YOGYAKARTA, 7 Agustus 2026 — Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengukir prestasi internasional dengan meraih Medali Silver (Silver Medal) dalam ajang bergengsi World Science Environment & Engineering Competition (WSEEC) 2026 untuk subtema Teknologi dengan mengusung inovasi berupa pemanfaatan eugenol dari minyak cengkih untuk biokonversi vanilin alami melalui sistem bioreaktor berkelanjutan. Kompetisi ilmiah tingkat internasional ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Universitas Pancasila Jakarta, dan berlangsung secara hybrid pada 5–7 Agustus 2026.
Tim yang diketuai oleh Nur Aini, bersama Fairuzah Qolbi Karimah, Desti Liani, Felia Melinda. H, Muhammad Faishal Ali, dan Zidni Istiqfarin, merupakan mahasiswa Program Studi Magister Biologi, Fakultas Biologi UGM. Tim ini mengembangkan inovasi bioproses terintegrasi berjudul “VANILIX: An Integrated Packed-Bed Bioreactor Platform for Sustainable Bioconversion of Eugenol into Natural Vanillin Using Immobilized Yeast Cells.”
VANILIX dikembangkan sebagai platform bioproses terintegrasi untuk menjawab tantangan tingginya permintaan vanilin alami dunia yang belum mampu dipenuhi oleh hasil panen tanaman vanila. Di sisi lain, sintesis kimia vanilin konvensional masih sangat bergantung pada bahan baku petrokimia yang kurang ramah lingkungan. Mengingat Indonesia merupakan produsen cengkih terbesar di dunia, limbah dan hasil olahan cengkih kaya akan eugenol yang berpotensi besar dikonversi menjadi vanilin alami bernilai ekonomi tinggi.
Sistem VANILIX mengintegrasikan penggunaan Saccharomyces cerevisiae yang diimobilisasi dalam matriks calcium alginate beads dan dioperasikan dalam Packed-Bed Bioreactor (PBR) secara kontinu. Sistem ini juga dilengkapi dengan unit In-Situ Product Recovery (ISPR) berbasis adsorpsi resin serta sistem kristalisasi terkoordinasi untuk memurnikan vanilin alami dengan tingkat kemurnian tinggi (≥99,5%) sekaligus mencegah efek toksisitas produk terhadap sel khamir.
Ketua tim, Nur Aini, menjelaskan bahwa VANILIX dirancang untuk menggabungkan tahapan hulu (upstream) hingga hilir (downstream) dalam satu sistem yang efisien. “Kami ingin menghadirkan solusi teknologi bioproses yang tidak hanya meningkatkan produktivitas vanilin alami, tetapi juga menjaga stabilitas biocatalyst agar dapat digunakan berulang kali secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Nur Aini, raihan Silver Medal di ajang internasional ini menjadi dorongan besar bagi tim untuk terus menyempurnakan penelitian tersebut. “Capaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk membawa konsep bioteknologi hijau berbasis bahan baku lokal ke tahap validasi skala pilot,” tambahnya.
Fairuzah Qolbi Karimah menyampaikan bahwa pemanfaatan eugenol dari cengkih lokal memberikan nilai strategis bagi potensi agroindustri nasional. “Indonesia memiliki pasokan cengkih yang melimpah. Melalui VANILIX, eugenol dapat dimanfaatkan menjadi produk vanilin alami bernilai tinggi dengan pendekatan bioteknologi yang ramah lingkungan,” ungkapnya.
Sementara itu, Desti Liani menyoroti keunggulan penggunaan Packed-Bed Bioreactor dan teknik imobilisasi sel. “Dengan mengimobilisasi sel khamir dalam manik-manik alginat, sel menjadi lebih stabil, tahan terhadap stres kimia, dan dapat digunakan hingga belasan siklus biokonversi tanpa menurunkan performa secara signifikan,” katanya.
Menurut Felia Melinda. H, integrasi sistem In-Situ Product Recovery (ISPR) menjadi salah satu kunci efisiensi pemurnian. “Sistem ISPR memungkinkan vanilin yang terbentuk langsung dipisahkan secara kontinu dari media fermentasi, sehingga mengurangi hambatan inhibisi produk dan mempermudah proses pemurnian di tahap hilir,” terangnya.
Muhammad Faishal Ali menuturkan bahwa ajang WSEEC 2026 memberikan pengalaman berharga dalam menyampaikan gagasan ilmiah di tingkat global. “Pengalaman ini melatih kami menyajikan rancangan rekayasa bioproses secara sistematis dan komprehensif di hadapan dewan juri internasional,” tuturnya.
Sementara itu, Zidni Istiqfarin berharap platform VANILIX dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan bioekonomi berkelanjutan. “Kami berharap VANILIX dapat terus dioptimalkan, baik melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pemantauan proses maupun evaluasi skala industri,” ungkapnya.
Prestasi Silver Medal pada WSEEC 2026 ini semakin memperkuat kontribusi mahasiswa Fakultas Biologi UGM dalam menciptakan inovasi bioteknologi yang relevan dengan tantangan global. Konsep VANILIX juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan bahan baku terbarukan secara efisien, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pengurangan ketergantungan pada proses sintesis kimia berbasis fosil.
Melalui inovasi VANILIX, tim mahasiswa Fakultas Biologi UGM berharap pengembangan biomaterial dan bioproses berkelanjutan di Indonesia terus berkembang untuk menghasilkan solusi inovatif yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat.
SDG 12 : Responsible Consumption and Production
SDG 13 : Climate Action




