Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Dekan Fakultas Biologi Periode 2016-2021 dan 2021-2026 Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), hadir sebagai narasumber dalam Seminar Program Studi Tadris Biologi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), tersebut berlangsung secara luring di Aula Gedung KH. Arief Mustaqiem lantai 6, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini, Prof. Budi menyampaikan materi mengenai aplikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran dan pengembangan riset biologi.
Seminar mengusung tema “Biocamp Field Research and Laboratory Practice for Prospective Biology Teacher” dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pada 12–13 Oktober 2026. Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan wawasan dan pengalaman akademik mahasiswa Program Studi Tadris Biologi sebagai calon guru biologi. Kehadiran narasumber dari perguruan tinggi dan komunitas lingkungan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perkembangan keilmuan serta keterkaitannya dengan pembelajaran, penelitian lapangan, dan praktik laboratorium.
Dalam paparannya, Prof. Budi mengajak peserta melihat biologi sebagai ilmu yang terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Materi mencakup hubungan biologi dan media, kontribusi penemuan biologi yang memperoleh penghargaan Nobel, peluang kewirausahaan berbasis biologi, serta arah perkembangan biologi masa depan. Pembahasan tersebut memberikan konteks bahwa pengetahuan biologi memiliki peran luas, mulai dari pemahaman proses kehidupan hingga pengembangan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Prof. Budi menguraikan perjalanan biologi dari kajian klasik dan biologi sel menuju genetika molekuler, era omics, dan post-genomics. Perkembangan ini disertai kemampuan menghasilkan serta mengolah data biologis dalam jumlah besar. Materi juga menampilkan rekayasa genetik melalui CRISPR/Cas9, biomimetika, biorobotika, serta teknologi virtual reality dan augmented reality. Dengan mengenalkan keterkaitan berbagai bidang tersebut, paparan ini memperluas pandangan peserta mengenai ruang lingkup biologi dan kebutuhan kompetensi yang mengikuti perkembangannya.
Pembahasan selanjutnya berfokus pada pengenalan AI dan pembelajaran mesin serta kemungkinan integrasinya dalam kurikulum dan riset biologi. Prof. Budi menjelaskan pemanfaatan algoritma untuk mengenali pola data dan mendukung prediksi. Bagi calon guru biologi, pengenalan ini menjadi bekal untuk memahami hubungan antara konsep biologi, data, dan teknologi. Materi tersebut juga memberikan gambaran tentang pentingnya kesiapan pendidikan biologi dalam merespons perubahan cara memperoleh, menganalisis, dan menyampaikan pengetahuan ilmiah.
Salah satu aplikasi yang mendapat perhatian dalam materi adalah penggunaan AI untuk pengelolaan keanekaragaman hayati. Teknologi ini dapat membantu penentuan prioritas konservasi, perkiraan ancaman, dan penempatan sensor pemantauan. Prof. Budi menyajikan studi kasus konservasi satwa liar di Afrika untuk menggambarkan pemanfaatan teknologi dalam pelacakan pergerakan satwa, penggunaan habitat, dan pemantauan ancaman perburuan ilegal. Berbagai pendekatan, seperti pengamatan jejak kaki, bioakustik, drone konservasi, dan kamera jebak, turut diperkenalkan sebagai sumber informasi bagi pemantauan satwa.
Melalui contoh Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) dan Protection Assistant for Wildlife Security (PAWS), peserta memperoleh gambaran mengenai pemanfaatan data untuk mendukung strategi patroli konservasi. Materi juga memperkenalkan Wildbook, perangkat yang memanfaatkan foto untuk mengenali individu satwa dan membantu penelusuran populasi, persebaran, serta pergerakannya. Contoh penerapannya ditunjukkan melalui Flukebook untuk paus dan lumba-lumba serta Sharkbook untuk hiu. Rangkaian contoh ini membantu menghubungkan pembahasan AI dengan kebutuhan nyata dalam penelitian dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Selain contoh konservasi, Prof. Budi menampilkan penerapan teknologi pada riset dan pengembangan biologi di Indonesia. Materi memuat aplikasi Internet of Things (IoT) dalam budidaya melon melalui kerja sama dengan PT Nudira Swadaya Indonesia, penggunaan AI pada riset pewarisan bioakustik ayam lokal Indonesia, serta peta jalan penelitian penanda molekuler untuk pengembangan kelapa sawit dengan efisiensi pemanfaatan fosfor. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital dapat terhubung dengan objek penelitian lokal dan kebutuhan pengembangan sektor pertanian.
Pada bagian integrasi AI dalam pendidikan, Prof. Budi menyampaikan peluang pengembangan kurikulum melalui magang dan riset bersama mitra. Perusahaan teknologi seperti Google, OpenAI, Microsoft, Amazon, IBM, dan Meta AI, maupun perusahaan di Indonesia, disebut sebagai contoh mitra yang dapat dijajaki. Gagasan ini menempatkan pengalaman belajar dan keterlibatan dalam penelitian sebagai jalan untuk memperkenalkan penerapan teknologi secara lebih dekat kepada mahasiswa. Bagi pendidikan calon guru, wawasan tersebut dapat menjadi bahan pengembangan pembelajaran biologi yang mengikuti perkembangan ilmu dan praktik penelitian.
Dalam simpulan materinya, Prof. Budi menegaskan bahwa biologi merupakan ilmu yang dinamis dan adaptif, sehingga dapat bersinergi dengan perkembangan teknologi untuk mendorong inovasi dan kreativitas. AI memiliki potensi untuk membantu berbagai tahapan pengelolaan keanekaragaman hayati, sementara integrasinya dalam kurikulum dapat dikembangkan melalui pengalaman magang dan riset bersama mitra. Kehadiran Prof. Budi dalam seminar ini menjadi kontribusi Fakultas Biologi UGM dalam berbagi wawasan keilmuan kepada calon guru biologi, dengan harapan mendukung kesiapan mereka menghadapi perkembangan pendidikan dan riset pada masa mendatang.
Kegiatan seminar ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan wawasan calon guru biologi mengenai perkembangan ilmu dan teknologi; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengenalan penerapan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam pembelajaran serta riset biologi; SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pembahasan pemanfaatan AI untuk identifikasi dan pemantauan satwa laut, seperti paus, lumba-lumba, dan hiu; SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengenalan teknologi pemantauan satwa liar dan pengelolaan keanekaragaman hayati untuk mendukung konservasi; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pertukaran pengetahuan antarperguruan tinggi dan pengenalan peluang kolaborasi pendidikan serta penelitian dengan mitra teknologi. Melalui materi tersebut, peserta diharapkan mampu menghubungkan pembelajaran biologi dengan kebutuhan konservasi dan pengembangan inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.


