Yogyakarta, 7 Juli 2026 – Program Studi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH), Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Workshop Prodi PKKH pada Selasa (7/7/2026) secara hibrida di University Club (UC) UGM. Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penyusunan strategi pengembangan pembelajaran guna meningkatkan mutu pendidikan dan kompetensi lulusan.
Workshop dihadiri oleh dosen pengampu Prodi PKKH yang berasal dari Fakultas Biologi UGM maupun mitra, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan WWF Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan alumni, mahasiswa, serta tenaga kependidikan Fakultas Biologi UGM. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan komitmen Prodi PKKH dalam mengembangkan kurikulum yang partisipatif, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan dunia profesi.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., mengapresiasi komitmen seluruh sivitas akademika dalam melakukan evaluasi dan penyempurnaan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Menurutnya, inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan langkah strategis untuk menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, serta mampu menjawab tantangan pelestarian keanekaragaman hayati di masa depan.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan merumuskan sekaligus menyepakati perubahan pola pembelajaran di Prodi PKKH. Perubahan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis, yaitu meningkatnya minat mengikuti program profesi ini dari berbagai daerah, seperti Sulawesi dan Sumatra, serta dari berbagai institusi riset; adanya dukungan regulasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang memungkinkan pembelajaran jarak jauh; serta perlunya menyelaraskan proses pembelajaran agar mengikuti alur kompetensi secara utuh.
Melalui skema baru, Prodi PKKH akan menerapkan sistem pembelajaran semi-blok, yaitu seluruh perkuliahan dilaksanakan terlebih dahulu secara hibrida, baik tatap muka maupun daring sinkron dan asinkron, kemudian dilanjutkan dengan praktikum secara luring dalam periode tertentu. Pola ini memungkinkan mahasiswa memperoleh pemahaman konseptual secara menyeluruh sebelum memasuki kegiatan praktik yang terintegrasi. Selain itu, sistem ini juga mendukung pendekatan transdisiplin, sehingga lulusan tidak hanya menguasai berbagai disiplin ilmu, tetapi juga mampu melakukan sintesis pengetahuan sebagai kompetensi utama seorang kurator keanekaragaman hayati.
Ketua Program Studi PKKH, Prof. Dra. Tuty Arisuryanti, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa sistem pembelajaran semi-blok akan mulai diterapkan pada Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027. Menurutnya, perubahan ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi pembelajaran pada tahun akademik sebelumnya, sekaligus mengakomodasi berbagai masukan dari dosen, alumni, mahasiswa, dan para pemangku kepentingan.
Pada periode sebelumnya pelaksanaan perkuliahan dan praktikum belum sepenuhnya mengikuti alur kompetensi profesi secara berurutan. Oleh karena itu melalui sistem semi-blok, mahasiswa akan mempelajari seluruh konsep terlebih dahulu, kemudian mengaplikasikannya dalam praktikum yang terintegrasi sesuai tahapan kompetensi kurator, mulai dari perencanaan kurasi, pengumpulan dan pendataan koleksi, analisis koleksi, hingga perawatan koleksi.
Workshop juga diisi dengan presentasi dari para koordinator blok yang memaparkan struktur pembelajaran pada keempat blok kompetensi tersebut. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta mengidentifikasi sejumlah materi yang masih tumpang tindih serta urutan penyampaian yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu, pada workshop ini dilakukan penyesuaian terhadap komposisi dan urutan materi agar lebih sistematis, logis, dan selaras dengan capaian pembelajaran lulusan.
Melalui workshop ini, Prodi PKKH Fakultas Biologi UGM menegaskan komitmennya untuk terus menyempurnakan sistem pembelajaran agar responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta dinamika profesi kurator keanekaragaman hayati. Implementasi sistem pembelajaran semi-blok diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, memperkuat kompetensi lulusan sesuai kebutuhan pemangku kepentingan, serta mendukung pengembangan berbagai skema pendidikan yang lebih fleksibel, termasuk Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan mutu pembelajaran berbasis kompetensi dan inovasi kurikulum; SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam dokumentasi, pengelolaan, kurasi, konservasi, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, baik di ekosistem perairan maupun daratan; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, organisasi konservasi, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan pendidikan profesi.




