Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Kondisi ini mendorong pengembangan kandidat agen antikanker baru yang lebih efektif dan aman, termasuk yang berasal dari bahan alam. Jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) menjadi salah satu tanaman yang menarik perhatian karena mengandung berbagai metabolit sekunder, terutama terpenoid dan steroid, yang telah dilaporkan memiliki aktivitas antikanker.
Namun, produksi metabolit sekunder pada tanaman tidak selalu stabil. Perubahan musim, iklim, dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi jumlah maupun komposisi senyawa bioaktif yang dihasilkan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan kultur kalus jeruk purut sebagai sistem produksi metabolit sekunder yang berlangsung dalam kondisi terkendali. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan senyawa bioaktif dengan kualitas yang lebih seragam serta tidak bergantung pada musim atau lokasi budidaya tanaman.
Penelitian ini dipimpin oleh Woro Anindito Sri Tunjung, S.Si., M.Sc., Ph.D., bersama Ferdinan Florian, Gabriela Arista Phoebe Sutato, dan Grace Leilani Tumiwa, serta berkolaborasi dengan Sastia Prama Putri, Ph.D. dari Osaka University, Jepang. Penelitian ini juga memperoleh masukan ilmiah dari Endre Károly Kristóf, Ph.D. dan Rini Arianti, Ph.D. dari Department of Biochemistry and Molecular Biology, Faculty of Medicine, University of Debrecen, Hungaria. Riset dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Laboratorium Biokimia, Fakultas Biologi UGM, menggunakan buah jeruk purut yang berasal dari Desa Pekutan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Penelitian diawali dengan perkecambahan biji jeruk purut secara in vitro untuk memperoleh bibit steril sebagai sumber eksplan. Kalus kemudian diinduksi dari tiga jenis eksplan berbeda dan diamati karakteristik pertumbuhan serta profil senyawa yang dihasilkannya. Untuk meningkatkan biosintesis metabolit sekunder, kalus diberi perlakuan elisitasi sebelum dilakukan ekstraksi. Selanjutnya, profil senyawa dianalisis menggunakan Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mengidentifikasi metabolit sekunder yang diproduksi oleh kalus jeruk purut.
Melalui sistem kultur kalus, produksi metabolit sekunder dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi fluktuasi lingkungan. Kondisi tersebut memberikan peluang untuk memperoleh bahan baku penelitian yang lebih konsisten dibandingkan tanaman yang dibudidayakan secara konvensional. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan kandidat obat antikanker berbasis bahan alam sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi kultur jaringan dalam penelitian bioteknologi tanaman.
Penelitian ini turut mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan sumber senyawa bioaktif berbasis tanaman yang berpotensi dimanfaatkan dalam riset kesehatan. Selain itu, penerapan kultur kalus sebagai sistem produksi metabolit sekunder yang lebih efisien dan mengurangi ketergantungan terhadap pemanenan tanaman dari alam sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 12: Responsible Consumption and Production, yaitu mendorong pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan sumber daya hayati secara lebih berkelanjutan.


