Lokasi: The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta
Waktu: 19-20 Agustus 2025
Empat mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada yang aktif dalam riset pengelolaan hama serangga berkesempatan menghadiri The 4th Indonesia Pest Academy & APMA National Conference 2025 yang berlangsung pada 19–20 Agustus 2025 di The Alana Palagan Hotel & Convention Center, Yogyakarta. Acara ini diinisiasi oleh Indonesia Pest Academy (IPA) bekerja sama dengan Asian Pest Management Association (APMA) dan ASPPHAMI. Keempat mahasiswa tersebut adalah Aryo Seto Pandu Wiranto, Sidiq Permana Putra, dan Syarafina Ratna Putri dari program doktor (S3), serta Alfido Listyo Kartiko dari program sarjana (S1). Undangan ini diberikan oleh Bapak Heri Susanto, alumni Fakultas Biologi UGM Angkatan ‘86 dan sekaligus juga Managing Director dari Rentokil Initial Indonesia, perusahaan global yang bergerak di bidang pengendalian hama.
Konferensi ini mengusung tema “Sustainable Urban Pest Management” dan menghadirkan 14 pembicara nasional dan internasional, termasuk Prof. Chow-Yang Lee (University of California, Riverside), Prof. dr. Adi Utarini (UGM), Prof. Intan Ahmad (ITB), Dr. Bramantyo Wikantyoso (BRIN), dan Dr. Partho Dhang (Filipina). Selama dua hari, para peserta mengikuti berbagai sesi ilmiah dan diskusi panel yang membahas isu-isu strategis dalam pengelolaan hama.
Topik utama yang dibahas mencakup regulasi pengendalian vektor dan fumigasi oleh Kementerian Kesehatan RI dan Badan Karantina Indonesia, ukuran pasar industri pengendalian hama, serta tren merger dan akuisisi global dalam industri pengendalian hama. Konferensi ini juga menyoroti ledakan populasi tikus sawah dan dampaknya terhadap lingkungan pemukiman dan industri, menekankan perlunya strategi pengurangan risiko bencana yang efektif.
Salah satu solusi inovatif yang dibahas adalah penggunaan teknologi Wolbachia dalam pengendalian demam berdarah, yang menunjukkan hubungan antara perubahan iklim dan penyakit menular. Selain itu, strategi pengelolaan terpadu untuk kecoa Jerman dan rayap juga dieksplorasi, menekankan penggunaan sumber daya yang efisien dalam praktik pengendalian hama.
Peran digitalisasi dalam pengelolaan hama terpadu juga menjadi fokus, terutama pentingnya dalam sistem audit keamanan pangan. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam memastikan akses terhadap air bersih dan sanitasi, karena pengelolaan hama yang efektif berkontribusi pada lingkungan hidup yang lebih sehat.
Partisipasi mahasiswa Fakultas Biologi UGM dalam konferensi ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik dan industri, tetapi juga menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung riset yang relevan dengan tantangan global dan pembangunan berkelanjutan. Kehadiran mereka menjadi representasi kontribusi generasi muda dalam membangun masa depan pengelolaan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Sebagai kesimpulan, Indonesia Pest Academy & APMA National Conference 2025 menjadi platform penting untuk pertukaran pengetahuan dan kolaborasi antara para ahli dan mahasiswa. Wawasan yang diperoleh dari acara ini pasti akan mempengaruhi penelitian dan praktik di masa depan dalam pengelolaan hama berkelanjutan, berkontribusi pada tujuan yang lebih luas dalam keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat.








