Gemilang di ASPIRE 2025, Tim Biologi UGM Torehkan Prestasi Lewat Gagasan Konservasi Genetik Tumbuhan
Prestasi Senin, 13 Oktober 2025


Rilis Berita Senin, 13 Oktober 2025

Pengabdian kepada Masyarakat Kamis, 2 Oktober 2025
Kamis (2/10), salah satu Tim PKM (Program Kreativitas mahasiswa) besutan Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc. melakukan sesi konsultasi hasil pengabdian masyarakatnya di Desa Jambalangan, Sayegan, Sleman. Tim mahasiswa terdiri dari Tsabita Afidati, Muhammad Fajar Ramadhani, Satria Enggal Buana, Salma Putri Nabila dan Widyaningsih Tutus Mahardika. Tim ini mengusung PKM PM (Pengabdian Masyarakat) “Pemberdayaan Karang Taruna melalui Inovasi Jamblangan Grow+ (JGrow+) Berbasis Farm Waste untuk Meningkatkan Produktivitas di Desa Jamblangan”. Ide yang melatari pengusulan PKM-PM ini adalah fakta bahwa Desa Jamblangan memiliki sumber daya peternakan berupa ternak sapi dan kambing yang cukup banyak. Sumber daya tersebut minimal menghasilkan urin ternak 230 liter/hari dan feses 222 kg/hari. Urin ternak mengandung 0,23% nitrogen sementara feses mengandung 16,35% C organik. Farm Waste merupakan limbah peternakan dalam bentuk feses dan urine dengan berbagai kandungan hara yang berguna untuk pertanian.




Tim PKM JGrow+ Desa Jamblangan menghadapi dua tantangan utama dalam pengelolaan pertanian. Pertama, tingginya penggunaan pupuk dan bahan kimia yang dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas tanah serta berdampak pada kesehatan lingkungan. Kedua, keterlibatan generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna Permadi 13 masih terbatas, sehingga potensi produktivitas mereka belum termanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, Desa Jamblangan memiliki potensi sumber daya peternakan dan pertanian yang besar.
Berangkat dari potensi ini, Tim PKM-PM Universitas Gadjah Mada bersama Karang Taruna Permadi 13 menginisiasi Program JGrow+ (Jamblangan Grow+). Program ini berfokus pada pemanfaatan limbah peternakan menjadi Pupuk Organik Plus (POP) dan Biofertilizer. Pupuk ini tidak hanya mengandalkan feses dan urin ternak, bahan tambahan lain seperti sisa sayuran rumah tangga dan tembakau dari puntung rokok turut digunakan untuk memperkaya kualitas produk. Lebih jauh, produk ini juga mengandung sembilan jenis mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan tanaman. Proses produksi dilakukan secara an-aerob: sekitar 1–1,5 bulan untuk POP dan 10–14 hari untuk biofertilizer. Indikator sederhana digunakan untuk menilai kelayakan produk, misalnya perubahan warna cairan menjadi lebih gelap dan aroma menyerupai kecap pada biofertilizer sedangkan POP matang dikenali dengan baunya yang segar dan warna granul hitam. Produk biofertilizer disimpan pada botol atau jerigen dan dilakukan pelepasan gas setiap dua minggu untuk menjaga kualitas. “JGrow+ merupakan pengembangan dari produk EnWie Biofertilizer yang telah saya teliti selama lima belas tahun terakhir’, ungkap Dwi Umi.
Program JGrow+ tidak sekadar program teknis pengolahan limbah. Melalui kegiatan pendampingan, mitra juga dibekali pengetahuan tentang pengemasan, strategi promosi, serta manajemen organisasi dengan pembentukan divisi dan sub-divisi. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian dan keberlanjutan program bagi anggota Karang taruna Permadi 13 Desa Jamblangan, Sayegan, Sleman. Untuk memperluas dampak, metode Training of Trial (TOT) diterapkan agar masyarakat sekitar dapat langsung mempraktikkan teknik pengolahan. Selain itu, video tutorial yang diunggah melalui kanal YouTube menjadi sarana penyebarluasan pengetahuan yang menjangkau khalayak lebih luas. Program JGrow+ menjadi bukti bahwa solusi atas permasalahan lingkungan dan pertanian dapat lahir dari kolaborasi. Berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal, Desa Jamblangan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi juga memberdayakan generasi mudanya untuk menjadi motor perubahan.
Program JGrow+ yang dilakukan oleh Tim PKM pengabdian masyarakat Fakultas Biologi ini merupakan pangejawantahan dari SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 10 (berkurangnya Kesenjangan), SDGs 13 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab) serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (DUS)
Rilis Berita Senin, 29 September 2025
Sabtu (27/09), Satgas Pengelola Sampah Organik Fakultas Biologi UGM yang diwakili oleh Tim Ahli Satgas Sampah, Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc., memenuhi undangan Deapartemen Matematika Fakultas MIPA UGM untuk berbagi pengalaman pengelolaan sampah di Fakultas Biologi UGM. Acara ini dilaksanakan di Auditorium Herman Yohannes, F. MIPA UGM yang dihadiri oleh Kepala Departemen Matematika, Dr. Nanang Susyanto, S.Si., M.Sc., Kepala Laboratorium Matematika Terapan, Dr. Dwi Ertiningsih, M.Si., beberapa dosen dan 90 mahasiswa Departemen Matematika F.MIPA UGM.
Sharing Session ini selain mengundang Dwi Umi sebagai salah satu narasumber, juga Kepala Sub Direktorat Pemeliharaan Sarana dan Prasaranan Direktorat Aset UGM, Walyono, S.T.,M.Eng. Kedua narasumber memberikan paparan terkat pengelolaan sampah baik sampah organik, an-organik maupun sampah residu di lingkungan UGM. Dalam paparannya, Walyono menyampaikan bahwa UGM menghasilkan sampah lebih dari enam ton per hari dan saat ini telah dikelola secara mandiri oleh RINDU, PIAT UGM. Dwi Umi menyampaikan bahwa Fakultas Biologi telah memiliki produk Probiotik Bio-2023 yang mampu mempercepat proses pengomposan sampah organik, khususnya serasah daun. “Fakultas Biologi juga menghasilkan pupuk kompos bioferti, pel lantai organik Bio-2023, Eco-enzime, vermikompos dan alat pencacah sederhana,” tambah Dwi Umi.




Acara ini disamping untuk mendorong semangat civitas akademika Departemen Matematika F.MIPA UGM untuk dapat mengelola sampah secara mandiri juga ditujukan sebagai upaya mendekatkan mahasiswa F.MIPA pada kondisi riil pengelolaan sampah dan dapat digunakan sebagai model penelitiannya. Maka mahasiswa yang hadir dalam sharing session ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah Program Linier, Pengantar Model Matematika dan Kapita Selekta Matematika Terapan. Antusiasme mahasiswa dalam diskusi maupun pasca acara sangat membanggakan. “Saya surprise dengan antusiasme mahasiswa Matematika dalam alur pengelolaan sampah, ternyata alur ini bisa di-model_kan secara matematika. Hebat” ungkap Dwi Umi pasca menjawab pertanyaan audiens.
“ Bahkan di akhir semester nanti kami berencana membuat eksibisi hasil permodelan matematika dari project-project pengelolaan sampah ini dan akan dilombakan”, kata Dwi Ertin menutup acara Sharing Session Pengelolaan Sampah pagi itu.
Kegiatan ini merupakan pelaksanaan SDGs 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), SDGs 13 (penanganan Perubahan Iklim), SDGs 15 (Menjaga Ekosistem Darat) dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (DUS)
Pengabdian kepada Masyarakat Rabu, 24 September 2025


Rilis Berita Senin, 8 September 2025







Kerja SamaRilis Berita Senin, 1 September 2025

Kegiatan MahasiswaPrestasiRilis Berita Senin, 1 September 2025


Kegiatan MahasiswaRilis Berita Kamis, 28 Agustus 2025







Rilis Berita Selasa, 26 Agustus 2025




