Dzaky, mahasiswa yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), berasal dari Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Dalam wawancara, Dzaky berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan hidupnya hingga akhirnya diterima di Fakultas Biologi UGM, serta bagaimana bantuan UKT ini sangat berarti bagi dirinya dan keluarganya.
Dzaky merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Ayahnya, Budi Nugroho, bekerja sebagai wiraswasta dengan usaha produksi tahu skala rumah tangga, yang dijual di beberapa warung di sekitar tempat tinggal mereka. Penghasilan keluarga rata-rata hanya sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta per bulan, tergantung pada permintaan pasar. Sementara itu, ibunya, Purwanti, adalah seorang ibu rumah tangga penuh waktu yang sebelumnya sempat bekerja sebagai juru masak sebelum berhenti pada tahun 2015.
Dalam keterbatasan ekonomi, orang tua Dzaky tetap memberikan dukungan penuh bagi pendidikan anak-anak mereka. Menjadi anak pertama di keluarganya yang menempuh jenjang perkuliahan, Dzaky mengakui bahwa keberhasilannya diterima di UGM merupakan hasil dari kerja keras dan motivasi yang terus ia kembangkan selama masa sekolah.
Saat ditanya tentang motivasinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, Dzaky menjelaskan bahwa ia ingin menjadi sarjana pertama di keluarganya dan menambah pengetahuan sebelum memasuki dunia kerja. Kecintaannya terhadap biologi sudah tumbuh sejak SMP, dan hal ini berlanjut hingga SMA. Meskipun pada awalnya Dzaky berencana untuk mendaftar di jurusan Teknologi Pangan, ia akhirnya memilih Biologi UGM karena melihat peluang besar melalui jalur SNBP.
“Pada awalnya, saya tidak terpikir untuk mendaftar di Fakultas Biologi UGM. Saya sempat mempertimbangkan Teknologi Pangan, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Biologi karena peluang lebih besar di jalur SNBP,” ungkap Dzaky. Meskipun sempat merasakan tantangan besar, Dzaky terus berusaha dan percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, terlepas dari latar belakang sosial atau ekonomi.
Sebagai mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Dzaky memiliki visi untuk menjadi seorang peneliti biologi yang berfokus pada bioteknologi. Ia berkomitmen untuk memanfaatkan ilmu yang diperolehnya selama perkuliahan untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dzaky berharap bahwa studinya dapat membantu mengatasi berbagai permasalahan di masyarakat melalui hasil penelitian yang inovatif.
“Saya ingin menerapkan ilmu yang saya pelajari di dunia industri dan membantu masyarakat melalui hasil-hasil studi yang dapat memberikan manfaat. Saya juga berharap bisa bekerja di industri besar seperti Nestlé atau perusahaan lain yang membutuhkan lulusan biologi,” jelas Dzaky.
Selain itu, Dzaky juga berharap bahwa dengan adanya dukungan penuh dari UGM, baik melalui subsidi UKT maupun berbagai program lainnya, ia dapat menyelesaikan studinya dengan lancar dan meraih cita-citanya. Baginya, kesempatan ini adalah bukti nyata bahwa latar belakang ekonomi bukanlah halangan untuk meraih impian.
Dzaky juga memberikan pesan kepada teman-temannya dan masyarakat luas, khususnya bagi mereka yang mungkin merasa ragu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Jangan pernah takut untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun latar belakang sosial atau ekonomi tidak mendukung. Ada banyak peluang seperti beasiswa dan bantuan lainnya yang bisa diakses. Yang terpenting adalah jangan menyerah dan terus berusaha,” tegas Dzaky.
Dengan dukungan keluarga, lingkungan, dan universitas, Dzaky bertekad untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa baru untuk tidak takut bermimpi besar dan terus mengejar impian mereka. [Humas PIONIR Metamorphoself 2024]
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan bangga mengumumkan kabar gembira bagi civitas akademika dan masyarakat luas. Sasa Davina Ustiya, salah satu mahasiswa baru Fakultas Biologi UGM, berhasil meraih bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100%, yang berarti biaya kuliah Sasa sepenuhnya dibiayai oleh program subsidi, sehingga UKT yang harus dibayarkan adalah sebesar 0 rupiah.
Sasa Davina Ustiya, yang kini berusia 18 tahun, berasal dari sebuah keluarga sederhana di Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman. Dia merupakan putri dari Suyono, seorang pekerja serabutan yang mengandalkan pekerjaan sebagai buruh bangunan dan pekerjaan lainnya seperti mengecat furnitur serta beternak ayam. Sementara itu, ibunya, Sri Mujiati, saat ini tidak bisa bekerja karena kondisi kesehatannya yang memerlukan perawatan cuci darah rutin setiap minggu sejak tahun 2016. Pendapatan keluarga Sasa tidak mencapai dua juta rupiah per bulan, yang tentunya menimbulkan tantangan finansial yang cukup besar bagi keluarga mereka.
Meski dihadapkan pada keterbatasan ekonomi, Sasa menunjukkan tekad dan semangat yang luar biasa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, khususnya Universitas Gadjah Mada. Dalam wawancaranya, Sasa mengungkapkan bahwa sejak awal ia memang memiliki keinginan kuat untuk bisa menuntut ilmu di Fakultas Biologi UGM. Keinginannya semakin kuat setelah mendengar cerita inspiratif dari seorang guru les yang pernah berkuliah di Fakultas Biologi UGM.
“Saya sangat ingin melanjutkan pendidikan di UGM, terutama di Fakultas Biologi, karena saya ingin mengangkat derajat keluarga saya dan memberikan pemahaman yang lebih ilmiah kepada masyarakat di sekitar saya yang masih sering mengaitkan peristiwa-peristiwa dengan hal-hal yang kurang ilmiah,” kata Sasa dengan penuh semangat.
Kendati demikian, perjalanan Sasa menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Sasa sempat merasa ragu apakah ia mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri, terutama karena kekhawatiran akan biaya pendidikan. Ketika masih di SMA, Sasa baru mengetahui bahwa ada program bantuan UKT yang bisa mengurangi beban biaya kuliah, namun ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan mendapatkan subsidi 100%.
“Ketika saya diterima melalui jalur SNBT di Fakultas Biologi UGM, saya merasa sangat bersyukur. Keluarga saya tidak memiliki penghasilan yang besar, dan dengan kondisi ibu yang harus cuci darah setiap minggu, kami tidak memiliki cukup uang untuk biaya kuliah. Namun, berkat program bantuan UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi, saya dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus mengkhawatirkan biaya,” tambahnya.
Keberhasilan Sasa dalam memperoleh subsidi UKT ini menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi di universitas ternama seperti UGM. Dengan adanya program subsidi ini, UGM berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang sama kepada semua calon mahasiswa, tanpa terkecuali, untuk mengenyam pendidikan tinggi berkualitas.
Dalam waktu ke depan, Sasa bercita-cita untuk menjadi seorang peneliti yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan berupaya untuk mengurangi miskonsepsi ilmu di masyarakat. Ia berharap dengan berkuliah di Fakultas Biologi UGM, ia dapat mewujudkan impiannya tersebut dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Selain itu, Sasa juga memiliki pesan khusus untuk mereka yang berada dalam situasi serupa: “Saya ingin menyampaikan kepada orang-orang bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mengejar mimpi. Ada banyak sekali beasiswa dan bantuan yang bisa kita manfaatkan. Jangan pernah patah semangat, teruslah mencari peluang dan yakinlah bahwa dengan usaha keras, kita bisa mencapai apa yang kita inginkan,” ujarnya.
Keberhasilan Sasa tidak hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya dan keluarganya, tetapi juga bagi Fakultas Biologi UGM yang terus mendukung para mahasiswanya melalui berbagai program beasiswa dan subsidi pendidikan. Fakultas Biologi UGM, dengan dukungan dari UGM secara keseluruhan, terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas tinggi bagi semua mahasiswanya, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka.
[Humas PIONIR Metamorphoself 2024]
Pada tanggal 29-31 Juli 2024, Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D., bersama dengan tim ahli dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melakukan kegiatan monotoring dan evaluasi program KKN PPM Tematik di Kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah Sulawesi Barat. Ganies yang dalam hal ini sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk tiga puluh orang mahasiswa KKN memulai kegiatan dengan melakukan analisis dan konfirmasi semua kegiatan KKN baik tema maupun non tema.
Tema dari kegiatan KKN PPM tematik ini adalah Pengembangan Usaha Pertanian: Jagung, Pisang, serta pengembangan wisata air terjun di Kawasan Transmigrasi dengan tujuan untuk meningkatkan potensi dan keunggulan lokal daerah. Fokus dari kagiatan yang telah berjalan adalah fokus pada bagaimana mengenalkan produk-produk unggul yang dapat dilakukan di masyarakat melalui pemberdayaan dan pendampingan secara berkala sesuai tema yang ditetapkan oleh Kementerian.
Kegiatan ini sangat baik dan dapat dilakukan secara berkelanjutan karena merujuk pada implementasi kegiatan SDGs. Adapun kesesuaian tema terhadap SDGs adalah untuk SDG 1: Tanpa Kemiskinan – Pengembangan usaha pertanian dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi kemiskinan di daerah pedesaan, SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) – Meningkatkan produksi jagung dan pisang mendukung ketahanan pangan dan nutrisi, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi – Pengembangan usaha pertanian dan wisata dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab – Praktik pertanian yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam dengan baik dapat mendukung konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Selain itu juga mendukung terhadap implementasi SDG 15: Kehidupan di Darat – Pengelolaan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan perlindungan biodiversitas dalam pengembangan wisata air terjun dapat mendukung ekosistem darat, SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan – Pengembangan wisata yang berkelanjutan di sekitar air terjun dapat meningkatkan kualitas hidup dan mendorong pariwisata yang ramah lingkungan, dan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim – Usaha pertanian yang berkelanjutan dan pengelolaan ekosistem wisata dapat membantu mitigasi perubahan iklim melalui praktik ramah lingkungan.
Permasalahan limbah merupakan isu yang tak pernah habis dibahas karena dampaknya yang signifikan terhadap lingkungan. Berbagai kegiatan sehari-hari seperti konsumsi makanan dan kegiatan produksi berpotensi menghasilkan limbah. Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah makanan terbesar di dunia, dengan ubi kayu sebagai salah satu bahan makanan yang bisa terbuang. Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang memiliki produktivitas pertanian ubi kayu yang termasuk tinggi. Dalam hal ini, limbah ubi kayu dapat meningkat seiring dengan tingginya hasil panen.
Kegiatan produksi lainnya juga banyak menghasilkan limbah, salah satunya dari industri kulit. Produk industri kulit umumnya terbuat dari kulit sintetis atau kulit hewani. Namun, produk kulit sintetis yang tidak awet dapat memperparah masalah limbah fesyen di Indonesia. Industri kulit hewani juga tidak lepas dari dampak terhadap lingkungan, karena proses penyamakan kulit dapat menghasilkan limbah berbahaya seperti krom yang mencemari lingkungan.
Melihat permasalahan ini, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang diketuai oleh Marcella Devina Handoko (Fisipol 2023) serta beranggotakan Laura Silka (Biologi 2021), Nasywa Ramadhisa (Geografi 2021), Husna ‘Ainun R. (Biologi 2022), dan Muhammad Daffa (Ekonomika dan Bisnis 2023) membuat alternatif produk bernama “Macteria”, sebuah produk kerajinan kulit yang dibuat dari ubi kayu yang difermentasi oleh bakteri Acetobacter xylinum. Proses fermentasi ini menghasilkan selulosa yang kemudian digunakan sebagai bahan baku kulit untuk berbagai aksesori multifungsi seperti lanyard dan card holder. Oleh karena itu, Macteria tidak hanya mengatasi masalah limbah fesyen tetapi juga memanfaatkan limbah pangan berupa ubi kayu yang melimpah.
Berdasarkan uji yang telah dilakukan yaitu uji tekan dan uji tarik, Marcella, menyatakan bahwa produk buatan tim PKM ini mampu memiliki kualitas yang tidak kalah bila dibandingkan dengan kulit sintetis maupun hewani. Selain itu, proses pembuatan materialnya juga relatif mudah, cepat, dan bisa diproduksi dalam skala besar maupun kecil sehingga sangat potensial.
“Kami berharap mampu membawa inovasi ini supaya lebih dikenal oleh masyarakat. Terlebih, produk kami cukup unik dan belum banyak dikenal masyarakat.” Husna menambahkan. “Kami menggunakan bakteri yang mampu membantu menghasilkan selulosa sebagai material yang ramah lingkungan.” [Penulis: Husna ‘Ainun R.]
Fakultas Biologi, pada forum ASDF 2024, juga menginisiasi kerja sama dengan Universitas Sultan Qaboos, Oman yang diwakili oleh Dr. Talal Khalifa Al Hosni, Dekan Universitas Sultan Qaboos, Oman. Kemitraan ini bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan kualitas penelitian ilmiah dan keunggulan akademik bagi kedua belah pihak.



































