Yogyakarta, 18 September 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada kembali menghadirkan BioToprak sebagai ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, seni pertunjukan, dan kebudayaan. Mengangkat lakon “Cindelaras Kedanan Suminten”, BioToprak Vol. 2.0 menjadi salah satu agenda istimewa dalam rangkaian Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM yang mengusung tema “Biosinergi Berkelanjutan, Mengglobal dalam Keunggulan.”
BioToprak merupakan bentuk kreativitas khas keluarga besar Fakultas Biologi UGM yang memadukan biologi dengan ketoprak. Melalui pertunjukan ini, sivitas akademika tidak hanya merawat seni panggung tradisional Jawa, tetapi juga menghadirkan cara yang segar dan komunikatif untuk memahami keterhubungan antara manusia, hewan, lingkungan, dan kebudayaan.
Lakon “Cindelaras Kedanan Suminten” diolah dengan gaya jenaka, komunikatif, dan dekat dengan kehidupan masa kini. Dialog berbahasa campuran antara bahasa Indonesia dan Jawa, iringan musik, tata busana, gerak para pemain, serta humor kontekstual membuat cerita tradisional kembali hadir secara hidup di tengah masyarakat kampus. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Dari sisi biologi, kisah Cindelaras memiliki keterkaitan kuat dengan hubungan manusia dan satwa, terutama ayam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara. Ayam tidak semata-mata hadir sebagai unsur cerita, tetapi juga merepresentasikan keanekaragaman hewan domestik, perilaku satwa, proses domestikasi dan seleksi oleh manusia, serta nilai ekonomi, sosial, dan budaya yang melekat pada sumber daya hayati. Karakteristik ayam, mulai dari bentuk tubuh, warna bulu, suara, perilaku, hingga kemampuan beradaptasi, merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Dalam kehidupan masyarakat, karakter biologis tersebut kemudian memperoleh beragam makna melalui tradisi, cerita rakyat, simbol sosial, dan identitas komunitas. Lakon Cindelaras memperlihatkan bahwa pengetahuan mengenai makhluk hidup telah lama tumbuh di tengah masyarakat, bahkan sebelum disampaikan menggunakan istilah-istilah ilmiah modern. Persinggungan tersebut mencerminkan pendekatan etnobiologi, yaitu kajian mengenai hubungan antara manusia, kebudayaan, dan sumber daya hayati. Cerita rakyat dapat menyimpan pengetahuan mengenai pengenalan satwa, ciri morfologi, perilaku, pemanfaatan, serta cara masyarakat memberikan nilai kepada organisme di sekitarnya. BioToprak menjadikan pengetahuan tersebut lebih mudah dipahami melalui pengalaman visual, musikal, dan emosional.
BioToprak Vol. 2.0 sekaligus menjadi ruang kolaborasi lintas generasi bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta berbagai unsur pendukung Fakultas Biologi UGM. Proses kreatif di balik pertunjukan mempertemukan beragam kemampuan, mulai dari penulisan naskah, seni peran, musik, tari, tata busana, tata panggung, hingga pengelolaan acara. Kebersamaan tersebut merefleksikan semangat guyub rukun yang menjadi salah satu kekuatan komunitas Fakultas Biologi UGM.
Semarak BioToprak Vol. 2.0 semakin terasa dengan persembahan Tari Golek oleh Kelompok Tari Gagrak Jogja Fakultas Biologi UGM. Tarian klasik gaya Yogyakarta tersebut dibawakan oleh Dr. Dra. Rr. Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, DAP&E, B.Sc., M.Biomed.; Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si., M.Sc.; Mulyati Sarto, M.Si.; Annisa Ridhowati; Alifah Mubarokah, A.Md.; dan Ibu Maria. Penampilan ini menghadirkan keindahan gerak yang berpijak pada prinsip wiraga, wirama, dan wirasa, sekaligus mencerminkan semangat sivitas Fakultas Biologi UGM dalam merawat warisan seni klasik Yogyakarta. Tari Golek tidak hanya memperkaya pertunjukan secara artistik, tetapi juga memperlihatkan keterhubungan antara gerak tubuh, koordinasi neuromuskular, keseimbangan, kebugaran, ekspresi, dan kebudayaan. Persembahan tersebut menegaskan bahwa lingkungan akademik dapat menjadi ruang tempat ilmu pengetahuan dan seni tumbuh berdampingan.
Perpaduan sains dan seni dalam BioToprak juga menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam pendidikan tinggi. Ilmu biologi tidak hanya dipelajari melalui laboratorium, penelitian lapangan, dan publikasi akademik, tetapi juga dapat dikomunikasikan melalui cerita, simbol, humor, musik, dan seni pertunjukan sehingga lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), BioToprak Vol. 2.0 mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran kontekstual dan komunikasi sains yang kreatif. Kehadiran Tari Golek semakin memperkuat kontribusi kegiatan terhadap SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena aktivitas tari mendukung kebugaran fisik, keseimbangan tubuh, kesehatan mental, dan kesejahteraan sivitas akademika. Pementasan ini juga sejalan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam upaya menjaga warisan budaya. Pesan mengenai keanekaragaman hayati dan hubungan yang bertanggung jawab antara manusia dan satwa turut mendukung SDG 15: Ekosistem Daratan. Melalui pendekatan seni, BioToprak menumbuhkan kesadaran bahwa hewan, baik satwa liar maupun hewan domestik, merupakan bagian dari kekayaan hayati yang perlu dipahami, dihargai, dan dikelola secara berkelanjutan.
Sementara itu, keterlibatan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, seniman, dan berbagai unsur pendukung mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi lintas generasi dan lintas keahlian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan, pelestarian budaya, dan peningkatan kesadaran biodiversitas memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
Melalui BioToprak, Fakultas Biologi UGM turut berkontribusi dalam pelestarian seni pertunjukan tradisional sekaligus pengembangan komunikasi sains yang inklusif. Tradisi tidak ditempatkan sebagai peninggalan yang statis, tetapi sebagai wahana yang terus hidup, terbuka terhadap kreativitas, dan mampu menyampaikan berbagai persoalan kontemporer.
Pementasan “Cindelaras Kedanan Suminten” menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan bukanlah dua ranah yang terpisah. Keduanya tumbuh dari keingintahuan manusia terhadap kehidupan dan lingkungannya. Ketika biologi bertemu dengan seni, pengetahuan tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dirasakan, direnungkan, dan diwariskan.
Rekaman lengkap BioToprak Vol. 2.0: Cindelaras Kedanan Suminten dapat disaksikan melalui kanal YouTube Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada di https://www.youtube.com/live/ran_uJw-Oac















