Pemanfaatan pekarangan, pengelolaan residu organik, dan pelatihan budidaya mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs.
KWT Lestari Mertosanan Kulon, Potorono | 12 September 2026
Yogyakarta, 12 September 2026. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada bersama KWT Lestari Mertosanan Kulon, Potorono, menyelenggarakan kegiatan bertema Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan yang bertempat di Taman Kuliner Buk Dhuwur, Mertosanan Kulon. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi pemanfaatan pekarangan, evaluasi budidaya maggot, dan pelatihan budidaya tanaman menggunakan pupuk organik. Rangkaian kegiatan tersebut terutama mendukung SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketersediaan pangan pada tingkat keluarga.
Acara diawali dengan sambutan Ibu Dukuh Mertosanan Kulon. Dalam sambutannya, Ibu Dukuh menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap pendampingan dapat terus berlanjut untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Kegiatan ini juga mendukung pertemuan rutin KWT yang berlangsung setiap Selasa pada minggu ketiga setiap bulan.
Ibu Dukuh menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru karena anggota KWT belum pernah memperoleh pelatihan serupa. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan mendukung persiapan KWT mengikuti tahap kedua lomba Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah. Kehadiran jenis tanaman baru juga menambah keanekaragaman tanaman yang dikelola oleh KWT dan memperkuat praktik pengelolaan pekarangan yang selaras dengan SDG 15 Ekosistem Daratan.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Prof. Dr. Diah Rachmawati, S.Si., M.Si. Dalam paparannya, Prof. Diah menjelaskan bahwa pekarangan merupakan ruang yang mudah dikelola oleh keluarga dan berpotensi menyediakan pangan segar serta bergizi. Pemanfaatan pekarangan juga dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga, memperbaiki kualitas lingkungan, membuka peluang tambahan pendapatan, serta mendukung pemenuhan gizi, ketahanan pangan, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Materi mencakup pemilihan sayuran, tanaman buah, tanaman obat, dan tanaman hias yang sesuai dengan kondisi setempat. Pada pekarangan yang luas, tanaman dapat dibudidayakan langsung di lahan. Untuk ruang terbatas, warga dapat menggunakan pot atau polibag serta menerapkan vertikultur. Prof. Diah juga menjelaskan pentingnya penggunaan benih unggul, pemilihan komoditas yang cepat panen, serta pemanenan yang tepat untuk mengoptimalkan hasil pekarangan. Selain itu, dijelaskan pula pemilihan lokasi dengan kondisi cahaya, suhu, dan kelembaban yang sesuai, penyusunan media tanam dari tanah, kompos, dan arang sekam, serta pemeliharaan tanaman melalui penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama serta penyakit.
Pada sesi berikutnya, Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si., menyampaikan evaluasi terhadap kegiatan budidaya maggot yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa budidaya maggot telah berjalan. Pemanfaatan residu organik dari TPS3R sebagai pakan maggot merupakan bentuk pengelolaan sumber daya yang sejalan dengan SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Namun, TPS3R mempunyai keterbatasan tempat untuk budidaya maggot. Sebagai tindak lanjut, kotak budidaya maggot akan dipindahkan ke lahan KWT agar kegiatan dapat dilanjutkan dan dipantau bersama secara lebih baik.
Maggot yang dihasilkan akan dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pakan, hasil budidaya tersebut berpeluang dipasarkan dengan harga yang kompetitif sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan KWT.
Setelah penyampaian materi dan evaluasi budidaya maggot, peserta mengikuti pelatihan budidaya tanaman pekarangan menggunakan pupuk organik. Dalam kegiatan ini, Tim PkM Fakultas Biologi UGM menyediakan berbagai jenis bibit tanaman untuk mendukung pemanfaatan pekarangan meliputi bibit sayuran berupa kangkung, selada, seledri, dan sawi serta bibit tanaman buah seperti jeruk, jambu kristal, jambu air, alpukat, kelengkeng, dan srikaya. Peserta juga memperolah wadah vertiklutur berbahan paralon, pot dari galon bekas sekali pakai, serta pot tanaman untuk mendukung budidaya pada lahan dengan ruang terbatas. Selain itu, tim menyediakan tanah dan pupuk kandang sebagai bahan media tanam.
Melalui sesi praktik ini, peserta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh, terutama dalam menyiapkan tanaman dan menggunakan pupuk organik untuk mendukung pertumbuhannya. Pelatihan ini memperkuat keterampilan anggota KWT dalam mengelola tanaman secara mandiri dan berkelanjutan serta mendukung penerapan pola produksi yang lebih bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pemanfaatan pekarangan mendukung SDG 2 Tanpa Kelaparan dengan memperkuat ketersediaan pangan keluarga dan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui akses terhadap bahan pangan segar serta bergizi. Pemanfaatan residu organik untuk budidaya maggot dan penggunaan pupuk organik berkaitan dengan SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sementara itu, penambahan keanekaragaman tanaman dan pengelolaan pekarangan secara berkelanjutan mendukung SDG 15 Ekosistem Daratan. Melalui pendampingan berkelanjutan, Tim PkM Fakultas Biologi UGM dan KWT Lestari berharap keluarga semakin mandiri dalam menyediakan pangan sekaligus mampu mengembangkan kegiatan produktif yang sesuai dengan potensi setempat.




