YOGYAKARTA, biologi.ugm.ac.id – Kepemimpinan baru Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2026–2031 akan dibangun di atas semangat kebersamaan, kolaborasi, dan penguatan ekosistem akademik. Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Eko Agus Suyono, S.Si., M.App.Sc. dalam sambutannya sebagai Dekan Fakultas Biologi UGM periode 2026–2031.
Ke Pasar Beringharjo membeli batik,
Tak lupa mampir ke Tugu Jogja;
Semoga estafet kepemimpinan ini berjalan baik,
Membawa semangat baru untuk kita semua.
Bagi Prof. Eko, pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian figur, melainkan keberlanjutan dari fondasi yang telah dibangun oleh kepemimpinan sebelumnya. Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Fakultas Biologi UGM periode sebelumnya yang telah membawa fakultas melewati berbagai tantangan sekaligus mencatatkan capaian dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola.
Fondasi tersebut, menurutnya, merupakan modal penting untuk membawa Fakultas Biologi UGM melangkah lebih jauh. Pada saat yang sama, amanah sebagai dekan dipandang bukan sebagai kehormatan pribadi, tetapi sebagai tanggung jawab untuk melayani seluruh sivitas akademika.
“Jabatan bukanlah kehormatan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk melayani,” demikian pesan Prof. Eko dalam sambutannya.
Fakultas sebagai Ekosistem
Salah satu gagasan utama yang disampaikan Prof. Eko adalah melihat Fakultas Biologi UGM sebagai sebuah ekosistem. Perspektif tersebut berangkat dari prinsip dasar biologi bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri.
Ia mengambil contoh hubungan antara mikroalga dan bakteri dalam suatu konsorsium. Keduanya dapat tumbuh lebih baik melalui pertukaran oksigen, karbon, dan nutrisi. Hubungan tersebut menjadi gambaran mengenai simbiosis mutualisme, yaitu kondisi ketika setiap komponen saling memberi dan saling menghidupi.
Analogi biologis tersebut kemudian dibawa Prof. Eko ke dalam konteks kehidupan kelembagaan.
Menurutnya, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni merupakan bagian dari satu ekosistem Fakultas Biologi UGM. Setiap unsur memiliki peran dan kontribusi yang penting dalam menjaga kesehatan serta keberlanjutan ekosistem tersebut.
“Setiap peran sangat berharga, setiap suara harus didengar, dan setiap capaian adalah capaian bersama,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kontribusi terhadap fakultas tidak ditentukan oleh besar-kecilnya unit atau jenis pekerjaan. Karena itu, tidak ada laboratorium yang terlalu kecil untuk berkontribusi dan tidak ada tugas yang terlalu sederhana untuk dihargai.
Gotong Royong dan Saiyeg Saeko Proyo
Semangat membangun ekosistem tersebut, lanjut Prof. Eko, berakar pada nilai-nilai ke-UGM-an dan budaya luhur bangsa Indonesia, khususnya gotong royong.
Dalam konteks budaya Jawa, ia mengangkat filosofi saiyeg saeko proyo, yakni bergerak bersama dengan satu tujuan. Nilai tersebut menjadi landasan penting untuk membangun kebersamaan di tengah keberagaman pandangan di lingkungan akademik.
Prof. Eko memandang perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dan sehat dalam kehidupan akademik. Namun, perbedaan tersebut perlu dikelola melalui musyawarah, sikap saling menghormati, serta kesadaran bahwa seluruh sivitas akademika berada dalam satu “perahu” yang sama.
Dengan pendekatan tersebut, kepemimpinan Fakultas Biologi UGM ke depan tidak hanya diarahkan pada pencapaian individual atau kelompok, tetapi pada kemampuan seluruh unsur fakultas untuk bergerak dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Mendorong Kolaborasi Lintas Batas
Prof. Eko juga menekankan bahwa kolaborasi tidak boleh berhenti pada batas laboratorium, departemen, maupun fakultas.
Menurutnya, berbagai tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini—mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan, hingga energi terbarukan—memiliki kompleksitas yang tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.
Karena itu, salah satu arah yang akan didorong dalam kepemimpinan periode 2026–2031 adalah penguatan riset lintas kelompok keahlian serta perluasan kerja sama dengan fakultas lain di lingkungan UGM.
Kolaborasi juga diarahkan untuk semakin terbuka dengan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan demikian, kapasitas keilmuan biologi dapat ditempatkan dalam jejaring yang lebih luas untuk menjawab persoalan nyata.
“Saya Tidak Datang untuk Bekerja Sendiri”
Menutup arah kepemimpinannya, Prof. Eko menegaskan bahwa berbagai gagasan tersebut tidak mungkin diwujudkan oleh seorang dekan seorang diri.
“Saya tidak datang untuk bekerja sendiri, melainkan untuk bekerja bersama Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk bergandengan tangan, saling menguatkan, dan tetap terbuka terhadap kritik yang membangun. Harapannya, Fakultas Biologi UGM dapat terus tumbuh sebagai ekosistem akademik yang sehat, beragam, dan saling menghidupi.
Pesan tersebut kembali ditegaskan melalui pantun yang disampaikan Prof. Eko menjelang akhir sambutannya:
Mikroalga tumbuh di kolam hijau,
Bersama bakteri saling mengisi;
Biologi UGM kian berkilau,
Ayo bersatu membangun negeri.
Pantun tersebut kemudian ditutup dengan harapan terhadap masa depan Fakultas Biologi UGM:
Pohon beringin di alun-alun,
Akarnya kuat menopang dahan;
Mari bersama kita bangun,
Fakultas unggul penuh harapan.
Dua pantun penutup tersebut merangkum gagasan utama Prof. Eko: bahwa kekuatan Fakultas Biologi UGM bertumpu pada kemampuan setiap unsur untuk saling mengisi, membangun kebersamaan, dan bergerak bersama menuju tujuan yang lebih besar.
Dengan semangat tersebut, periode kepemimpinan Fakultas Biologi UGM 2026–2031 diharapkan menjadi ruang bagi penguatan kolaborasi, keterlibatan seluruh sivitas akademika, serta pengembangan jejaring yang semakin luas—berangkat dari kekuatan ekosistem internal untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat dan bangsa.


