Samarinda, 1 Oktober 2026 – Mahasiswa Program Doktor Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Eman Hermawan, S.E., M.Hum., berhasil meraih penghargaan Best Presenter pada Seminar Nasional Biologi ke-7 Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Seminar mengangkat tema “Peluang dan Tantangan dalam Riset Konservasi Ekosistem Tropis” dan dilaksanakan secara hybrid di Science Learning Center FMIPA Universitas Mulawarman, Samarinda, serta melalui Zoom Meeting. Penghargaan Best Presenter kepada Eman tercantum dalam sertifikat resmi Seminar Nasional Biologi 2026.
Seminar Nasional Biologi ke-7 diselenggarakan oleh Jurusan Biologi FMIPA Universitas Mulawarman bekerja sama dengan FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Forum ilmiah tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi untuk mendiskusikan berbagai perkembangan serta tantangan dalam penelitian dan konservasi ekosistem tropis. Buku abstrak seminar mencatat pelaksanaan kegiatan pada 1 Oktober 2026 di Gedung Science Learning Center, FMIPA Universitas Mulawarman.
Pada sesi paralel Room F, Eman mempresentasikan makalah berjudul “Lanskap Budaya di Dataran Tinggi Lore, Taman Nasional Lore Lindu: Sebuah Tinjauan Sejarah dan Prospek Coix lacryma-jobi L.” Makalah berkode E101 tersebut dipresentasikan dalam kelompok tema Etnobiologi Tropis, Ekowisata dan Pembangunan, serta Pendidikan dan Literasi. Sesi Room F dimoderatori oleh Ni Luh Eka Savitri, S.Si., M.Ling. dan berlangsung secara hybrid melalui Ruang Rapat Al-Khawarizmi dan Zoom Room 3. Buku Abstrak Semnas 7 Tahun 2026 Buku Abstrak Semnas 7 Tahun 2026
Penelitian yang dipresentasikan Eman mengkaji hubungan antara masyarakat dan lingkungan di Dataran Tinggi Lore, Taman Nasional Lore Lindu, dengan perhatian khusus terhadap pemanfaatan Coix lacryma-jobi L. sebagai ornamen pada ranta, yaitu wastra tradisional yang terbuat dari kain kulit kayu. Praktik tersebut merepresentasikan bentuk warisan biokultural yang lahir melalui interaksi jangka panjang antara masyarakat lokal dan sumber daya tumbuhan di lingkungan mereka. Buku Abstrak Semnas 7 Tahun 2026
Kajian ini menggunakan pendekatan integratif yang memadukan kerja lapangan etnobotani, wawancara mendalam dengan pengrajin lokal, dan studi berbasis koleksi museum. Penelitian diarahkan untuk memahami pemanfaatan sumber daya tumbuhan, transmisi pengetahuan, serta berbagai praktik adaptif yang berkembang dalam masyarakat Dataran Tinggi Lore. Buku Abstrak Semnas 7 Tahun 2026
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan tumbuhan sebagai ornamen pada ranta tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika, tetapi terintegrasi dalam sistem sosial-ekologis yang lebih luas, mencakup pemanfaatan tumbuhan, pengelolaan lanskap, serta nilai budaya masyarakat. Kajian tersebut juga didukung oleh temuan arkeologis dari situs Pada Hadoa di Lembah Behoa. Hubungan antara bukti sejarah dengan praktik yang masih dijumpai saat ini menunjukkan adanya transmisi pengetahuan lintas waktu dan keberlanjutan warisan biokultural masyarakat Lore. Buku Abstrak Semnas 7 Tahun 2026
Kajian tersebut menegaskan pentingnya melihat konservasi ekosistem tropis secara lebih komprehensif. Konservasi tidak hanya berhubungan dengan perlindungan spesies dan habitat, tetapi juga dengan keberlanjutan pengetahuan ekologis tradisional serta hubungan sosial dan budaya yang telah terbentuk antara masyarakat dengan biodiversitas di sekitarnya. Dalam konteks tersebut, penelitian mengenai Coix lacryma-jobi L. dan ranta membuka perspektif mengenai pentingnya integrasi antara kajian biologi, etnobotani, sejarah, arkeologi, dan pelestarian warisan budaya.
Eman saat ini menempuh pendidikan doktoral di Fakultas Biologi UGM dengan Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. sebagai promotor. Prof. Budi merupakan Guru Besar Fakultas Biologi UGM dan Dekan Fakultas Biologi UGM periode 2016–2026 serta co promotor: Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D, Dr. Arief Priyadi M.P dan Kirsten Scott Ph.D. FRSA, FGCert, FHEA.
Menariknya, kontribusi Eman dalam Seminar Nasional Biologi 2026 tidak berhenti pada kajian mengenai Dataran Tinggi Lore. Buku abstrak juga mencatat keterlibatannya sebagai penulis bersama Ellis Sekar Ayu dan Ahmad Ibrahim Badry dalam makalah berjudul “Tumbuhan Berguna dalam Konservasi Manuskrip Nusantara.” Kajian tersebut membahas pemanfaatan berbagai sumber daya tumbuhan dalam praktik konservasi manuskrip dengan pendekatan konservasi-kodikologi dan etnobotani.
Seminar ini turut menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Gary L. Shapiro, Ph.D., President & Co-Founder The Orang Utan Republik Foundation; Dr. Tri Atmoko, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN; Prof. Dr. Catur Retnaningdyah, M.Si., Guru Besar Ekologi Perairan Universitas Brawijaya; serta Prof. Dr. Hetty Manurung, M.Si., Guru Besar Fisiologi Tumbuhan Universitas Mulawarman.
Capaian Best Presenter tersebut menjadi salah satu bentuk diseminasi dan rekognisi terhadap karya mahasiswa Program Doktor Biologi Fakultas Biologi UGM dalam forum ilmiah nasional. Keikutsertaan dalam forum ini sekaligus memperkuat kontribusi Fakultas Biologi UGM dalam pengembangan kajian biodiversitas dan konservasi tropika melalui pendekatan multidisiplin yang menghubungkan aspek biologis dengan pengetahuan lokal, sejarah, budaya, dan keberlanjutan.




