Semarang, 15 Agustus 2026 — Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berkontribusi dalam Focus Group Discussion (FGD) Mitigasi Konflik Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan.
Kegiatan yang berlangsung di Gumaya Tower Hotel, Semarang, Sabtu (15/8), menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam meningkatkan efektivitas penanganan konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya Monyet Ekor Panjang di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. FGD tersebut melibatkan unsur pemerintah, pengelola kawasan konservasi, perguruan tinggi, lembaga penelitian, hingga pemangku kepentingan terkait.
Fakultas Biologi UGM hadir melalui Dr. Slamet Widiyanto, M.Sc.. Dr. Slamet menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekologi dan biologi dalam penanganan konflik antara manusia dan Monyet Ekor Panjang (MEP). Menurutnya, terdapat empat aspek utama yang perlu menjadi perhatian, yaitu kelestarian habitat, behavior atau perilaku satwa termasuk gagasan restorasi, pengendalian populasi, serta edukasi masyarakat.
Kelestarian habitat menjadi fondasi karena habitat merupakan daya dukung bagi keberlangsungan hidup MEP. Perubahan atau penurunan kualitas habitat dapat memengaruhi pola pergerakan dan interaksi satwa dengan manusia. Karena itu, pemahaman terhadap behavior satwa serta upaya restorasi habitat perlu menjadi bagian dari strategi mitigasi.
Selain itu, pengendalian populasi perlu dilakukan secara terukur dan berbasis kajian, dengan mempertimbangkan keseimbangan populasi dan daya dukung lingkungan. Di sisi lain, edukasi masyarakat menjadi kunci untuk membangun pemahaman mengenai perilaku satwa dan cara berinteraksi yang tepat guna mencegah munculnya konflik.
Partisipasi Fakultas Biologi UGM dalam FGD ini menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan perspektif keilmuan dalam pengelolaan satwa liar. Mitigasi konflik tidak semata-mata tentang mengendalikan satwa, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara kelestarian ekosistem, keberlangsungan satwa, dan keselamatan serta kenyamanan masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 15: Life on Land melalui perlindungan dan pengelolaan ekosistem daratan secara berkelanjutan, serta SDG 11: Sustainable Cities and Communities dalam membangun lingkungan yang aman dan harmonis antara manusia dan alam.




