SDG 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Mendukung Pengembangan Pendidikan, Fakultas Biologi UGM Selenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum
Yogyakarta, 11 Juni 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kurikulum dan Pengembangan Tenaga Pendidik pada 9-10 Juni 2026 di Grand Rohan Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, pengelola program studi serta seluruh dosen sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dalam merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan terkini.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., dalam sambutannya menegaskan pentingnya pemahaman dosen terhadap proses penyusunan kurikulum sebagai fondasi penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, fakultas juga perlu memfasilitasi pengembangan kompetensi dosen agar mampu menyusun kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan zaman.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai kebijakan kurikulum pendidikan tinggi yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc. Dalam paparannya, Prof. Bambang menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya status akreditasi prodi, regulasi yang berlaku, rekomendasi lembaga akreditasi, hasil benchmarking, sistem penjaminan mutu serta transformasi ilmu biologi yang semakin berkembang secara multidisiplin dan transdisiplin. Prof. Bambang juga menekankan bahwa kurikulum pendidikan tinggi saat ini sangat diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih fleksible dan mampu menjawab tantangan global melalui pendekatan transdisiplin yang mengintegrasikan berbagai ilmu.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister Biologi, Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si., yang memaparkan implementasi kurikulum yang sedang berjalan sekaligus memperkenalkan rumusan awal Kurikulum 2026 untuk Program Studi Magister Biologi. Sesi selanjutnya diisi oleh Ketua Program Studi Doktor Biologi, Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D., yang juga menyampaikan implementasi kurikulum yang berjalan saat ini dan rumusan kurikulum 2026 untuk Program Studi Doktor Biologi.
Berbagai masukan dan saran konstruktif dari para dosen dalam sesi diskusi berlangsung secara aktif. Masukan tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyempurnaan rancangan kurikulum 2026 di Fakultas Biologi UGM.
Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan pemaparan kembali oleh Prof. Dr. Bambang Retnoaji, M.Sc. terkait berbagai regulasi dan kebijakan akademik yang berkaitan denagn publikasi. Selanjutnya, Ketua Program Studi Sarjana Biologi, Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., mempresentasikan rancangan Kurikulum 2026 untuk Program Studi Sarjana Biologi yang telah disusun berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang saat ini sedang berjalan.
Diskusi yang melibatkan dosen kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan hari kedua. Melalui forum tersebut, para dosen memberikan berbagai pandangan terkait struktur kurikulum, peta kurikulum, mata kuliah baru, serta penguatan kompetensi yang diperlukan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM berupaya memastikan bahwa Kurikulum 2026 disusun secara partisipatif, komprehensif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan mahasiswa. Penguatan kualitas kurikulum diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas, relevan, dan kolaboratif.
Karanganyar, 8 Juni 2026 – Tim Anggrek Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tim pelaksana Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 3 PTNBH yang berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan pelatihan budidaya anggrek sebagai bagian dari program pengembangan potensi kawasan Ngargoyoso–Tawangmangu berbasis ekoeduwisata untuk meningkatkan perekonomian berkelanjutan. Kegiatan berlangsung di UMKM Mitra Pabongan Orchid, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Senin (8/6), mulai pukul 09.30 hingga 13.30 WIB.
Program ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas universitas PTNBH yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal berbasis keanekaragaman hayati. Kawasan Ngargoyoso dan Tawangmangu yang berada di lereng Gunung Lawu dikenal memiliki kekayaan biodiversitas, kondisi agroklimat yang mendukung budidaya tanaman hias, serta daya tarik wisata alam yang tinggi. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekoeduwisata yang mengintegrasikan aspek pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., selaku Ketua PMKI UNS–UNNES–UGM. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dalam membangun model pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Menurutnya, ekoeduwisata tidak hanya menjadi sarana wisata, tetapi juga merupakan wadah edukasi dan konservasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelatihan mengangkat tema “Budidaya Anggrek Vanda, Cattleya, dan Phalaenopsis” dengan melibatkan akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang perbungaan dan konservasi anggrek. Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti anggrek yang telah lama mengembangkan riset bioteknologi dan konservasi anggrek Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof. Endang menjelaskan teknik budidaya anggrek Vanda, mulai dari karakteristik tanaman, kebutuhan lingkungan tumbuh, teknik pemeliharaan, hingga peluang pengembangannya sebagai komoditas unggulan kawasan.
Prof. Endang menekankan bahwa budidaya anggrek tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan anggrek melalui budidaya yang berkelanjutan dapat mengurangi tekanan pengambilan tanaman dari habitat alaminya sekaligus mendukung pelestarian plasma nutfah anggrek Indonesia.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ixora Sartika Mercuriani, M.Si., Ketua DPD Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) DIY. Pada kesempatan tersebut, Dr. Ixora memaparkan teknik budidaya anggrek Cattleya, meliputi pemilihan media tanam, pengaturan intensitas cahaya, pemupukan, hingga strategi menghasilkan tanaman berbunga dengan kualitas optimal dan nilai jual yang tinggi.
#SDG 4: Pendidikan Berkualitas
#SDG 14: Ekosistem Lautan
#SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat jejaring kerja sama internasional melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan Centre for Research in Biotechnology for Agriculture (CEBAR), Universiti Malaya, Malaysia, yang dilaksanakan pada 4 Juni 2026. Kerja sama ini menjadi langkah awal dalam pengembangan kolaborasi akademik dan penelitian antara kedua institusi melalui komitmen bersama untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
LoI ditandatangani atas nama Fakultas Biologi UGM oleh Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., selaku Dekan Fakultas Biologi UGM, dan oleh Assoc. Prof. Dr. Tan Boon Chin, selaku Direktur CEBAR Universiti Malaya. Kegiatan penandatanganan ini turut dihadiri oleh Dr. Lau Su Ee, Executive Director, UM Agroforestry, serta Dr. Chua Kah Ooi, Head of Academic Programmes, Centre for Research in Biotechnology for Agriculture (CEBAR). Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan kapasitas akademik melalui kemitraan yang saling menguntungkan.
Pada kegiatan penjajakan dan penandatanganan LoI tersebut, Fakultas Biologi UGM diwakili oleh Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, serta Dr. Slamet Widiyanto, S.Si., M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya, khususnya dalam bidang bioteknologi, genomika, pertanian, dan pengembangan riset berbasis teknologi mutakhir.
Melalui LoI tersebut, kedua institusi sepakat untuk menjajaki berbagai bentuk kerja sama yang meliputi pertukaran mahasiswa, dosen, dan peneliti; pelaksanaan penelitian dan publikasi ilmiah bersama; penyelenggaraan seminar, konferensi, simposium, dan summer course; pertukaran staf akademik sebagai dosen tamu; pengangkatan profesor adjung; serta pertukaran informasi dan sumber daya akademik. Berbagai program tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di kedua institusi.
Terjalinnya kerja sama antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya ini juga merupakan salah satu luaran dari kegiatan Joint Supervision Tahap 2 Skema Equity 2026 yang mengangkat tema penelitian “Karakterisasi Genom dan Analisis Fungsional Gen pada Tebu Komersial Indonesia (Saccharum hybrid) Berbasis Whole Genome Sequencing untuk Mendukung Swasembada Gula Nasional.” Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Program Magister Biologi UGM, yaitu Tiara Putria Judith, S.Si., Sabrina Labista Wibowo, S.Si., dan Oliv Nurul Kanaya, S.Si., di bawah bimbingan Ganies Riza Aristya, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Kerja sama antara Fakultas Biologi UGM dan CEBAR Universiti Malaya sejalan dengan komitmen kedua institusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas pendidikan dan pertukaran akademik internasional, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan riset dan inovasi untuk mendukung produktivitas pertanian dan swasembada gula nasional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi genomika dan bioteknologi dalam penelitian, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi strategis antarperguruan tinggi di tingkat internasional. Diharapkan kemitraan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia maupun dunia.
Yogyakarta – Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di planet ini. Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, kekayaan biodiversitas laut Indonesia harus dipandang bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi biru (blue economy) berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
Fakultas Biologi UGM memiliki pandangan bahwa masa depan ekonomi maritim Indonesia dan dunia sangat bergantung pada kemampuan mengelola kekayaan hayati laut secara berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi. Hal ini disampaikan oleh Budi Setiadi Daryono selaku Dekan Fakultas Biologi dan Narasumber dalam National acara Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Balai Senat UGM.
Indonesia menempati posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), wilayah yang dikenal sebagai pusat biodiversitas laut dunia. Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 76% spesies karang perairan dangkal dunia dan sekitar 37% spesies ikan karang dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki sekitar 21% spesies lamun dunia dan 21% tutupan mangrove global, menjadikannya salah satu paru-paru ekosistem laut terbesar di dunia. Kekayaan ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pengembangan ekonomi biru global yang berkelanjutan.
Kontribusi Indonesia terhadap ekonomi biru tidak hanya berasal dari sumber daya perikanan. Ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang berperan sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon sink yang sangat efektif.
Keberadaan ekosistem tersebut membantu mengurangi emisi karbon, menjaga stabilitas iklim global, serta memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem pesisir Indonesia sesungguhnya merupakan investasi strategis bagi keberlanjutan ekonomi dunia.
Fakultas Biologi UGM menegaskan bahwa laut bukan hanya tempat menangkap ikan. Laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, dan bioteknologi modern.
Salah satu bidang yang menjanjikan adalah penelitian mikrobioma laut, yaitu eksplorasi mikroba dan virus laut yang berpotensi menghasilkan enzim industri, senyawa antimikroba, hingga biokatalis untuk berbagai kebutuhan teknologi masa depan.
Selain itu, percepatan hilirisasi rumput laut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan Indonesia. Rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi nutraseutikal, bahan baku industri kesehatan, serta produk berbasis bioekonomi lainnya.
Prof. Budi Setiadi Daryono menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya laut. Jika selama ini laut lebih banyak dipandang sebagai ruang eksploitasi sumber daya alam, maka ke depan laut harus ditempatkan sebagai “Living Laboratory” (Laboratorium Hidup) yang menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Paradigma baru ini menjadi bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai Maritime Innovation Powerhouse atau pusat inovasi maritim dunia. Dalam konsep ini, nilai ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan, tetapi oleh kemampuan menghasilkan data, riset, teknologi, dan produk inovatif berbasis biodiversitas laut.
Meskipun memiliki potensi luar biasa, Fakultas Biologi UGM melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, antara lain lemahnya hilirisasi produk kelautan dan belum sinkronnya tata kelola ruang laut antar sektor.
Untuk mempercepat pengembangan ekonomi biru, Fakultas Biologi UGM mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat segera diwujudkan, antara lain:
- Mengintegrasikan produk kelautan ke dalam program ketahanan pangan nasional dan percepatan penurunan stunting.
- Memperkuat rantai pasok pangan laut serta sistem jaminan mutu produk kelautan.
- Memfokuskan program bioprospeksi laut pada komoditas prioritas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang komersialisasi yang jelas.
- Mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam pengembangan inovasi maritim berbasis sains.
Dengan kekayaan biodiversitas laut yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi biru dunia. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai apabila pengelolaan sumber daya laut dilakukan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan. Bagi Fakultas Biologi UGM, masa depan laut Indonesia bukan sekadar tentang sumber daya alam, melainkan tentang bagaimana biodiversitas dapat diubah menjadi kekuatan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang.
**Yogyakarta** – Di tengah meningkatnya tantangan geopolitik global, perubahan iklim, serta eksploitasi sumber daya laut yang semakin masif, peran perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan biodiversitas maritim menjadi semakin penting. Sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu hayati terkemuka di Indonesia, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat kontribusinya dalam mengawal, melindungi, dan mengembangkan kekayaan hayati laut Indonesia melalui riset, inovasi, serta penguatan kebijakan berbasis sains.
Komitmen tersebut sejalan dengan berbagai agenda strategis nasional yang menempatkan sektor maritim sebagai pilar utama pembangunan Indonesia di masa depan. Dalam National Policy Dialogue bertajuk ”Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia”, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa kekuatan maritim Indonesia tidak lagi cukup hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya, tetapi harus didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Sebagai negara yang berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), Indonesia memiliki salah satu tingkat biodiversitas laut tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya menjadi aset ekologis, tetapi juga modal strategis dalam pengembangan ekonomi biru, ketahanan pangan, kesehatan, energi, hingga diplomasi global. Oleh karena itu, perlindungan biodiversitas maritim harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menegaskan bahwa laut Indonesia perlu dipandang sebagai laboratorium hidup yang menyimpan sumber daya genetik, pengetahuan biologis, dan peluang inovasi masa depan. Dalam perspektif Fakultas Biologi UGM, biodiversitas maritim bukan sekadar objek konservasi, tetapi fondasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Budi secara langsung di hadapan Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. (HC). Megawati Soekarnoputri, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dan para tamu di Balai Senat UGM pada Jumat, 22 Mei 2026
Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas penelitian yang tidak hanya berfokus pada inventarisasi spesies laut, tetapi telah berkembang ke pendekatan yang lebih maju seperti genomik, bioinformatika, environmental DNA (eDNA), hingga bioprospeksi sumber daya hayati laut. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti memahami kondisi ekosistem secara lebih akurat sekaligus mengidentifikasi potensi pemanfaatan berkelanjutan bagi sektor kesehatan, pangan, energi, dan industri berbasis hayati.
Selain itu, Fakultas Biologi UGM juga aktif mendorong pengembangan riset senyawa bioaktif laut, mikroalga, serta mikroorganisme laut yang berpotensi dimanfaatkan untuk biofuel, bioremediasi lingkungan, kosmetik, hingga farmasi. Berbagai penelitian tersebut diarahkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi biru yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kedaulatan maritim Indonesia melalui inovasi berbasis biodiversitas.
Tidak hanya pada aspek penelitian, Fakultas Biologi UGM turut berperan dalam mengawal tata kelola biodiversitas melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga nasional, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sinergi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem riset nasional, pengelolaan biodiversitas yang berkelanjutan, serta hilirisasi hasil penelitian agar dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan industri nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, Fakultas Biologi UGM memandang perlindungan biodiversitas maritim sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan bangsa. Laut tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya, identitas, dan keberlanjutan peradaban Indonesia. Oleh karena itu, penguatan riset biodiversitas laut harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pengetahuan lokal masyarakat pesisir, perlindungan hak kekayaan intelektual sumber daya genetik Indonesia, serta konservasi ekosistem laut dan pesisir.
Dalam National Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan tersebut, bertindak sebagai salah satu narasumber adalah Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., selaku Dekan dan Tim Perumus dari Fakultas Biologi yang terdiri dari Prof. Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc., dan Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D.
Melalui penguatan riset, pendidikan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, Fakultas Biologi UGM terus mengambil peran sebagai garda depan akademik dalam menjaga kekayaan hayati laut Indonesia. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk melindungi biodiversitas maritim bagi generasi saat ini, tetapi juga untuk memastikan bahwa kekayaan laut Indonesia tetap menjadi sumber pengetahuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa di masa depan.
Mewujudkan Pendidikan Berkualitas (SDG 4)
Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17)





















































































