Yogyakarta, 30 April 2026 – Center for Tropical Biodiversity (Centrobio) Fakultas Biologi UGM melaksanakan webinar seri ketiga bertajuk “Muda Mudi Konservasi: Ngobrolin A-Z Tentang Biodiversitas”, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari Sumatra hingga Papua. Profil audiens sangat beragam, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, pemancing, hingga staf BKSDA dan peneliti. Sesi webinar diisi oleh dua narasumber, yakni Indira Nurul Qomariah, M.Si., Bio.Cur. dari Centre for Orangutan Protection (COP) yang juga alumni Program Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati Fakultas Biologi UGM, dan Dr. Luthfi Nurhidayat Dosen Lab SPH Fakultas Biologi UGM. Acara dipandu oleh Apriliawati, M.Sc., lulusan program Magister Biologi UGM yang bergelut di dunia konservasi perairan, serta dihadiri oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan Fakultas Biologi UGM. Webinar tersebut membahas komitmen pelestarian biodiversitas dari aspek terestrial dan akuatik.
Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan memberikan sambutannya dan menekankan bahwa kontribusi terhadap pelestarian biodiversitas mencakup seluruh bidang ilmu biologi, bukan hanya ekologi. Beliau juga menggarisbawahi tanggung jawab besar Indonesia sebagai negara megabiodiversitas dan berharap seminar ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus berpartisipasi secara berkesinambungan.
Sesi pemaparan pertama diawali dengan cerita Indira mengenai upaya konservasi orangutan di Indonesia. Beliau memaparkan kerja LSM Centre for Orangutan Protection yang fokus pada penyelamatan orangutan Sumatra dan Kalimantan, perlindungan hutan, serta habitatnya di berbagai wilayah. Indira menjelaskan tantangan utama berupa hilangnya habitat yang memicu konflik manusia-satwa dan perdagangan ilegal. LSM COP bekerja melindungi orangutan di garda terdepan, melalui patroli pengamanan hutan, penyelamatan, penanganan medis, rehabilitasi, pelepasliaran, dan riset. Selain itu, dipaparkan pula peluang bagi mahasiswa melalui program COP School angkatan ke-16 di Yogyakarta yang pendaftarannya dibuka hingga 10 Mei 2026 sebagai wadah pembelajaran konservasi praktis.
Narasumber selanjutnya, yaitu Luthfi Nurhidayat, memaparkan materi bertajuk penelitian dan implementasi restocking ikan lokal di Yogyakarta. Beliau menyoroti penurunan signifikan populasi ikan wader akibat fragmentasi sungai dan polusi. Luthfi membagikan keberhasilan program restocking ikan wader yang mencapai peningkatan populasi di Sungai Baros dan Sungai Gandok. Melalui kerangka delapan tahapan restocking yang komprehensif, program ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga melibatkan pemangku kebijakan seperti Dinas Kelautan Perikanan DIY, BRIN, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), serta yang paling penting adalah peran aktif masyarakat melalui kelompok pengawas (Pokmaswas) untuk restocking dan pengawasan sungai.
Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab yang berlangsung interaktif antara peserta dan kedua narasumber. Berbagai isu dibahas, mulai dari strategi menghadapi fragmentasi habitat orangutan tapanuli hingga teknis pemilihan lokasi restocking ikan agar tidak merusak keragaman genetik lokal. Peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi, baik dalam menanyakan peluang riset maupun kolaborasi magang. Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengedukasi masyarakat, khususnya anak muda, agar konservasi dimulai dari hal sederhana seperti menjaga kebersihan sungai hingga kampanye media sosial.
Seminar bertajuk konservasi dan biodiversitas tersebut menunjukkan komitmen Fakultas Biologi dalam perannya pada pembangunan berkelanjutan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu kualitas pendidikan yang baik (SDG 4), aksi penanganan perubahan iklim (SDG 13), serta pelestarian biodiversitas yang berdampak pada kehidupan air dan darat (SDG 14 dan SDG 15).





