Klaten, 25 Juli 2026 – Upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengembangan usaha perlebahan dan pemanfaatan teknologi digital kembali diwujudkan melalui Pelatihan Budidaya Lebah Madu dan Pemasaran Digital yang diselenggarakan di Destinasi Wisata KABUT (Kebun Buah Tlatar) Desa Kebonalas, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, pada Sabtu (25/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui budidaya lebah madu yang berkelanjutan dan penguatan strategi pemasaran berbasis digital.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Kebonalas, Bapak Supriyanto, S.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Dalam sambutannya, beliau berharap pelatihan dapat menjadi langkah awal dalam membangun Desa Kebonalas sebagai sentra edukasi dan pengembangan usaha perlebahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat daya tarik destinasi wisata KABUT.
Selanjutnya, Ketua Tim Pelatihan, Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa pelatihan dirancang tidak hanya memberikan pengetahuan dasar mengenai budidaya lebah madu, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis dan kemampuan pemasaran digital agar produk madu memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.
Sebelum penyampaian materi, seluruh peserta mengikuti pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai lebah madu, teknik budidaya, serta manfaat ekologis dan ekonominya. Hasil pretest akan menjadi dasar evaluasi efektivitas pelatihan serta penyusunan materi pendampingan pada kegiatan selanjutnya.
Materi pelatihan disampaikan oleh para narasumber dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D. memaparkan materi mengenai teknik budidaya lebah madu, meliputi pemilihan koloni, penempatan stup, manajemen pakan, pemeliharaan, hingga teknik panen madu yang baik. Materi ini memberikan bekal praktis bagi peserta untuk memulai maupun mengembangkan usaha perlebahan secara berkelanjutan.
Selanjutnya, Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D. menyampaikan materi mengenai biologi dan peran lebah madu, yang mencakup perilaku koloni, pembagian kasta, siklus hidup, fungsi lebah sebagai penyerbuk tanaman, serta kontribusinya terhadap produktivitas pertanian dan kelestarian ekosistem. Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan budidaya lebah tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis pemeliharaan, tetapi juga oleh pemahaman terhadap aspek biologis dan ekologis lebah madu.
Sesi berikutnya diisi oleh Umi Mahnuna Hanung, S.Si., M.Sc., yang membahas strategi pemasaran menggunakan platform digital. Materi mencakup pemanfaatan media sosial, marketplace, penyusunan konten promosi yang menarik, pembangunan identitas produk, hingga strategi meningkatkan kepercayaan konsumen melalui pemasaran digital. Melalui materi ini diharapkan produk madu lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Selain penyampaian materi, peserta juga memperoleh kesempatan mengikuti praktik lapangan berupa pelatihan pemisahan koloni lebah madu (colony splitting). Pada sesi praktik ini peserta mempelajari teknik memperbanyak koloni secara aman dan efektif, mulai dari identifikasi koloni yang siap dipisahkan, penanganan ratu dan pekerja, hingga penempatan koloni baru. Kegiatan praktik mendapat antusiasme tinggi karena memberikan pengalaman langsung dalam mengelola koloni lebah madu.
Pelatihan ini didukung oleh tim pelaksana yang terdiri atas Drs. Hari Purwanto, M.P., Ph.D., Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si., Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., dan Umi Mahnuna Hanung, S.Si., M.Sc. Seluruh anggota tim berperan dalam penyusunan materi, pendampingan peserta, serta pelaksanaan praktik lapangan sehingga kegiatan berlangsung secara interaktif dan aplikatif.
Kegiatan ini merupakan rangkaian program yang akan berlanjut pada 1 Agustus 2026 dengan tema Pengenalan Hama dan Penyakit Lebah Madu, Pelatihan Budidaya Lebah Klanceng dan Penyusunan Kalender Bunga sebagai Sumber Nektar dan Polen. Pada pelatihan lanjutan tersebut, peserta akan mempelajari teknik budidaya lebah tanpa sengat (klanceng) serta menyusun kalender pembungaan tanaman lokal untuk menjamin ketersediaan sumber pakan lebah sepanjang tahun. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas madu sekaligus mendukung konservasi keanekaragaman hayati melalui pengelolaan vegetasi berbunga di sekitar kawasan wisata dan lahan pertanian masyarakat.
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat Desa Kebonalas tidak hanya memiliki keterampilan teknis dalam budidaya lebah madu, tetapi juga mampu mengembangkan usaha berbasis inovasi dan teknologi digital. Sinergi antara peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan destinasi wisata, serta penguatan kewirausahaan lokal diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya ekonomi desa yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Kegiatan ini mendukung SDG 4, SDG 8, SDG 15, dan SDG 17 yang mencerminkan peran Fakultas Biologi UGM dalam pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan yang menjadi inti dari kegiatan ini.








