
Yogyakarta – Tim mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Gold Medal pada 6th International Invention Competition for Young Moslem Scientists (6th IICYMS), kompetisi inovasi tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung, bekerja sama dengan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) pada 1-3 Juli 2026.
Tim yang diketuai oleh Anggistina Wulansari bersama Putri Amalia Sholehah, Sabrina Labista Wibowo, Kamila Islamiati, Aulia Fadila, dan Yesi Noviatun, di bawah bimbingan Wahyu Aristyaning Putri, S.Si., M.Sc., Ph.D, meraih penghargaan tersebut melalui inovasi berjudul “Smart Hydrogel One-Pot MRSA Kit: A Sustainable Multiplex LAMP-CRISPR-Cas12b Innovation for Detection of Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus”.
Inovasi ini dikembangkan sebagai solusi diagnostik molekuler yang cepat, spesifik, praktis, dan berkelanjutan untuk mendeteksi bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), salah satu penyebab utama infeksi resisten antibiotik yang menjadi tantangan besar dalam krisis Antimicrobial Resistance (AMR). Teknologi ini mengintegrasikan Multiplex LAMP, CRISPR-Cas12b, dan smart hydrogel dalam sistem one-pot tertutup sehingga mampu mempercepat proses deteksi, meminimalkan risiko kontaminasi, serta mendukung penerapan diagnosis di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.
Ketua tim, Anggistina Wulansari, menyampaikan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya kasus resistensi antibiotik di dunia. “Kami berharap Smart Hydrogel One-Pot MRSA Kit dapat menjadi langkah awal menuju teknologi diagnostik yang lebih cepat, mudah diakses, dan berkelanjutan sehingga mampu mendukung pengendalian AMR serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Sementara itu, anggota tim, Putri Amalia Sholehah, menambahkan bahwa kolaborasi multidisiplin menjadi kekuatan utama dalam pengembangan inovasi ini. “Kompetisi ini memberikan pengalaman berharga untuk mengembangkan ide ilmiah menjadi solusi yang berpotensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan kesehatan global,” ungkapnya.
Sabrina Labista Wibowo menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi bukti bahwa ide sederhana dapat berkembang menjadi inovasi yang relevan dan berdampak. “Kami belajar bahwa riset yang baik bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana solusi itu bisa benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Aulia Fadila menambahkan bahwa proses pengembangan inovasi ini memperkuat kemampuan tim dalam berpikir kritis dan bekerja sama. “Setiap tahap pengerjaan memberi kami pengalaman berharga untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif dan berkelanjutan,” katanya.
Yesi Noviatun menuturkan bahwa inovasi ini diharapkan dapat mendukung deteksi dini MRSA secara lebih efisien. “Kami ingin teknologi ini menjadi salah satu langkah kecil untuk membantu pengendalian infeksi dan mendukung layanan kesehatan yang lebih cepat serta tepat sasaran,” ujarnya.
Kamila Islamiati juga menegaskan pentingnya inovasi ini dalam menjawab tantangan kesehatan global. “Prestasi ini memotivasi kami untuk terus mengembangkan riset yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan berkontribusi pada solusi kesehatan yang lebih inklusif,” ungkapnya.
Smart Hydrogel One-Pot MRSA Kit mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan diagnosis dini dan pengendalian resistensi antimikroba, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi diagnostik molekuler yang inovatif, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan sistem yang mengurangi penggunaan reagen, limbah plastik, dan kebutuhan infrastruktur laboratorium yang kompleks.
Prestasi ini menjadi bukti komitmen mahasiswa Biologi UGM dalam menghadirkan inovasi berbasis bioteknologi yang berkontribusi terhadap penyelesaian tantangan kesehatan global sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Penulis: [Anggistina Wulansari]
